Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Bedah Misi


__ADS_3

"Baguslah, aku tidak perlu mengenalkannya lagi." Ucap Hugo tanpa tahu ekspresi Daren dibelakangnya.


"Aku melihat Nona Olivia sangat bagus dalam hal menembak. Apa bisa mengajariku?" Pinta Daren tiba-tiba dan Olivia ternganga.


"A-apa?"


Hugo menoleh kebelakang, "kau.." kalimatnya terhenti saat melihat senyum tak biasa dari Daren, seolah meminta Hugo untuk diam saja. "Ah, iya. Tembakanmu sangat payah."


"Ide bagus." Ucap Richi dan Olivia membelalakkan matanya pada Richi.


Daren mendekat dan mengambil satu senapan panjang.


"A-aku tidak mahir. Clair, kau kan yang paling baik disini." Ucap Olivia pada Clair.


"Aku sedang malas. Jangan ganggu aku." Clair berkata tanpa menoleh, dia fokus dengan ponselnya.


"Bagaimana ya, caranya." Ucap Daren sambil membolak-balikkan senjata yang ada di tangannya.


"Olive, cepat ajari Daren" Bella mendorong tubuh Olivia mendekat ke arah Daren.


"Chi, bisa bicara sebentar?" Hugo menatap Richi.


"Katakan saja disini." Jawabnya tanpa tahu maksud Hugo. Lelaki itu langsung menarik tangan Richi dan berjalan menjauh, lalu diikuti oleh yang lain.


"Aku lapar, mau makan dulu." Ucap Bella dan beranjak dari tempatnya.


"Hei, kita baru makan tadi!" Pekik olive.


"Aku juga, haus sekali.." Clair bangkit lalu meninggalkan Olivia.


"Kalian mau kemana, hei!"


"Sudahlah, fokus saja untuk mengajariku."


Olivia dengan malas mengambil senjata di tangan Daren lalu menunjukkan caranya.


"Pegang seperti ini, lalu bidik.." jelasnya sembari mempraktikkan, dan tembakannya malah melenceng.


"Begitu ya.." Ucap Daren lalu mulai membidik, dan ketetapan titik fokus yang ia kenakan adalah 95% melebihi Olivia.


"Hei, itu sudah jago!" Pekik Olivia kesal.


"Benarkah? Kemarin aku lihat Richi bisa 100%"


"Kalau begitu belajar saja sama dia. Kenapa aku!" Bentaknya lalu langsung menutup mulutnya, menyadari kekhilafannya telah membentak Daren.


"Ah.. jadi kau mulai berani, ya."


"Ma-maaf tuan.. sa-saya tidak tahu, kalau anda tuan muda Daren Wycliff". Ucap Olivia lalu menunduk.


"Baguslah, kalau kau sudah tahu posisiku." Daren mengambil satu senjata lain dan mulai membidik. "Setelah ini, jangan pernah kau abaikan pesanku". Ucapnya lalu menembak.


"Baik tuan."


"Kalau bukan karena Ibumu, ah.. entah apa yang terjadi padamu sekarang." Kata Daren lalu mencampakkan senjatanya.


Daren duduk merentangkan tangannya di atas sandaran sofa, lalu menatap Olivia yang masih berdiri menunduk di tempatnya.


"Bagaimana kabarnya?" Tanya Daren.


"Kabar saya baik, Tuan."

__ADS_1


"Bukan kau, Ibumu!" Sentak Daren.


"Ba-baik, tuan. Beliau baik." Jawabnya langsung.


"Katakan padanya, aku akan datang dalam minggu ini. Kau beritahu alamatmu."


"Ba-baik, tuan."


Daren menahan tawa melihat sikap gadis di depannya. Padahal tadi pagi dia amat garang. Lalu setelah tahu siapa dirinya, Kini Olivia terus menunduk sebagai tanda hormatnya pada Daren, tuan muda yang dirawat Ibunya dulu.


~


Hugo dan Richi memilih lapangan sendiri, mereka berdua latihan, termasuk Hugo yang meminta Richi mengajarinya lebih dalam.


Hugo membidik, lalu tembakannya berhasil mengenai 90% titik fokus.


"Ah, sial!" Umpatnya.


"Itukan sudah bagus. Memangnya mau seberapa?" Tanya Richi yang lalu membidik, dan menembak beberapa sekaligus di tempat yang sama, ketepatan 99-100%


"Lihat, masa aku kalah dengan pacarku sendiri?"


Richi menurunkan senjata, matanya masih mengarah pada titik di ujung sana. "Hugo, kalau mau semakin mahir, kau harus sering latihan. Aku juga masih missed, beda dengan Clair yang asal-asal tetap 100%"


Hugo menghempaskan tubuhnya di sofa. "Sini, duduk dulu."


Richi meletakkan senjata, lalu duduk disebelahnya.


"Kau ingat kan, dua minggu lalu Sonia memberikan undangan. Aku akan datang bersamamu."


"Hugo, aku tidak bisa. Karena aku akan pergi dengan Harry".


"Apa?" Hugo berdecak. "Ayolah, masa kau selalu bersama dia. Yang pacaran denganmu kan, aku!"


Hugo menyandarkan tubuhnya. "Padahal lidahku ini ingin sekali berteriak dan bilang kalau kau kekasihku."


"Sabar ya, Hugo. Aku akan urus ini dengan cepat. Ah iya, aku ingat sesuatu."


"Apa?"


"Kau ingat perempuan yang kau tolong itu, di kencan pertama?" Tanya Richi.


"Astaga, Chi.. kenapa diungkit terus, aku tidak ingat." Jawabnya dengan malas.


"Bukan begitu, perempuan itu ternyata mendampingi Harry. Dia bilang, kalau Harry adalah tuannya."


"Apa? Perempuan itu pendamping Harry? Shera kan, namanya?"


Richi mengerutkan alisnya. "Kau bilang tidak ingat!"


"Ah.. aku.. Jadi, apa dia mengingatmu?" Tanya Hugo mengalihkan ucapan Richi.


Richi masih memandangnya tajam, "ya, dia tidak ingat!"


"Hah, syukurlah."


Richi melirik jam di ponselnya. "Sepertinya kita harus diskusi sebentar." Ucap Richi lalu beranjak, memanggil teman-temannya.


Semua berkumpul termasuk Hugo dan Daren, mereka duduk melingkar di meja ruang tunggu.


"Bell, bagaimana?" Tanya Richi.

__ADS_1


"Aman, aku sudah dapat undangannya untuk ulang tahun yang entah siapa namanya itu. Kalau nanti malam, aku sudah mengurusnya. Tapi aku dengar, dia akan datang bersama asistennya, perempuan." Jawab Bella.


"Aku rasa itu Shera." Ucap Richi kemudian menjelaskan bahwa dia pernah bertemu Shera, untungnya Shera tidak mengenalnya.


"Aku rasa, Shera itu juga pasti mengetahui banyak hal" ucap Clair sambil memainkan rambutnya. "Mengingat hanya dia yang memapah Harry malam itu, artinya Harry sudah mempercayainya."


"Masuk akal". Richi manggut-manggut.


"Kenapa tidak Hugo saja yang mendekati gadis itu. Bukankah kalian sudah berkenalan, Hugo?" Kata Olivia.


Richi tampak berpikir. "Jadi maksudmu, Hugo mendekati Shera supaya gadis itu mau membuka suara?"


Olivia mengangguk. "Bagaimana?"


Richi menatap ke depan. "Aku tidak yakin, mengingat dia begitu lembut pada Harry, aku rasa dia akan menjaga rapat rahasia lelaki itu."


"Kita coba saja dulu." Sambung Clair.


"Kenapa? Kau berat karena itu Hugo?" Tanya Bella tiba-tiba.


"Tidak." Richi menoleh pada Hugo di sebelahnya. "Bagaimana?"


"Apapun asal bisa membantu". Jawab Hugo.


"Kalau begitu, kau harus pergi nanti malam ke acara pembukaan museum baru di kota C. Dia akan disana sekitar pukul 7 malam." Jelas Bella. "Kau ada undangannya?"


"Gampang kalau itu. Jadi, aku harus mendekatinya, sama seperti kau mendekati Harry?" Tanya Hugo memastikan.


Richi mengangguk. "Benar. Apapun asal cepat selesai."


"Kenapa kau tidak langsung ke akarnya saja?" Tanya Daren tiba-tiba.


"Apa Maksudnya?" Ucap Clair.


"Kalau Harry satu-satunya pemimpin Stripe, kenapa kalian tidak langsung menyekap Harry dan membuatnya mengaku apa yang akan dia lakukan?"


"Kau kira semudah itu dia akan mengaku?" Timpal Hugo.


"Kalau kalian menyekapnya, takkan ada perintah dan aturan dari Harry yang membuat semua itu terjalankan. Bukan begitu? Lagi pula, aku yakin Harry juga bukan orang teratas Stripe yang baru." Penjelasan Daren membuat Richi mengerutkan alisnya.


"Maksudmu, ada orang lain? Aku rasa tidak, sebab Harry masuk ke dalam Helikopter itu dan.."


"Apa sendirian? Kau yakin dia sendirian di dalam helikopter itu?"


Pertanyaan Daren membuat Richi berpikir lagi.


"Kalian pasti mengira, Harry merencanakan sesuatu tanpa menganalisa sebenarnya apa tujuan Harry? Kalian tahu kan, dia bukan orang kaya sembarang? Aku rasa keluarganya pun mampu membeli kota ini."


Semua terdiam dan fokus mendengarkan Daren.


"Baiklah, aku akan beritahu. Waktu penyelidikan itu, kami menemukan satu peta dan ternyata itu adalah gedung-gedung yang sudah ditandai oleh Stripe, setelah diselidiki, mereka menanam Bom di dalam semua gedung. Diantaranya adalah perusahaan keluargaku, dan keluargamu, Hugo." Ungkap Richi pada Daren dan Hugo yang belum tahu dengan jelas keseluruhannya.


"Apa?"


"Prediksiku saat ini, Harry menjalankan satu misi. Dimana setiap menerima dana besar, biasanya akan ada sistem simbiosis mutualisme. Walau entah apa yang Harry dapatkan, yang jelas dia melakukan itu karena sesuatu yang bisa saja dari si pemberi dana. Dan kalau aku berhasil menggagalkannya, aku juga akan tahu siapa penyalur dana tersebut."


Daren mengangguk lambat. "Kau tahu kelemahan Harry?"


Richi menggeleng.


"Sering ajak dia minum, dia tidak kuat dan akan mengoceh tentang hal-hal yang mungkin tidak akan kau dengar saat dia sadar." Ucap Daren lalu dia melirik Hugo. "Iya kan, adik Harry?"

__ADS_1


"Apa?" Richi melongo mendengar ucapan terakhir Daren pada Hugo. Adik, katanya?


TBC


__ADS_2