Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Pesta Ulang Tahun Sonia


__ADS_3

"Ah, bu-bukan tuan..."


"Olivia, cepat ajak tuan muda masuk.." Seru Elisa dari dalam rumah.


"Apa tuan mendengarnya? Saya masuk dulu." Olivia berjalan cepat melewati Daren yang sejak tadi menatapnya dengan tajam. Dia merasa bersyukur karena Elisa memanggilnya.


Tak berapa lama, Daren pamit pulang. Dia lalu diantar keluar oleh Olivia, tentu saja karena disuruh Elisa.


"Terima kasih atas kunjungan anda, tuan." Ucap Olivia sungguh-sungguh. Daren ternyata amat baik, apalagi setelah melihat reaksi bahagia adiknya, Nathan, yang amat bahagia karena mainan yang dibelikan Daren.


"Hm." Jawabnya lalu berjalan ke arah mobilnya tanpa menoleh lagi, membuat Olivia mengumpat dan memakinya dalam hati.


Ponsel Daren berdering, dia segera mengangkatnya.


"Iya, Mil."


"Baiklah. Iya, aku akan menjemputmu nanti malam." Ucapnya pada orang diseberang, lalu tersenyum sepanjang jalan hingga masuk ke dalam mobilnya.


"Heleh, giliran sama pacaranya saja, tersenyum-senyum tidak jelas!" Sungut Olivia lalu masuk ke dalam rumahnya.


...🪶...


Richi duduk menunggu Harry di lobi apartemen yang ia akui sebagai tempat tinggalnya. Dia bertopang dagu, melamun memikirkan Hugo yang tadi marah dan mengatakan hal buruk padanya.


"Bisa-bisanya kau berkata begitu" gumamnya dalam lamunan, walau hatinya amat sakit, tetapi dia tahu, Hugo tengah cemburu apalagi lelaki itu sebenarnya ingin menggandeng dirinya di acara ulang tahun mewah Sonia.


"Permisi, Nona. Tuan Harry sudah menunggu di mobil." Supir Harry membuyarkan lamunan Richi. Dia segera bangkit dan masuk ke dalam mobil Harry yang dengan tenang menunggunya.


Sesampainya disana, Harry membukakan pintu Richi, dengan perlahan gadis itu keluar dari mobil mewah Harry.


Kaki mulus Richi terlihat saat high heels-nya baru saja menginjak lantai parkir.


"Ayo.." ajak Harry, lalu lelaki itu menggenggam tangan Richi dan membawanya masuk ke dalam.


Harry menjadi tatapan orang-orang, selain tampan dan kharismatik, lelaki ini ternyata hampir tidak pernah mau datang jika diundang.


Sebab itu kehadirannya menjadi tatapan orang-orang apalagi kini dia menggandeng seorang perempuan, yang mana berita dirinya belum tertarik dengan gadis mulai melayang di ingatan orang-orang


Lalu sekarang, bukankah artinya dia sudah tertarik dengan seorang perempuan?


Richi menegakkan badannya, dia menarik napas perlahan karena ketidaksukaannya pada pesta dan perhatian orang-orang terhadapnya.


Belum lagi matanya yang berhasil menangkap Hugo tengah duduk berdempetan dengan seorang perempuan berambut panjang dan telihat sangat menikmati pesta dengan segelas anggur di tangannya.

__ADS_1


"Bagus sekali." Gumamnya menatap tajam pada Hugo yang tak melihatnya.


"Apa?"


"Tidak.." ucap Richi lalu tersenyum lebar pada Harry.


Richi berjalan dengan high-heels silvernya, dresa merah yang lebih pendek dari rok sekolahnya membuat kakinya terlihat indah.


"Bukankah itu Richi Darrel??" Pekik Camilla yang duduk bersama Daren, tak jauh dari Hugo.


Mendengar nama kekasihnya disebut, Hugo langsung melihatnya, gadis itu amat cantik dengan ujung rambut yang menyentuh bahu mulusnya.


Hugo menatap nanar, Richi bahkan terlihat senang dengan genggaman tangan Harry. Sesekali dia melepas tangannya dan bersalaman entah dengan siapa, dengan sigap Harry menggenggamnya lagi, membuat Hugo semakin panas.


"Lihatlah, dia bahkan tidak memakai gelang dariku." Gumamnya pelan dan menatap geram ke arah dua orang itu. "Padahal dia sudah berjanji tidak akan melepaskannya, hah!" lirihnya lalu bersandar pada sofa yang ia duduki.


Hugo meneguk anggur di tangannya, hal itu mendapat perhatian Daren.


"Hugo, apa sebaiknya kau pulang saja?" Saran Daren yang mengerti situasi.


Hugo tak bergeming, dia menuang lagi minumannya.


Camilla melihat Hugo dan Richi secara bergantian. Ya, walaupun dia belum menyerah akan Hugo, tetapi melihat Richi menggandeng lelaki lain membuatnya kesal. Dia beranjak dari duduknya dan menghampiri Richi.


"Uwah, tuan Harry, ini kali pertama aku melihatmu datang ke acara pesta." Ujar Camilla dengan tersenyum cerah.


Camilla melirik tangan yang bergenggaman dibawahnya. "Richi, sepertinya kau terlalu cepat mendapatkan pengganti."


Ah, mulai lagi dia. Batin Richi.


"Bukankah kau bersama Emerald Valter, lalu setelah itu kau.."


"Tidak lagi!" Jawab Richi dengan cepat sebelum Camilla menyebut nama Hugo.


"Ah, begitu ya. Ya ampun, kau juga berdandan demi tuan Harry, hebat sekali.."


Richi melengos, dia amat malas melayani Camilla.


"Ya, baiklah. Selamat bersenang-senang, tuan Harry.." Ucap Camilla lalu melambaikan tangan.


"Kau sepertinya akrab dengannya." Tukas Harry dan Richi enggan menjawabnya.


"Hai, Harry. Finally datang juga.." Seru Sonia langsung dan menatap ke arah Richi. "Eh? Richi.."

__ADS_1


Richi tersenyum tipis, mengingat hubungan dia dan Sonia bukan hubungan akrab.


"Wah, apakah aku harus memujimu, ha? haha" Tawanya yang tak menyangka dengan penampilan cantik Richi.


"Selamat ulang tahun, Sonia." Ucap Richi yang malas basa-basi.


"Ya Ya terima kasih, ya. Baiklah aku kesana dulu, nikmati acaranya." Ucapnya dan berlalu pergi.


MC dari acara itu mulai naik dan menjalankan acara seperti semestinya hingga acara dansa, Richi melihat Hugo menarik tangan pasangannya ke tengah dan mereka mulai berdansa.


Sesekali mata mereka bertemu, Richi menahan diri untuk membuat wajah kesal, karena dia akan tetap berusaha tersenyum bersama Harry.


Hugo tersenyum miring sambil melingkarkan tangannya di pinggang pasangannya, dia melihat wajah Richi yang biasa saja saat dirinya tengah berdansa seperti ini dengan perempuan lain.


"Ternyata kau tidak menyukaiku, ya?" lirih Hugo lalu mendapat respon dari pasangannya.


"Tentu aku menyukaimu, Hugo. Sudah sejak lama sekali." Ucap gadis di depannya lalu memeluk Hugo dengan sangat erat, hingga Richi bisa melihat dengan jelas apa yang diperbuat Hugo padanya.


Richi melengos, dia mengepalkan tangan kirinya karena kesal setengah mati. Ingin sekali dia keluar dari tempat ini.


"Hugo Erhard, belum juga berubah. Selalu gonta-ganti pasangan. Ckck" Harry bergumam sambil menggelengkan kepalanya.


"Mau berdansa?" Tawar Harry.


"Tidak.."


"Kenapa? Ayolah.."


Hugo memperhatikan ke arah Richi, gadis itu terus menggeleng seperti menolak ajakan Harry.


Harry memegang siku Richi dan membujuknya, sebab dia ingin sekali berdansa.


"Tidak, Harry. Aku ke toilet dulu." Ucap Richi lalu melepaskan tangan Harry yang memegang sikunya.


Mata Hugo terus mengikuti arah Richi berjalan. Gadis itu keluar ruangan, lalu masuk ke dalam toilet wanita.


Richi mencuci tangannya lalu bersandar di tembok depan Kaca. Dia melihati dirinya di dalam cermin besar itu.


Perlahan dia melepaskan napas beratnya, menghirup lalu mengeluarkannya lagi. "Ayolah, kau bisa" gumamnya lalu mengibas-ngibaskan tangan ke wajahnya yang terasa amat kesal dengan Hugo.


"Tahanlah Richi, dia hanya memanasimu saja. Fokusmu hanya pada misi dan Harry." Gumamnya lagi lalu menarik tisu dan mengelap tangannya.


Tak lama, seorang perempuan masuk ke dalam. Richi keluar dari toilet setelah berhasil mengatur jantungnya yang tadi berdetak hebat.

__ADS_1


Saat baru melangkah keluar, dia terkejut melihat Hugo berdiri dengan wajah sendu di depannya.


"Kau sudah selesai?" Tanya Hugo dan Richi menatapnya dengan diam.


__ADS_2