Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
S2 - Menaklukkan Orlando


__ADS_3

Olivia keluar dari mobil yang menjemputnya menuju gedung putih. Sejak tadi, dia meyakinkan diri bahwa ini hanyalah makan malam biasa. Hugo benar, tidak mungkin tuan Orlando berani melakukan hal buruk padanya, mengingat tempat yang ada di hadapannya adalah gedung suci.


"Ikut saya, nona."


Olivia mengikuti laki-laki yang berjalan di depannya memasuki gedung dan naik ke lantai dua. Disana, Olivia melihat Orlando tengah mengobrol bersama salah satu bodyguard yang sempat ditembak oleh Richi.


Melihat kedatangan Olivia, Orlando menyuruh seluruh ajudannya pergi dan hanya menyisakan ia dan Olivia.


"Sikakan duduk." Orlando menarik kursi untuk dirinya. Dia duduk di meja panjang yang berisikan banyak hidangan dan santapan yang nampaknya lezat.


"Jangan ragu. Saya tidak akan melakukan apapun pada anda."


Olivia akhirnya duduk di seberang Orlando dengan jarak yang cukup jauh.


"Apa di rumahmu ada makanan seperti ini?" Tanya pria itu, mulai memakan steak dengan gaya kerajaannya.


Olivia hanya menatap makanannya. Dia ragu, jangan-jangan steak itu sudah diracuni.


Melihat Olivia hanya memandang makanannya, membuat Orlando menepuk tangannya sekali.


Seorang pelayan datang, memotong steak lalu memakannya. Beberapa detik kemudian ia mundur, menandakan bahwa makanan itu aman.


"Apakah anda masih berpikir kalau aku sejahat itu?"


"Memang anda tidak menyadari sejahat apa anda?" Tanya Olivia balik dengan nada menghakimi.


Orlando tertawa kecil, lalu mengusap mulutnya dengan sapu tangan yang ia sematkan kedalam kerah bajunya.


"Aku ingin mengucapkan terima kasih, sebab gadis sepertimu ternyata cukup pintar untuk tidak memberitahukan itu kepada Darren."


"Saya melakukannya karena tidak ingin Darren bersedih telah memiliki ayah seperti anda."


"Aku anggap itu pujian." Jawab Orlando dengan cepat. "Kenapa Valiant bisa memilih kau sebagai anggotanya?" Orlando tertawa kecil. Dengan senyum nengejek, dia menatap Olivia. "Apa karena kau teman anaknya? Hah, kerdil sekali."


Mendengar perkataan tak menyenangkan dari Orlando, membuat Olivia tidak ingin berkata sopan.


"Aku bisa membuatmu berkali-kali tertimpa masalah, tuan Orlando. Bahkan aku bisa membuatmu keluar dari tahta. Aku punya semua bukti kejahatanmu bahkan saat aku mati sekalipun, kau tidak akan bisa menghentikanku. Sekarang aku punya pengaruh dalam kehidupanmu. Apa kau menyadari itu?"


Olivia menatap tajam pada Orlando, sedikitpun dia tak takut, lalu melanjutkan kalimatnya sambil memainkan sapu tangan yang ada diatas meja.


"Aku cukup berpengaruh di Valiant. Bahkan Jenderal Wiley langsung yang memilihku. Saat 14 tahun aku sudah ikut pembantaian kota Vendert. Anda ingat kasus dua tombak besi yang terlempar tepat di dada putra menteri perdagangan yang bermasalah itu? Tidak ada yang bisa menemukan pelakunya." Olivia memelankan suaranya. "Karena akulah orangnya." Jawabnya dengan tersenyum penuh kemenangan dan dianggap menyeramkan oleh Orlando.

__ADS_1


Ya, Orlando ingat kasus itu bahkan Wiley ikut turun tangan. Kasus kerusuhan yang dilakukan oleh putra menteri perdagangan. Tak ada seorangpun yang tahu siapa pelaku yang menombak dari jauh dada putra bermasalah itu. Atau mungkin Jenderal Wiley menutupinya?


Orlando menutup rapat mulutnya setelah mendengar semua perkataan Olivia. Dia menyadari itu. Apa yang dikatakan gadis di depannya juga benar. Tak bisa ia pungkiri bahwa gadis itu memang pintar.


Olivia bersandar di kursinya. "Lagi pula anda tidak benar-benar bebas. Sebentar lagi, Jenderal Wiley akan menangkap anda."


Orlando mengerutkan dahi. "A-apa maksudmu!"


Olivia tersenyum miring. "Nama anda tertera dengan jelas di surat perjanjian kerja sama kelompok Blackhole. Anda yang membiayai semuanya dan itu tidak bisa ditolerir."


Orlando bergeming. Matanya membulat apalagi mendengar nama Jenderal Wiley disebut oleh Olivia.


"Perilaku buruk anda, tidak mungkin terhapus begitu saja setelah apa yang anda perbuat. Anda tetap harus menjalani serangkaian pemeriksaan."


Orlando mengepalkan tangannya yang berada diatas meja. Sorot matanya pun tajam menghardik Olivia. Namun gadis itu tak sedikitpun merasa takut. Apalagi, Richi sudah membekalinya sesuatu yang akan membuat Orlando bertekuk lutut padanya.


"Mau kuberitahu sesuatu, supaya masalah anda ini tidak terdengar sampai keluar kerajaan?"


Orlando menundukkan mata. Dia memang tak punya pilihan selain menuruti Olivia. Padahal pada awalnya, dia hanya ingin menekan Olivia supaya tidak mengancamnya ini dan itu. Tetapi setelah mendengar semuanya, dia tidak bisa melakukan banyak hal selain bertekuk lutut di hadapan Olivia. Kini dia menyadari, gadis di depannya memang punya kuasa atas dirinya.


...🍁...


"Sayang, apa Clair benar-benar hamil?" Tanya Hugo sembari mengemudikan mobilnya.


"Aku hanya penasaran, apakah mereka akan menikah?"


"Memangnya kalau iya, kenapa?"


Hugo menghela napas. Entah apa yang membuatnya merasa berat. Apa karena dia merasa diduluani oleh Simon?


"Aku hanya bingung. Seingatku, Simon pernah bercerita kalau dia masih belum ingin menikah."


"Aku yakin Simon bertanggung jawab kalau memang Clair hamil. Lagi pula itu belum pasti, kan? Kemarin kami hanya bercanda saja."


"Semoga saja dia tidak hamil."


Doa Hugo itu membuat Richi menoleh. "Ada apa? Kau sampai seperti itu."


"Aku tidak mau dia menikah duluan. Harus aku. Apalagi persiapanku sudah matang. Tinggal menunggumu saja." Katanya sambil menoleh sekilas pada Richi yang tertawa.


"Wah, bagaimana ini. Aku masih harus menyelesaikan perkuliahanku."

__ADS_1


"Tidak masalah asal tidak ada yang melangkahiku." Jawabnya lagi dengan mode wajah serius.


Richi malah semakin terbahak-bahak dan mengalihkan topik.


"Aahh..Hari ini aku semangat karena pelajaran soal basket. Haah, akhirnya ada yang benar-benar membuatku senang berkuliah." Seru Richi.


"Jadi, kau bukannya bersemangat karena pergi kuliah denganku?" Hugo mulai cemberut.


"Karenamu juga.." kata Richi mengacak rambut Hugo.


Lelaki itu menghentikan mobil tepat di fakultas Richi.


"Aku hanya ada satu kelas. Setelah ini aku mau menjemputmu, boleh?" Tanya Hugo, meminta persetujuan pada Richi.


"Tentu. Aku ada di lapangan basket nanti."


Hugo tersenyum lebar. Akhirnya dia bisa masuk ke jurusan Richi dan memamerkan dirinya dihadapan banyak lelaki yang mencoba menggoda kekasihnya.


"Tapi, Hugo.. kau benar-benar sudah keluar dari TheMost?" Tanya Richi lagi, memastikan yang kemarin sempat lupa ia tanyakan lebih dalam.


"Iya. Aku juga membayar denda dari sisa kontrak yang masih ada. Aku tidak mau membuat kekasihku terus menerus merasa lelah. Selama ini aku sudah sangat merepotkanmu."


Richi tersenyum lebar. Akhirnya dia tidak akan merasakan sesak lagi jika Hugo berpose seksi seperti kemarin.


"Tapi, lihatlah. Baru kemarin Hamlet mengunggah fotomu, sudah dilihat sampai jutaan orang." Keluh Hugo, menunjuk postingan Aron di media sosialnya.


"Sudahlah. Aku dan Hamlet hanya berteman. Dia tidak akan bisa mendapatkan aku, karena sepenuhnya aku milikmu."


"Aaahhh." Mendengar ucapan Richi itu membuat tulang-tulang Hugo meluruh. Dia memegangi jantungnya seolah-olah lemas karena itu.


"Aku pergi dulu." Richi hendak keluar, namun lengannya ditahan Hugo.


"Kau ini, selalu lupa dan melewatkan hal penting."


Richi mengecup kedua pipi Hugo, kemudian kening dan terakhir bibi. Dimana Hugo dengan cepat menahan Richi dan mellumat bibir gadis itu dengan sedikit bernapsu. Lagi, Hugo menggit bibir Richi hingga membuat gadis itu mendorong Hugo dan langsung meringis.


"Sakit, tahu!" Pekiknya kesal sembari memegangi sudut bibirnya yang memerah.


"Hehe. Sorry, sayang. Aku kasih tanda supaya orang-orang tahu kalau kau punya pacar."


Richi berdecak kesal, lalu keluar dari mobil masih dengan memegangi bibir yang nampaknya sedikit bengkak karena perlakuan Hugo tadi.

__ADS_1


Hugo hanya terkikik melihat wajah cemberut kekasihnya itu. Memang lebih bagus Richi dengan wajah juteknya daripada gadis itu berseri-seri, yang bisa saja menambah ketertarikan orang-orang padanya.


TBC


__ADS_2