
Harry menoleh saat dari ekor matanya melihat Richi bergerak. Gadis itu terlihat mengerjap dan Harry mendekatinya.
"Morning.." Sapa Harry, seketika Richi terduduk dan membulatkan matanya saat melihat Harry tersenyum lebar duduk di tepi tempat tidur.
"Tidurmu nyenyak?" Tanya Harry, sementara Richi terus menatap sekitar, lalu menyentuh kepalanya yang masih terasa berat.
Mata Richi membulat saat matanya melihat pakaiannya yang sudah bertukar. "Aku.."
"Kau di penthouse-ku. Tadi malam kau terlalu banyak minum. Jadi aku membawamu kesini. Tenang saja, bukan aku yang mengganti pakaianmu." Jawabnya lalu berdiri di depan cermin panjang, membenarkan posisi kancing kemeja dan dasinya.
Richi sedikit lega, lalu menyandarkan kepalanya yang masih berat. Sebenarnya dia ingin sekali lari dari sana, tetapi kondisinya masih belum bisa bergerak banyak.
"Aku sudah membelikan seragammu. Jika mau sekolah, aku akan menunggumu." Ucap Harry lalu memakai blazer sekolah dan kacamatanya.
"Tapi lebih baik kau istirahat dulu disini. Aku akan membawamu ke perusahaanku siang nanti." Ucapnya lalu tersenyum menatap Richi yang memejamkan matanya lagi. "Sarapanmu ada di atas meja. Aku pergi dulu. Kau istirahat saja."
Richi terbelalak saat Harry mencium puncak kepalanya dan langsung berjalan menuju lift.
Harry melambaikan tangan lalu pintu lift tertutup.
"Sialan." Umpatnya lalu mengusap-usap rambutnya.
Richi merebahkan lagi kepalanya, "sebentar saja..." gumamnya lalu tertidur lagi.
~
"Bagaimana?" Bella menghampiri Olivia yang duduk dengan laptopnya.
"Belum ada tanda-tanda kehidupan" jawab Olivia asal.
"Ck! Apa, sih. Bicaramu itu!" Bella meninju pelan bahu Olivia.
"Ya ini, ponselnya belum aktif." Jawabnya dengan bibir mengerucut dan memegangi bahunya.
Clair datang membawa nampan berisi teh, kopi dan roti. "Sarapan dulu."
"Hah, aku khawatir betul." Bella berjalan kesana kemari. Dia melirik jam di dinding, sudah pukul 7 pagi dan Richi belum juga memberi kabar.
"Rencana tadi malam, apa tidak terlalu mengambil resiko untuk Richi?" Tanya Olivia tiba-tiba, membuat Clair dan Bella tidak bisa menjawabnya.
"Aku berharap padamu, Clair. Kau bagian pentingnya."
Clair mengangguk lambat mendengar ucapan Olivia.
"Apa perlu memberitahu Hugo?"
Clair menatap Bella, "aku rasa perlu. Aku akan memberitahunya dan menjelaskan misinya supaya Hugo tidak merusak susunannya."
Olivia mengangguk, mereka hanya mengikut apa yang diperintahkan Keen, sebab misi Valiant kali ini benar-benar seperti pertempuran besar.
~
Richi membuka matanya, kepalanya sudah tidak begitu pusing. Dia langsung meraih ponselnya dan mengaktifkannya.
Menunggu ponselnya berproses, Richi menatap sekitar. Tempat yang amat mewah dan Harry tinggal sendirian di sini.
Ponsel Richi bergetar, banyak pesan dan panggilan yang terlewat disana.
Dia mengirim pesan pada Clair dan yang lainnya, juga Hugo yang langsung meneleponnya.
"Chi, kau dimana? Aku akan menjemputmu!" Suara Hugo terdengar khawatir, membuat Richi tersenyum.
"A.." Richi menahan ucapannya dan melirik sekitar dan ke arah atas, dia harus hati-hati sebab bisa saja Harry mempunyai kamera pengawas atau alat sadap yang menempel disekitarnya.
Richi langsung mematikan sambungan telepon dan mengirim pesan pada Hugo.
'Aku baik-baik saja. Sedang di penthouse Harry tapi tidak tahu dimana alamatnya. Jangan telepon karena aku khawatir ada kamera pengintai. Aku akan keluar segera dari sini. Maaf merepotkanmu, kau belajar saja yang benar. Jangan kabur dari sekolah.'
Richi meletakkan ponselnya, dia bergerak menuju meja makan Harry yang diatasnya sudah ada makanan dan catatan kecil.
'Di dalam microwave ada sup untuk meringankan mual. Sandi lift 811818. Kalau bisa, jangan pergi sampai aku kembali hehe❣️'
Richi meletakkan lagi kertas itu dan melahap makanan di hadapannya.
"Ah, segar sekali.." Ucapnya lalu menyantap habis makanan tanpa sisa. Alkohol kemarin membuatnya menjadi sangat lapar.
Setelah makan, Richi melihat sebuah memo di lemari Harry.
'Baju gantimu ada di dalam, aku sudah membelikannya.'
Richi menuju kamar mandi. Sebelum itu, dia menatap sekitar kamar mandi dan memeriksa hingga pada lampu di atasnya. Namun nampaknya tidak ada kamera atau penyadap suara disana.
Setelah berganti pakaian di dalam kamar mandi yang ia rasa aman, Richi keluar dan meraih ponselnya, melihat tumpukan pesan dari Clair dan yang lainnya.
Richi masuk ke dalam lift dan menekan sandinya, dia langsung keluar dan menuju kafe Clair untuk menemui teman-temannya.
__ADS_1
Langkah Richi terhenti saat matanya menangkap Hugo berdiri di depan mobil.
Lelaki itu tampak sedikit berantakan dengan jas yang masih menempel di badannya. Dia berlari kecil saat melihat Richi keluar dari hotel. Begitu juga Richi yang langsung berjalan ke arah Hugo dengan senyuman yang tak bisa ia tahan. Melihat gurat kekhawatiran lelaki itu membuatnya semakin menyayangi Hugo.
Tanpa kata, Hugo langsung memeluk tubuhnya dengan erat. Begitu juga Richi yang membalas pelukannya, apalagi harum Hugo masih tercium di hidungnya.
Hugo memeluknya cukup lama, kekhawatirannya perlahan memudar saat melihat Richi yang tak kekurangan apapun.
"Maaf aku membuatmu khawatir." Ucapnya sambil mendongakkan kepala, melihat Hugo yang menunduk menatapnya.
"Aku yang menyesal karena tidak cepat menolongmu. Kau baik-baik saja, kan? Apa Harry melukaimu?"
Richi tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Aku kira kau sekolah."
"Itu tidak lebih penting dari dirimu." Ucapnya lalu mencium kening Richi dan merangkulnya sambil berjalan menuju mobil.
"Kau ini, memang malas belajar!" Hardik Richi.
"Sudah, jangan mengomel. Aku mau makan, kau harus menemaniku." Ucapnya lalu masuk ke dalam mobil.
"Iya, kalau gitu kita ke kedai Clair saja." Richi memasang seatbelt-nya.
"Oh ya, Hugo. Bagaimana kau bisa tahu aku disini?"
"Aku punya banyak mata. Jadi, kau tidak bisa menjauh dariku." Jawabnya lalu menjalankan mobil, menuju kedai Clair untuk mengisi perutnya.
...🐣...
TRING!
Lonceng di pintu Kafe Clair berbunyi saat Richi membuka pintu. Ketiga temannya langsung menoleh saat Richi masuk dengan senyum cerah.
"Reell..!"
"Mouzaaa.." Richi berlari kecil menuju kucing kesayangannya yang tergolek di atas karpet kecil.
Sementara Hugo berjalan di belakang Richi dengan senyum cerah melihat keimutan kekasihnya itu.
"Lihat si gila itu, tidak tahu betapa kita mengkhawatirkannya, sementara dia datang dengan wajah cerah dan malah memeluk Mouza." Cibir Bella tak terima dengan perlakuan Richi sementara mereka hanya tidur 3 jam tadi malam.
"Hei, aku mendengarmu, tahu!" Richi berjalan sambil memeluk Mouza di tangannya.
"Kau kemana saja, bikin kami semua khawatir." Olivia memeluk Richi, diikuti Clair dan Bella.
Meong..
"Maaf.. aku juga sempat panik tadi malam, ternyata Harry tidak melakukan apapun padaku." Richi meletakkan Mouza di lantai.
"Lalu, bagaimana kelanjutannya?" Tanya Bella.
Richi duduk dan meminum kopi di atas meja yang nampaknya belum disentuh. "Aku akan bergerak siang ini. Jadi, aku perlu ganti baju untuk persiapan."
Hugo duduk di sebelah Richi, begitu juga yang lain duduk di tempatnya masing-masing.
"Jadi, kalian tidak sekolah karena aku?" Richi menatap semua orang di sekitarnya.
"Hm.." Bella melirik Clair dan Olive. Dia berusaha tutup mulut soal misi Valiant tadi malam.
"Iya, kami sangat khawatir." Jawab Olivia seadanya.
Richi tersenyum tipis. Dia bisa melihat sesuatu yang ditutupi teman-temannya. "Wah, aku sangat beruntung rasanya memiliki teman-teman yang amat menyayangiku. hehe" Celoteh Richi.
"Setelah aku berhasil menyelidiki perusahannya itu, aku akan melapor pada Keen dan menyusun rencana." Tukas Richi dan teman-temannya hanya diam.
"Clair, aku mau pesanan Darrel." Huga memecah kesunyian mereka.
"Ah, iya. Akan aku siapkan. Kau bagaimana, Rel?" Clair berdiri dari tempatnya.
"Aku sudah sarapan." Jawabnya lalu mengeluarkan ponsel.
"Enak sekali, sudah segar dan sarapan. Kau darimana?" Tanya Bella.
"Penthouse Harry. Dia memang mandiri, tempatnya bersih dan mewah untuk hunian seorang diri."
"Kau memuji laki-laki lain di depanku." Hugo melipat tangannya di dada, menatap ke bawah sebab kepalanya mulai pusing.
"Haha, bercanda." Richi memperhatikan wajah kusut Hugo. "Apa sebaiknya kau pulang saja, Hugo. Istirahatlah. Kau terlihat lelah".
Hugo mengangguk. "Ya, setelah ini aku akan istirahat sebentar". Jawabnya setuju karena dia hanya tidur satu jam di mobil.
Setelah Hugo selesai makan, Richi mengantarnya ke depan.
"Istirahatlah. Maaf sudah banyak menguras tenagamu." Ucap Richi merasa bersalah.
"Bahasamu itu, seperti aku telah melakukan olahraga malam bersamamu." Hugo cekikikan sendiri, apalagi melihat reaksi Richi yang bingung.
__ADS_1
"Aah.." Richi berkacak pinggang, "ternyata kau sangat mesum ya, Hugo." Dia menyipitkan matanya menatap tajam pada Hugo yang semakin tertawa lebar saat Richi mulai paham apa maksud dari perkataan Hugo.
"Sini, peluk aku. Aku perlu energi lebih untuk menyetir supaya tidak ngantuk." Hugo merentangkan kedua tangannya.
Richi tak bergeming, dia melirik ke belakang. Teman-temannya pasti akan lihat karena kedai kopi Clair yang memakai kaca sebagai tembok.
"Kenapa? Kau malu dilihat teman-temanmu? Ayolah, aku perlu energi tambahan." Rengek Hugo.
Richi menarik dasi Hugo, membuat laki-laki itu melangkahkan kakinya mendekat ke tubuh Richi, lalu memeluknya dengan erat.
"Hah, kau ini." Hugo meletakkan dagunya di puncak kepala Richi. "Aku sangat merindukanmu. Telepon aku jika kau butuh. Aku tidak akan menonaktifkan ponselku."
Richi mengangguk di pelukan Hugo. "Sudah.."
Hugo menahan tubuh gadis itu saat dia ingin melepas pelukan. "Tunggu sebentar. Energinya belum naik.."
"Hugo, sudahlah. Aku malu, tahu!"
Hugo melepaskan pelukan dengan kesal. "Kau ini, aku tahu kau tidur di ranjang Harry, kan? Coba bilang padaku, apa dia tidur di sampingmu??"
Richi menatap tajam pada Hugo. Apa-apan dia, kenapa tiba-tiba menginterogasi seperti itu? Batinnya.
"Cepat jawab. Jangan-jangan dia menciummu, ya?"
Richi tersentak. Ya, memang benar Harry tadi menciumnya. Tapi kan, Harry yang tiba-tiba melakukan itu.
Hugo berkacak pinggang, lalu menatap dengan penuh kecurigaan. "Wah, melihatmu diam membuatku semakin curiga."
"Aku tidak tahu, Hugo. Kan aku pingsan dan saat bangun sudah di penthouse Harry." Jawab Richi penuh dramatis supaya tidak membuat Hugo curiga lagi. "Sudahlah. Kenapa jadi menginterogasiku?"
"Karena aku tidak bisa tidur membayangkan kalau kau tidur bersama Harry, aku khawatir dia melakukan hal tak senonoh."
"Dia tak semesum kau, Hugo. Dia lemah lembut dan penyayang."
"Apa? Kau tidak tahu dia menghajar Shera sampai lebam? Lemah lembut? Kau ini, sekarang sudah menyukainya ya, sampai lupa dengan perbuatannya?" Hugo mendelik kesal.
"Oh, hehe. Iya, aku lupa. Sudahlah, jangan marah-marah. Kau bilang tadi rindu. Tapi malah memarahiku habis-habisan!"
"Kau memuji orang gila itu didepanku!" Hugo mencebikkan bibirnya, melihat ke arah Richi dengan sebal.
"Iya, baiklah. Aku minta maaf ya, sayang. Sekarang, pulang dan istirahatlah."
Hugo menahan senyumnya. "Apa tadi kau bilang?"
"Sayang, pulang dan hati-hatilah." Richi melembutkan nada bicaranya.
"Apa? Sekali lagi coba?" Hugo mulai tidak bisa menahan senyumannya.
Richi menarik napas, "aku menyayangimu, Hugo Erhard. Sekarang kau pulang sana."
Hugo mengembangkan senyumannya, lalu menarik Richi kepelukannya. "Hah, untung aku sangat sayang." Ucapnya sambil mengecup puncak kepala Richi.
"Astaga, tidak pulang-pulang juga!" Richi mencubit pinggang Hugo.
"Aaaa.. iya, iya. Aku pulang.." Hugo memegang tangan Richi yang mencubit pinggangnya sambil meringis.
Sementara tiga orang gadis tengah mengerutkan dahi melihat kelakuan sepasang kekasih yang tak jauh dari pandangan mereka.
"Bukankah itu menjijikan?" Olivia terus menatap dua orang yang tengah saling menggelitik badan.
"Hah, aku lebih menyukai Darrel yang berwajah bengis." Sahut Bella, sementara Clair tertawa mendengar keluhan kedua gadis di depannya.
"Kalian hanya karena belum jatuh cinta saja." Ujar Clair sambil tersenyum dalam melihat Richi yang berubah saat bersama Hugo.
Hingga masuk ke dalam Kafe, Richi masih terus tersenyum dan ditatap oleh ketiga gadis itu.
Menyadari diperhatikan, Richi berdiri dan mengubah raut wajahnya.
"Hah, mulai dia.." Olivia membuka laptopnya, sementara Richi menarik kursi dan duduk sambil melipat tangannya di dada.
"Sekarang, jelaskan. Apa yang terjadi sepeninggalku. Tidak mungkin kalian bertiga ada disini hanya karena aku. Apalagi dia." Mata Richi menatap Bella. Gadis centil nan anggun yang tidak akan mau tidur berdempet-dempetan di kamar Clair. Apalagi, Bella penuh dengan kehebohan sebelum tidur. Harus maskeran, uap ruangan yang harum, rendaman kaki yang hangat, dan banyak lagi.
"Dia memang sulit ditipu." Bisik Olive pada Clair.
"Aah, kami hanya ingin menunggumu dan bergosip seperti biasa. Kita sudah lama kan, tidak melakukannya?" Bella tertawa sambil memukul pelan Clair dan Olivia.
Richi menggelengkan kepala, tanda dia tidak percaya.
"Haaahh.. iya, iya. Kami menghancurkan markas Blackstone tadi malam dan kami dilarang memberitahumu. Puas?" Tukas Clair mendengus.
Richi diam. Matanya memandang ke arah kopi di atas meja. Dia tidak menjawab lagi. Karena dia mulai menyadari bahwa kakaknya benar-benar sangat marah padanya.
TBC
HALOOOO...
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE EPISODE INI YAK🐣