
"Kalau gitu, aku pulang dulu, ya."
Emerald melambaikan tangan saat supir sudah menjemputnya. Begitu juga Richi yang hendak kembali ke dalam sekolah, menghentikan langkahnya saat ponselnya bergetar. Nomor tak dikenal meneleponnya.
"Halo?"
Beberapa detik Richi menunggu, namun tidak ada jawaban. Hanya suara napas berat yang terdengar.
"Halo? Kalau tidak ada jawaban akan aku tutup."
"Chi.."
Richi mengerutkan alis, mencoba menerka suara siapa yang terdengar menyedihkan dari seberang.
"Ya? Siapa?"
"Chi.. Shera.."
Oh? Ini Harry. "Harry, kau kah?"
"Shera.. dia.. pergi."
Suara itu tercekat, terdengar seperti putus asa.
"Harry, ada apa denganmu?"
Tidak ada jawaban lagi kecuali isak tangis dan membuat Richi benar-benar penasaran dengan apa yang terjadi.
"Apa kau di penthouse-mu? Kau bersama siapa Harry?"
"Chi,, Shera.."
Richi tengah berpikir, dia ingat Hugo bilang Shera keluar negeri meninggalkan Harry. Nampaknya lelaki itu tengah terpuruk atas hilangnya Shera.
"Tunggulah, aku akan kesana!"
Richi langsung berlari kecil mencari taksi, dia menuju lokasi penthouse Harry.
Sesampainya disana, dia langsung menaiki lift dan menekan tombol yang bergambar kunci, lalu dia memasukkan kata sandi yang ia masih ingat.
Pintu lift terbuka, Richi membelalakkan mata saat mendapati ruangan yang berantakan.
Richi berjalan perlahan. Dia melihat tubuh Harry yang bersandar lemah di tempat tidur besarnya.
"Harry?" Richi berjalan cepat menuju Harry.
Lelaki itu tampak pucat dan berantakan.
"Kau sudah makan?" Richi mengecek suhu di dahi lelaki itu. Badannya agak panas.
Harry tak menyahut.
"Harry, kau sakit. Apa karena Shera? Kau sudah menghubunginya?"
Mata Harry mengarah ke ponsel yang ia genggam. Layarnya pecah, tetapi masih bisa berfungsi.
Richi mengambilnya dan ternyata itu ponsel Shera, tampilan layarnya memperlihatkan foto Harry dan Shera berdua. Shera tampak tersenyum cerah sementara Harry berwajah datar.
"Kau mencintai Shera, ya?"
Pertanyaan itu membuat Harry melihat ke arah Richi. Tatapan sendu yang belum menyadari perasaannya.
"Kau harus sehat dulu sebelum mencari Shera. Aku akan membuatkanmu bubur yang enak. Kau tidur dulu saja."
__ADS_1
Richi meletakkan tasnya, lalu membantu Harry merebahkan tubuhnya. Kemudian Richi berjalan menuju dapur Harry.
Bola mata Harry menatap tubuh yang baru minggu lalu ia tusuk dengan pisau tanpa sengaja. Dia sedikit lega, ternyata perempuan itu kuat dan sudah bisa beraktifitas dengan normal.
Harry terus menatapi layar ponsel Shera yang masih menyimpan banyak sekali kenangan yang bahkan Harry tidak sadari. Beberapa note tentang Harry juga masih tersimpan disana.
Ternyata Shera berbohong. Dia tidak benar-benar membenci Harry. Itu memang tidak mungkin, bagaimana bisa perasaan bertahun-tahun itu langsung hilang begitu saja? Melihat itu, Harry merasa benar-benar menyesali perbuatannya. Dia sangat ingin Shera kembali, tetapi dia tidak tahu harus mencari kemana sebab ponselnya pun tertinggal.
Beberapa menit berlalu, Richi menatapi tubuh yang tertidur di atas ranjang. Manusia yang baru saja berulah, meledakkan gedung-gedung ayahnya sendiri. Ternyata tengah galau karena ditinggal orang yang selama ini selalu disampingnya.
Richi duduk di tepi ranjang, menatap wajah Harry yang sangat pucat. Hugo pernah bilang kalau dia mungkin saja seperti itu jika Richi meninggalkannya. Melihat Harry saja ia merasa sangat kasihan, apalagi jika Hugo yang seperti itu.
"Harry, bangun."
Richi mengguncang tubuh Harry perlahan. Lelaki itu terbangun.
"Ayo, makan dulu."
Richi membantunya bersandar, lalu menyuapinya makan. Richi benar-benar merawat laki-laki itu.
Harry menatap sekelilingnya. Ruangannya sudah rapi. Pecahan dan barang-barang yang berserak dibawah sudah dibersihkan Richi.
"Maafkan aku.." lirih Harry.
"Ya, sudah kumaafkan." Richi menyuapinya dengan hati-hati.
"Kau tidak dendam?" Suara Harry lemah tetapi Richi masih bisa mendengarnya.
"Tidak, karena aku tahu kau tidak sengaja melakukannya. Tapi kau jahat sekali, ingin membunuh Hugo."
Harry tersenyum tipis lalu menunduk. "Mana mungkin aku melakukannya. Aku tahu dia pasti akan mengelak. Hanya saja aku terkejut saat kau yang tiba-tiba muncul." Harry membuang napasnya dengan kasar.
"Walau aku tidak menyukainya, dia tetap saudaraku. Aku tahu Hugo juga diam-diam melindungiku." Lanjutnya lagi. Dia teringat saat dulu masih di sekolah dasar, anak-anak ingin mengganggu Harry, tapi Hugo langsung mencegah dan mengancam mereka jika ada yang berani menyentuh Harry. Hal itu Harry dengar sendiri saat dia di dalam bilik kamar mandi tanpa sepengetahuan Hugo.
Harry tersenyum tipis. "Jangan tinggalkan Hugo. Dia sudah menderita dari kecil karenaku. Dia pasti sangat menyayangimu. Aku belum pernah melihat tatapan Hugo yang menatapmu seperti itu."
Richi tidak menjawab, dia menyulangi suapan terakhir. "Aku sudah membereskan semuanya. Kau juga jangan lemah seperti ini. Aku akan pulang, jadi kau harus urus dirimu sendiri."
Richi memberikan minum Harry dan bangkit dari tempatnya menuju dapur untuk meletakkan piring bekas makan Harry.
"Harry, aku pulang dulu. Kau sudah mendingan, kan?" Tanya Richi sambil memakai tasnya.
Harry mengangguk. "Terima kasih, Chi.."
Ponsel Harry bergetar. Dia meletakkannya ke telinganya tanpa berbicara.
Lalu matanya mengarah pada Richi yang melambaikan tangannya sebelum pintu lift tertutup.
Richi mengambil ponselnya, ternyata baterainya habis. Hari sudah mulai gelap, pasti Hugo mencarinya karena dia tidak memberi kabar tadi.
TING
Pintu lift terbuka. Di hadapannya, Richi melihat banyak sekali lelaki berkaos hitam dengan pistol di tangan mereka.
Belum sempat Richi melangkah keluar, gerombolan itu langsung masuk ke dalam lift, menghimpit tubuh Richi ke sudut belakang.
"Permisi, saya mau keluar dulu."
Tidak ada yang bergeming. Salah seorang diantara mereka memencet tombol lantai 13.
"Apa boleh aku keluar?"
Tidak ada jawaban kecuali suara pistol yang dikokang. "Ikuti kami atau kau dan keluargamu mati." Richi menatap pada ujung pistol yang mengarah ke kepalanya.
__ADS_1
Dalam hati dia mengeluh, dengan kondisinya saat ini, dia benar-benar harus pasrah. Aah, Harry. Ternyata ini jebakanmu. Batinnya.
...🦍...
"Ada pertanyaan?" Tanya Ricky pada para anggotanya sebelum menutup rapat mereka.
Kali ini, mereka akan menangkap Harry. Mereka sudah mempersiapkan strategi dengan matang untuk membuat Stripe datang sendiri.
Ponsel Simon berdering, dia menerimanya.
Ricky menyipitkan mata saat melihat ekspresi Simon yang terkejut.
"Kenapa?" Tanya Ricky.
"Darrel.. ditahan Stripe." Jawabnya tergagap.
Semua yang ada di ruangan terkejut. Termasuk tim Fox yang menegang saat mendengar ketua tim mereka yang ditahan.
Rahang Ricky mengeras. Dia keluar ruangan lalu menelepon Hugo.
"Hei, sialan, kemana kau ajak Richi??"
"Dia pergi bersama Emerald siang tadi."
Ricky langsung mematikan ponselnya.
"Cepat!! Semua bersiap!" Suara Ricky menggelegar hingga bisa terdengar di semua ruang.
Para anggotanya keluar dari ruang rapat menuju ruang masing-masing untuk bersiap.
"D9!" Pekik Ricky yang memberi kode bahwa mereka harus memakai pakaian lengkap dengan baju anti peluru.
"Keen, kita harus menyusun rencana dulu!" Tukas Simon.
"Tidak sempat! Jonathan, cepat lacak nomor tadi!" Setelah memberi titah, Ricky berlalu masuk untuk memakai perlengkapannya.
Selang beberapa lama, Hugo berlari dan langsung masuk ke dalam markas. Dia dicegat beberapa penjaga.
"Hei! Siapa kau!" Dua penjaga itu menghalangi tubuh Hugo.
"Ricky!"
Teriakan Hugo membuat Ricky keluar dengan sudah memakai pakaian lengkapnya.
"Aku ikut mencari!!" Pekik Hugo dengan wajah yang sangat panik.
"Ahh, Hugo.." bisik Bella pada Clair dan Olivia.
"Kau tidak becus menjaga adikku. Aku tidak percaya padamu."
"Aku mau ikut mencari, Sialan!!" Pekiknya dengan leher yang menegang.
Semua orang menegang saat Hugo memaki bos mereka.
"Apa kau bilang??!" Penjaga yang menghalangi Hugo langsung memberi hantaman saat mendengar ketua mereka dimaki begitu saja.
Hugo dengan cepat menangkis dan memberi serangan sampai orang itu tersungkur.
Orang-orang yang ada disana terbelalak, mereka ingin menyerbu tetapi tangan Ricky memberi perintah untuk diam.
Napas Hugo terengah dengan tangan yang mengepal. Dia terlihat sangat marah menatap Ricky yang memandangnya dengan santai.
Hugo, emosinya sudah di ujung apalagi saat dia tahu bahwa Richi disekap oleh kelompok yang sudah ia besarkan sendiri.
__ADS_1
Tbc