
"Olivia-" Daren terhenti saat Olivia menekan pelatuk dan suara nyaring pistolpun terdengar kuat ditelinganya.
Daren mematung. Seketika napasnya tertahan karena ujung daun telinganya mengalirkan darah.
BRUK!
Terdengar suara tubuh terjatuh ke lantai. Daren menoleh, ternyata Olivia melepaskan senjatanya ke arah musuh tepat dibelakangnya.
"A-apa yang..." Isac yang ikut melihat dari tadi terdiam. Clair langsung menarik tangan lelaki itu.
"Ayo, biarkan mereka." Ucapnya sambil menyeret Isac menjauh.
Sementara Daren menatap Olivia. Ia sempat mengira bahwa Olivia akan menembaknya, ternyata tidak.
Gadis itu menatap nanar, karena ujung daun telinga Daren kini mengalirkan sedikit darah.
Belum juga sembuh luka di belakang kepala Daren, kini Olivia menambahnya lagi.
Olivia menurunkan senjatanya, dia ingin melanjutkan langkah lagi, tetapi Daren menjatuhkan diri. Dia berlutut.
"Olivia. Aku tidak bisa menahan diri jika itu berkaitan denganmu." Matanya menatap penuh harap. Melihat gadis itu marah saja sudah membuat Daren tak berdaya.
"Berikan aku kesempatan. Aku akan membuktikan padamu kalau aku tidak sedang bercanda, Olivia. Aku serius dengan perasaanku."
Olivia tertegun. Dia melihat mata Daren lekat-lekat dan bisa merasakan itu. Tapi.. entah kenapa bayangan dibercandai oleh Daren masih saja melekat dipikirannya.
Olivia membalikkan badan. Rasanya dia belum juga sembuh dari dua kejadian luar biasa itu. Bukan sekarang waktunya. Olivia berjalan lagi ke arah Clair menghilang.
"Waah. Aku baru lihat Daren sampai seperti itu." Bisik Isac pada Clair. Mereka mengintip dari balik tembok. Tentu saja melewatkan kejadian penting seperti itu adalah kebodohan.
"Apa Daren itu laki-laki baik?" Clair mendongak, melihat Isac yang mengintip diatasnya.
"Tentu. Dia hanya satu kali pacaran, seingatku. Dia bukan laki-laki yang suka bermain dengan perempuan." Jawab Isac sambil terus menatap keduanya di ujung sana. Tak lupa ia memotret adegan sendu itu.
"Eh-eh, Olivia kemari!" Clair dan Isac langsung bubar dan berpura melakukan sesuatu yang tak mencurigakan.
Daren, melihat kepergian Olivia membuatnya tertunduk dalam. Satu hal yang membuat hatinya terasa perih, yaitu penolakan Olivia. Perempuan itu masih sakit hati padanya.
Tentu saja, tidak ada seorangpun yang mau dibohongi dan dibercandai pada momen manis mereka waktu itu. Bodoh, Bodoh, Bodoh. Daren memaki dirinya sendiri. Dia menjabak rambut dengan kedua tangannya.
"Kau mau terus disitu?"
Daren seketika mengangkat kepalanya. Olivia berdiri dihadapannya sekarang dengan mengulurkan tangan tepat di depan wajahnya.
"Ayo, masih banyak yang harus dikerjakan."
__ADS_1
Otak Daren tidak bisa mencerna sekarang. Olivia tadi sudah berjalan meninggalkannya, lalu berbalik lagi dan mengulurkan tangan. Apa itu artinya..
Tidak perduli apa artinya. Daren dengan senyumannya meraih tangan Olivia dan berdiri.
"Olivia.."
"Jangan bicara sekarang." Potong Olivia dan berjalan lagi.
Dia memang ingin meninggalkan Daren tadi. Tetapi tiba-tiba saja dia merasa kasihan, juga merasa dirinya terlalu berlebihan, padahal Daren sudah berusaha meminta maaf padanya.
"Maaf. Telingamu."
"Ah.." dia bahkan lupa soal itu. "Tidak apa-apa, yang penting kau tidak berniat membunuhku." Ucap Daren. Dia mengelap darah yang mengalir di telinga dengan sapu tangan.
Olivia berjalan saja. Lututnya masih terasa sakit, karena itu ia melangkah lambat dan sedikit pincang.
"Mau kubantu?"
"Aku bisa jalan sendiri." Jawabnya cepat tanpa menoleh pada Daren yang jelas sekali senyum lebar terus terukir di bibirnya. Olivia bisa melihat itu dari ekor matanya.
"Baiklah." Daren ikut berjalan lambat disebelah Olivia sambil terus menatapi wajah gadis itu. Entah bagaimana nanti, yang jelas sekarang Olivia sudah mau berbicara padanya.
"Lama sekali, habis melakukan apa sih, kalian?" Clair pura-pura kesal.
"Apa ada yang kita lewatkan?" Bisik Clair pada Isac. Lelaki itu menggeleng lambat, dia juga tidak paham apa yang terjadi.
'Lapor Komander! Kami mendapati tuan Draw berjalan ke lantai atas bersama Ibu.'
Clair dan Olivia saling tatap mendengar laporan dari earpiece mereka.
'Mereka ke atas, Komander!'
'Ikuti mereka!' Titah Komander.
"Clair, sebaiknya kita ke atas sekarang." Tukas Olivia.
"Kau benar. Ayo."
Mereka berlari kecil menuju tangga ke atas. Tetapi langkah mereka terhenti saat melihat dari balkon belakang lantai tiga, beberapa orang tengah berusaha turun dengan luncur gantung.
"Itu.. Albern?"
"Benar, Clair. Dia Albern." Sahut Olivia.
Clair langsung berdiri dibelakang jendela dan mengokang senjata laras panjang yang ia pegang dan mengarahkannya pada segerombol orang.
__ADS_1
~
Albern berlari cepat dibelakang pengawalnya. Dia menuju tempat yang sudah disedikan untuknya lari.
Rumah sudah tidak aman. Sang ayah juga mengamuk dan ingin membunuhnya karena kesalahan yang Albern tidak sadari sampai sekarang.
"Kau sudah menyiapkan mobilnya, kan?" Tanya Albern pada pengawal.
"Sudah, bos." Jawabnya sambil terus berjalan.
Setelah sampai di tempat, Albern mengaitkan kabel ke tubuhnya yang sudah ia pasangi dengan pengaman tubuh.
Albern menatap medan yang akan dia lalui sebelum terbang. Dia akan melewati danau hijau belakang rumahnya itu.
"Hei. A-apa danau itu berbahaya?" Tanya Albern. Danau itu hanya sebagai hiasan rumah saja dan Albern tidak tahu apa isinya. Tidak mungkin buaya, kan? Batinnya mulai takut jatuh saat tepat dibawah danau.
"Tidak bos. Kedalaman danau hanya dua meter dan tuan Besar hanya mengisinya dengan ikan untuk ia pancing dikala bosan."
Albern manggut-manggut. "Ingat, jangan bilang aku kabur. Aku akan mentransfer uang setelah berada di tempat aman."
Ketiga pengawalnya mengangguk. Kini Albern menatap sekeliling sebelum meluncur. Setelah dirasa aman, dia mulai meluncurkan dirinya.
"Si bodoh ini mau kabur.." Ucap Clair sambil terus membidik. Saat dirasa tepat, dia melepaskan satu tembakan dan berhasil mengenai katrol pengait Albern. Lelaki itu berteriak lalu terjebur ke dalam danau.
"Kenapa tidak kau bunuh langsung??" Isac menepuk bahu Clair gemas. Padahal dia ingin melihat orang mati sambil bergelayut di atas flying fox.
"Tadi kau bilang jangan bunuhi orang-orang!"
Isac hanya menyengir mendengar itu. Dia sendiri sampai lupa.
"Sudahlah, ayo kita ke atas." Ajak Olivia.
"Bentar, Liv. Belum selesai."
Dari jauh, mereka masih bisa melihat Albern berenang ke tepi.
"diapain? Apa mau dibunuh juga?" tanya Olivia.
"Aku tak yakin. Mari kita tangkap saja dan serahkan pada Jenderal. Itu pasti lebih seru." Usul Clair sambil memikirkan pertunjukan dimana Jenderal-lah yang akan menghantam anak itu. Jarang-jarang kan, bisa melihat Jenderal yang selalu hangat itu berubah seperti tadi? Sudah apa saja yang Jenderal lakukan? Ingin sekali Clair melihatnya.
Mereka mengejar Albern yang langsung mencari tempat persembunyian dengan tubuhnya yang basah dan nampak masih sesak karena berenang cukup jauh.
Sementara di atas, Wiley menendang pintu hingga terbuka dan mendapati istrinya disekap dengan mulut ditutup kain dan yang membuat Richi dan Ricky menganga adalah bom besar ditubuh sang Ibu.
Marry menangis melihat orang-orang kesayangannya muncul. Dia menggelengkan kepala, berharap mereka pergi saja dari pada mengorbankan diri mereka seperti itu.
__ADS_1