
Setelah sarapan pagi, mereka sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Bella dan Clair berjemur di tepi pantai. Axel dan Isac berjalan-jalan sekitaran Villa. Daren dan Olivia juga begitu, mereka terus menghabiskan waktu lantaran Daren harus pergi untuk belajar di luar negeri.
Jangan tanya Richi dan Hugo, mereka tengah sibuk berduaan sejak sarapan dimulai.
Bella dan Clair sudah mendengar cerita Axel yang mendapati Hugo dan Richi ternyata satu kamar.
Lelaki itu nampaknya tidak bisa nenyimpan rasa penasarannya seorang diri, apakah Richi benar-benar sudah melepas status untouchable-nya untuk Hugo?
Tentu saja Axel merasa iri, sebab akhirnya Hugo bisa merasakan surga dunia diusianya yang ke 18 tahun. Berbeda dengan dirinya dan Isac yang memilih sendiri dulu setelah melihat keresahan Daren karena perempuan.
Lain dengan Clair dan Bella, mereka tak mau ambil pusing. Apalagi Bella, sejak diluar negeri ia selalu menghabiskan malam di club dan belajar meracik menuman disana, tentu yang seperti itu bukan hal baru baginya. Dan tentu saja itu bukanlah urusannya.
Clair juga, jangan tanya apa yang ia sering lakukan dengan Simon, karena Richi dan yang lain juga sudah tahu. Jadi, apa yang Richi lakukan bersama Hugo, menurut mereka bukanlah hal yang patut untuk diikut campuri.
Tapi entah kenapa tetap ada rasa ingin tahu dalam diri mereka, mengingat Richi bukanlah perempuan setipe dengan diri mereka.
"Menurutmu, apa Richi memang sudah melepaskannya untuk Hugo?"
Tanya Clair yang telungkup karena Bella membantunya mengolesi tabir surya dibagian punggung.
"Ya, bisa saja, kan. Toh, mereka sama-sama serius." Jawab Bella santai.
"Memang, sih. Tapi.." Clair menjeda kalimatnya. Dia merasa waktu terlalu cepat berlalu.
"Dia bukan anak-anak yang selalu kau jaga seperti dulu, Clair." Sahut Bella.
Clair mendesah pelan. Dia menaikkan kacamata hitam yang sejak tadi bertengger di hidungnya.
"Benar. Tapi, melihat dia berubah tiba-tiba begitu, membuatku sedih. Rasanya aku ingin kembali ke masa-masa kecil."
"Padahal usiamu lebih tua. Tapi kau yang paling seperti anak-anak." Omel Bella.
PLAK! Bella menepuk bokong Clair.
"Sudah selesai, sekarang gantian."
Bella berbaring dan kini Clair yang mengolesinya tabir surya. Tak ada lagi obrolan. Mereka berdiam dengan pikiran masing-masing. Suara ombak membuat Bella perlahan memejamkan mata, tanpa ia sadari, Clair sudah meninggalkannya.
Di tempat lain, Richi tengah berdiri memperhatikan Hugo. Lelaki itu sejak tadi berenang tidak jelas kesana kemari, melambaikan tangan dan berteriak menyuruh Richi ikut masuk ke dalam.
Awalnya Richi menggelengkan kepala tanda penolakan. Lama-lama dia diam saja saat Hugo terus meneriaki namanya.
Sudah Richi katakan berkali-kali, dia tak ingin masuk ke dalam air. Walau dia tahu betapa rendahnya air laut yang tengah di pijaki Hugo. Hanya sepinggang lelaki itu. Tapi Richi benar-benar tak mau masuk kesana walau dijanjikan hal paling menarik sekalipun.
"Richii, airnya sangat segar. Tidak ingin mencoba?" Tanya Hugo. Dia berjalan keluar dari air mendekati Richi dengan hanya memakai celana boxernya.
Richi tak menjawab. Dia mundur saat ombak hampir menyentuh kakinya.
__ADS_1
"Ayolah, sayang. Sekali ini saja. Aku tidak mungkin menenggelamkanmu." Ucapnya semakin mendekat.
Richi mengedikkan bahu. Lelah mengatakan 'tidak' pada Hugo.
"Hah. Bisa-bisanya kekasihku yang bahkan tak takut monster ini takut pada pantai." Keluhnya. Dia berdiri dengan berkacak pinggang di depan Richi.
Lagi-lagi Richi tak menjawab. Dia menutup sebagian wajahnya karena terik matahari saat mendongak melihat Hugo.
"Jadi tidak seru, nih. Berenang sendiri, tidak ada yang nemanin." Keluh Hugo lagi.
"Ya, mau bagaimana lagi." Jawab Richi santai.
"Aku gendong, mau?"
Richi menggeleng cepat. "Kenapa? Kau kecewa karena aku tidak mau menyentuh air?" Tanya Richi ketika mendengar helaan napas Hugo.
"Enggak, kok." Hugo langsung meraih tangan Richi dan menggengganya erat sambil berjalan di tepi pantai.
"Aku mana mungkin kecewa. Calon istriku ini sangat hebat. Tak ada perempuan sehebat dirinya."
Richi hanya tersenyum. Padahal dia tidak pernah bilang mau dijadikan istri, tapi Hugo terus-terusan mengatakan itu.
"Kalau misalnya, aku tidak menikah denganmu, bagaimana, Hugo?" Tanya Richi, mencoba menjahili lelaki itu.
"Tidak bisa. Apapun ceritanya, aku akan menikah denganmu. Tidak ada orang lain yang akan menikahimu kecuali aku. Aku yang akan menjadi pendampingmu, kau paham?" Jawabnya dengan sekali tarikan napas.
"Tidak ada permisalan. Bersamamu adalah sebuah kenyataan. Berpisah denganmu adalah sebuah ketidak mungkinan." Lanjut Hugo lagi. Suaranya terdengar lantang dan meyakinkan.
"Tapi, kalaupun seandainya putus, aku kembali ke mantanku." Sambung Hugo. Dan berhasil membuat langkah Richi tertahan, mulai menatap kesal.
Laki-laki itu terhenti, lalu menyengir bagai kuda. "Kenapa?" Tanyanya tanpa rasa bersalah.
"Kau mau putus? Dan kembali ke mantanmu, begitu?" Ulang Richi.
"Iya. Kalau putus, aku akan kembali ke mantan." Jawabnya tanpa dosa, masih dengan wajah menyengirnya.
Richi menarik tangannya dari Hugo dan berjalan cepat meninggalkan lelaki itu.
"Hei, mau kemanaa." Hugo menahan tangan Richi. Wajah jahilnya itu membuat Richi semakin kesal melihatnya.
"Aku bilang, kalau putus, aku akan kembali ke mantan. Saat kita putus, kau adalah mantanku. Makanya, aku akan kembali ke mantanku lagi. Begitu."
Penjelasan Hugo tak membuat Richi tersenyum. Wajahnya masih terus menatap kesal ke arah Hugo.
"Kalau kau putus denganku dan kembali ke mantan, artinya kau bisa saja kembali ke Camilla, Sonia, Kecoa, Gorilla. Entah siapalah itu."
Hugo mengerutkan dahi. "Kok Camilla? Aku kan, tadi bilang kau."
__ADS_1
"Kau tidak bilang aku. Kau bilang 'mantanku' dan itu bukan cuma aku, tapi saanggatt banyakkkk!! Sudahlah!" Richi berjalan cepat. Dia menahan senyum karena akhirnya bisa mengerjai Hugo. Lelaki itu pasti kalang kabut.
Dan benar saja, dia lari menahan Richi. "Aku tidak bermaksud begitu. Aku cuma mau menggombalimu saja. Tapi kenapa dirimu malah menafsirkan hal lain? Aku kan bilangnya kau, bukan Camilla atau siapapun itu." Jelas Hugo dengan wajah tegang. Dia mulai takut Richi marah.
"Salah sendiri bicara begitu. Kau pikir mantanmu cuma aku?" Richi langsung berjalan lagi. Kini dia hampir tak bisa menahan tawa.
"Richiii, sayang." Hugo berlari mendahului, lalu memegang kedua bahu Richi. Wajahnya benar-benar kalut.
"Sumpah, aku cuma ingin membuatmu terharu dengan kata-kataku. Bukan ini maksudku. Maafkan aku, ya. Aku benar-benar tidak bermaksud yang lain. Aku ingin menegaskan kalau aku tidak mau berpisah denganmu. Aku mohon, percaya padaku, Chi."
Melihat alis Hugo yang berkerut, membuat Richi tidak kuat dan akhirnya tertawa terbahak-bahak. Melihat itupun, Hugo semakin bingung.
"Ke-kenapa?" Tanya Hugo. Namun Richi tak menjawab, dia terus tertawa.
"Chi.."
"Hahaha. Iya, aku paham, kok, maksudmu." Ucap Richi disela tawanya.
"Aku cuma suka melihat wajah khawatirmu yang begitu. Hahaa. Maaf, ya, Hugo." Richi mencium pipi Hugo. Lalu mengelus rahang kokohnya.
Wajah Hugo juga terlihat kesal. Padahal dia benar-benar khawatir tadi. Tapi tidak tahunya malah dikerjai.
Richi yang masih tertawa itu dibopong oleh Hugo. Sontak tawa Richi terhenti dan dia langsung memukuli dada lelaki itu saat kaki Hugo mulai masuk ke dalam air pantai.
"Hugo, apa yang kau lakukan!"
Tak menjawab, Hugo berjalan sampai air berada di pinggangnya.
"Hugooo.. berhentiii!!" Pekik Richi yang masih dikedua tangan Hugo. Kakinya sudah menyentuh air.
Hugo melepaskan gendongannya, meletakkan perlahan Richi supaya berdiri didekatnya.
"Hugoooo!" Teriak Richi. Dia memeluk tubuh laki-laki itu dengan erat.
"Tidak apa-apa. Berdiri yang benar. Pasir di dalamnya sangat lembut." Ucap lelaki itu.
"Tidak mau! Cepat bawa aku keluar dari sini!" Pekiknya lagi.
"Percaya padaku, aku yang akan menjagamu."
"Iya, aku tahu. Tapi kau tidak tahu bagaimana air laut ini bekerjaa!" Teriak Richi lagi.
"Hahaha. Aku akan memegangmu erat-erat. Sekarang, kakimu pijakkan dengan benar dibawah. Ya?"
"Hugo, bisakah kau bawa aku keluar? Please." Suara Richi melembut. Dah Hugo terdiam beberapa detik, melihat wajah Richi yang memohon itu membuatnya mengerti kalau perempuan itu benar-benar tidak suka air laut.
"Baiklah."
__ADS_1
Hugo membawa Richi perlahan menuju daratan. Tapi, sebuah ombak besar menghantam mereka sampai membuat dia dan Richi terlepas.