
Harry menunggu Richi, dia sedikit khawatir karena gadis itu sendiri berkali-kali mengatakan bahwa dirinya tidak menyukai alkohol.
Harry langsung bergegas menemui Richi saat melihatnya keluar dari toilet.
"Richi, kau baik-baik saja?" Harry memegang tangan Richi yang tampak akan jatuh. Dia benar-benar menjaga gadis itu.
"Bisa kau antar aku pulang?" Suara Richi mulai berat. Mungkin dia sudah tidak kuat menahan pusingnya.
"Baik, aku akan mengantarmu." Ucap Harry lalu memeluk bahu Richi, merangkulnya supaya tidak terjatuh.
"Harry!"
Suara yang Harry kenali memanggil dan menghampirinya.
Wajah gadis itu terlihat kesal, dia entah untuk apa membawa sebotol minuman di tangannya.
"Kau? Sudah ku bilang berapa kali kau juga tidak paham!" Suara Harry meninggi. Dia benar-benar tidak suka dengan kehadiran Shera yang selalu menuntut ini itu, memintanya supaya berhenti menemui Richi, gadis yang amat dia sukai.
"Harry, dengar aku dulu. Perempuan ini, dia punya rencana jahat padamu." Shera menarik tangan Harry dan membuat Richi hampir terjatuh. Gadis itu bersandar pada tembok sambil memegangi kepalanya.
"Sudahlah. Aku sudah mengatakannya padamu di apartemen. Kau hanya cemburu buta!" Harry melepaskan tangannya dengan paksa.
"Kau tega sekali, Harry. Kau benar-benar mengabaikanku semenjak kau mengenalnya." Shera menangis sesegukan.
"Aku tidak akan membiarkanmu bersamanya. Akulah yang setia padamu. Aku melakukan apa saja yang kau suruh selama ini. Aku tidak menuntut apa-apa kecuali kau mencintaiku saja."
"DIAAMM!" Harry mengangkat tangannya, ingin menampar Shera namun tertahan disana.
"Kau mau menamparku? Aku sudah terbiasa. Kau pukul saja aku." Shera menjerit lalu melayangkan botol kosong ke arah Richi.
TRANG! Botol itu jatuh kebawah dan pecah karena tangkisan Harry.
Harry berang, dia menampar Shera hingga gadis itu terjatuh.
BRUK! Richi pun jatuh pingsan.
"Richi!" Teriak Harry dan langsung menghampiri tubuh gadis itu.
"Harry, tega sekali kau. Kau bahkan tidak memperdulikanku. Huu.."
Harry menggotong tubuh Richi dan membawanya entah kemana tanpa memperdulikan Shera yang menangis sesegukan.
...🐣...
"Senang berbisnis dengan anda, Tuan David."
Pria berbadan tegap lengkap dengan setelan jasnya memberikan salam pada David dan Hugo yang mendampingi ayahnya.
Melihat pria itu pergi, Hugo langsung melirik jam di tangannya. Sudah pukul 10 malam, dia ingin cepat keluar dari restoran itu.
"Ayah, aku ada janji bermain basket." Ucapnya sembari mengaktifkan ponselnya.
"Hah, kau ini basket terus! Setahun lagi, waktunya kau menggantikan ayah." David menghela napas, anaknya terlihat belum minat melanjutkan usahanya. Padahal dia sudah mengenalkan Hugo kemana-mana sebagai penerus, namun Hugo tampak tidak begitu peduli.
"Aku kan, sudah menuruti kemauan ayah malam ini." Jawabnya santai.
TRING
Pesan masuk begitu banyak dari Richi. Hugo tersenyum, merasa senang sebab gadis itu mencarinya.
"Ayah, aku pergi dulu." Hugo terus tersenyum lalu meletakkan ponselnya di telinga, ingin mendengarkan suara gadis itu.
"Hugo.. hugo.. kau harus.. datangi aku.. "
Langkah Hugo terhenti, suara kekasihnya itu terdengar berat dan sesak. Pikirannya langsung kacau.
"Hugo.." terdengar napas Richi yang terengah. "Aku.. salah minum.. jemput aku.."
Hugo langsung menelepon Richi, namun ponsel gadis itu tidak aktif. Dia langsung berlari menuju mobil.
"Berikan kuncinya!" Seru Hugo pada supir ayahnya. Dia langsung tancap gas setelah supir itu menyerahkan kuncinya.
"Hah, kemana dia bawa mobilku? Dasar anak itu!" David menghela napas. "Suruh Tony antar mobil kemari!" Ucapnya sambil melangkah masuk lagi ke dalam restoran.
__ADS_1
Hugo terus menelepon Richi, tetapi tidak ada sambungan. Dia mulai panik dan bingung harus menghubungi siapa sebab dia tidak tahu Richi kemana.
Sempat terpikir olehnya untuk ke rumah Richi saja, tetapi sepertinya itu malah menambah masalah.
"Ah, Clair."
Hugo teringat pada sahabat Richi, dia menelepon Clair dan ternyata Richi juga tidak ada disana.
"Hugo, jangan main-main. Richi tidak mungkin hilang, dia sangat bisa menjaga diri!" Pekik Clair yang juga terdengar mulai khawatir.
"Bantu aku, Clair. Aku tidak tahu harus kemana. Dia meneleponku dengan suara berat seperti akan pingsan dua jam yang lalu."
"Dua jam yang lalu? Astaga, aku akan minta Olivia melacaknya. Aku akan menghubungimu!"
Hugo menggenggam erat kemudi. Dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.
"Harry, apa ini perbuatannya?" Mata Hugo langsung menajam kedepan. Dia tak mau gegabah mengambil keputusan, Hugo memilih menuju tempat Clair.
~
Harry memandang wajah Richi yang miring ke arahnya tengah terlelap. Dia tampak nyenyak dengan dengkuran halus dari mulutnya, membuat Harry tak henti tersenyum.
Gadis di hadapannya benar-benar cantik bahkan saat tertidur. Baginya, hal ini adalah yang paling menyenangkannya. Entah mimpi apa dia semalam, bisa menikmati wajah Richi yang tertidur di atas ranjangnya.
Harry mengelus lembut rambut Richi, menyibakkan rambut yang terjatuh ke wajahnya.
"Selamat tidur, tuan putri." Ucapnya lalu mengecup kepala gadis itu.
Harry bangkit dari tempat tidur lalu membuka kancing kemejanya. Dia tidak bisa menghentikan senyumannya apalagi saat membayangkan malam ini dia akan tidur bersama gadis kesukaannya.
TING!
Suara pintu lift terbuka. Lift khusus yang langsung menghubungkan ke kamarnya.
Shera keluar dari sana dengan wajahnya yang basah karena menangis.
"Kau.." Shera menitikkan air mata saat melihat Harry berdiri menatapnya dengan kancing kemeja yang hampir terbuka seluruhnya. Dia melihat gadis itu tergolek di atas ranjang Harry dan sudah berganti pakaian. Siapa yang menggantikannya? Apakah Harry? Lalu, apakah dia mau meniduri gadis itu sekarang? Memikirkannya saja sudah membuat hatinya tercabik-cabik.
"Kau membiarkannya tidur di atas ranjangmu.." Suara Shera tercekat dan hampir habis.
"Pulanglah, Shera. Kita akan melanjutkannya besok. Mengertilah kondisiku sekarang." Harry melembutkan suaranya, melihat Shera seterpuruk itu membuatnya sedikit merasa bersalah.
"Kau tidak pernah mengizinkan aku tidur diatas ranjangmu, Harry. Kita tidak pernah melakukannya disana. Aku bertahun-tahun bersamamu. Gadis itu baru beberapa minggu dan kau.." Shera tak kuat melanjutkan ucapannya.
Harry melangkah mendekati Shera. Dia lalu memeluk tubuh gadis itu yang langsung terisak di dadanya yang terbuka.
"Kau punya akses masuk ke kamarku melalui lift khusus yang tidak orang tahu password-nya. Hanya kau. Sebab itulah kau spesial." Harry mengelus lembut kepala gadis itu.
"Pulanglah, besok aku akan membelikanmu apapun yang kau mau."
Shera menggelengkan kepala di pelukan Harry. "Aku tidak butuh itu."
"Baiklah, aku mengerti. Kau tahu kan, lusa adalah hal penting bagiku. Setelah malam itu, aku akan bersamamu seharian. Apapun yang kau ingin lakukan, aku akan mengikutinya." Harry melepaskan pelukannya, memegang kedua bahu gadis itu lalu menatapnya. "Kau mau mendengarkanku, kan?"
Shera mengangguk lambat. "Baiklah.." jawabnya pasrah, sebab dia tak punya kuasa. Harry juga akan mengamuk jika dia tidak mau menurut. Harry mau bersamanya saja sudah membahagiakan hatinya, walau dia sangat cemburu pada Richi yang sudah menguasai seluruh perasaan Harry.
Shera masuk ke dalam lift, tersenyum tipis pada Harry yang melambaikan tangan padanya dan pintu lift pun tertutup.
"Kau lihat saja, Harry. Kau akan segera tahu siapa perempuan yang setengah mati kau bela itu." Gumamnya lalu menghapus seluruh air mata yang ada di wajahnya.
~
"Clair, bagaimana?" Hugo datang dengan langkah panjang, mendekat pada Clair dan Olivia yang tengah fokus pada laptop di depan mereka.
"Olivia punya perangkat Darrel jadi dia lebih gampang mengakses lokasinya." Ucap Clair tanpa menatap Hugo.
"Ponselnya terakhir aktif di hotel Allende. Lalu tak berapa lama, ponselnya kembali aktif namun nampaknya bukan Darrel yang mengaktifkannya. Mungkin karena tidak bisa diakses, dia menonaktifkan ponsel Darrel lagi." Jelas Olivia.
Terdengar helaan lega dari napas Hugo. "Lalu, apa dia masih berada di Allende?"
"Tidak pasti, satu jam lalu masih disana."
"Aku akan bergerak kesana sekarang." Hugo beranjak.
__ADS_1
"Tunggu, kami ikut". Olivia menutup laptopnya.
Clair memberi kode pada pegawai lain karena dia akan meninggalkan kafenya.
Mereka bertiga menuju Allende Hotel demi memastikan keberadaan Richi.
Hugo mengangkat ponselnya yang berdering. "Aku akan ke Allende Hotel. Kalau posisimu lebih dekat, cepat kesana dan periksa." Ucap Hugo lalu menutup ponselnya, entah menelepon siapa, kedua gadis yang duduk dibelakang itu hanya saling tatap.
"Clair, kau sudah hubungi ke rumahnya?" Tanya Hugo sembari fokus ke jalanan di depannya.
"Tidak, aku tahu dia takkan mengizinkan kita untuk memberitahu orang rumahnya."
"Tapi ini sudah pukul 11, Clair. Darrel pasti dicari. Dia kan, bukan anak yang bisa keluar sebebasnya." Olivia menekan-nekan jarinya, dia sangat khawatir.
Ponsel Clair berdering. "Ah, sial!"
"Siapa?" Tanya Olivia.
"Kakak Darrel."
"Cepat angkat dan katakan saja Darrel bersama kita." Ucap Olivia.
Clair mengangkat telepon Ricky. "Siap, Komander!"
Hugo mengerutkan alisnya dan melihat Clair dari spion depan.
"Apa?"
Hugo melihat wajah Clair yang tercengang, dia tidak tahu apa yang tengah dibicarakan sebab tidak mendengar apapun dari seberang.
"Ba-baik. Siap komander." Clair menutup sambungan telepon dan langsung menatap Olivia.
"Ada apa? Kenapa wajahmu begitu?" Olivia tampak semakin khawatir.
"Komander meminta kita bergerak malam ini, tapi tanpa ketua tim."
"Maksudmu tanpa Richi? Apa Richi sudah pulang? Lalu bergerak apa?" Hugo amat penasaran.
"Ah.." Clair memegang dahinya. "Nampaknya ada masalah internal antara nona Darrel dan Komander. Dia meminta kita menyerang Blackstone malam ini, tapi dia bilang jangan beritahu Darrel."
"Lho, bagaimana kita bergerak tanpa ketua? Lalu, kenapa dengan Darrel? Apa Komander tidak tahu kalau adiknya tengah menghilang??" Olivia menaikkan suaranya.
"Aku tidak bisa bergerak kesana, aku lebih khawatir pada Darrel!"
"Kau benar, Liv. Tapi kita juga tidak bisa menentang Komander." Clair membuang napasnya secara kasar. "Ada apa sebenarnya ini."
"Blackstone berulah." Hugo mulai bercerita dari awal dirinya dan Richi yang diculik oleh Gary, ketua basket Apollo yang ternyata bagian dari Blackstone. Lalu, mereka yang dibuntuti beberapa mobil hingga pengakuan aneh orang-orang itu.
"Jadi maksudmu, Darrel diburu karena diinginkan seseorang?" Mata Olivia membulat.
"Hm, dari ucapan mereka yang kutangkap, seperti itu." Jawab Hugo.
"Astaga, rasanya Darrel terlalu ceroboh mengungkapkan identitasnya. Selama ini orang-orang bertanya-tanya siapa Darrel, tidak ada yang tahu wajahnya. Nampaknya Darrel sendirilah yang mengungkapkan identitasnya." Clair memijit dahinya yang mulai terasa nyeri.
"Satu jam lagi kami akan bergerak, jadi ayo usahakan untuk menemui Darrel!" Tukas Clair lagi. "Liv, cepat hubungi Bella!"
"Aku ingin bertanya pada kalian. Jawablah dengan jujur." Hugo melirik spion depannya sesekali.
"Dari yang kudengar, Komender kalian adalah kakak Richi. Apa dia Keen? Apa Keen adalah kakak Richi?"
Olivia melirik tajam pada Clair, nampaknya ada hal yang mereka lupakan dari tadi, adalah Hugo yang belum tahu tentang Keen yang merupakan kakak Richi. Padahal Richi sudah mengingatkan mereka untuk tutup mulut sejak dulu. Karena panik, mereka melupakan itu dan sekarang, Hugo sudah bisa menebaknya dengan benar.
TBC
○●○●○●
Sekarang Author mah, nulisnya panjang-panjang. biasanya seribu kata kalau sekarang lebih banget.. Enjoy ya.. Semoga kalian suka dengan ceritanya.
OH YA.. KIRA-KIRA AKTOR YANG COCOK UNTUK MEMERANKAN HUGO, SIAPA YA?
YUK KOMEN Supaya Author tahu Visual kalian dalam mengkhayalkan wajah Richi, Hugo dan yang lainnya seperti apa!^^
Jangan Lupa Like setiap Episode, Yaaa🤗
__ADS_1