Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Bab Spesial


__ADS_3

Sore itu Richi dan Hugo berangkat ke tempat yang sudah direncanakan oleh Hugo untuk acara bulan madu mereka. Hugo menarik koper dengan tangan kirinya, sementara tangan kanan sibuk menggenggam Richi disampingnya.


"Swiss?" Richi membaca nama negara yang akan mereka kunjungi melalui tiket pesawat.


"Iya. Aku udah atur semua perjalanan kita selama disana. Aku harap kamu menyukainya." Senyuman Hugo pada Richi begitu hangat. Dia berharap istrinya itu menikmati bulan madu mereka.


Setelah menempuh empat jam perjalanan, mereka tiba di Bern. Mereka beristirahat di kota itu karena di negara itu sudah masuk tengah malam.


Richi langsung merebahkan diri sesaat setelah masuk ke dalam kamar hotel. Tubuhnya terasa lelah di jalan. Perlahan matanya tertutup, padahal dia belum berganti pakaian.


"Chi.." Hugo yang baru keluar kamar mandi melihat istrinya tergolek diatas tempat tidur. Diusapnya perlahan kening gadis itu, namun tak ada pergerakan.


"Cepat sekali tidurnya. Hm? Lelah, ya." Hugo pun menarik selimut. Tak berniat membangunkan Richi yang pasti akan mengomel karena tertidur saat tubuhnya belum dibersihkan.


...🦋...


"Kita mau kemana, sih?" Richi terus menanyakan perihal rencana Hugo yang tidak jelas ini. Lelaki itu hanya tersenyum penuh arti setiap kali Richi bertanya.


"Hugo, aku serius."


"Aku juga serius, sayang." Hugo membantu Richi memakaikan jeket tebal karena sekarang tengah musim dingin.


Hugo terkekeh melihat wajah cemberut Richi karena ia terus menyembunyikan rencananya.


"Kita akan jalan-jalan mengelilingi kota. Siang nanti kita bergerak ke desa yang inndaah sekali. Jangan banyak bertanya. Aku yakin kau akan menyukainya."


Cemberutnya Richi berubah manyun. "Okee, baiklah." Katanya sembari menerima kecupan dari Hugo. Lalu mereka keluar hotel untuk mencoba kuliner di kota itu.


Setelah puas kesana kemari, Richi duduk di sebuah bangku panjang. Hugo memintanya duduk disana karena ia akan membelikan minuman untuk sang istri.


Ditengah menunggunya, Richi melihat seorang laki-laki yang tengah membantu wanita tua menyebrang jalan. Richi tersenyum melihat kehangatan lelaki itu. Namun senyum Richi memudar saat ternyata lelaki itu berhasil meraih sebuah dompet dari tas wanita tua secara diam-diam.


Wanita tua itu mengucapkan terima kasih, dan lelaki tadi pun berjalan kearah Richi dengan senyum sumringah karena dia berhasil menipu dengan memanfaatkan kebaikan.


Richi berjalan berlawanan arah dengannya. Saat lelaki itu mulai dekat, Richi menahan bahunya hingga ia menoleh tak suka.


"Kembalikan."


"Bicara apa kau?"

__ADS_1


"Kembalikan." Ucap Richi lagi.


Lelaki itu tersenyum miring. "Aku tidak mengerti maksudmu." Katanya kemudian melangkah lagi.


Richi menarik jeketnya. "Kembalikan atau kupatahkan tanganmu."


"Bicara apa kau, sialan?" Hardik lelaki itu sampai membuat beberapa orang menoleh kearah mereka.


Richi menarik paksa tangan lelaki itu dan merogoh saku jeketnya.


"Dompet ini bukan milikmu." Richi menggoyangkan dompet milik wanita tua tadi di depan wajah pencuri.


Tangan lelaki itu terangkat. "Brengsek, jangan ikut camp- Akhhh!"


Sebuah botol berisi air menghantam wajahnya. Lelaki itu terjerembab ke tanaman lebat setelah Hugo menerjang pinggangnya dengan kuat.


"Beraninya menyentuh istriku!"


Lelaki itu lari pontang-panting sembari memegangi pinggangnya yang terasa nyeri luar biasa.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Hugo memeriksa seluruh tubuh Richi, memastikan tidak ada yang luka.


"Tidak apa-apa." Jawabnya tersenyum cerah. Semenjak Hugo keluar dari rumah sakit beberapa tahun silam karena menyelamatkan Richi dari bom, Hugo jadi super protektif. Bahkan Richi tak ingat kapan terakhir kali ia menggunakan kekuatannya. Sebab Hugo selalu menjadi pelindung baginya.


Hugo mengambil dompet di tangan Richi, kemudian berlari mendekati sang nenek tua. Tampaknya Hugo tengah menjelaskan apa yang terjadi tadi. Wanita tua itu tampak kaget saat memeriksa tas dan memang tak mendapati dompetnya disana.


Setelah selesai, Hugo berjalan kearah Richi dengan tersenyum memberitahu bahwa tugasnya telah selesai. Richi membalas senyumannya sembari mengangguk dan memberi jempol pada suaminya.


Dilihat dari manapun Hugo tampan sekali. Setelah bertahun-tahun lamanya, suaminya itu semakin luar biasa. Tinggi yang menjulang, tubuh yang terlihat sangat bugar, juga cinta yang selalu ia tunjukkan pada Richi.


Di sore harinya, Richi dan Hugo telah tiba di sebuah desa yang sangat sejuk. Richi sampai tak bisa berkata-kata melihat gunung dan tanah hijau yang terhampar dengan beberapa bunga di sekitarnya. Ini bukan sengaja dirawat, berulang kali Richi minta penjelasan dan Hugo selalu menjawab hal yang sama bahwa bunga-bunga indah yang Richi lihat sepanjang jalan adalah tanaman liar.


Desa Lauterbrunnen memang sangat indah. Tetapi lebih dingin dari kota. Richi sampai merapatkan mantel jeketnya.


Mereka sampai di sebuah villa yang unik dengan banyak bunga disekitarnya. Villa yang tak mewah, tapi terlihat sangat indah dengan bunga-bunga disekelilingnya.


Hugo membuka pintunya. Villa itu ternyata mengarah pada sebuah gunung yang ada air terjun tak jauh dari mereka. Lagi, Richi tercengang. Takjub dengan pemandangan alam yang ada di depan matanya.


"Bagaimana, kau suka?"

__ADS_1


"Suka sekali." Richi berhambur kepelukan Hugo. "Aku suka. Kita harus sering-sering kesini ya, Hugo."


"As your wish, baby." Hugo mengecup bibir Richi. Setelahnya, ia menyalakan perapian supaya lebih hangat. Tak lupa menyalakan lilin di sekitar tempat supaya lebih hangat.


Setelah selesai dengan aktifitasnya, Hugo mendekati Richi yang tengah membaca novel diatas ranjang, ikut bersandar dan memasukkan kakinya kedalam selimut. Karena cuaca benar-benar dingin.


Richi memeluk pinggang suaminya. Berulang kali ia ucapkan terima kasih karena ia benar-benar menyukai tempat ini.


"Kau lelah?" Tanya Hugo.


"Sedikit."


"Istirahatlah." Hugo mengambil novel dari tangan Richi dan meletakkannya diatas nakas. Ia membantu gadis itu berbaring dan memadamkan lampu tidur.


Seperti biasa, Hugo membuka bajunya supaya Richi bisa memeluk tubuh atletisnya sampai istrinya itu terlelap.


Richi memeluk Hugo, walau sebenarnya ia tak meminta lelaki itu membuka bajunya sebab cuaca sangat dingin. Tapi Hugo sudah paham apa yang menjadi kewajibannya.


Hugo pun menepuk-nepuk punggung Richi, supaya istrinya merasa lebih nyaman dan hangat.


"Hugo."


"Hm."


Richi entah kenapa bisa mendengar dengan jelas detakan jantung Hugo. Dia penasaran, kenapa suaminya itu? Apa karena udara terlalu dingin?


"Kau kedinginan, ya?" Richi mendongak menatap suaminya yang wajahnya memerah dan napasnya terasa sangat berat.


"Iya." Jawab Hugo. Tatapannya begitu dalam. Sesekali ia menelan ludah, rasanya seperti sesuatu bergejolak hebat dibawah perutnya.


"Kalau begitu, pakai bajumu."


Hugo meraih dagu Richi. "Apa kau tidak mau menghangatkanku?"


Ah, Richi mengerti apa yang dibutuhkan suaminya. Tiba-tiba saja jantungnya berdetak hebat. Hugo menginginkan itu?


Richi tahu dia sudah keterlaluan menahan keinginan Hugo selama itu. Mungkinkah ini sebabnya Hugo mengajaknya pergi ke tempat seperti ini?


Richi memejamkan mata saat Hugo mencium bibirnya. Darahnya berdesir keseluruh tubuh dan napas hangat Hugo membuatnya ikut terbakar.

__ADS_1


Lilin disekitar mereka bergoyang karena tiupan angin melalui celah jendela. Beberapa lilin padam hingga membuat suasana malam itu semakin menggebu bagi sepasang pengantin baru. Malam itu, Richi memasrahkan semuanya pada Hugo yang telah berhasil membuka semua pakaiannya.


**Hei sudah baca Novel baru aku?**


__ADS_2