
Alarm merah berbunyi. Henry menatap kearah lampu yang berkelap-kelip menunjukkan situasi darurat.
"Tuan, mereka berhasil masuk ke dalam ruang rahasia." Seorang pengawal memberi laporan pada Henry.
Lelaki itu mencari cara supaya bisa mengusir para penyusup yang merusak harta satu-satunya yang dia miliki.
"Brengsek!" Henry menyerakkan barang-barang diatas mejanya. "Panggil anak itu. Ini semua gara-gara dia!" Pekik Henry geram.
Dia menyalahkan Albern. Gara-gara anaknya menghampiri Richi, membuat semua jadi berantakan. Padahal dia menyuruh anak buahnya untuk langsung membawa gadis itu tanpa membuatnya melihat sekitar. Tapi anak sialannya itu malah membuka sarung yang menutupi wajahnya sehingga membuat gadis itu mendapatkan cara untuk memberitahu seluruh anggotanya.
Pun, Henry tidak mengerti kenapa gadis itu tiba-tiba berdiri di depan rumahnya sambil membawa basoka. Siapa yang membantunya keluar dari mobil yang diisi lima penjaga. Tidak mungkin gadis itu bisa keluar sendiri, tidak masuk akal, pikir Henry.
Dia juga tidak memikirkan sampai gadis itu menenteng senjata roket yang bisa merusak rumah yang sengaja ia bangun dengan lapisan anti peluru. Tentu Basoka sangat mampu meluruhkan istananya.
"Kunci semua akses menuju ruang rahasia. Jangan biarkan dia menemukan ibunya." Titah Henry dengan mata yang memerah karena menahan gejolak emosi dalam dirinya.
Mau bagaimanapun, Henry tahu, dia akan kalah walau jumlah pasukannya lebih banyak. Hanya saja pasukan Wiley adalah anggota militer. Belum lagi kelompok kecil seperti Valiant yang bukan orang-orang sembarang di dalamnya. Berbeda dengan Stripe yang dia ambil dari anak-anak jalanan atau preman-preman amatiran.
Dia tidak punya cara lain, Henry hanya memikirkan satu hal dalam otaknya. Yaitu membunuh gadis itu, Keen, dan tentu ibunya. Setidaknya, dia akan membuat Wiley menderita sebelum dia mendekam dalam penjara. Tanpa ia sadari, bukan penjara target Wiley pada orang yang berani menyentuh istrinya.
~
Richi dan yang lain mulai memasuki rumah Henry. Banyak puing-puing bangunan berserak di lantai dan sebagian hancur karena basoka Richi. Di dalam juga tampak banyak tubuh tergeletak bersimbah darah, tak ada penjaga lagi karena sudah habis dibantai Jenderal dan pasukannya.
"Kita kemana, ya? Rumah ini sangat luas." Bella menendang kecil reruntuhan batu yang menghalangi jalannya.
"Hm.. kalau gitu, kita pencar aja. Aku, Hugo, Bella, dan Axel kesana. Sisanya kesini." Richi menunjuk arah dengan jarinya.
"A-aku ikut denganmu saja." Olivia mendekati Richi.
"Kenapa?"
Olivia meremas ujung jeket Richi sambil menatap matanya. Berharap ketuanya itu mengerti kalau dia tak ingin satu grup dengan Daren.
"Sudah, ayo kesana." Clair yang paham langsung menarik tangan Olivia ke arah yang ditunjuk Richi.
"Sempat-sempatnya merencanakan itu."
Richi menahan senyum mendengar celotehan Hugo. Dia langsung menggandeng sebelah tangan Hugo dan berjalan ke arah yang ia tunjuk tadi.
"Evan dimana, ya?"
__ADS_1
"Kenapa cari-cari dia?" Sewot Hugo.
Richi melirik pada Hugo yang menatapnya tajam. "Bukan apa-apa." Jawabnya langsung. Tak mau cari masalah.
Langkah mereka terhenti saat mendengar banyak langkah menuju ke arah mereka.
"Siapa?" Tanya Bella setengah berbisik.
Richi tak menjawab. Dia fokus mendengarkan langkah yang semakin mendekat.
Richi langsung menaikkan basok ke bahunya dan bersiap membidik jika yang datang adalah musuh.
Tetapi ternyata tidak. Mereka sekumpulan pasukan sang ayah yang tengah berjaga di lantai satu.
"Nona, kenapa masuk?" Tanya salah seorang pasukan.
"Ada apa disini?" Richi malah bertanya lain.
"Tidak ada apa-apa, nona. Kami sudah menyelidiki semuanya. Jenderal sudah naik ke lantai dua."
Richi mendongak melihat ke tangga lantai dua yang tampak kacau dan banyak darah.
"Kalau gitu, kami akan naik." Ucap Richi. Dia ingin melangkah namun seketika menunduk saat mendengar suara tembakan yang mengarah padanya.
Gadis itu langsung mencari tempat persembunyian yang aman disekitarnya.
Berbeda dengan anggota militer dan temannya yang maju, karena mereka dilengkapi helmet dan baju anti peluru.
Sayang sekali, Richi tidak memakai proteksi lengkap karena tidak membawanya. Dia tidak bisa seluasa itu.
Setelah dirasa aman, Richi keluar dan menghela napas. Tidak seru, pikirnya. Karena dia ternyata harus berlindung dibelakang orang lain.
"Nona, kami akan mengcover anda."
"Tidak perlu. Aku bawa tim sendiri. Kalian lanjutkan berjaga." Ucap Richi kemudian berlari ke arah tangga, diikuti Hugo dan yang lainnya.
Saat menaiki tangga, tangan Richi ditahan oleh Hugo. "Chi, sebaiknya memang kau dicover yang lain."
Richi tak menjawab. Dia tidak terbiasa terlalu dilindungi begitu. Tapi karena situasi gawat dan dia bisa merepotkan banyak orang, akhirnya dia mengangguk saja.
Dengan cepat Hugo mendahuluinya, berada di depan dan Bella disebelah, Axel dibelakangnya.
__ADS_1
Ya sudahlah, mau bagaimana lagi, pikirnya.
'Bagian belakang selesai, tim Rajawali naik ke lantai dua.'
Richi mendengarkan laporan dari earpiece nya.
Langkah Hugo terhenti saat dia melihat kepulan asap keluar dari sebuah runangan.
"Ada apa?" Tanya Richi.
Hugo mengisyaratkan untuk diam dengan telunjuk di bibir. Dia berjalan perlahan untuk mengintip.
Ada banyak darah di tempat itu. Matanya mulai menangkap kaki dan tubuh yang tumpang tindih. Hugo langsung menurunkan senjata saat melihat siapa yang ada di dalamnya.
"A-ayah.."
Richi tertegun melihat ayahnya duduk sambil merokok di dalam lift yang terbuka. Disekitarnya ada tumpukan manusia dengan cucuran darah di tembok lift.
Bella dan yang lain terbelalak lebar. Belum pernah dia melihat ayah Richi marah. Tapi sekarang, sosok hangat tuan Wiley seolah pergi dan hanya ada monster di dalamnya.
Wiley yang belum memasuki 50 tahun, memang belum terlalu tua jika dilihat dari tubuhnya yang masih segar dan berdada bidang. Hanya beberapa helai rambut putih terlihat di kepalanya. Apalagi saat ini, dia membuka jas yang masih menempel saat masuk ke dalam rumah ini dan hanya memakai singlet putih bernoda darah sekarang.
Richi pula tak pernah melihat ayahnya merokok, walau Ricky pernah bilang dirinya dan ayah beberapa kali merokok bareng sambil bermain catur.
Wiley memadamkan api rokoknya ke dalam telinga salah satu korbannya. Tentu hal itu membuat Hugo dan yang lain meringis menahan rasa ngilu yang luar biasa.
Wiley berdiri. Dia mengambil kemeja hitamnya yang tersangkut di tembok. Lalu memakainya dengan cepat.
"Sudah menemukan ibumu?" Tanya Wiley sembari memakai lagi jasnya.
"Belum, ayah."
"Mari, cari sama-sama." Wiley menunduk untuk mengambil pisaunya yang tertancap di leher musuh, membuat cipratan darah dimana-mana.
Wiley berjalan memimpin, langkahnya lebar menyusuri lorong.
Sebelum mengikuti sang ayah, Richi melihat ke dalam lift sekali lagi. Mungkin musuhnya ada sekitar 8 orang berbadan besar seperti ajudan sewaan. Dan jika dilihat, tidak ada bekas tembakan disana. Hanya banyak tusukan dan sayatan di tubuh korban.
Ya, Wiley-lah dulunya yang mengajari Richi cara bertarung di tempat sempit seperti lift, juga bagaimana cara bertahan hanya dengan mengandalkan pisau di satu tangan.
Walau dia juga demikian, tapi entah mengapa melihat sang ayah yang melakukannya membuat Richi agak ngeri.
__ADS_1
"Chi, ayo."
Panggilan Hugo membuat Richi tersadar. Dia ikut berlari menyusul sang ayah yang mulai menjauh.