
"Arrrghhh!!" Olivia berteriak setelah masuk ke dalam kamar. Walau berhasil mengatakan kalimat itu dengan lancar, namun jauh dalam hatinya dia menahan amarah setengah mati.
Olivia duduk di tepi tempat tidur seraya memeluk lututnya. Dia memendamkan wajah sambil menutup mata dengan keras. Dia ingin sekali menghilangkan wajah Daren dari pikirannya, wajah sialan itu sangat terlihat bersungguh-sunggu saat mengungkapkan perasaannya, juga saat mengecup bibirnya. Nyatanya, semua hanya menjadi bahan candaan laki-laki sialan itu.
Olivia menggigit bibirnya. Sungguh sangat menyesal rasanya. Kenapa dia tidak mendorong Daren saja? Padahal dia memang teringat akan hal itu tetapi tubuhnya tidak bisa menolak. Siapa sangka kalau kejadian yang manis itu hanyalah sebatas lelucon bagi Daren.
"Olive.." Richi membuka pintu dan langsung menghampiri gadis yang tengah bersedih itu.
"Reeelll....huaaa..." tangisan Olivia pecah saat melihat Richi. Dia memeluk Richi yang juga langsung menepuk-nepuk punggung Olivia dengan lembut.
Richi tak bertanya apapun, dia hanya membiarkan temannya menangis sampai akhirnya Bella dan Clair masuk.
"Eh, kenapa menangis begitu?" Clair mendekati Olivia. Ikut mengelus rambut gadis itu.
"Aku dikerjai Daren brengsek ituu huhuuuu..."
"Ya sudah sih, tinggal kerjain balik. Tumben-tumbenan nangis. Pasti ada hal yang kau sembunyikan, ya?" Celetuk Bella yang sudah duduk ditengah tempat tidur.
Olivia memutar tubuhnya, memandang kesal ke arah Bella yang entah kenapa bisa menebak dengan mudah.
"Ya, kan? Aku benar, kan? Kalau tidak, untuk apa kau sampai nangis begini? Seorang Olivia, menangis?"
Clair memandang Olivia dengan penasaran. "Wait.. Were you kissing?"
"WHAATTT!!!" Olivia semakin kesal karena kini tebakan Clair juga benar. Tapi, ini sangat memalukan baginya. Dia menatap Richi dengan mata yang masih berair. Satu-satunya perempuan yang tidak menjudge-nya seperti yang lain.
Richi mengerti tatapan Olivia. Gadis itu terlihat malu sekaligus sedih. Dia pasti tidak bisa mengelak karena tebakan Bella dan Clair benar.
Itu artinya, apa yang Hugo katakan tadi juga benar kalau mereka sedang 'bersenang-senang' disana.
Tapi, kenapa Daren malah mengatakan itu semua hanya candaan? Jadi begitu, Daren mempermainkan Olivia?
"Tidak perlu menangisi hal yang tidak penting seperti Daren. Sayangi air matamu."
Ucapan Richi langsung membuat Olivia menghapus air matanya.
"Wah, ternyata benar. Hahaha."
BUK! Olivia menghantamkan bantal ke wajah Bella yang terus menertawakannya.
"Cerita, dong. Bagaimana kalian bisa ciuman? Hah? Aku penasaran kenapa perempuan setengah gila sepertimu bisa berciuman dengan majikan sendiri, hahahaha."
__ADS_1
"Kaaaauuu!!" Olivia langsung berusaha meraih leher Clair untuk ia cekik. Rasa kesalnya sudah di ubun-ubun sejak tahu ia dikerjain oleh Daren, ditambah menjadi bulan-bulanan Clair dan Bella.
Clair tertawa-tawa sambil terus menahan tangan Olivia yang hampir menyentuh lehernya.
"Nampaknya itu ciuman pertamamu, ya?" Tanya Bella lagi.
Olivia menatapi temannya satu persatu dengan wajah cemberut. Sudah seperti ini, apa sekalian ceritakan saja? Batin Olivia.
"Tapi, bukankah Daren bilang tadi itu dia mengerjaimu?" Clair tiba-tiba menyadari sesuatu. "Wah, bukankah dia sedang mencari masalah??"
Olivia menunduk malu. Jika diingat lagi, dia benar-benar telah menjadi gadis bodoh.
"Dasar buaya! Minta dihajar memang. Kau kenapa menghalangi Olivia tadi, hah?" Gerutu Bella yang mengingat Olivia hendak menghajar Daren tadi.
"Aku kan, tidak tahu. Kalau aku tahu, aku akan ikut menghajar laki-laki itu sampai tidak bisa kencing!" Tukas Clair geram.
"Hah? Memangnya mau kau apakan 'itunya'? Hahaha." Tawa Bella semakin meledak.
"Hahaha, sialan otakmu itu!" Clair menoyor kepala Bella yang masih saja terkekeh. "Ayo, kita susun rencana untuk membalas Daren!" Seru Clair yang langsung mendapat anggukan setuju dari Bella dan tentu saja Olivia.
"Untuk apa? Olivia juga mau melakukannya karena suka, kan?"
JEDAR!
"Aah, benar juga." Sahut Bella.
"Olivia ternyata jatuh cinta hihihi." Clair terkikik. Tak sangka, perempuan bemental baja bisa juga jatuh cinta.
"A-aku tidak cinta, tahu! Aku tidak tahu, dia yang menarikku dan menciumku!" Terang Olivia.
"Benar-benar buaya, si Daren!" celetuk Bella.
"Dia sudah mempermalukan aku! Kenapa dia bilang itu hanya candaan!" Olivia membela diri.
"Sebenarnya itu pasti karena dia malu. Tapi, tetap saja salah!" Tukas Clair.
"Kalau gitu, kau sendiri saja yang balas dendam." Sahut Richi.
"Aku? Aku tidak tahu harus apa..."
"Aku rasa Daren bukan laki-laki yang memanfaatkan perempuan seperti itu. Kau hanya harus bersikap seperti biasa. Anggap kejadian itu tidak pernah terjadi. Aku yakin suatu hari nanti Daren akan kebingungan karena kau bersikap santai. Dia juga pasti menyukaimu makanya melakukan itu." Jelas Richi panjang lebar dan malah membuat Olivia menatapnya tanpa kedip.
__ADS_1
"Dia memang bilang, kalau dia menyukaiku. Tapi, mendengar ucapannya tadi membuatku sangat sakit hati." Olivia menunduk lagi. Rasa sakitnya kini semakin terasa jika dia mengingatnya.
"Kami mengerti. Tapi cara yang paling baik untuk balas dendam tentang perasaan adalah mendiamkannya. Apa yang dibilang Darrel benar, bersikap seperti biasa saja. Lupakan, aku tahu itu mungkin berat--"
"Tidak berat sama sekali!" Tukas Olivia yang memotong ucapan Clair.
"Hahah, bagus. Itu baru Olivia yang kukenal!"
"Tapi, aku benar-benar penasaran kenapa bisa berciuman." Ungkit Bella lagi dan Olivia berhasil menjambak rambut Bella.
"Aduh, iya, iya hahaha aku bercanda astaga!"
Sementara di kamar lain, Daren tengah berdiri di balkon kamarnya. Dia menatap lebatnya daun pepohonan dan udara dingin juga sudah menyelimuti kulitnya. Tetapi Daren tak menghiraukan itu karena ia tengah memikirkan sesutu.
Entah mengapa gurat wajah kecewa Olivia terus tergambar di matanya. Dia tahu, apa yang ia lakukan sudah salah sejak awal. Entah kenapa ungkapan dan perlakuannya tadi mengalir begitu saja. Apa yang tubuhnya ingin lakukan, dia melakukannya tanpa berpikir panjang.
"Sedang apa, kau?"
Hugo sudah berdiri di belakangnya. Dia tahu Daren lebih suka menyendiri saat mempunyai masalah. Tapi kali ini, entah kenapa Hugo merasa Daren perlu teman bicara.
Daren tak menyahut. Dia melipat tangannya di dada, menatap lurus ke depannya dimana daun-daun lebat itu bergoyang kesana kemari karena tiupan angin.
"Setelah menjebak anak orang, kau malah bersedih." Kata Hugo yang sudah berdiri disebelah Daren.
"Siapa yang sedih."
"Ketawamu juga palsu."
Daren menoleh, "Apa kelihatan?" Tanyanya tiba-tiba dan berhasil membuat Hugo terkekeh.
"Sialan. Benar-benar palsu ternyata."
Daren mengumpat dalam hatinya karena terkena jebakan Hugo.
"Aku tahu kau bawa dia ke tempat itu. Setelah beberapa jam berlalu, kau muncul dengan menggendongnya, kemudian menurunkan dan menertawakannya. Sekarang, kau pasti sedih karenanya."
Daren tak mengelak, dia hanya membentangkan kedua tangannya di atas besi pembatas dan menatap langit malam.
"Aku sudah salah mengambil jalan." Ujarnya yang kini sangat merasa bersalah. "Awalnya aku sedikit khawatir, dia akan terus membenciku. Tapi setelah kupikir-pikir, jalan yang kuambil sudah benar."
Tarikan napas berat terdengar dari hidung Hugo. Dia sangat tahu kemana arah Daren berbicara. Masalah di rumahnya, masalah tanggung jawab dan peraturan yang sangat pelik.
__ADS_1
"Jangan terlalu dipikirkan. Jalani saja apa yang ada sekarang."
Hanya itu yang bisa Hugo katakan. Dia tahu, beban Daren tak bisa digantikan dengan siapapun. Terlahir menjadi seorang Daren, harus siap dengan segala konsekuensinya.