Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Niat Tersembunyi


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, setelah seluruh harta keluarga Draw diambil alih Valiant sebagai harta rampasan perang, Jenderal Wiley memberikan apresiasi besar pada seluruh anggota Valiant dan memberikan banyak bonus pada semua pasukan yang diambil dari harta rampasan itu. Karena yang jenderal butuhkan hanyalah berkas atau bukti yang ada disana.


Ricky meledakkan ruang bawah tanah yang sempat membuat gempar dan kebakaran kecil di tengah hutan. Untunglah mereka tidak meninggalkan jejak sedikitpun.


Keluarga Draw pula sudah berhasil ditangkap, juga jejeran menteri yang terseret kasusnya. Menteri pertahanan, menteri keuangan, dan empat menteri lainnya. Hal ini benar-benar membuat gempar masyarakat yang bertanya-tanya kenapa petinggi negara justru melakukan pekerjaan ilegal dan tidak tercium sedikitpun? Jawabannya adalah kepala kepolisian yang merupakan Investor terbesar, benar-benar menutupi kasus dengan sangat mulus.


Richi duduk di bangku pinggir lapangan basket. Dia belum bisa bermain karena perutnya yang masih sakit akibat hantaman lelaki waktu itu. Untung saja bagian dalam perut Richi hanya memar kecil dan akan segera sembuh.


Bella datang membawa sebotol air buat Richi. Gadis itu duduk disebelahnya dan ikut menonton Hugo dan yang lain bermain basket.


"Lusa sudah ujian. Kau belajar?" Tanya Bella sambil mengunyah makanan.


"Tidak. Aku lebih banyak tidur akhir-akhir ini." Jawab Richi yang memang benar, bahkan tidak ada yang mengganggu Richi di rumah karena mengerti kelelahannya.


"Tidak terasa kita akan naik kelas. Jika sudah di kelas tiga, kita tidak akan punya banyak waktu untuk bermain." Tukas Bella.


"Hm. Itu juga sebab Valiant libur dari masalah apapun." Sambung Richi.


"Lalu, setelah gagal masuk militer, kau mau kemana?" Tanya Bella lagi.


Richi menatap Hugo yang masih asyik bermain, pikirannya menerawang lagi ke depan. Dia memilih tak melanjutkan sekolah militer, salah satunya karena lelaki itu tapi dia sendiri belum tahu akan kemana melanjutkan perkuliahan. "International bussiness, mungkin?"


Bella tergelak. "Kau saja terdengar tidak yakin."


Hugo berlari kecil menuju Richi, keringat sudah membasahi seluruh tubuhnya. Dia berjongkok di depan Richi dan mengambil air meniral yang digenggam kekasihnya itu.


Tanpa meminta, Hugo langsung menyiram kepalanya dengan air itu, merasakan sensi dingin air setelah berpanas-panasan di lapangan terbuka.


Hugo menggelengkan kepalanya yang tersiram air, membuat percikannya mengenai Bella dan Richi yang di depannya.


"Eeyyuhh Hugo. Kau kurang kerjaan, tahu!" Gerutu Bella dan langsung beranjak dari tempatnya.


Sementara Hugo yang sudah basah itu, mendongak menatap kekasihnya. Suara sorak beberapa gadis karena aksinya membuat Hugo tersenyum bangga. Dia pasti tengah merasa keren dengan aksinya tadi.


"Kau suka?" Tanya Hugo dengan senyum yang memperlihatkan gigi taringnya.


Richi menyerahkan handuk kecil padanya. "Jangan lakukan lagi." Kata Richi sambil tersenyum kecil.


Hugo langsung tertawa riang. "Ahahaha. Terima kasih, sayang." Tukasnya kemudian dia mengelap wajahnya yang basah, sesekali melirik ke atas dimana banyak perempuan memperhatikan dirinya dan juga Richi.

__ADS_1


"Hugo, bisa temani aku ke kantor polisi?"


"Tentu, baby. Aku akan bersiap dulu." Hugo berdiri dan langsung menuju kamar ganti.


Richi masih diam di tempatnya. Hari ini dia akan menjenguk Harry di kantor polisi. Walau Harry juga tertangkap, tetapi dia mendapat banyak keringanan karena sudah membuka banyak rahasia keluarganya. Satu tahun, Harry dipenjara satu tahun lamanya. Setelah itulah dia akan melangsungkan pernikahannya. Ya, mereka mengundurkan acara pernikahan. Untungnya, Harry sudah menyelesaikan ekselerasinya di sekolah dan berhasil tamat dengan nilai memuaskan.


Hugo mengantar Richi menuju sel dimana Harry berada. Tak sengaja mereka bertemu Shera yang baru saja keluar dari kantor polisi.


"Hai." Sapa Shera yang terlihat bersemangat.


"Shera, kau baru menjenguk Harry?" Tanya Richi.


"Ya, dia akan keluar besok. Aku sangat senang. Terima kasih, Richi. Kalian sangat baik." Jelasnya dengan semangat.


Richi menatap Hugo. Lelaki itu tengah tersenyum. "Kami hanya kasihan padamu, bukan Harry." Sahut Hugo.


"Hahaa. Apapun itu, terima kasih banyak. Aku pergi dulu untuk mengurus beberapa keperluan." Shera melambaikan tangan dan berlalu pergi.


"Hugo, siapa yang membebaskan Harry?" Tanya Richi penasaran. Karena kata Shera tadi 'kalian.' Artinya itu mungkin pekerjaan Ricky.


"Kakakmu. Dia mengajukan banding dan berhasil membuat Harry bebas bersyarat." Jelas Hugo.


Mata Richi membulat. Benarkah? Kenapa dia tidak tahu soal itu?


Sesampainya di dalam, mereka menunggu Harry di dalam satu ruangan.


"Datang juga kalian." Harry berdiri dengan tangan diborgol.


"Harry, apa kabarmu?" Tanya Richi.


"Not bad. Tapi terima kasih sudah banyak membantu, Richi. Aku sangat menghargai itu." Kata Harry yang sudah duduk berhadapan dengan Richi dan Hugo.


"Kau yang sangat membantu kami, Harry." Balas Richi.


"Ya, kuharap kau tidak melakukan hal seperti itu lagi. Karena jika kau masih menjadi berandal, aku tidak akan menologmu." Pungkas Hugo dan Harry malah tertawa.


"Tenang saja. Aku sudah berpikir di dalam penjara yang ternyata cukup membuka wawasanku. Aku akan membuka perusahaan baru. Bagaimana, kau tertarik menjadi investorku?"


"Akan aku pikirkan setelah melihat proposalmu."

__ADS_1


Perbincangan menjadi serius saat kedua laki-laki itu malah membahas rancangan perusahaan yang akan dibangun Harry. Richi hanya mendengarkan mereka walau ada beberapa kata yang Richi tidak paham.


"Ayah kirim salam. Dia bilang akan menjengukmu besok, tapi jika kau sudah keluar, lebih baik kau saja yang mendatangi ayah. Gara-gara kau helikopternya ikut terseret." Gerutu Hugo.


"Haha. Ya, aku akan kesana sekalian meminta restu. Aku akan mengenalkan Shera padanya. Walau begitu, dia juga ayahku." Kata Harry seraya melirik Hugo.


"Ya terserah padamu saja."


Harry tergelak. Dulu Hugo akan marah setiap kali Harry mengatakan kalau David adalah ayahnya. Sekarang, Hugo bahkan akan memberikannya dengan cuma-cuma.


Setelah mengunjungi Harry, Richi berniat mengajak Hugo makan malam terlebih dahulu sebelum mengantarkannya pulang.


"Aku akan mengantarkanmu pulang." Ujar Hugo.


"Ah, Hugo apa kita-"


"Aku akan bertemu si kembar."


"Apa?"


"Erine atau Eline namanya, yang mana satu aku juga tidak ingat. Tapi dia memintaku untuk mengajarinya menaklukkan bom." Jelas Hugo sembari menatap ke depan jalan.


"Erine?"


"Mungkin." Jawab Hugo melirik Richi sekilas. "Saat kemarin di ruang bawah tanah, kembarannya yang memintaku mengajari yang satunya. Katanya, aku lebih cepat mengetahui kabel bom. Jadi, yang berambut pendek yang memintaku. Si.. siapa yang berambut panjang itu, justru tidak bicara apa-apa." Jelas Hugo lagi.


"Sekarang? Aku boleh ikut?" Tanya Richi.


"Untuk apa, baby. Aku hanya ingin menepati janji sebentar karena yang berambut pendek meminta. Kupikir tidak ada salahnya mengajari sesama anggota Valiant."


Richi mengangguk lambat. Rasanya tidak nyaman membahas perempuan lain terlebih si kembar baik Erine maupun Eline.


Eline, si rambut pendek, pernah terang-terangan menantang Richi walau akhirnya kalah. Erine yang sama sekali tidak peduli padanya, sering disebut-sebut mempunyai karakter mirip dengan Richi, berhasil membuat Richi sendiri tidak nyaman.


"Baiklah kalau begitu, hati-hati di jalan." Kata Richi sembari keluar dari mobil Hugo.


Hugo mengerutkan dahi. Richi langsung keluar padahal dia belum mengatakan apa-apa untuknya.


Sementara Richi menghela napas berat. Dia membiarkan saja jika Hugo tengah berbaik hati pada kedua orang itu walau Richi mencium sesuatu dari permintaan Eline.

__ADS_1


Tapi tak apa, sekalian menguji Hugo jika benar keduanya punya niat tersembunyi pada Hugo.


TBC


__ADS_2