Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
S2 - Menguntit Bocah Kecil


__ADS_3

Richi masuk ke dalam mobil dan mendapati Hugo cemberut. Lelaki itu kesal lantaran Richi sejak tadi bilangnya akan keluar, tahu-tahu sudah satu jam Hugo menunggu, perempuan itu baru keluar dengan wajah cerah ceria.


"Ayo, jalan." ucap Richi setelah menutup pintu mobil.


Hugo malah diam. Kesal dihatinya masih ada. Menunggu itu bukan hal mudah, jadi dia ingin meminta amunisi pada cewek yang tidak peka itu.


"Maaf, kau marah, ya? Sini.." Richi menarik Hugo lalu mengecup bibirnya.


"Sudah, kan?"


Hugo menahan senyum, ternyata Richi tahu juga. Pikirnya.


"Kenapa kau ceria sekali?" Hugo menjalankan mobilnya.


"Karena besok akan ada pesta." Jawabnya sambil terus tersenyum.


"Pesta? Di jurusanmu ada pesta?"


"Hm. Perayaan bos baru."


Hugo menoleh ke arahnya sekilas. "Maksudnya, kau sudah menyingkirkan laki-laki itu? Cepat sekali."


"Mungkin besok finalnya. Aku yakin mereka takkan mau langsung menurutiku. Jadi, kurasa mereka akan berdemo melawanku."


"Butuh bantuan?"


"Tidak. Aku bisa mengatasinya sendiri."


"Baiklah, tuan putri. Lalu, besok bagaimana? Aku sudah bilang pada Erine, besok adalah waktu untuk menggantikan batalnya diskusi hari ini."


Richi mengangguk-angguk. Ya, ternyata ada satu lagi masalah yang belum tuntas, ya.


"Besok, buatlah jadwal diskusi di sekitar kelasmu. Aku akan kesana." Richi mendekatkan wajahnya ke Hugo yang tengah fokus menyetir. "Untuk memperkenalkan diri sebagai kekasihmu." Bisiknya pada Hugo.


"Serius?" Lelaki itu terus menatap Richi dan jalan secara bergantian. Dia tampak senang sekali.


"Iya, sayang." Ucapnya sambil mengusap belakang kepala Hugo.


Lelaki itu meraih tangan Richi lalu menciumnya cukup lama. Dia senang, jelas, karena setelah setahun lebih akhirnya dia akan bebas memposting foto-foto Richi lagi di akunnya.


Di lampu merah, mobil berhenti, membuat Hugo mulai ingin mengerjai Richi. "Sudah hampir gelap. Apa kita singgah ke hotel saja lagi, ya?" Hugo berusaha menyembunyikan senyum jahilnya.


"Yaah, tidak apa-apa, sih."


"Yang benar?" Tanya Hugo dengan serius, padahal tadi dia hanya bercanda.

__ADS_1


"Kau punya nomor ayahku, kan? Cepat telepon dan bilang kalau kita menginap di hotel. Kalau dia mengizinkan, maka aku akan pindah dan tinggal satu apartemen bersamamu di kota ini."


Hugo menghela napas dan langsung memandang lagi ke jalan yang masih ramai lalu lalang mobil di depannya, mengantri lampu merah.


"Kenapa? Tidak berani?" Tantang Richi. Namun Hugo tak menjawabnya.


Richi memiringkan posisi, menghadap Hugo. "Hei, dengar aku." Dia mengarahkan wajah Hugo dengan tangannya.


"Kalau suatu hari, kau punya anak perempuan, lalu setelah dewasa dia sering menginap bersama kekasihnya, apa kau setuju?"


Hugo diam walau dalam hatinya sudah punya jawaban. Tentu tidak, dia takkan rela anak perempuannya menginap dengan bebas bersama laki-laki walau di negaranya tidak ada larangan soal itu.


"Kau pasti tahu kan, apa yang ada dipikiran kekasih anakmu? Sesama laki-laki, tentu kau tahu, kan?"


"Iyaaa. Iya.." jawab Hugo dengan malas karena dia selalu kalah.


"Lagi pula aku juga tidak akan melakukan apa-apa padamu. Terbukti kan, aku tahan dan hanya memelukmu sampai pagi." Tukasnya lagi.


"Yang benar? Jadi, siapa yang membuka kancing bajuku? Saat pagi ternyata sudah terbuka."


Hugo mulai gelagapan. "A-aku.. cuma memandangnya saja. Ya, memandang."


"Memandang? Kau yakin tidak menyentuhnya?" Richi semakin mendekatkan wajahnya dengan Hugo, membuat lelaki itu sedikit memundurkan wajah, apalagi ditatap demikian oleh Richi.


Hugo kini menatap Richi dengan mata yang sengaja ia lebarkan.


"Jadi, kau tahu aku menyentuh dadamu tapi kau diam saja??"


Kini malah Richi yang diam, merapatkan bibir supaya tidak tertawa karena memang dia terbangun saat Hugo melakukan itu padanya.


"Kau menikmati sentuhanku rupanya."


"Tidak." Elaknya dengan cepat, walau ia tidak bisa menyembunyikan senyuman lebarnya.


"Waah. Tidak, ya? Coba aku sentuh lagi, sini." Hugo berusaha menyentuh dada Richi namun gadis itu punya proteksi yang kuat.


"Hahaa. Kau gila, ya!" Pekik Richi sambil menahan tangan Hugo yang berusaha menyentuhnya.


"Iya. Aku gila, memang."


TIN! Klakson dari belakang membuat Hugo berhenti karena lampu sudah berubah hijau.


"Hahaa. Aku hanya tak ingin kau.." Kalimat richi terhenti saat dia melihat seorang yang dia kenal wajahnya. Anak kecil yang belakangan menjadi bahan pikirannya.


Richi langsung keluar dari mobil saat Hugo hendak menjalankannya.

__ADS_1


"Richi! Hei, mau kemana!"


Teriakan Hugo tak membuat Richi berhenti. Dia sampai dimaki pengemudi lain lantaran menyebrang dilampu merah saat mobil tengah ramai lewat.


Richi berselisih dengan orang-orang ramai yang berada di pinggir jalan. Walau begitu, Richi masih dengan mudah mengikuti anak kecil yang memegang kaleng bekas di tangannya, sampai saat ia berbelok dan Richi terus berusaha menerobos lalu lalang orang-orang sampai akhirnya ia masuk kedalam gang yang dimasuki anak itu tadi.


Mata Richi menyipit dan segera ia berlari saat melihat anak itu masuk kedalam salah satu pintu besar yang ada disana.


Richi diam menatap pintu yang sudah tertutup. Suasana gang itu cukup sepi dan gelap lantaran mulainya pergantian waktu malam.


Dari dalam terdengar bising, suara keributan itu tak bisa Richi dengarkan tengah berbicara masalah apa. Richi bersiap menyentuh gagang pintu sampai akhirnya seseorang dari belakang mendekatinya.


"Permisi, nak."


Richi terkesiap, dia langsung menoleh kearah dimana seorang laki-laki paruh baya berdiri tepat dibelakangnya.


"Apa yang kau lakukan disini?"


Richi menatap pintu dibelakangnya sebentar, sebelum akhirnya tersenyum kecil pada bapak tua itu.


"Saya melihat ada anak yang masuk kesini. Uang anak itu terjatuh, jadi saya ingin memberikan padanya." Jawab Richi dengan berbohong. Pasalnya, walau tua, Richi tak bisa percaya dengan apa yang ada di hadapannya. Apalagi setelah ia teliti bapak itu dari atas sampai bawah, ada yang mengganjal di mata Richi.


"Sebaiknya kau pergi saja. Malam-malam disini berbahaya. Banyak preman dan kejahatan."


Richi mengangguk. "Baiklah, saya permisi dulu."


Orang tua itu menatap kepergian Richi sampai ia menghilang di persimpangan.


Richi masih saja berdiri di sebuah toko, saat menyadari bahwa lelaki tua tadi belum juga pergi. Padahal, Richi benar-benar sudah membulatkan tekat untuk menerobos masuk pintu itu, karena rasa penasarannya yang amat besar.


Richi mengintip lagi ke arah gang itu, dan lelaki tua itu sudah tidak ada di tempatnya. Kemana? Richi sampai tak bisa menerka sebab jalan itu buntu. Satu-satunya yang ia pikirkan saat ini adalah orang tua itu masuk kedalam pintu yang hampir ia buka tadi.


"Hei!"


Tepukan di pundaknya membuat Richi terkaget. Lalu bernapas lega saat ternyata Hugo yang melakukannya.


"Kau kemana, hah?"


Richi menengok lagi kearah gang itu. Tidak ada siapa-siapa, hening seperti tadi.


"Sudahlah. Ayo, pergi." Richi menggandeng tangan Hugo menuju kearah dimana lelaki itu memarkirkan mobilnya.


TBC


"Hei, kok kalian suka banget peperangan yang dibuat Richi? gw sampe terkekeh baca komentar yg mau Richi bergelud. Ntar kalo gw ga ngantuk, gw lanjut malam, pen. Happy sunday, ya. Nggak jalan2 harini? Kok nuntut up terus. Jomblo, ya!"

__ADS_1


__ADS_2