Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Menjebak Damian (3)


__ADS_3

Richi berjalan di atas tanah yang tandus menuju gudang besar tak jauh dari hadapannya. Di kedua tangannya, Richi sudah menggenggam dua jeriken dan pemantiknya. Richi akan menghanguskan tempat yang menjadi markas Damian untuk melakukan tindakan jahatnya.


Sudah tak bisa Richi tahan, bagaimana selama sebulan ini Damian menyaksikan apapun yang Richi lakukan di dalam kamarnya. Bahkan lelaki itu menyimpan gambar-gambar Richi tertidur di setiap malam dengan baju dan posisi yang berbeda.


Tak bisa ia bayangkan, selama ini dia melepas pakaian dan melakukan apapun di dalam kamar pribadi yang ia rasa aman, ternyata disaksikan oleh laki-laki biadab itu.


Richi menyiramkankan satu jeriken di depan gudang itu. Supaya memudahkannya jika ia harus langsung pergi dari tempat itu.


Tanpa aba-aba, Richi langsung membuka pintu dan mendapatkan banyak tumpukan kayu di hadapannya. Dia ingin tahu apa yang ada di dalam. Richi masuk dan berjalan perlahan ke dalam gudang itu.


Langkahnya terhenti saat ada seorang laki-laki berkacamata berdiri tak jauh di hadapannya.


"Richi. Selamat datang." Sapa lelaki itu dengan senyuman yang terlihat kaku. Mungkin dia masih merasa canggung.


Richi menatapnya. Dialah orang yang selama ini memantau dirinya, mengusik dan menyebarkan foto-foto yang Richi tidak suka untuk disebar-sebarkan.


"Ternyata dirimu.." Ucap Richi melebarkan senyum. Ya, dia memang beberapa kali bertemu dengan lelaki itu. Mata Richi menatap ruas ibu jari Damian yang bertuliskan Dachi disana.


"Silakan, disebelah sini."


Richi berjalan mengikuti Damian menuju satu ruang yang sudah disiapkan Damian dengan dua kursi dan meja yang ditata sedemikian rupa. Tak lupa pula sebuah lilin yang sudah menyala, karena ruangan disana redup tanpa jendela.


...~...


"Dapat!" Aron spontan berdiri dari tempatnya karena berhasil mendapatkan dimana letak Dachi Moon sekarang.


"Dimana?" Tanya Ricky cepat.


Aron memutar laptopnya menghadap Ricky.


"Tempat itu lumayan jauh dari sini." Ucap Bella.


"Cepat bersiap, kita kesana sekarang!" Titah Ricky.


Mereka langsung bergerak menuju tempat dimana Dachi Moon kini berada.


Mereka menaiki tiga motor berboncengan, karena mereka ingin segera sampai kesana. Clair pun dengan cepat menghubungi Hugo supaya segera menyusul ke tempat yang sudah ia share melalui ponselnya.


...~...


"Cheeers"


Eline, Erine, dan juga Hugo mengangkat gelas mereka, saling mendentingkan satu sama lain kemudian menenggak bir di dalam gelas itu.

__ADS_1


Erine menenggak habis minuman di dalam gelas, membuat Hugo mengerutkan dahinya.


"Kau langsung menenggak habis?"


"Dia kuat minum." Sahut Eline yang hanya meminum sedikit karena tak sekuat Erine.


"Hugo, apa setelah ini kau tidak mau bertemu kami?"


Pertanyaan Eline membuat Hugo menghela napas. "Kata siapa?"


"Aku hanya bertanya. Lagi pula kau bilang tadi tak punya waktu dengan Darrel, berarti selama ini kau menghabiskan waktu dengan kami, ya?"


"Itu karena kita terus latihan." Jawab Hugo.


"Hm, benar."


"Kita kan, satu kelompok. Pasti bisa bertemu. Omong-omong, kemana Eddy?"


"Entahlah. Dia punya urusannya sendiri." Sahut Eline. "Oh ya, aku ke toilet dulu."


Eline langsung bergerak dari tempatnya, memberikan kesempatan pada Erine supaya dekat dengan Hugo.


Erine pula melanjutkan minumnya. Dia menuang bir dan saat hendak meminumnya, Hugo menahan tangannya.


"Ck. Apa, sih. Aku kuat minum."


"Ini masih siang."


"Lalu?" Erine mengerutkan keningnya.


"Katanya, kalau anak perempuan yang belum menikah minum alkohol di siang hari, maka jodohnya tidak akan sampai."


Mendengar itu, Erine justru tertawa lebar. Dia memegangi perutnya karena merasa lucu dengan ucapan Hugo.


"Hahaha. Hei, Hugo. Kau pikir ini zaman apa?"


"Ya sudah kalau tidak percaya." Hugo juga meraih gelasnya dan menenggak bir di tangannya.


Hugo menatap gadis disebelahnya. Tiba-tiba dia teringat pada ucapan Eline waktu itu.


Eline tiba-tiba minta tolong padanya, membantu Erine agar keluar dari zona anehnya. Katanya, Erine punya masa lalu kelam dan memutuskan tak lagi menyukai laki-laki. Hal itu justru membuat Hugo agak prihatin. Tapi Hugo sendiri tidak tahu cara menolong Erine. Agak disayangkan memang, jika perempuan seperti Erine memilih jalan lain.


"Erine.."

__ADS_1


"Hm?"


"Apa.. kau punya trauma?"


"Trauma?" Tanya Erine balik.


"Ya, kau pasti pernah sakit hati pada laki-laki. Itu sebabnya kau tak lagi mau membuka hati dan tidak menyukai laki-laki. Aku bisa merasakan itu, merasakan tatapan bencimu padaku."


Erine mengerutkan dahi. Dia tak paham apa yang lelaki itu ucapkan.


"Tapi, Erine. Dari pada sesama jenis, tidak ada salahnya memulai hubungan yang baru dengan lawan jenis. Bisa saja kau memang sedang sial mendapatkan laki-laki yang nggak baik. Suatu hari, aku yakin kau bisa menemukan laki-laki yang sesuai keinginanmu."


Erine menganga, sedetik kemudian dia menghela napas. Dia tahu pekerjaan siapa yang mengarang cerita seperti itu. Jelas itu Eline. Apa yang anak itu lakukan? Erine mulai mengedarkan pandangan, mencari saudari kembarnya, tapi tidak terlihat. Hah. Jelas, dia sengaja meninggalkan Erine dan Hugo berdua seperti itu.


"Tidak ada salahnya mulai menyukai laki-laki lagi, Rin."


Erine menenggak birnya. "Hei, Hugo. Aku masih normal."


"Masa? Kau bilang begitu karena tak mau aku panjang lebar menasehatimu, kan?"


Terdengar helaan napas Erine lagi. "Hah, terserah padamulah."


Hugo meraih tangan Erine, membuat gadis itu terkejut. "Erine, katanya yang seperti ini bisa membuatmu kembali seperti sedia kala." Hugo meletakkan tangan Erine di dadanya, lalu menatap mata gadis itu. Tentu saja Erine ingin menarik tangannya, tapi tangan Hugo erat menggenggamnya.


"Rasakan detakan jantung laki-laki lain, bisa meredakan emosi dan stresmu."


Erine tak bergerak, menahan napas karena dirinya dan Hugo sangat dekat. Bahkan dia bisa merasakan detakan jantung Hugo. Lalu merasakan dada bidang laki-laki itu membuat jantung Erine ikut berdetak kencang. Gadis itu langsung menarik tangannya lagi.


Hugo malah tertawa. "Kau ini, sudah seperti laki-laki beneran." katanya sambil terkekeh menatap Erine yang membuang wajahnya.


...~...


Ricky dan yang lain mempercepat motor mereka saat melihat kepulan asap hitam besar naik ke atas langit.


"Apa gudang itu yang terbakar??" Tanya Olivia setengah berteriak di belakang Aron.


"Entahlah. Aku tak yakin." Jawab lelaki itu lalu menancap gas lagi.


Mereka berhenti tepat di depan gudang. Mata Olivia dan yang lainnya terbelalak lebar saat melihat gudang itu kini terbakar dan yang lebih membuat mereka menganga adalah Richi.


Gadis itu berdiri membelakangi mereka. Tangan Richi berbalut perban. Dia pula memakai gaun yang cantik seolah tengah datang ke sebuah acara pesta.


Tak luput dari pandangan, adalah laki-laki disebelah Richi. Lelaki dengan setelan lengkap itu tengah terduduk sambil menangis. Dia berkali-kali memukuli tanah dengan tangannya sambil berteriak menghadap gudang yang terbakar itu.

__ADS_1


Apa yang terjadi? Kenapa Richi sudah berada di tempat itu duluan?? Tak ada yang bisa menjawab. Yang mereka tahu pasti adalah, gudang itu Richi yang membakarnya. Karena tangan kiri gadis itu menggenggam sebuah pemantik api.


__ADS_2