Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Investigasi


__ADS_3

"Aku minta maaf. Karena aku, kau jadi ikut terlibat". Hugo berdiri setelah selesai mengobati tangan Richi. Dia menunduk melihat Richi dengan wajah dinginnya.


"Kau belum menjawab pertanyaanku. Kau pasti tahu tempat ini, kan. Kau juga dikenali oleh mereka. Apa kau ada kaitannya dengan tragedi dua tahun lalu?" Richi mendongak melihat Hugo di depannya. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.


"Aku tidak ada kaitannya dengan mereka. Sekarang, aku akan mengantarmu pulang". Ungkapnya sambil berjalan menuju mobil Richi.


"Tidak perlu". Richi berdiri menatap Hugo yang langkahnya terhenti karena penolakan darinya.


Richi meletakkan jeket Hugo di atas bangku dan berjalan menuju mobilnya. Dia bahkan tidak melihat lagi ke belakang. Masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Hugo yang masih berdiri di tempatnya.


Hugo membuang napasnya. Dia tahu Richi pasti sudah menerka siapa dirinya. Jika dia tahu kalau Hugo terlibat dalam insiden dua tahun lalu di kafe Clair, apa yang akan terjadi?


...🦉...


Richi berhasil menyembunyikan luka lebam di tangannya dari orang-orang di rumah. Tadi pagi saat mandi, dia sudah melepas perban yang membuat lengannya terlihat gemuk hingga bisa membuat curiga orang di rumahnya. Saat sarapan juga, sang Ibu sempat menegurnya karena dia memakai jeket. Dengan sedikit drama, Mary pun mengalah dan hanya menggelengkan kepalanya.


Richi berjalan lunglai di koridor sekolah. Tangannya terasa berdenyut. Dan hari ini, dia berencana akan ke dokter untuk memeriksanya. Dia khawatir jika tulangnya retak, dia bisa saja dilarang banyak hal oleh Ayahnya.


"Ri, kau kenapa? Pagi-pagi sudah lesu." Frans yang tengah bermain basket, menghampiri Richi yang duduk di bangku panjang pinggir lapangan.


"Tidak apa-apa". Bohongnya pada Frans. Dia juga sedih karena beberapa hari ini tidak bisa bermain basket.


"Ayo, main. Cepat".


"Aaarghhh" Richi meringis ketika Frans menarik tangannya menuju lapangan.


"Eh, eh, kenapa, Ri." Frans terlihat panik saat Richi bereaksi kesakitan.


Richi mengaduh. Dia menekan wajahnya supaya tidak terlihat begitu kesakitan.


"Ri, kau kenapa?" Eric datang setengah berlari. Jeritan Richi membuatnya ikut berhenti bermain dengan yang lain.


"Ti-tidak.." Ucapnya dengan wajah meringis.


"Mana mungkin tidak apa-apa". Frans dengan sigap menyingkap lengan jeket Richi. Dan dia benar terkejut melihat lebam biru di tangan temannya itu.


"Gila! Kau kenapa?" Suara Eric yang terkejut membuatnya cepat-cepat menurunkan lengan jeketnya.


"Kau berkelahi dengan siapa sampai begini?" Suara Frans sedikit merendah. Karena ia tahu Richi tidak suka jika banyak orang tahu.


"Kau kenapa membiarkan luka lebam begini?" Tanya Eric lagi karena khawatir dengan Richi.

__ADS_1


"Panjang ceritanya. Tadi malam sudah diobati, kok. Aku akan ke dokter setelah ini." Ucapnya dengan suara yang mulai serak. Dia sulit tidur karena denyut tangannya yang tak kunjung mereda.


"Tadi malam kau tidak datang ke acara pesta. Lalu kau kemana?" Tanya Frans penasaran.


"Benar. Hugo juga tidak datang. Jangan-jangan kalian berdua berkelahi, ya?" Tuduh Eric dengan sembarangan.


"Kau gila, ya? Mana mungkin Hugo seperti itu. Terlebih pada pacarnya". Gerutu Frans pada Eric yang asal bicara.


"Frans. Ayahmu dokter apa?" Tanya Richi mengacuhkan pertanyaan Eric.


"Dokter kandungan. Kau mau konsultasi?" Ucap Frans sambil tertawa. Padahal, dia sering menceritakan kasus-kasus unik pasien yang pernah ditangani Ayahnya. Si Richi ini, malah bertanya lagi tanda tak pernah ingat apa yang menurutnya tidak begitu penting.


"Kau mau ke dokter?" Suara Hugo dari belakang Richi membuat tiga orang itu berbalik badan.


Richi hanya diam. Dia lalu tertunduk menatap tangannya.


Dia bisa saja pergi sendiri. Tapi beberapa rumah sakit di kota ini, adalah milik Ayahnya. Jika dia datang dan berobat kesana, sudah pasti Ayahnya akan tahu.


"Benar. Hugo, bukankah Ayahmu juga punya rumah sakit di kota ini? Kau kesana saja, Ri. Kau pasti berpikir karena takut Ayahmu tahu, kan?" Ceplos Frans dengan mudahnya. Padahal, tatapan Richi sudah sangat sengit padanya.


"Sepulang sekolah, aku akan mengantarmu ke dokter pribadiku. Jadi, orang tuamu tidak akan tahu". Ucap Hugo lalu pergi begitu saja.


Richi yang duduk membelakanginya sedari tadi tidak bergeming. Denyut di tangannya membuatnya sedikit berpikir untuk menerima saja tawaran lelaki itu.


"Hugo, dia sudah disana". Axel menemui Hugo yang berdiri di balkon depan kelasnya.


Dia dan Axel berjalan ke tempat yang dimaksud. Sebuah ruangan yang hanya Hugo dan teman-temannya yang bisa memasukinya.


Disana, sudah ada Daren dan Isac. Satu lagi, seorang gadis yang duduk ketakutan di atas kursi besar. Kursi yang di letakkan khusus untuk orang-orang yang membuat masalah pada mereka.


Setelah beberapa hari Carina tidak masuk sekolah, akhirnya hari inilah mereka berhasil membuatnya duduk di kursi itu. Mereka ingin memastikan apa yang Richi katakan kemarin.


Hugo menarik kursi dan duduk di depan gadis itu.


"Apa ada yang mau kau katakan?" Hugo menatap wajah Carina. Dia memasang wajah tanpa ekspresi yang membuat Carina takut.


"A-apa maksudnya, Hugo?" Carina gemetar. Dia takut akan terjadi yang tidak-tidak pada dirinya.


"Katakan, apa yang membuatmu melakukan itu padaku". Hugo mencondongkan tubuhnya mendekat ke wajah Carina.


Gadis itu menahan napasnya karena Hugo merapatkan dirinya. Dia tidak bisa mengelak. Pertanyaan Hugo seolah-olah dia tahu bahwa Carina memang meletakkan sejenis obat yang membuatnya tidak sadarkan diri.

__ADS_1


"Ma-maaf. Maafkan aku, Hugo. Aku, Aku cu-cuma.." Carina memutar otaknya untuk memberi jawaban yang logis dan bisa membuatnya cepat keluar dari ruangan itu.


Hugo memundurkan tubuh dan bersandar pada kursi sambil melipat tangannya.


"Siapa yang menyuruhmu?"


Pertanyaan Hugo membuat Carina tersentak. "Ti-tidak ada. A-aku melakukannya, karena me-menyukaimu".


Mata Carina mulai berkaca-kaca. Dia memang melihat Hugo sebagai laki-laki yang garang. Tapi dia tidak sangka Hugo benar-benar membuatnya seperti sandraan.


"Jadi, apa yang mau kau lakukan padaku?"


"Ak-aku.." Carina menggenggam ujung seragamnya. Tidak berani menatap laki-laki di hadapannya yang wajahnya menjadi lebih menakutkan.


"Aku ingin bermain-main. Maafkanlah aku, maafkan aku". Carina lalu turun dari kursinya dan berlutut di hadapan Hugo.


"Aku hanya ingin dekat denganmu. Maafkan aku. Caraku salah". Carina mulai sesegukan.


"Katakanlah, siapa yang menyuruhmu." Daren mulai bicara. Menurut cerita Richi, Carina dan Harry saling mengenal.


"Tidak ada" Ucapnya tertunduk.


"Cepat Katakan!!" Hugo membentak keras Carina hingga jantung gadis itu berdetak lebih kencang. dia ketakutan.


"A-aku sendiri yang merencanakan ini." Carina mengatupkan kedua tangannya dan meletakkannya di depan dada. "Kumohon, maafkan aku. Aku sangat salah. Caraku salah". Carina menangis deras. Dia sangat takut jika orang-orang di depannya ini sampai melukainya.


Hugo berdiri dari tempatnya. Carina tidak mengaku, dia juga tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak punya bukti kuat.


Axel membisikkan sesuatu pada Hugo. Lalu Hugo pergi.


"Kau berhati-hatilah. Kalau sampai ketahuan kau bersekongkol dengan seseorang, habislah masa depanmu." Isac memberi peringatan hingga membuat Carina bergidik.


"Kau mengerti maksudku kan?" Suara Isac lembut, tetapi membunuh di telinga Carina.


Dia mengangguk-angguk dengan cepat. "Iya, aku mengerti. Aku paham".


"Pergilah. Jangan sampai kau masuk ke sini lagi". Ucap Daren tanpa menoleh ke arah Carina. Gadis itu lalu berdiri dan berjalan dengan cepat menuju pintu keluar.


"Apa benar ucapan Richi? Sepertinya gadis itu tidak berbohong". Ucap Isac yang belum menemukan jawaban apapun.


"Entahlah. Kita harus tetap selidiki dia". Kata Daren sambil berjalan menuju pintu keluar.

__ADS_1


To Be Continued....


__ADS_2