
RICHI PoV
Napasku tercekat, jantung juga ikut berdetak lebih kuat dari biasanya karena nyaliku entah bagaimana melemah setelah pria brengsek dibawah tadi meraba tubuhku.
Tiba-tiba aku teringat Hugo. Apa dia tidak bisa menemukan ponselku? Apa dia bisa menyelamatkanku sendirian? Harapanku satu-satunya, aku berharap dia bisa menemukanku sekarang ini.
A-aku mulai takut..
Suara tawa para pria brengsek di depanku terasa memekik di telinga. Sialan, kenapa aku jadi takut. Apalagi, si pria bajing'an yang mengelus pahaku tadi mengingatkanku dengan pelecehan luar biasa yang dulu terjadi di depan mataku.
Gary, lelaki yang sebenarnya tidak punya basic bela diri ini hanya berdiri tegak karena anak buah dibelakangnya.
Aku tidak akan mati disini. Aku harus melawan dan menentang rasa takutku.
Aku terus melihat dua pisau Bayonet yang saling menyilang di dalam bingkai kaca. Aku melirik sekitar, mencari jalan dengan memanfaatkan apa yang bisa kuraih saat ini. Ya, botol alkohol di sebelahku.
Lalu aku teringat, kakiku terbatas karena rok yang kupakai. ****! Aku mengumpat diri, itu sebabnya aku malas memakai dress atau rok seperti ini.
"Ayo, kau mau melawan? Haha sialan, kau layani dulu aku!"
Amarahku benar-benar memuncak naik saat mendengar ucapannya itu, mendengarnya mengoceh lalu melecehkanku membuat darahku mendidih. Apalagi lidah sialannya itu menyuruh anak buahnya untuk ramai-ramai mengerjaiku. Rasanya ingin sekali aku mencongkel mata dan jantungnya hidup-hidup.
"Hei, aku mau bertanya sebelumnya. Apa kau pernah ML sebelumnya?" Pertanyaan si gila ini mendapat tawa besar dari pengikutnya.
"Sepertinya belum, sini mendekat dan layani aku."
Let's start, Bajingan. Kau mau kulayani?
Aku mengangkat rokku secara perlahan, satu-satunya jalan supaya aku bisa melompat ke sana dengan bebas. Perlahan pahaku tersingkap, membuat semua pria disana bersorak dan menjilat bibir mereka sendiri. Cih! Menjijikkan!
"Waah.. Kau menawarkan dirimu, ya. Hahaha, murahan ternyata!"
"Sini, aku coba pegang sebentar.." Gary brengsek itu mendekat, namun dengan singkat kedua tanganku berhasil meraih dua botol.
PRANG!!
Gary tersujud di kakiku karena aku memecahkan sebotol alkohol di kepalanya sampai pecah.
Dengan cepat aku menggoreskan sisa pecahan botol di tangan kiriku ke arah pria yang menghalangi jalanku untuk naik ke atas meja biliar lalu aku melempar botol di tangan kananku ke bingkai kaca itu.
TRANG!!
Pria brengsek yang berdiri disekitar spontan menjauh. Wanita-wanita menjerit dan berlarian keluar tak ingin terlibat lebih dalam.
BRUK! Tendangan kulayangkan ke pria di depanku sekaligus aku turun dan berhasil mengambil dua buah pisau yang kini kugenggam kuat.
__ADS_1
"Hiaatt!"
Seorang pria di dekatku ingin menghajar, secara kilat aku tancapkan langsung kedua pisau di dadanya sebagai tes awal.
Pisau yang sangat indah, kini mulai berubah warnanya menjadi merah.
Aku memasang kuda-kuda dengan mata pisau ke arah mereka.
Mereka bergidik, apalagi kedua pisau di tanganku meneteskan darah.
Kurang dari 10 detik aku sudah berpindah posisi dan itu membuat mereka semua terperangah.
Mataku mencari pria brengsek yang tadi berani meraba ke dalam rokku.
Ternyata beberapa orang naik ke atas karena mendengar kebisingan yang kulakukan.
Mereka, dua orang yang melecehkanku muncul dari tangga bawah, akan kuhabisi paling akhir. Darahku benar-benar mendidih melihat mereka. Ingin sekali aku memotong kedua tangan dan mencongkel matanya.
"Aarrghh" Gary mengerang setelah berhasil menguasai diri dari kepala yang berat.
"Hajaarr Brengseeekk!!" Teriaknya sambil memegang kepalanya yang mulai mengeluarkan darah.
Mereka mendekat, dengan cepat kilat aku menyayat dan menancapkan pisau itu ke badan mereka. Sesekali aku menendang benda diantara kedua paha mereka lalu mengoyak wajah dengan pisau saat mereka terbungkuk menahan kesakitan di **** *****.
Gejolak dalam diriku meningkat melihat kedua orang itu mulai berhadapan denganku.
Begitu juga kaos putihku yang berubah seperti gradasi merah dan putih.
Aku mengeratkan kedua tanganku dalam menggenggam pisau tanpa kuda-kuda. Tetesan darah di kedua pisauku kini menjadi perhatian keduanya.
BRAk!!
Aku mengerang tertahan, satu stik biliar patah mengenai punggungku. Seorang yang wajahnya tersayat pisau ternyata masih mampu berdiri.
Kuputar tubuhku lalu melayangkan tendangan. Sial, dia berhasil mengelak.
Saat dia ingin memukulku dengan patahan stik biliar, langsung saja kusilangkan tanganku, memberi tanda di dadanya dengan tekanan hingga membuatnya meringis karena perih dan berdarah.
Mataku menatap dua orang itu lagi. Aku memutar-mutarkan pisau ditangan, melemahkan nyali mereka, lalu berjalan perlahan tanpa beralih sedetikpun.
Dari ekor mata kulihat Gary mulai bangkit dan berlari menuju tangga bawah.
SREK! Dia terjatuh dan menjerit, kini kakinya harus mengeluarkan banyak darah karena aku melemparkan pisau ke betis kanannya dan terlihat dalam.
Tanpa buang waktu, sekali dua kuhabisi saat mereka tidak bersiaga malah melihat Gary dibelakang mereka.
__ADS_1
BRAK!
Yang satu terjungkal menggeliat, tulang belakangnya mungkin patah setelah tertabrak dengan keras ke meja biliar ditambah robekan dalam di perutnya.
Sisa satu, dia mundur sambil memegang pinggangnya yang berlumuran darah.
"Si-siapa kau!"
Dengan langkah sigap aku mencekik lehernya dengan tangan kanan, tubuhnya menegang karena napasnya hampir habis.
"Aammmpuunn.." ucapnya terbata.
Kulepas cengkraman tanganku, dia terjatuh dan langsung bersujud menyentuh sepatuku yang sudah berubah warna menjadi merah.
"Aam-puun.. ampunn.."
BRAK!!
Dia tersungkur kebelakang karena tendangan yang dengan kuat kukeluarkan.
Aku menginjak perutnya, menekan bagian samping yang tadi sempat kuberi lubang dengan pisauku, membuatnya menjerit lalu terlentang pasrah. Dia mulai sesegukan melemah.
Aku berjongkok sambil memutar pisau ditangan kananku.
"Tangan kotormu berani menyentuhku." Gumamku datar. Dia terhenyak, lalu kurasakan tubuhnya bergetar hebat.
"Aammpun.. aamppun.." isaknya.
Aku berdiri dengan satu kaki menginjak dada dan satu lagi menginjak lengannya hingga membuat telapak tangan kanannya terbuka.
"Ja-jangan.. aa-ampun.." rintihnya.
Gary mulai bergerak dengan wajah ketakutan. Banyak tetesan darah mengalir di wajahnya. Kubiarkan dia berlari tertatih menuju tangga dan turun.
Perhatianku beralih lagi pada lelaki dibawahku.
"Aaaakkk!" Lehernya menegang karena merasakan sakit akibat pisau yang kulempar ke telapak tangannya di lantai. Hingga pisau itu berdiri sempurna.
Dia terus menjerit, apalagi kakiku berdiri di dekat pinggangnya yang sempat kulubangi. Tangannya yang lain menyentuh pergelangan kakiku yang menginjak tangannya.
Gary melangkah mundur tiba-tiba saat kulihat dia malah ketakutan menatap ke bawah tangga.
Aku diam melihat pergerakannya yang ketakutan, napasnya tercekat hingga tubuhnya bergetar hebat.
"To-tolong.. am-ampun.." Lirihnya menatap ke bawah tangga lalu dia mundur dan menoleh ke belakang, menatapku dengan mata berkaca.
__ADS_1
Aku terperangah, seorang laki-laki berjalan naik ke atas dengan santai walau kulihat lengan kanannya mengalirkan darah bekas tusukan pisau.
"Hugo.." gumamku lirih..