Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Kissing in the Water


__ADS_3

"Hugo."


Hugo membalikkan badan, dia melihat kekasihnya ada di hadapannya sekarang.


"Kau sekolah? Bukannya kakimu sakit?" Tanya Richi pura-pura.


"Eh? Bukannya kau yang tidak ingin aku libur?"


Richi menyipitkan mata. "Kapan aku bilang begitu? Sudah sana pulang saja. Apa mau kutelepon Simon untuk mengantarmu pulang?" 


Hugo bengong. Bukannya seharusnya Richi tengah memanjakannya yang sakit ini? Kenapa malah diusir?


"Chi.."


Richi menoleh ke belakang. "Oh, kak Emer."


"Nanti jadi, kan?"


Richi mengangguk cepat. "Aku tunggu ya, kak."


Emerald mengacungkan jempol sambil naik ke lantai tiga.


"Ada apa?" Tanya Hugo penasaran.


"Main basket. Soalnya kakimu kan, lagi sakit. Jadi aku minta kak Emer yang temani aku main."


"Apaa!!?"


"Ayo, aku antar ke kelas." Richi seolah tak menghiraukan Hugo. Dia membantu lelaki itu berjalan pincang. Padahal jelas dia membohongi Richi. Wajah Hugo pula, terliat tak senang.


"Axel! Bantu, dong." Richi memanggil dari jendela luar dan Axel keluar dari kelasnya.


"Hugo, kau kenapa?"


"Pincang, kakinya patah."


"Apaa!! Kakimu patah?"


"Enggak. Cuma keseleo, bukan patah." Sanggahnya sambil menatap Richi dengan kesal.


"Tolong ya, Xel." Richi langsung pergi begitu saja. Sedangkan Hugo pula langsung masuk ke kelas dengan jalan yang amat lancar.


"Lho! Hugo, kakimu.." Axel mengejarnya masuk ke dalam kelas.


~


Setelah Bel istirahat, Richi langsung masuk ke dalam kelas Hugo membawa satu plastik makanan ringan.


"Hugo, kakimu sedang sakit. Jadi, jangan keluar atau kakimu bisa bertambah parah. Ini makanan, jadi kau tidak perlu ke kantin." Richi mengacak rambut Hugo dengan gemas lalu melangkah keluar.


"Tunggu!"


"Iya?"


Hugo diam, ingin mengatakan sesuatu tapi lidahnya tertahan. Kenapa tiba-tiba dia menyesal telah membohongi Richi? Ini tak sesuai dengan ekspektasinya.


"Mau kemana?" Tanya Hugo.


"Main basket."


Hugo diam lagi. Dia ingin main bersama kekasihnya itu. Dia mengira Richi akan khawatir dan memanjakannya. Tapi nyatanya Richi malah tidak peduli seperti itu.


Hugo mulai kesal, jadi seperti inilah gambaran Richi yang super cuek walau dirinya tengah sakit.


"Ya sudah, sana!" Tukasnya dan langsung duduk.


Bukannya berbalik, Richi malah melangkah pergi, membuat Hugo semakin geram.

__ADS_1


"Kenapa sih, dia." Bisik Isac.


"Kurang perhatian." Jawab Axel langsung dan mendapat delikan tajam dari Hugo yang mendengar percakapan kedua temannya itu.


Setelah pulang sekolah, Hugo tampak jalan lambat sambil melihat kesana kemari.


"Hugo."


Hugo tersentak saat menyadari Richi dibelakangnya.


"Kau dijemput, kan? Aku harus pergi karena akan tanding basket dengan kelas sebelah."


"Sama siapa?"


"Kak Emer dan yang lain. Oh ya, nanti setelah main basket, aku minta temani kak Emer ke toko buku, lalu ke Icezity. Soalnya aku lagi kepingin eskrim. Terus malamnya, aku akan main basket lagi di taman kota bersama Frans dan yang lain. Sebenarnya aku ingin mengajakmu seharian ini, tapi karena kau sakit dan aku tidak mungkin jalan sendirian. Kau mengerti kan, Hugo?"


Hugo kesal mendengar ocehan Richi yang panjang lebar itu. Sepertinya memang apa yang ia lakukan sangat salah.


"Hugo, kau bisa sendiri, kan?"


"Hmm."


"Ah, satu lagi. Aku akan ke pantai besok dengan kak Emer dan yang lain. Kami akan bermain Voli disana. Baiklah, aku duluan ya, Hugo." Richi tersenyum cerah sambil berjalan santai. Sementara Hugo, wajahnya memerah menahan kekesalan yang tiada tara.


"Tungguu!!" Hugo berjalan cepat menghalangi jalan Richi, langsung menunjukkan bahwa dia kakinya tidak sedang sakit.


"Eh?" Richi melihat kaki Hugo yang berdiri tegak di depannya. "Kau sudah sembuh rupanya. Wah, senang sekali aku." Richi senyum dan terlihat biasa saja, tidak terkejut atau menyadari kebohongan yang Hugo buat.


Melihat ekspresi Richi, malah Hugo yang merasa takut. Rasanya dia sadar kalau Richi sudah tahu kebohongannya.


"..chi.. k-kau jadi pergi? A-apa mau denganku saja?" Tanya Hugo terbata.


"Tidak bisa, Hugo. Orangnya sudah cukup."


"Aku menemanimu saja. Tidak main juga tidak apa-apa. Lalu nanti pergi beli eskrim dan ke toko bukunya bersamaku saja. Ya?"


Hugo berjalan gontai. Menyesal setengah mati, itu yang ia rasakan sekarang. Padahal besok adalah minggu dan dia harus kesepian karena kekasihnya akan pergi bersama yang lain meninggalkan dirinya.


Hugo mengutuk diri, kenapa dia malah mengerjai Richi seperti itu? Padahal jelas dia menyadari kalau kekasihnya itu bukan orang sembarang. Pantas saja Richi tidak peduli dan malah membuat banyak rencana dengan orang lain. Ternyata Richi juga tengah mengerjai Hugo.


"Aaaarrrrhhhh." Teriak Hugo meluapkan kekesalannya sampai menggemakan gedung sekolah Oberon.


...🐣 ...


Hugo berjalan kesana kemari di dalam kamarnya. Malam minggu, seharusnya dia bersama kekasihnya. Apalagi belakangan mereka jarang berduaan lantaran masalah yang kerap mengganggu mereka.


Dia mengambil ponsel dan mengirimi Richi pesan.


'Chi, sedang apa?'


Lama ia menunggu, tak ada balasan. Sampai akhirnya Hugo memilih merebahkan tubuh dan membuka laman sekolah.


Dia melihat postingan Emerald yang tengah bermain basket.


Ah iya, katanya Richi juga ikut, kan? Hugo membuka semua foto-foto yang Emerald bagikan, tak ada perempuan itu disana. Bahkan orang-orangnya juga tidak ia kenali dan sepertinya bukan siswa Oberon.


Hugo membuka laman Frans, dan mendapati lelaki itu tengah nongkrong bersama teman-temannya.


"Lho, apa mereka tidak bermain basket?"


Hugo menelepon Richi, tetapi tidak ada jawaban dan dia tergerak menelepon ke rumah Richi.


"Selamat malam, kediaman Tuan Wiley disini."


"Ada Richi?" Tanya Hugo langsung.


"Nona Richi sedang menonton bersama keluarganya. Apa mau saya panggilkan?"

__ADS_1


Hugo diam sejenak. Ternyata Richi menipunya.


"Tidak perlu." Ucapnya dan langsung menutup teleponnya.


Hugo lalu menelepon Frans untuk memastikan rencana mereka besok ke pantai.


"Frans, apa besok kau dan Richi ke pantai?"


"Hah? Enggak. Richi kan, tidak suka pantai."


Hugo menutup ponsel dan mengeraskan rahangnya. Benar, dia ditipu kekasihnya itu.


"Aaaaaaaahhh." Hugo teriak dibalik bantal. Rasanya kesal setengah mati. Padahal seharian dia memikirkan keasyikan Richi bersama teman-temannya. Tapi ternyata perempuan itu cuma di rumah saja!!


Sementara Richi, melirik ponselnya yang sejak tadi bergetar di atas meja kecil. Dia tersenyum sambil mengunyah keripik. Membiarkan Hugo dan menikmati malam minggunya bersama Ayah, Ibu, dan kak Ricky di ruang keluarga.


...🦋 ...


Seperti biasa, di minggu pagi Richi selalu berenang. Dia sudah berdiri di tepi kolam, laly mendengar suara yang ia kenali dari luar.


Richi menoleh dan mendapati Hugo berjalan ke arahnya dengan wajah berang.


Gadis itu mengerutkan dahi, kenapa Hugo datang sepagi ini, matanya menyorot tajam pula.


"Kenapa bohong?" Tanyanya tiba-tiba. Richi memiringkan kepala, melihat Hugo yang entah mengapa malah marah dan tidak menyadari kesalahannya.


"Kau tidak tahu ya, betapa aku kemarin sedih dan uring-uringan karena kau meninggalkanku bermain dengan yang lain dan malah meninggalkanku?"


Richi tak menjawab, matanya menangkap pelayan yang akan lewat, tetapi langsung berbalik saat menyadari mata Richi memerintahkan untuk pergi.


"Memangnya siapa yang bohong duluan?"


Hugo diam, dia memang bohong tapi kan, supaya menarik perhatian gadis itu.


Hugo mendekat "Tapi, apa kau seperti itu kalau aku benar-benar sakit?"


"Bedalah, Hugo. Itu kan, karena kau membohongiku dan aku hanya membalasnya sedikit. Jadi kau pagi-pagi kemari cuma mau marah-marah padaku?"


Sedikit katanya? "Aku.." Hugo terhenti saat ia mendengar suara Ricky yang mendekat.


"Iya! Kan, sudah aku bilang supaya kerjakan saja sesuai prosedur! Kenapa malah berantakan??" Teriak Ricky dari luar dan suaranya semakin mendekat.


"Kau, bersiaplah kena serangan Ricky karena kau menggangguku pagi-pagi sekali." Richi menakuti Hugo yang memang sudah nampak sedikit gurat panik di wajahnya.


Suara Ricky semakin mendekat, Richi tersenyum jail dan menarik baju Hugo, menceburkan diri bersama.


Lelaki itu tampak kaget karena Richi mampu membawanya ke dasar kolam.


Dia berhadapan dengan gadis itu. Tangan Richi menahan tubuhnya supaya tetap tertahan disana, sementara Hugo terus menahan napasnya.


Richi tersenyum miring di dalam air. Lalu dia merapatkan wajahnya, mencium bibir Hugo yang seketika membelalakkan mata.


Richi, bagaimana bisa dia melakukan itu di dalam air yang dalamnya mencapai dua meter.


Sejenak Hugo diam. Dia berpikir, seperti itukah rasanya berciuman di dalam air. Dan lagi, kali ini Richilah yang duluan menciumnya.


Sementara diatas, Ricky berjalan saja tanpa merasa aneh pada sekelilingnya. Dia mengomel pada orang diseberang telepon sambil berjalan melewati kolam.


Hugo sudah tidak bisa menahan napasnya, dia langsung menaikkan dirinya saat merasa napasnya sudah di ujung.


"Haaah." Hugo mengambil napas yang banyak, lalu merebahkan diri di tepi kolam, sementara Richi belum juga timbul.


"Haah.." Hugo merasakan sesak, lalu dia tersadar Richi sudah berdiri di dalam kolam. Perempuan itu tersenyum jahil.


"Kau suka ciumanku?" Bisik Richi di telinga Hugo yang langsung menoleh ke arahnya.


Richi terkikik dan langsung naik ke atas. "Haha, payah." Ucapnya dan langsung menghilang entah kemana.

__ADS_1


TBC


__ADS_2