Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Pacar pura-pura


__ADS_3

Sesampainya di rumah Camilla, Daren keluar dan membukakan pintu untuk gadis yang sudah berdiri di depan rumahnya.


Olivia memandang gadis itu dengan mata yang menyipit kesal. Dia tahu Camilla memang cantik dan berkelas. Dress yang dipakainya juga membuatnya sangat menawan. Pikir Olivia, mungkin itulah sebabnya Daren lebih menyukai Camilla hingga menjadikan dirinya sebagai badut hanya untuk membuat Daren sialan itu senang.


Entah mengapa, dada Olivia terasa sesak. Apalagi sampai saat ini dia bingung kenapa Daren membuatnya berpikir bahwa dia akan dibawa ke acara pesta itu padahal kenyataannya Daren malah menjemput Camilla. Apa dia tengah membuat Olivia malu?


Camilla masuk ke dalam mobil. Matanya sudah menatap tak suka pada Olivia.


Mobil berjalan, namun pandangan tak suka Camilla masih mengarah padanya.


"Kenapa kau memakai dress? Kau pikir, kau bisa masuk ke acara pesta?" Camilla tergelak. "Siapa yang mengajakmu, hah? Apa kau, Daren?"


Daren hanya menatap Olivia sambil berseringai. Nyatanya itu ditangkap oleh Olivia dari spion depan. Kini, dia bisa merasa kalau Daren memang tengah mempermainkannya.


"Kurasa untuk ukuran supir sepertimu, kau terlalu percaya diri." Camilla terus mengejeknya, sementara Olivia mencoba mengatur dada yang bergemuruh. Jantungnya berdebar karena perasaan menahan emosi yang kian sulit. Dalam bayangannya sudah sangat jelas kalau dia mencabik-cabik mulut Camilla. Tapi dia tidak bisa melakukan itu secara langsung.


"Cepatlah! Kau bawa mobil seperti siput!" Bentak Camilla pada Olivia.


Kedua orang itupun bercanda riang. Daren, dia bersikap seolah apa yang dilakukan Camilla adalah hal yang biasa. Sementara Olivia menggenggam porsneling dengan keras. Matanya menatap ke jalan.


Olivia mencoba berdamai dengan keadaan sekarang. Dia perlahan memasang earphone di kedua telinganya. Menghidupkan musik kuat-kuat supaya ia tidak mendengar celoteh tak penting dua orang itu.


Olivia memindahkan porsneling dan menancap gas, membuat Camilla sedikit terguncang ke depan.


"Hei, apa kau gila?"


Olivia dengan santai mengendarai mobil di kecepatan tinggi dan menyalip mobil-mobil di depannya.


"Daren, katakan pada si gila itu untuk pelan-pelan! Aku tidak mau matiii!" Teriak Camilla.


Daren hanya diam menikmati apa yang Olivia berikan padanya. Dia melirik gadis yang tampak masa bodo dengan orang-orang disekitarnya. Membuat Daren mengalihkan wajahnya ke arah jendela karena tidak tahan untuk tersenyum.


Setelah sampai, Camilla keluar dari mobil dengan menggerutu. Dia mencoba menarik dan melepaskan napas dengan perlahan, jangan sampai orang-orang melihat ada gurat marah yang masih menempel di wajahnya.


"Kau harus ikut masuk." Ucap Daren pada Olivia, kemudian dia keluar dari mobil.


Camilla tengah memperbaiki penataan rambutnya lalu menggandeng Daren. Olivia juga turun dan dengan malas melangkah mengikuti mereka dari belakang.


Saat di pintu masuk, Daren mengeluarkan kartu undangan dan menyerahkannya pada penjaga. Sayangnya Olivia tak diizinkan karena batas undangan hanya 2 orang.


Camilla menoleh kebelakang. "Kau mengikuti kami, hah? Sudah gila rupanya."


"Kau tidak membawa undanganmu, Mil?" Tanya Daren.


"Kenapa aku harus bawa, aku kan datang bersamamu. Lagi pula, untuk apa dia ikut masuk?"


Olivia memutar bola matanya. Lagi pula siapa yang ingin masuk? Diapun tidak berminat kalau bukan karena Daren sialan itu. Batinnya.


"Kau tunggu saja di mobil! Untuk apa orang miskin sepertimu ikut ke acara pesta kelas tinggi!"

__ADS_1


"Ini undanganku dan dia." Kata seorang laki-laki berbadan tinggi, menyerahkan kartu undangan pada penjaga.


"Kau keberatan?" Tanya lelaki itu pada Olivia.


Gadis itu tersenyum hingga memperlihatkan sebelah lesung pipinya. Tanpa permisi, lelaki itu menggandeng tangan Olivia, melewati Daren dan Camilla masuk ke dalam gedung pesta. Membuat Daren kesal setengah mati. Kalau saja bukan karena kehadiran Camilla, tentu dia akan menarik Olivia dari laki-laki itu.


Mereka berhenti di salah satu sudut. Di dalam gedung sudah ramai dan saling mengobrol dengan sirkel masing-masing.


"Kenapa kau kesini kalau tidak diundang?" Tanya lelaki itu, dia menyerahkan segelas minuman kepada Olivia.


"Aku juga tidak mau datang kalau bukan karena Daren sialan itu."


"Maksudmu laki-laki itu?" Dia menunjuk dengan matanya dan Olivia mengangguk. "Apa perlu kuberi pelajaran?"


"Tidak. Biarkan saja. Kau sendiri, kenapa sendirian? Apa karena ibumu lagi?" Tanya Olivia dan lelaki itu mengangguk.


"Sebenarnya dia memintaku membawa gadis, sampai aku bingung cara menarik gadis agar ikut bersamaku."


Olivia tertawa lebar. "Padahal kau tinggal menarik satu di sekolah. Memangnya siapa yang akan menolak?"


"Yang penting, aku bersamamu. Nanti, pura-puralah menjadi kekasihku."


"Apa? Aku tidak mau!" Tolak Olivia.


"Ayolah, Live, aku akan berhutang budi padamu."


"Aku tidak mau menambah masalah. Hidupku sudah penuh dengan masalah, kau tahu?"


Olivia tak langsung menjawab, dia nampak berpikir.


"Ayolah, aku akan memberikan apa yang kau minta. Sumpah."


"Aron?"


Mata Aron membelalak, dia melihat ibunya menghampirinya.


"Wah, cantiknya. Ini siapa?" Tanya perempuan paruh baya yang masih terlihat sangat segar itu.


"Pacar Aron, bu."


Olivia langsung menatap Aron. Padahal dia belum bilang setuju. Tapi lelaki yang ditatap itu tampak memohon.


"Nah, begitu dong. Apa salahnya membawa kekasih. Ibu malu padahal kau tampan tapi tidak pernah membawa pacar." Perempuan paruh baya itu menggapai tangan Olivia.


"Cantik sekali, mari ikut ibu." Perempuan itu menarik tangan Olivia.


"Bu, mau kemana??" Tanya Aron.


"Memperkenalkan calon mantu, dong." Katanya sambil menarik tangan Olivia.

__ADS_1


Gadis itu membelalakkan mata tajam pada Aron. Kenapa jadi begini??? Pikirnya.


Wanita paruh baya itu menggandeng Olivia, dia menghampiri satu lingkaran dimana beberapa wanita sebayanya berada.


"Helooo." Sapanya dan semua teman-temannya menyapa balik.


"Kau bawa siapa, Rose? Bukankah anakmu hanya si tampan Aron?" Tanya salah satu dari mereka.


"Oh, tentu ini pacarnya." Jawab Rose dengan bangga.


"Benarkah?? Cantik sekali.."


Olivia ikut tersenyum kaku. Otaknya tengah berpikir cara untuk kabur.


"Ada lesung pipinya, manis sekali."


"Beruntung sekali kau, Rose."


"Benar, Aron sangat pintar memilih pasangan."


"Selama ini dia menunggu waktu yang pas untuk memperkenalkan kekasihnya padaku, bukan karena dia tidak punya kekasih." Jelas Rose mengarang bebas.


Olivia mau tak mau ikut terlibat dalam lingkaran ibu-ibu itu. Dia menatap ke arah Aron yang tersenyum mengangkat gelas ke arahnya, mengucapkan terima kasih karena telah menolongnya.


Mata Olivia menangkap Daren, dia berdiri menatap dirinya. Sementara disebelahnya, Camilla tengah berceloteh ria. Olivia bisa melihat wajah tak suka Daren. Karena itu, dia berniat mengerjai lelaki itu.


"Bu, boleh saya permisi. Saya ingin menemani Aron." Tukas Olivia dan mendapat anggukan senang dari Rose.


Olivia kini berjalan dengan anggun. Untunglah Daren membawanya kesalon dan dirinya merasa sangat percaya diri.


"Aron, sialan kau." Kata Olivia dengan tersenyum, membuat Aron bingung.


"Kenapa kau? Memaki sambil tersenyum. Kau gila?"


Olivia menggandeng tangan Aron. Dia sadar mata Daren masih ke arahnya.


"Berpura-pura saja!" Bisik Olivia.


"Oh, oke."


Keduanya bercerita sambil sesekali tertawa walau yang mereka ucapkan hanya kata-kata tak penting. Asal terlihat mesra di mata Daren.


Merasa lelah dari pandangan Daren yang tak putus itu, Olivia memilih pergi ke toilet. Dia berjalan ke arah dimana keberadaan orang-orang mulai sepi.


Dia masuk ke dalam toilet, menatap dirinya yang tampak menawan di dalam cermin. Rasanya seperti tak percaya. Tapi, apakah jika dia adalah orang kaya, dia bisa secantik sekarang setiap hari? Rasanya aneh, sebab selama ini Olivia tak memperhatikan penampilan. Dia hanya ingin terus bekerja supaya kebutuhan dia dan orang tuanya terpenuhi. Tapi setelah melihat wajahnya sendiri, dia jadi berniat untuk memperhatikan penampilan.


Olivia membelalakkan mata saat melihat dengan cepat Daren masuk dan menyeretnya ke dalam salah satu bilik toilet.


"Apa yang.."

__ADS_1


"Sstt.." Daren menutup mulut Olivia dengan tangannya.


Mata Olivia membelalak. Apa yang dilakukan Daren? Apa dia gila??


__ADS_2