
Pergantian tahun demi tahun terlewati. Masa sulit dan kerasnya perjalanan juga sudah mereka lalui. Walau rintangan dan halangan masih ada, pertengkaran dan salah paham tetap terjadi, namun sepasang kekasih ini dapat melaluinya tanpa perpisahan hingga hari yang sejak lama Hugo impikan pun akan menjadi kenyataan.
Jejeran foto diatas meja menghiasi kamar. Sebuah gambar dengan bingkai putih terlihat lebih bersinar dari yang lain. Kenangan saat Richi dan Hugo wisuda bersama. Wajah keduanya tampak begitu bergembira dengan tawa terukir diwajah sepasang kekasih itu.
Di bingkai lain, foto yang lebih lama usianya dari foto wisuda, saat keduanya masih memakai seragam Oberon. Foto tersimpel yang sengaja dipajang, saat mereka baru berpacaran selama tiga bulan.
Dan masih banyak lagi bingkai diatas dinding. Saat keduanya memakai seragam basket, kencan, foto Hugo saat menjadi model, atau wajah Richi yang bercelemotan setelah Hugo mengoleskannya bedak saat Richi kalah taruhan bermain playstation.
Tok..tok..
Richi tak bergerak. Dia bahkan tak mendengar ketukan pintu dari Marry.
Tok..tok..
Lagi, ketukan terdengar lebih kencang dari yang tadi. Tapi tak ada sahutan dari dalam.
"Ichiii! Astaga, belum bangun juga??!" Marry membuka pintu dengan kasar. Dia masuk dengan sangar dan menarik paksa selimut yang membuat Richi nyenyak dalam tidurnya.
"Chii! Bangun, sayang. Astaga anak ini. Heii, bangun." Marry mengguncang tubuh Richi. Gadis itu perlahan membuka mata. Dilihatnya sang Ibu dan beberapa pelayan dibelakangnya.
"Hm? Ada apa, bu?"
"Ada apa.. ada apa..!" Sungut Marry.
"Ahh. Ibu. Ichi tadi malam begadang main game. Sekarang Ichi ngantuk." Gadis itu merengek sebentar sesaat sebelum memejamkan matanya kembali.
"Haisssh!" Marry dengan kesal menarik telinga Richi hingga gadis itu mau tak mau mengikuti kemana arah tangan Marry menarik telinganya. Richi meringis kesakitan sembari terduduk.
"Dasar! Ini hari pentingmu! Memangnya kau mau membatalkan pernikahanmu??"
Mata Richi melihat ke pintu kamar yang terbuka. Dilihatnya seluruh isi rumah tengah sibuk kesana kemari guna mempersiapkan hari pernikahan salah satu anak penghuni rumah.
"Aah, iya. Lupa." Gumamnya sambil mengusap-usap telinganya yang merah.
Sementara di tempat lain, Hugo tengah bermandikan keringat. Sejak subuh dia sudah semangat dengan hari ini, jadi dia mempersiapkan tubuhnya dengan pull up diatas tiang hingga membuat otot perutnya tampak sangat sempurna. Sesuai dengan apa yang disukai Richi pastinya.
"Paman!"
Hugo melompat turun dari palang besi yang menjadi tempatnya bergelantung. Bocah kecil berusia lima tahun berdiri di depan pintu kamar Hugo yang sejak tadi terbuka.
"Hei, bocah. Kau bangun pagi-pagi sekali. Butuh sesuatu?"
__ADS_1
Bocah itu menggeleng pelan. "Kata kakek, aku harus membangunkan paman."
"Bilang pada kakek, paman sudah bangun sejak 2 jam yang lalu."
"Oh, benarkah? Ayah pikir kau belum bangun." Ucap David yang tiba-tiba muncul.
"Jangan sepelekan aku. Di hari biasa saja aku bangun dengan cepat, apalagi di hari spesial ini." Sahut Hugo cepat.
"Wah, kau benar-benar mempersiapkan diri, ya?" Kini giliran Harry yang mengejeknya. Lelaki itu menimbrung di belakang David.
"Tentu. Kau pikir aku akan melewatkan hal yang paling penting?"
Harry terkekeh, sementara David meninggalkan dua saudara itu.
"Ah, keputusan Richi untuk tidak melakukannya sebelum menikah memang tepat. Aku sampai tidak percaya kau bisa melewatinya."
Hugo menatapnya dengan kesal. Dia juga menahan itu setengah mati. Tapi untung saja hari ini adalah hari terakhirnya melajang.
"Kau menjaga stamina dengan kuat. Tapi aku yakin, untuk ukuran pemula sepertimu, kau akan kalah dibabak pertama." Ejek Harry lagi.
"Jangan bicara keras-keras. Ada Archer disini." Hugo berjongkok menyamakan tingginya dengan keponakannya itu.
"Archer, jangan tiru ayahmu, ya. Otaknya memang sudah miring."
"Tanya saja pada ayahmu, ya. Paman mau mandi dulu." Ucapnya seraya mengusap rambut Archer dan berlalu menuju kamar kecilnya.
...💐...
"Hngg?"
Richi menatap dirinya di pantulan cermin. Ada mahkota kecil diatas kepalanya. Make up yang natural sesuai permintaannya, gaun broken white dengan brocade yang indah dibagian dadanya bersamaan dengan payet mutiara kecil disisinya, terlihat sangat menawan. Dia menyukai dirinya hari ini.
"Bunganya mana, sayang?" Tanya Marry yang sejak tadi sibuk mencari bucket bunga yang harusnya sudah Richi pegang sejak tadi.
"Apa tidak ada disana, Bu?" Richi menunjuk salah satu kontainer kecil miliknya.
"Tidak. Sudah ibu bongkar bersamaan isinya."
"Hilang?" Tanya Richi berusaha tenang walau sebenarnya ia panik. Padahal ia yakin sudah membawanya pulang kemarin.
Bersamaan dengan itu, Bella dan Olivia masuk kedalam ruangan.
__ADS_1
"Aah, pengantinkuu.." Olivia menghampiri Richi dan memeluknya dari belakang.
"Kau cantik sekali, seperti biasa."
Richi tersenyum membalas pelukan Olivia.
"Kalau begitu ibu keluar dulu, ya. Mau mencari bucket bunganya." Marry mendapat anggukan dua teman Richi saat ia berjalan keluar pintu.
"Mana Clair?"
"Armory lagi tantrum diluar. Dia tak ingin merusak suasana, jadi akan menunggu sampai Armor tenang." Jelas Bella.
"Pasti Clair yang memulai. Dia sangat keras mendidik Armor." Keluh Richi yang ikut membesarkan anak Clair dan Simon.
"Dia sangat ingin anaknya kuat sejak kecil." Sahut Olivia.
"Ya, semua orang tua pasti ingin begitu. Tapi anaknya berbeda. Armor lebih suka bermusik." Tukas Richi lagi. Rasanya tak terima karena Clair terlalu memaksa anaknya.
"A ah.." telunjuk Olivia mengarah pada Richi. "Ini karena kau yang mengajari Armor bermain piano. Sejak itu dia tak ingin lagi memegang senjata."
Richi melipat bibirnya menahan tawa. Benar, waktu itu dia membawa Armor ke rumahnya dan bermain piano bersama bocah itu. Sejak itu rasa ingin tahu Armor sangat besar soal musik.
"Padahal dia memberi nama anaknya Armory. Salah satu jenis pistol yang mematikan. Tapi kau merusaknya!" Celoteh Olivia lagi.
"Ah, biarkan saja Clair. Ayo kita berfoto dulu!" Bella segera mengeluarkan ponselnya dan ketika orang itupun berfoto ria sebelum pernikahan dimulai.
"Hei, kalian meninggalkanku!" Clair menutup pintu dengan kasar, membuat ketiganya tersentak.
"Ada apa?" Tanya Bella.
"Hugo, dia memaksa ingin masuk tapi aku menghalangi. Dia memohon padaku supaya bisa melihatmu, Rel. Hihi." Clair terkekeh sendiri saat mengingat wajah Hugo tadi.
"Clair, Armory dimana?" Tanya Richi, mengabaikan soal Hugo. Dia lebih penasaran soal Armory, bocah 4 tahun yang sangat ia sayangi itu.
"Armor sedang bersama Simon. Aku memintanya bergantian. Armory benar-benar mengamuk pagi ini hanya karena biolanya aku sembunyikan."
"Clair, kau ini.."
"Mau bagaimana lagi? Aku kehabisan cara untuk menyuruhnya latihan fisik. Ini juga karena kau!" Mata Clair menajam pada Richi yang langsung terkekeh.
"Ah, kau ini. Sudahlah, cepat kesini untuk berfoto." Seru Olivia yang langsung membuat Clair berlari kecil demi memasukkan diri kedalam fram foto kenangan mereka untuk mereka tunjukkan pada anak-anak mereka nanti.
__ADS_1
Bersambung....