Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Toilet Wanita


__ADS_3

Pertandingan basket masih berlanjut. Kini Oberon melawan Palmy. Sekolah orang-orang yang sering menjadi wakil kota bahkan negara untuk mengikuti suatu kompetisi.


Walau terlihat pintar dan kutu buku, murid-murid Palmy juga mumpuni di bidang olahraga. Salah satunya Basket. Tahun lalu, sekolah ini ada di urutan ke lima.


Yang terkenal dari tim Palmy adalah ketua mereka, Harry. Dia sangat tampan dan juga pintar. Harry juga pernah menjadi juara dua perwakilan negara pada bidang sains. Berbeda dari Hugo yang punya banyak gandengan, Harry malah tidak pernah terlihat menggandeng perempuan. Baginya, hal itu belum perlu untuk dilakukan.


Hugo dan yang lain masuk ke area lapangan. Dia mendapat sorakan meriah dari banyak orang. Begitu juga, saat Harry dan teman-temannya masuk, para gadis juga memanggil-manggil nama Harry dengan histeris.


Richi, seperti biasa, berada di tengah Frans dan Eric sambil memangku banyak makanan. Kali ini, Frans yang membeli makanan sebagai hadiah telah membantu Axel melawan anak-anak Apollo kemarin.


"Dia siapa?" Tunjuknya kepada seorang laki-laki tampan yang tingginya hampir sama dengan Hugo.


"Pandanganmu bagus juga, Richi." Eric memuji Richi yang jarang mempertanyakan seseorang.


"Dia Harry Draw. Anak emasnya Palmy". Jawab Frans sambil mengunyah. Dia menunjuk ke arah Harry. "Ayahnya angkatan udara, letjen .. siapa ya, Ric?" Tanyanya pada Eric karena lupa namanya.


"Entah. Aku lupa. Pokoknya ada Draw Draw-nya."


Richi mengangguk saja mendengar penjelasan kedua temannya itu.


"Kenapa? Kau suka?" Tanya Eric lagi.


"Enggak. Tapi seperti pernah bertemu". Richi mencoba mengingat-ingat namun gagal.


~


Hugo dan timnya berbaris lurus menghadap tim Palmy. Mereka bersalaman sebelum melakukan pertandingan.


"Hugo, lama tidak bertemu." Harry menyapa dengan wajah senyumnya yang ramah.


Hugo tidak membalas sapaan Harry yang menurutnya tidak sesuai dengan gambaran yang ia berikan kepada banyak orang. Baik hati, Ramah, dan pintar. Harry di mata Hugo adalah orang yang keterbalikan dari citranya sekarang.


Pertandingan dimulai. Wasit melambungkan bola ke atas lalu direbut oleh pemain disekelilingnya.


Richi dapat melihat ketidak sukaan Hugo pada ketua Tim Palmy. Hugo juga terlihat lebih bereaksi dari pada pertandingan kemarin melawan Apollo. Mungkin, kali ini Hugo menemukan imbangnya, batin Richi.


"Frans, bagaimana hubungan basket kita dengan Palmy? Tanya Richi mulai penarasan karena melihat reaksi Hugo.


"Agak kurang baik. Hugo tidak pernah mau bertanding dengan Palmy kalau Harry ada disana."

__ADS_1


"Apa dia takut?"


"Kau bercanda? Mereka bahkan tidak bisa mengalahkan tim basket kita". Jawab Frans cepat saat mendengar lelucon dari Richi itu.


Lalu mengapa? Entahlah, mungkin hanya dendam pribadi, pikir Richi.


Pertandingan pun berlangsung damai. Tidak ada yang saling dorong atau marah saat poin Palmy berada jauh dari Oberon. Mereka terlihat tetap tenang walaupun kalah. Seperti sudah sangat paham yang namanya pertandingan pasti ada medang dan kalah.


Sorak sorai gemuruh di dalam gor untuk kemenangan Oberon. Semua orang tampak bahagia saling tos dan pelukan atas kemenangan sekolah mereka melawan Palmy. Kecuali Richi. Dia hanya duduk santai sambil mengunyah makanan.


Tak lama, dia beranjak dari duduknya. Keluar dari gedung dan meninggalkan suara bising yang terdengar memekik di telinganya.


Richi menuju toilet. Dia langsung masuk ke dalam salah satu bilik yang kosong dan menutupnya dengan perlahan. Tak lama, terdengar pintu bilik sebelah yang terbuka.


"Hah, membosankan. Dia bahkan tidak melirikku". Ucap seorang gadis.


Lalu terdengar toilet flush dari bilik lain. Sesorang keluar dan menanggapi perkataan gadis itu.


"Kau harus bekerja keras. Karena dia idola banyak orang".


"Bukankah itu menjijikan? Berpura-pura menyukai supaya tujuanku tercapai?" Kata perempuan tadi.


"Bertahanlah. Demi tujuan besarmu itu."


"Kalau dipikir-pikir, kenapa orang-orang itu menyukai Hugo? Dia bahkan sangat tengil."


Mendengar itu, Richi tersenyum miring. Ternyata ada juga yang tidak menyukai Hugo seperti dirinya. Batinnya.


"Lalu, apa yang akan kau lakukan jika dia melirikmu?" Tanya temannya.


"Apalagi? Ya, mengahancurkannya. Dia harus membalas apa yang telah dia lakukan!" Suara gadis itu sangat lantang penuh dendam.


"Aku akan buat dia mencintaiku lalu aku akan membuatnya hancur. Seperti ini". Entah bagaimana reaksinya saat itu, mungkin dia sedang mengoyak-oyak tisu toilet.


Richi menahan tawanya. Tapi dia ingin sekali melihat gadis itu berhasil menaklukkan Hugo.


"Kau tahu, dia juga sudah punya kekasih".


"Tahu, tentu saja. Kekasihnya itu juga sama menjijikannya. Ingin sekali aku mencambak rambutnya." Suara gadis itu terdengar menggeram.

__ADS_1


"Bukankah kekasihnya Richi Darrel?"


"Haha, kau percaya?"


Ah, namanya disebut. Richi lalu memencet tombol penyiraman air. Suara siraman air terdengar, kedua wanita itu tampak diam.


Richi lalu keluar. Dia mencuci tangannya tanpa memperdulikan kedua gadis yang sedang bersolek. Sekilas dia melihat kedua orang itu ternganga lantaran terkejut saat melihat siapa yang keluar dari bilik toilet.


Richi mengambil tisu, mengelap tangannya dan keluar begitu saja.


Baru keluar pintu, Richi dicegat oleh kedua orang itu. Richi bahkan tidak mengenal keduanya.


Salah satu dari mereka, yang Richi tanda dengan suaranya saat di dalam kamar mandi, memegang pergelangan tangannya dengan sangat kuat. Lalu gadis itu memutar tangan dan melipatnya ke belakang badan Richi. Tangan kanan Richi terkunci. Tapi dia tidak melawan.


"Hei, kau. Jangan karena kau pernah digosipkan dengan Hugo, kau merasa hebat! Dengar ya, kalau kau memberitahu apa yang aku katakan tadi, bersiaplah, tanganmu akan patah!" Ancam gadis itu. Richi diam dan hanya mantap wajah gadis di depannya itu. Ada goresan rasa malu disana. Mungkin dia malu karena ucapan tak masuk akalnya didengar oleh orang lain. Sialnya, orang itu adalah Richi.


"Dengar apa, ya?" Ucap Richi santai. Namun malah mendapat tekanan lebih besar.


"Ingat, kalau sampai ada yang tahu  ini, aku takkan tinggal diam!".


Richi melihat wajah gadis itu lagi. Dia cantik, berambut panjang, dan tingginya sedikit dibawah Richi.


"Awas ya kau!" Timpal temannya.


"Hei, apa-apaan kalian!" Suara seorang laki-laki menghentikan mereka. Melihat siapa yang datang, mereka langsung pergi. Tak lupa memberi ancaman lewat mata.


"Richi, kau tak apa-apa?" Emerald memegang tangan yang dikunci perempuan tadi.


"Tidak, kak". Ucapnya dengan kaku lantaran tangannya dipegang-pegang oleh orang lain. Dia tidak terbiasa akan hal itu.


Biasanya, dengan cepat dia akan menarik tangannya saat orang mencoba memegang, tetapi entah kenapa, tangannya malah enggan menarik diri.


"Kenapa tidak dilawan, Chi?"


"Justru bahaya kalau kulawan". Katanya sambil berjalan mendahului Emerald supaya lelaki itu tidak melihat wajahnya yang memerah.


To be Continued....


Dukung Author dengan cara Like setiap Episode ya. Terima Kasih🤗

__ADS_1


__ADS_2