
Kemarin, seluruh siswa-siswi Oberon sudah mendapatkan kaos putih polos berlogo Oberon dibagian dada kiri. Khusus pada Oberons day, seluruhnya wajib memakai kaos itu.
Pagi ini, Richi berjalan santai. Kaos yang ia pakai, dimasukkan ke dalam roknya hanya di bagian depan saja, belakang kaos itu terjulur hampir sepanjang roknya. Gadis itu memang memilih kaos yang lebih besar dari ukuran badannya. Tak lupa lengannya di gulung memperlihatkan sedikit bahunya.
"Hei.." Hugo menyapanya sambil menepuk punggung Richi dari belakang. Lelaki itu hanya melewati Richi sambil tersenyum sekilas membuat Richi mengerutkan dahi.
"Dasar aneh". Gumamnya.
Orang-orang melihat Richi sambil tertawa, tersenyum, ada pula yang melirik kesal.
Richi hanya menggeleng kepala, masih pagi, tapi orang-orang sudah bertingkah aneh.
"Ichi.."
Emerald menyapa dengan senyuman, ia turun dari tangga lantai tiga. Dia tampak begitu tampan dan rapi, kaos putih di masukkan dalam celana dan sudah ada beberapa stiker di bajunya, entah dari siapa.
"Masih pagi, sudah dapat penggemar". Ledek Richi sambil tertawa.
Emerald ikut tergelak. Dia lalu menunjuk baju putihnya di bagian dada. "Bagaimana kalau kau ada disini?"
Richi membulatkan mata, dia sedikit bingung, apakah maksud Emerald menunjuk dadanya dan mengatakan Richi ada disana?
Emerald tersenyum, "berikan tanda darimu disini". Lanjutnya.
"Oh?" Richi mulai berpikir, karena dia tidak menyiapkan apapun untuk hari ini, tidak ada stiker, hadiah, atau apapun karena dia tidak peduli. "Aku tidak punya stiker".
"Tidak apa, kau tanda tangan saja disini". Emerald mengeluarkan spidol kecilnya yang berwarna merah jambu.
Richi mendekat, dia akan membuat tanda di baju Emerald, di bagian dada pula.
Baru saja dia meletakkan spidol itu di baju Emerald, dirinya terdorong ke depan Emerald, Tanda tangan yang akan ia buat di baju Emerald tercoreng dan terlihat jelek disana.
Richi melototkan matanya saat melihat Hugo di belakangnya.
"Maaf, Aku tidak sengaja. Aku buru-buru". Ucapnya lalu berlari ke arah toilet.
"Hah? Aduh, kak. Bagaimana ini?" Richi mencoba mengusap-usap lengkukan yang membuat tanda tangan Richi tercoreng.
Emerald menahan napasnya, menatap tanda jelek yang tercoreng akibat senggolan Hugo.
"Ya sudahlah, tidak apa, Chi." Ucapnya dengan wajah yang agak kesal.
"Kak,.."
"Serius, tidak apa-apa. Ini juga sudah bagus asal darimu". Ucap Emerald lalu tersenyum. Richi menyerahkan spidolnya dan laki-laki itu naik lagi ke lantai tiga.
Richi menoleh ke arah toilet dengan kesal, tempat Hugo masuk tadi.
Dari sana, Hugo keluar lagi dengan wajah lega.
"Apa?" Tanya Hugo tanpa dosa saat melihat Richi menatapnya tajam.
Tak menjawab, Richi berbalik badan, menuju kelasnya. Lalu Hugo mempercepat langkahnya, menepuk punggung Richi lagi lalu melewatinya sambil tersenyum.
Tanpa perduli, Richi berjalan dan masuk ke dalam kelasnya.
Teman-teman Richi berbisik saat melihat apa yang tertulis di belakang Richi tanpa gadis itu sadari.
"Eh? Apa ini?" Richi melihat beberapa bungkus kado dan beberapa tangkai bunga di mejanya.
"Wah, hebat ya. Kau sudah punya banyak penggemar. Sepertinya lebih dari tahun lalu." Ucap Nelly. "Aku melihat anak kelas satu meletakkan mawar di mejamu."
Richi tak menyahut, dia duduk. Hari ini tidak ada pelajaran, gadis itu pula tidak membawa tas, tetapi meninggalkan beberapa novel di lokernya. Dia berjalan ke belakang dan mengambil satu novel, lalu jatuh sebuah surat dari sana dan beberapa stiker yang mungkin orang itu tidak berani menempelkannya di baju Richi.
Dia tidak menghiraukan itu, membiarkan saja dan hanya mengambil novelnya.
__ADS_1
"Chi, kenapa di dalam? Ayo keluar!" Frans memanggilnya dari pintu.
"Ayo, anak-anak main basket, tuh!" Sambung Eric dari jendela.
Richi meletakkan lagi novelnya ke dalam loker dan berjalan keluar kelas. Dia melihat Hugo dikerumuni para gadis dan berebut menempelkan stiker beragam motif dan warna untuk di tempelkan di baju Hugo.
Melihat Richi yang memperhatikannya, Hugo tersenyum lalu mengangkat alisnya kepada Richi, gadis itu melengos memutar bola matanya lalu berjalan menuruni tangga.
"Wah, Hugo tiada imbang". Ucap Eric yang sesekali melirik Hugo karena merasa iri.
"Kau bagaimana? Sudah menembak gadis itu?" Tanya Frans.
"Belum, aku deg-degan". Jawabnya sambil memegang dadanya.
"Eh?" Frans dan Eric melihat apa yang ada di punggung Richi.
"Kenapa?" Richi berbalik dan melihat kedua temannya cengar-cengir.
"Tidak kok".
Mereka menuju lapangan basket, sebagian sudah bermain duluan.
"Eh, itu para cewek mau kemana?" Tanya Frans saat melihat segerombol orang menuju belakang sekolah.
"Mungkin mau nonton futsal. Hari ini kan, hari bebas." Jawab Isac.
Richi duduk di bangku, lalu seorang laki-laki dari kelas satu datang kepadanya.
"Kak Richi, terimalah hadiah dariku. Aku menyukai kakak, aku mengidolakan kakak karena kakak sangat keren!" Ungkapnya sembari menyerahkan setangkai bunga mawar putih.
Richi menerimanya dengan senyum tipis. "Makasih". Ucapnya.
"Kak, apa boleh aku tempelkan stiker di baju kakak?"
Eric dan Frans saling berbisik. "Mungkin dia tidak tahu apa yang ada di punggung Richi."
Richi mengangguk, lelaki itu dengan hati senang menempelkan satu stiker di baju depan bagian bawah. Stiker kecil berwarna merah yang cantik.
"Lucu, makasih ya." Ucap Richi tersenyum melihat stiker itu.
"Eh, kakak suka? Syukurlah". Kata anak itu dengan bahagia.
Lalu entah bagaimana, beberapa anak kelas satu menghampirinya setelah melihat Richi tersenyum karena stiker itu.
"Kak, kami juga boleh ya,"
"Kak, aku mau tempel ini boleh?"
"Kak, stikerku juga lucu."
"Kak, ajarin kami main basket, dong".
Anak-anak itu menyerbu Richi dan menempelkan stiker di baju bagian depan. Kini baju depan Richi sudah mulai penuh dengan stiker.
Hugo melihat ke bawah dengan pandangan kesal, anak-anak itu tidak mengindahkan apa yang sudah Hugo tempelkan di belakang badan Richi. "Dasar!" Gumamnya, lalu datang lagi para siswi yang bersiap menempelkan stiker milik mereka pada Hugo.
...~...
Richi tengah terduduk di atas lantai, banyak hadiah dan bunga tergeletak di belakangnya entah dari siapa saja. Tahun ini, dia banyak mendapatkan hadiah dan stiker di baju depan dan lengannya.
Hugo menghampirinya, di belakangnya ada teman-temannya yang bajunya penuh stiker, terlebih Daren, dia tak kalah banyak dari Hugo.
"Hei, keong!" Sapanya pada Richi, gadis itu hanya melirik sekilas pada Hugo yang berdiri di sebelahnya.
"Hugo, apa-apaan kau memanggilnya begitu." Sanggah Axel.
__ADS_1
"Kenapa? Dia kalah taruhan denganku".
"Mana mungkin." Sahut Isac spontan dan mendapat tawa dari Richi.
"Apa? Hei, kau tidak tahu kalau dia kalah lari naik tangga!" Jelasnya dengan berapi-api.
"Siapapun tidak percaya itu, kan. Jelas, karena kau curang!" Ucap Richi bangga, dia lalu berdiri menghadap Hugo.
"Pada intinya, kau kalah". Katanya dengan melipat tangan di dada dan menaikkan dagunya melihat Richi di bawahnya.
Richi menatapnya dengan tajam, "terserahmu saja".
"Aku ingin bicara, ikut aku". Ucapnya lalu melangkah, Richi yang ingin mengatakan sesuatu juga mengikutinya dari belakang.
"Nah!" Hugo menyerahkan sebuah spidol kecil.
"Tulis disini". Katanya sambil menunjuk dada kirinya.
"Untuk apa?"
"Untuk apa? Ya sebagai tanda. Kau kan sudah menyelamatkanku, jadi kau harus menulis tanda apa saja disini". Tunjuknya di dadanya.
"Bukannya seharusnya kau yang membuat tanda dibajuku?"
"Sudah. Bahkan aku orang pertama."
Richi mengerutkan dahinya.
"Kau cek saja sendiri di punggungmu".
"Apa?" Richi melihat ke belakang bajunya.
"Nanti saja, lihat di rumah. Sekarang, kau harus buat disini".
Richi mengambil spidol berbawarna biru itu, lalu menulis di tempat yang Hugo tunjuk.
Hugo tersenyum melirik Richi yang berada di bawah dagunya, dia bisa mencium aroma yang sama pada rambut Richi.
"Sudah". Ucapnya sembari mengembalikan spidol milik Hugo.
"Apa! Gambar apa ini?" Pekiknya saat sadar Richi memberi tanda aneh.
"Pup 💩!" Ucapnya dengan senyuman. "Lihat, lucu kan? Ada matanya, lagi".
Hugo melemas, "kau ini, aku memberi spidol biru supaya warnanya beda dari yang lain, kau malah menggambar hal aneh."
"Aneh apanya, itu lucu tahu, lucu!"
"Terserah saja!" Ucapnya sambil memasukkan spidol tadi ke saku celananya. "Bagaimana malam nanti?" Tanyanya
Wajah Richi berubah sedih. "Hugo, aku minta maaf, aku mengembalikan tiket ini padamu. karena, aku tidak bisa menolak ajakan kak Emer."
Hugo melengos. Dia melihat ke tiket emas di tangan Richi.
"Apa kau tidak ingin datang?"
"Ingin sekali, tapi mau bagaimana lagi.."
"Oke". Hugo mengambil tiketnya dari tangan Richi. Dia berjalan dengan kesal, meninggalkan gadis itu dengan segala kesedihannya.
Richi ternyata benar-benar menyukai Emerald. Padahal Hugo sudah bersusah payah membajak situs itu supaya dia bisa membeli tiket untuk Richi.
Bahkan gadis itu mau saja melakukan apa yang Hugo minta demi tiket konser idolanya, lalu dia dengan rela membatalkan semua karena ajakan Emerald padanya.
"Tidak bisa dipercaya, aku harus melakukan sesuatu.." Ucapnya sambil melangkah menjauh.
__ADS_1
TBC...