
"Aku sudah memperingatkan dengan baik, kan?"
Richi membuka selongsong untuk mengecek peluru, namun kesempatan itu nampaknya diambil oleh Sam. Lelaki itu memberi tinju ke wajah Richi, tetapi Richi hanya memundurkan kepalanya sedikit karena menyadari apa yang Sam lakukan.
Lelaki itu terkejut saat menatap mata Richi yang memicing karena ketidaksukaannya pada Sam. Dengan cepat, Richi mengunci tangan dan meninju wajah Sam dengan hantaman yang sangat keras.
Sam terdorong beberapa langkah kebelakang. Dia memegangi wajahnya.
"Aaaakhh.."
Richi menembak kaki Sam. "Setidaknya kau sulit mengejarku." Ucapnya lalu matanya menyorot pada pria satu lagi.
"A-ampun.." pria itu mundur ke belakang. Satu tembakan lagi Richi lepaskan. Dia hanya membuat kedua lelaki itu tidak bisa mengejarnya.
Richi keluar dan tidak mendapati siapapun di lorong itu. Sepertinya seluruh anggota Stripe menuju ke arah suara tembakan terjadi.
"Aneh, kenapa aku tidak dijaga?" Gumamnya dan langsung berlari kecil ke tempat yang masih terdengar tembak menembak.
Richi menghentikan langkahnya saat mendapati banyak tubuh tergeletak bersimbah darah. Sepertinya ada orang lain yang membantunya, karena Valiant nampaknya masih di bagian depan. Lalu siapa yang menyusup langsung ke bagian belakang?
Richi menaikkan pistol, berjaga-jaga jika seseorang muncul.
BRAK!!
Richi merapatkan tubuhnya ke tembok untuk bersembunyi. Dia membulatkan mata. Harry terjungkal hingga pintu kayu yang tertutup itu hancur mengenai tubuhnya. Dia memegangi bagian tubuh yang sakit.
Mata Richi memicing, melihat siapa sosok yang melempar Harry sampai seperti itu.
Dia memakai seragam Valiant, juga bermasker. Tapi Richi tahu itu bukan kakaknya.
Harry bangkit dengan bersusah payah sambil memegang perutnya. Dia lalu menodongkan senjata pada pria itu.
"Jangan coba-coba mengganggu Sheraku.." ucapnya.
"Dimana Richi!"
Richi menoleh, itu suara Hugo. Bagaimana bisa dia kemari dengan Valiant?? Apakah Ricky mengizinkannya?
Hugo berdiri tegak melihat Harry yang sudah hampir sulit berdiri lurus.
"Kau akan mati jika berani mengganggu Shera.." Ucap Harry lagi.
Apa itu? Kenapa Harry mengatakan itu pada Hugo?
"Aku tidak main-main dengan ucapanku." Hugo berjalan perlahan. Tatapan matanya di tempat yang agak gelap tetap terlihat menakutkan sehingga Harry terus mundur.
"Kau berani melakukan itu? Hahaa. Aku akan membunuh Richi, jika kau berani menyentuh Shera. Kita imbang, kan?" Harry tertawa sambil terus memegang perutnya.
"Mau mati sekarang?" Kata Harry sambil meluruskan tangan seolah ingin menembak.
__ADS_1
"Hei, lihat kemari." Richi berdiri mengarahkan pistol pada Harry. Lelaki itu sedikit terkejut, lalu tersadar lagi sambil tertawa.
Hugo berlari menuju Richi, dia menggenggam erat sebelah tangan Richi seolah bersyukur karena gadis itu tidak terluka sedikitpun.
"Haha, kalian benar-benar pasangan serasi! Pergilah bersama-sama ke neraka!"
Richi bersiap menembak sebab pistol Harry kini mengarah pada Hugo disebelahnya.
"Mari kubantu hitung.." Harry menggenggam pistol dengan kedua tangannya. "Satu.. dua.."
DOR!!
Richi tersentak, begitu juga Hugo. Lelaki itu menggenggam erat tangan Richi.
Richi menahan napasnya. Dia menjatuhkan pistol di tangannya dan tubuhnya mulai bergetar.
"Chi.." lirih Hugo disampingnya sambil mengeratkan menggenggaman tangannya.
~
"Hei, kau mau kemana!" Pekik Ricky pada Hugo yang berlari masuk ke dalam lorong gelap.
"Sial!!" Pekiknya saat Hugo tidak mendengarkannya.
"Kau khawatir dia mati, ha? Dia pasti bisa, biarkan saja." Ucap Jonathan sambil menepuk bahu Ricky dan mulai menelusuri tempat lain.
"Rasanya aku kenal tempat ini." Ucap Simon tiba-tiba. Dia berjalan melangkahi tubuh-tubuh yang tergeletak di lantai.
"Kau pernah kemari?" Tanya Ray.
"Tidak, tapi seperti pernah melihatnya di dalam berita." Jawab Simon.
"Bzzt, Komander, tim Fox melapor. Sebelah timur ada gudang yang terbuat dari beton. Tapi tidak terlihat pintunya."
"Tahan, kami akan segera kesana!" Ucap Ricky sambil menekan tombol earpiece-nya.
"Sebelah timur ada gudang yang dicurigai. Kita kesana!" Ricky berlari, diikuti ketiga orang temannya dari belakang.
Hugo terus menembak saat melihat siapapun yang berusaha menyerangnya.
Lalu langkahnya terhenti saat melihat di depannya seorang yang ia kenali.
"Kau membuatku muak!" Hugo menjatuhkan senjata saat isinya telah habis ia gunakan membantai seluruh anggota Stripe.
Beberapa suara tembakan masih terdengar, artinya kelompok lain masih dengan tugasnya. Banyak sekali Stripe di tempat ini, hingga mungkin berita banyaknya jumlah kematian di tengah hutan akan muncul besok karena aksi Hugo yang sudah tidak peduli pada orang lain.
"Aku kemari bukan untuk memusuhimu." Jawab Harry tenang. Namun Hugo yang sudah terbakar emosi tidak memberi kesempatan Harry untuk menjelaskan.
"Katakan padaku, dimana Richi!" Bentak Hugo dengan keras.
__ADS_1
"Aku tidak tahu, kau bisa dengarkan aku?"
Hugo menendang wajah Harry hingga kacamatanya terlepas. Harry bangkit dengan tenang, dia sudah tidak memperdulikan kacamatanya.
"Aku akan membuatmu kehilangan Shera jika kau berani menyentuh Richi!"
Harry mulai tidak suka dengan arah pembicaraan Hugo.
"Aku menyekapnya, jadi jika kau berani macam-macam, aku akan membuatnya menderita."
"Apa kau suka jika melihatnya tidak bisa berjalan? Aku bahkan akan membuatnya tidak bisa melihatmu lagi." Tukas Hugo dengan mata memerah. Dia akan memberi perhitungan pada lelaki itu.
"Kau tidak akan kuampuni jika berani menyentuhnya." Harry mengeluarkan pistol yang ia sembunyikan dari balik bajunya.
Hugo seperti kehilangan rasa takut. Dia mulai melangkah perlahan mendekati Harry.
"Aku tidak perlu ampunanmu."
BRAK!!
Hugo menendang Harry sampai pintu di belakangnya hancur. Harry mundur perlahan sambil memegangi perut yang ditendang Hugo dengan sangat keras.
Harry menodongkan senjatanya. Pikirannya ikut kacau lantaran ancaman Hugo melibatkan Shera.
"Mau mati sekarang?" Kata Harry sambil meluruskan tangan seolah ingin menembak.
"Hei, lihat kemari."
Harry menoleh pada sumber suara, Richi berdiri tak jauh darinya, dengan pistol di tangan.
"Chi, kau baik-baik saja?" tanya Hugo dengan nada yang sangat lembut.
Gadis itu mengangguk lalu matanya menatap tajam pada Harry. Padahal, baru saja dia membantu, tetapi Harry seperti patung tanpa hati.
"Kau orang yang paling jahat yang pernah kutemui." Tukas Richi pada Harry. Dia sangat kecewa. Padahal dia yakin Harry tidak sejahat yang orang lain pikir, namun nyatanya justru Harry memang penjahat tanpa hati.
Harry tersenyum miring, dia mengarahkan pistolnya pada Hugo. Entah mengapa dia benci melihat wajah lega Hugo saat melihat orang yang dia cintai masih selamat. Sementara Shera, entah bagaimana nasibnya saat ini. Hugo benar-benar membuatnya marah, kenapa laki-laki itu malah menyekap Shera yang tidak ada hubungannya dengan ini.
Harry mengokang senjatanya. "Haha, kalian benar-benar pasangan serasi! Pergilah bersama-sama ke neraka!"
Richi bersiap menembak sebab pistol Harry yang mengarah pada Hugo disebelahnya.
"Mari kubantu hitung.." Harry menggenggam pistol dengan kedua tangannya. "Satu.. dua.."
DOR!!
Richi menjatuhkan pistol dari tangannya, ia menatap Harry yang memegang pinggangnya karena berlumur darah.
Tbc
__ADS_1