
Erine tak ingin membuang waktu. Ini kesempatan yang tepat baginya untuk menyerang saat Darrel tengah fokus menatap foto-foto sekitarnya.
Erine bangkit dan memberikan satu hantaman yang mengenai sudut bibir Richi. Gadis itu terjatuh disudut tembok, lalu sebelah tangannya naik memberi kode pada timnya untuk tidak ikut campur saat Clair dan yang lain mengeraskan rahang bersiap menghantam namun harus ditahan karena Richi tak mau mereka ikut campur.
"Iya! Aku menyukai Hugo. Bahkan aku sangat mencintainya. Lalu kenapa? Kau mau menghajarku? Bangkit, aku tidak pernah takut padamu." Tantang Erine dengan lantang. Selama ini Eline selalu ingin dia menghajar Richi. Mungkin inilah saatnya.
Richi mengelap darah yang mengalir dari sudut bibirnya. Dia berdiri menghadap gadis yang sudah bersiap dengan kuda-kudanya.
"Wah, luar biasa. Kau menyukainya sampai seperti ini." Richi bisa melihat dengan jelas foto-foto Hugo, bahkan yang dia pernah lihat sebelumnya.
"Ya, aku menggilainya. Kenapa? Kau keberatan? Kau bisa menghajarku sekarang."
"Aku tidak tertarik berkelahi denganmu, apalagi karena laki-laki. Sudah kubilang kan, kalau kau sangat menyukainya, kau bisa mengambilnya. Tapi kurasa, dia tidak suka perempuan sepertimu."
Erine terdiam. Perkataan Richi menyakiti hatinya. Padahal dia merasa bahwa Richi dan dirinya punya banyak kesamaan dan pasti itu membuatnya lebih gampang mendapatkan Hugo.
Juga, Erine ingin sekali adu kekuatan dengan Richi. Sialnya, perempuan itu selalu bisa mengontrol dirinya. Satu-satunya cara membuat Richi berang adalah dengan menyenggol keluarganya.
"Kenapa kau bangga terhadap sesuatu dari hasil pemaksaan? Aku tahu bagaimana cara ibumu mendapatkan tuan Wiley. Bukankah dia menggodanya dan menyerahkan harga dirinya?"
Perkataan Erine memang langsung mendapat tatapan tajam dari Richi.
Gadis itu tahu, jika membahas Hugo masih membuatnya sanggup mengontrol diri, maka bahaslah ibunya.
"Kau pun mirip dengan ibumu. Itulah kenapa kau bisa mendapatkan Hugo-"
BUG! Satu tendangan keras di perut Erine. Tak tanggung, Richi langsung menghajarnya pada titik-titik lemahnya.
"Jangan senggol ibuku." Suara berat Richi keluar bersamaan sebuah peringatan tajam.
"Aku tidak peduli." Erine meraih gunting diatas meja dan langsung menghajar Richi dengan benda tajam itu.
Richi berhasil menghindar lalu beberapa kali memberi serangan. Namun Erine selalu bisa mengelak.
Perkelahian keduanya membuat Clair dan yang lain cemas. Pasalnya, mereka juga tahu bagaimana kuatnya Erine.
Richi sampai mengeluarkan jurus yang sudah lama ia tak pernah gunakan, lantaran ia sendiri merasa Erine salah satu perempuan yang cukup imbang dengannya.
__ADS_1
SRAK!
Olivia menutup mulutnya dengan kedua tangan saat bahu Richi terkena goresan gunting hingga membuat bajunya robek.
Richi memegang bahunya yang mengeluarkan darah dengan mata menajam kearah Erine.
"Sudah cukup pemanasannya." Richi berlari dan menumpukan kakinya pada tembok untuk memberi satu tendangan dan pukulan dalam detik yang berhimpitan, membuat Erine tersungkur hingga gunting yang ia genggam jatuh entah kemana.
Dari luar, Hugo mulai gelisah. Sudah lama ia menunggu namun kekasihnya tak juga keluar. Sejak tadi dia menunggu diluar karena perintah Richi untuk tidak ikut campur urusan tim Fox. Hugo bisa mendengar banyak suara dari dalam, dan akhirnya memutuskan untuk masuk saat dia mulai merasa ada sesuatu yang tak beres di dalamnya.
Dia masuk dan mengikuti dari mana suara itu berasal, hingga ia menemukan Richi tengah mengunci Erine pada kedua kakinya dengan tangan yang bersiap menancapkan gunting ke wajah Erine yang dicengkram Richi.
Hugo terdiam beberapa detik sampai menyadari bahwa itu berbahaya.
Richi bisa saja membunuh Erine tanpa ia sadari.
Erine tak berdaya pada Richi yang dengan wajah tajamnya menduduki di tengkuk leher Erine seolah Erine adalah tunggangannya. Sebelah tangan Richi mencengkram dagu Erine ke atas dan tangan lainnya bersiap menikam wajahnya.
Hugo berusaha melerai, dia menyentuh bahu Richi yang membelakanginya. "Chi, apa yang.."
Hugo memegangi dadanya yang nyeri. Sejenak ia mematung melihat ruangan yang penuh dengan foto-fotonya. Apakah ini kamar Erine? Hugo bahkan tak bergerak melihat koleksi foto-foto telanjang dadanya yang sepertinya diambil tanpa ia ketahui. Apakah ini yang membuat Richi semarah itu pada Erine?
Kondisi Erine pula tampak menyedihkan dengan berbagai luka di wajah dan tubuhnya.
"Richi! Jangan!" Hugo menarik tangan Richi, membuat perempuan itu memberontak, namun Hugo berhasil membuang gunting yang sudah berlumur darah.
Richi menghempaskan tubuh Erine. Lalu menatap Hugo dengan tajam.
"Lain kali, kau harus tahu siapa yang akan kau hadapi sebelum mengganggu!" Tukas Richi pada Erine kemudian pergi meninggalkan ruangan itu.
Clair langsung masuk memeriksa kondisi Erine, sementara Olivia dan Bella menggeledah tempat untuk mencari barang penting itu.
Hugo keluar mengejar Richi. Dia memanggil nama gadis itu, tetapi Richi tidak peduli dan menghempaskan tangannya yang diraih Hugo.
Richi membuka pintu mobil, tetapi Hugo menutup kembali pintu dengan kakinya hingga tertutup lagi, membuat Richi mendesah kesal dan berbalik badan kearah Hugo.
"Apaa!" Sentak gadis itu hingga membuat Hugo tersentak karena nada tinggi yang keluar dari mulut Richi.
__ADS_1
Hugo bingung, kenapa Richi jadi marah padanya. Apa karena foto-foto tadi? Tapi dia sendiri tidak tahu menahu soal itu. Dia melihat jeket yang terkoyak dibagian bahu dengan sedikit lumuran darah. Richi terluka.
"Sayang, bahumu.."
Richi menepis tangan Hugo yang mencoba memegang bahunya.
"Chi, ada apa? Coba bilang, kalau aku ada salah, kasih tahu aku dimana salahku." Hugo meraih tangan Richi, menggenggamnya dengan erat.
"Maaf ya, sayang."
Richi malah menarik tangannya. "Aku capek, Hugo." Katanya, kemudian menaiki mobil dan menjalankannya dengan cepat.
Hugo terus melihati mobil itu sampai menghilang. Perkataan Richi seperti menandakan bahwa hubungan mereka berakhir. Apakah demikian? Hugo tidak bisa menerimanya, apalagi dia tidak tahu jelas apa yang terjadi.
Dia menengok kedalam rumah Erine. Dilihatnya perempuan itu terduduk di atas sofa dengan menunduk bersama Clair dan yang lain sedang mengurus barang yang ada didekat mereka.
Dengan langkah lebar Hugo masuk lagi kedalam rumah itu untuk menemui Erine.
"Apa yang kau katakan padanya, sialan!"
Clair dan yang lain sampai menghentikan aktifitasnya. Mereka ikut menatap Erine dan Hugo secara bergantian.
Erine mengangkat kepalanya. Darah mengalir dari luka sobek dibagian pelipis hingga atas alisnya dan beberapa lebam di wajah.
Dia menatap Hugo yang mengepalkan tangan dan menatap benci kearahnya. Kini Erine menyadari bahwa Hugo memang sangat mencintai Richi Wiley.
"Ini tidak ada kaitannya denganmu." Jawab Erine kemudian menunduk lagi, membiarkan darah menetes dari dahinya.
Hugo diam sejenak, lalu menatap Clair seperti meminta penjelasan.
Clair menghela napas. "Yah, kurasa memang tidak ada hubungannya denganmu secara langsung karena kebodohannya yang mengganggu serigala tidur. Tapi, kurasa ruangan itu menjadi salah satu pemicunya." Jelas Clair padanya.
Ya, Hugo juga merasa begitu. Kejadian ini mirip dengan penguntit Richi yang juga menempelkan banyak foto-foto gadis itu, membuat Richi trauma. Kini Hugo mengerti. Dia berlari keluar menuju mobil dengan ponsel di telinganya.
"Hai, aku memutuskan keluar dari TheMost. Aku tidak mau lagi menjadi model." Kata lelaki itu kemudian menutup ponsel begitu saja. Dia masuk kedalam mobil, mengejar Richi yang mungkin saja sudah lelah karena ulahnya.
TBC
__ADS_1