Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
S2 - Frustrasinya Erine


__ADS_3

Erine menendang serpihan batu yang ada disana. Dia mengamuk, berteriak, dan menangis saat mengingat kejadian yang tak ia sukai di ruangan tadi. Hugo membuatnya kesal setengah mati.


"Apa bedanya aku dan dia, hah??!" Teriak gadis itu berang. Napasnya memburu, emosi Erine tidak bisa ia kendalikan. "Semua orang bilang kami mirip! Bukankah itu seharusnya membuatmu mudah melihatkuu!!" Erine kembali melempar-lempar batu yang ada didekatnya.


Sudah jauh ia melangkah, sudah matang rencana yang ia jalankan, namun tak ada satupun yang membuatnya senang.


Erine menyandarkan tubuhnya ke tembok setelah merasa lelah dengan amukannya sendiri. Dia melepaskan tangisan disana. Lalu ditatapnya pistol yang ada digenggamannya. Rasa ingin menghabisi Richi kini terasa semakin kuat. Dia tidak sabar menunggu bom itu meledak. Dia ingin Richi saja yang mati dan membiarkan Hugo hidup.


"Erine! Bagaimana ini."


Dua temannya datang dengan panik. Erine segera menghapus air matanya.


"Sudah tidak ada jalan keluar. Semua tempat di kepung pasukan militer yang dipimpin jenderal." Ujar salah satunya.


"Kau bilang, kita punya jalan pintas. Tapi ternyata jalan itu bahkan hancur karena bom waktu yang kau buat!!"


Erine mendongak, dilihatnya dari celah atap yang pecah, beberapa helikopter beterbangan diatas sana.


"Hei, kau menjanjikan keselamatan. Mana yang kami dapatkan?!"


Erine kebingungan. Terdengar suara Jenderal Wiley melalui megafone, meminta mereka menyerahkan diri dan sandera.


"Kau menipu kami!" Pekik salah satu dari temannya, ia berusaha meraih leher Erine. Namun tangan gadis itu lebih dulu menembak kepala temannya hingga darah menyembur pun mengenai wajahnya.


"Erine, kau gila, hah?!" Satu lagi, teman Erine itu panik melihat apa yang Erine lakukan. Dia tidak sangka, seorang Erine yang dikenal cuek dan


"Aku akan melaporkanmu! Aku akan menyerahkan diri!" Ucapnya kemudian berlari menuju luar. Namun sayang, peluru Erine berhasil mengenai punggungnya beberapa kali, hingga ia pun tewas bersimbah darah.


Erine mengusap titik-titik darah di wajahnya hingga meninggalkan bekas. Dia mundur beberapa langkah karena sadar, apa yang ia lakukan sudah diluar rencananya.


Kalut dan takut kini menguasai dirinya. Bagaimana pun tujuan awalnya hanya menyingkirkan Richi dan membuat Hugo menjadi miliknya. Tapi dia bahkan tidak memikirkan efek yang akan dia dapat. Selama ini Erine hanya mau apa yang ia ingin tercapai.


Tapi Erine tak mau semua usahanya sia-sia. Target awalnya adalah Richi. Maka Erine pun kembali ke ruangan itu untuk membujuk Hugo lagi dan membuat Richi terabaikan. Bagaimana pun dia harus bisa membuat Hugo melihat kearahnya.


Dibukanya pintu dan mendapati posisi Hugo dan Richi masih sama. Erine memaksa dirinya untuk tertawa, saat tahu Hugo tidak bisa menaklukkan bom itu.


"Sudah kuduga, kau tidak bisa melakukannya."


Hugo hanya menoleh sebentar, dilihatnya Erine sudah dengan bercak darah. Entah siapa yang ia bunuh. Suara tembakan yang tadi terdengar pasti ulahnya. Hugo pun mengabaikan gadis itu. Dia kembali berfokus pada bom itu lagi.


Erine menghapus air matanya yang mengalir tanpa izinnya. Tangan gadis itu naik, mengarahkan pistol pada Richi.


"Kau harus meminta padaku, Hugo. Mohonlah padaku untuk kebaikanmu. Aku masih memberimu kesempatan." Ujar Erine, mengharapkan Hugo mau menurutinya.

__ADS_1


"Sampai matipun aku tidak akan menuruti kemauanmu." Tukas Hugo tanpa melihat kearahnya.


Erine tertohok. Dia bahkan tak bisa berkata-kata dalam beberapa detik. Dadanya begitu sesak, terlebih melihat Hugo yang tidak acuh.


"Begitu, ya." Erine tertawa. "kalau gitu, aku akan membunuh dia di depan matamu. Supaya kau tahu bagaimana rasa sakit yang kurasakan."


Hugo menarik napas. Kini dia menoleh kebelakang, tepat dimana Erine kembali kengerahkan senjatanya.


"Aku tidak main-main. Selama ini, aku mengorbankan banyak hal supaya bisa dekat denganmu, supaya aku bisa memilikimu."


Erine kembali mengingat saat dulu, diawal Hugo berkenalan dengannya dan bagaimana cara lelaki itu melindunginya. Dia sangat menyukai itu.


Erine menahan air matanya, kembali dia menatap sinis kearah Richi.


"Ucapkan selamat tinggal pada Hugo."


"Jangan berani kau melakukan itu, Erine!" Pekik Hugo. Dia bangkit dan berdiri membelakangi Richi, melindungi gadis itu dengan tubuhnya.


Melihat itu, Erine kembali kesal. "Aku benar-benar membencimu, Darrel!"


Satu tembakan ia lepaskan, namun Hugolah yang menahan peluru hingga mengenai lengannya.


"HUGOO!!" Teriak Richi saat lelaki itu berlutut, tak kuat berdiri karena kakinya yang cedera dan getaran tubuhnya dari lengan yang tertembak itu membuatnya tak kuat menopang diri.


Hugo menoleh kesamping, "Jangan.. bergerak.." Bisiknya pada Richi yang tangannya terus ia tarik dari ikatan. Sialnya, ikatan itu sangat kuat. Richi tak bisa melakukan apa-apa selain melihat Hugo kesakitan.


"Hugo, aku punya pistol." Bisik Richi pada Hugo, lelaki itu bergeming.


Hugo sudah tidak mampu bergerak cepat karena kondisi tubuhnya. Tidak mungkin dia bisa cepat kilat mengambil pistol dari Richi. Bisa-bisa Erine mengambil kesempatan dengan menembak kekasihnya itu.


"Luar biasa sekali.." Erine bertepuk tangan dengan pistolnya. Kembali dia menodongkan senjata. "Minggir kalau kau masih ingin hidup."


Hugo tetap berlutut membelakangi Richi. Dia menahan rasa nyeri tepat di bahunya. Tak sedetikpun ia beralih dari pistol Erine yang akan siap menembakkan peluru lagi.


"Aku benci sekali dengan sikapmu itu, Hugo. Kau melindunginya dengan seluruh hidupmu. Aku benci melihat kau mengorbankan dirimu seperti itu."


"Itu jauh lebih baik dari pada aku harus menuruti kemauanmu." Jawab Hugo dengan suara yang menahan sakit.


Air mata Erine lolos. Berkali-kali ditolak, juga ucapan Hugo yang mengandung rasa benci untuknya, membuat Erine frustrasi.


"Baiklah. Kalau itu maumu, maka kupastikan kau akan menyesal dengan keputusanmu."


Satu tembakan kembali Erine luncurkan mengenai lengan lelaki itu, membuat Richi dibelakangnya berteriak keras.

__ADS_1


"HENTIKAN, ERINE!!" Jerit Richi. Air matanya sudah tak mampu terbendung, apalagi melihat Hugo mengalami itu semua karena dirinya.


"Kau pikir ini karena siapa?" Bukannya berhenti, Erine menargetkan Richi dan kembali menekan pelatuk. Suara tembakan ketiga terdengar, namun ternyata Erine tidak menargetkan keduanya. Dia dengan sengaja membuat pelurunya lari dari target.


Suara helikopter semakin mendekat dan terasa seperti tepat di atas mereka. Seruan melalui megafone pun terdengar lagi.


Erine tahu, jika pun ia keluar dengan selamat, maka hukuman besar menimpa dirinya dan keluarganya. Gadis itu kemudian memikirkan sesuatu yang akan memuaskannya kalaupun dia akan mati karena hukuman negara. Erine melirik bom waktu yang ada di tubuh Richi, waktunya tinggal sedikit lagi.


"Aku akan menyeret keluargamu ikut serta disini. Supaya kalian bisa merayakan kematian bersama-sama."


"Erine.." Belum sempat Richi mengatakan sesuatu, Erine keluar dari ruangan itu.


"Richi, bersabarlah. Aku hampir menyelesaikan ini.."


Hugo kembali fokus pada bom waktu itu. Erine akan membuat semua orang mendekat kearahnya. Tentu semua orang akan mati dalam waktu yang hanya bersisa 4 menit.


Sesekali Hugo diam dan mengerang kecil saat merasa tiga lubang pada bahu dan lengannya terasa berdenyut kencang.


"Hugo, selamatkan dirimu.. Kau akan kehabisan darah, Hugo." Richi terus menangis melihat darah lelaki itu mengalir dari lengannya. Tetapi Hugo sendiri tidak peduli akan dirinya.


Hugo menggenggam satu kabel yang ia yakini adalah pemicunya. Namun ia belum juga menariknya. Richi memperhatikan diamnya Hugo yang memegang satu kabel tebal.


"Hugo.."


Pandangan lelaki itu naik, menatap kekasihnya.


"Kalau kau menarik itu, kemungkinan yang terjadi adalah bom ini akan meledak lebih cepat kalau kau salah menentukannya. Atau bom ini juga akan meledak dalam waktu 6 menit setelah kau keluar dari sini. Dan aku memintamu untuk pergi, demi aku."


"Aku tidak akan meninggalkanmu. Kalaupun bom ini akan meledak, maka kita akan mati bersama."


Richi menggelengkan kepalanya. "Bukan itu makna cinta, Hugo."


"Aku melihat ayahku yang hampa. Hampir setiap malam dia minum di ruang kerjanya sambil memperhatikan foto ibuku walau dia menikah dengan wanita lain sekalipun, dia tidak mencintainya. Kau mengerti maksudku kan, Richi?"


Hugo menangkup kedua pipi Richi, mengusapnya perlahan dari air mata yang tiada henti mengalir.


"Terima kasih sudah percaya padaku. Kau harus tahu kalau aku sangat mencintaimu." Hugo mengecup dahi Richi cukup lama, lalu dia kembali memegang satu sumber yang ia yakini untuk menonaktifkan bom itu.


Richi memejamkan mata, menunggu saat Hugo menariknya dengan kuat. Suara detik bom masih terdengar di telinga gadis itu, membuatnya membuka mata saat ternyata detik pada bom itu terus bergulir.


Hugo menatapnya. Wajah lelaki itu sudah pucat. Bibirnya memutih, namun ia berdiri dengan sisa tenaganya.


"Hugo.. bom ini.."

__ADS_1


"Sudah mati. Aku membuat waktunya terus berjalan untuk menipu Erine. Dia akan datang lagi kesini, untuk mengecek kenapa bom itu tidak meledak padahal pengatur waktu di tangannya masih berjalan. Disaat itu pula, aku akan membunuhnya."


__ADS_2