
"Harry, apa itu artinya, bom terbesar belum aktif?"
'Ya. Berhati-hatilah. Kelompokmu sudah menjinakkan 3 bom.' Jawab Harry dari seberang.
Richi diam sesaat. Rasanya tugas kali ini benar-benar berat. Apalagi dia belum tentu bisa keluar dengan cepat mengingat terlalu banyak belokan di dalam sini.
"Harry. Katakan padaku, siapa yang mengakses pergerakan kami. Jika dia ada disini, aku akan mencarinya."
'Dengarkan aku, Richi. Fokus saja mencari sumber utama. Dua penjaga inti yang mengerikan itu sedang tidak di tempat. Jadi, manfaatkan itu sekarang dan jangan pedulikan apapun lagi supaya kau bisa lekas keluar dari sana.'
"Bagaimana kalau bom besar diaktifkan?" Tanya Richi dengan nada sendu. Rasanya sangat mengerikan jika Valiant mati tanpa sisa.
'Itu sulit terjadi. Tempat itu penuh harta dan dokumen penting lainnya. Mereka tidak mungkin melakukan itu secara tiba-tiba. Itu sama saja dengan memiskinkan diri.'
Pernyataan Harry membuat Richi sedikit lebih baik.
"Sebenarnya, apa isi ruangan ini?" Tanya Clair.
"Entahlah. Harry bilang, ada satu ruangan yang isinya harta karun milik keluarga Draw dan bukti-bukti pekerjaan ilegal yang melibatkan banyak petinggi negara." Jawab Richi sambil terus berjalan perlahan.
"Harry, kau yakin aku dijalan yang benar?" Tanya Richi.
'Ya, jalanmu benar.'
"Tapi, kenapa jalan ini tidak ada penjaganya sama sekali."
'Mereka sedang berkumpul.'
"Hah?"
'Para penjaga sedang berjudi di ruang 06.'
Richi melirik Clair yang berdiri disebelahnya.
"Sedang berjudi, katanya."
Clair malah terkikik. "Dari pada pusing-pusing, kunci saja mereka dari luar." Usul Clair. "Ruang yang mana?"
Richi menunjuk ruangan yang berada di ujung.
Setelah berhasil mendekat, ternyata ruangan itu cukup bising di dalamnya walau tak begitu terdengar apa yang mereka katakan, tapi suara itu begitu ramai.
Pelan-pelan Clair memutar kunci. Dia malah terkikik sejak tadi. Rasanya lucu bisa mengerjai orang-orang begini.
"Lanjut kemana, Harry?"
'Masuk ke dalam.'
"Ke dalam mana?" Tanya Richi menoleh kesana kemari, mencari pintu lain.
__ADS_1
'Ke ruangan 06. Di dalamnya ada pintu rahasia yang menghubungkan ke dalam ruang harta karun itu. Para penjaga bahkan tidak tahu ada pintu disana.'
"Hah?" Richi menganga. "Ada berapa orang di dalam?"
'Entahlah. Mungkin seratus, dua ratus?' tapi bersyukurlah penjaga inti tidak disana.'
"Haahh?? Kau gila, ya?? Kau menyuruhku menghabisi mereka sendirian??"
'Bukannya kau jago?'
"Harry sialan! Mati kau nanti.."
Richi menghentikan ucapannya saat melihat handel pintu bergoyang-goyang. Nampaknya ada yang keluar dan menyadari pintu terkunci.
"Hahaha. Hayoloh! Tidak bisa kabur." Clair yang tertawa melihat itu langsung ditarik Richi untuk kabur.
"Eh, kemanaa??"
"Cepat, lari. Sembunyi!" Richi terus menarik tangan Clair sampai mereka berhenti karena napas yang terengah.
"Hei.. ke-napah.. larihhh.." tanya Clair di tengah sesaknya.
Richi membuang napas secara kasar, mengintip sebentar ke arah dimana para penjaga sudah mendobrak pintu dan memeriksa tempat disekitar mereka.
"Mereka.. ada ratusan orang.." Richi mengusap titik keringat yang muncul di dahinya.
"Hah. Kenapa memangnya. Hajar saja!"
Richi langsung menegakkan tubuh saat mendengar suara perkelahian dari tempatnya tadi.
Dia mengintip dan melihat Ricky bertarung dengan beberapa orang disana.
"Clair, bantu Keen."
Clair mengeluarkan senjatanya dan menembaki beberapa orang disana. Membuat Ricky bingung, dari mana asal luka yang membuat lawannya roboh? Dia menyelidiki dan mendapati luka tembak, tapi dia tak mendengar suara tembak.
'Richi, berhati-hatilah. Penjaga sudah berpencar untuk mencari kalian. Mereka sudah menemukan anggota Valiant lain.'
Richi mengatur napas, dia harus keluar sekarang supaya mempercepat proses.
"Clair, cover Ricky karena dia yang akan menemukan bukti itu. Aku akan membantu yang lain."
Richi melihat ke atas dan mendapati banyak besi penghubung disana. Entah apa fungsinya, tapi Richi punya ide untuk manjat dan merangkak dari atas itu.
Dia menyimpan senjata dibelakang badannya dan mulai memanjat ke atap. Perlahan Richi merangkak. Dari atas dia bisa melihat bagian-bagian ruang dengan jelas.
Richi terhenti saat dia mendapati tiga orang di lorong jalan tengah berdebat serius dan tentu saja Richi mengenali suara-suara itu. Dia memilih duduk di atas sambil mencari topik apa yang menjadi perdebatan orang-orang dibawahnya.
"Percaya saja padaku. Aku lebih tahu darimu." Suara Erine terdengar.
__ADS_1
"Justru ini akan meledak kalau kau mencabut kabel yang merah." Sahut Hugo.
"Aku sudah menjadi penjinak bom bahkan sebelum kau disini!" Pekik Erine lagi.
"Tapi kau keliru. Kabel kuninglah yang harus dilepas." Balas Hugo tak mau kalah.
Eline yang berada diantara keduanya mulai pusing. Dia mencoba menengahi kedua orang itu. "Aah, aku rasa baik kabel kuning mapun merah, dua-duanya itu sama-sama kabel yang bisa dilepas."
"Diam!" Setentak Hugo dan Erine bersamaan. Eline langsung menggigit bibir.
Keributan mereka terdengar dari sudut lain, membuat penjaga di dalamnya langsung mendatangi mereka.
Ketiga orang itu diam seketika, saat beberapa puluh orang masuk ke dalam dan mencoba menghabisi ketiganya dengan menyerang mereka secara bersamaan.
Hugo, Erine, dan Eline langsung menyambut mereka. Perkelahian terjadi dibawah Richi, tanpa ia berniat membantu. Richi lebih memilih menonton saja.
Gadis itu melihat Hugo. Lelaki itu berbalut kain yang terlihat gelap di bagian lengannya. Richi langsung paham bahwa Hugo telah kena serangan tembak.
Lelaki itu pula tengah berusaha keras melawan tiga orang sekaligus. Kasihan sekali, nampaknya dia lelah apalagi tangannya hanya sebelah saja yang bisa bertenaga dengan baik. Richi mengeluarkan senjatanya. Dia membidik dan menembakkan senjata ke arah musuh Hugo yang langsung jatuh seketika. Hugo pun nampak bingung. Musuhnya mendadak mati dengan luka tembak, tapi tidak ada suara tembakan sedikitpun.
Tak berlangsung lama, beberapa orang menyerang Hugo lagi. Begitu juga yang lain. Eline nampak kewalahan. Beberapa kali badannya kena tendangan yang membuatnya mundur beberapa langkah.
Gadis itu berdecak, karena nampaknya dia memang harus turun tangan.
BRUK!
Jatuhnya Richi dari atas atap membuat semua berhenti sesaat. Mata Hugo langsung mengenali wajah siapa yang sebagiannya berbalut kain merah itu.
Richi mengangkat senjata dan menembaki satu persatu musuh yang ada. Satu lagi, saat Richi hendak menembakinya, peluru sudah habis dan dengan cepat Richi menghajar hingga orang itu terkapar di tempatnya.
Ketiga orang itu melongo. Bagaimana mungkin Richi Darrel bisa sampai di tempat itu?
"Chi.."
Richi tak mendengarkan. Dia mengisi lagi amunisi pada senjatanya.
Tiba-tiba suara ledakan terdengar dan ruangan terasa berguncang. Membuat seisi ruang bawah tanah mulai panik.
Richi menekan tombol kecil di earpiece-nya. "Ada apa??" Tanya Richi pada Harry.
'Ledakan terjadi di salah satu tempat. Itu bom nomor 11.'
"Apa? Astaga, ada berapa bom disini?"
"Richi, kau bicara pada siapa?" Tanya Hugo dan tidak mendapat respon dari kekasihnya.
'Ada 25.'
"Hah, sial. Hugo, cepat matikan bom itu. Aku percayakan padamu."
__ADS_1
Hugo langsung mencabut salah satu kabel dan berhasil dijinakkan.
"Bom disini ada 25 Hugo. Temukan dan jinakkan sisanya karena satu bom sudah diledakkan. Kau mengerti?"