Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Murid Baru


__ADS_3

Richi duduk di atas tempat tidur, memeluk dan meletakkan dagunya di atas lutut. Rambutnya ia biarkan saja terurai. Telinganya tidak berhenti berdengung dengan ucapan yang tak seharusnya ia dengar.


Pintu kamarnya terbuka, Mary masuk ke dalam.


Dia tadi sempat melihat wajah Richi yang sembab dan basah, tanpa bertanya apapun, dia merasa ada yang membuat putrinya itu sedih.


Mary mengambil sisir dan duduk di belakang Richi.


"Ichi.. rambutmu semakin panjang dan indah". Puji Mary sembari menyisir rambut anaknya.


Richi tak bergeming, pujian Ibunya tak membuat hatinya membaik.


"Sayang, jika sesuatu hal terjadi hingga membuatmu bersedih, kau bisa mengatakannya pada Ibumu".


"Tidak ada apa-apa, Ibu" ucapnya dengan suara yang terdengar parau.


Mary menghela napas, dia tidak pernah melihat Richi seperti ini.


"Tidak ada salahnya kita berubah sedikit demi tujuan yang ingin kita capai."


Richi mengangkat kepalanya, "Ibu, apa boleh aku memotong rambutku". Ucapnya dengan suara yang lirih, terdengar hampir menangis.


Mary langsung memutar tubuh putrinya. "Sayang, ada apa? Ceritalah pada Ibumu".


Richi tidak bisa menahan air matanya, dia menangis lalu Mary dengan cepat memeluk putrinya.


"Ichi, apa kau tengah jatuh cinta, sayang? Apa dia menyukai perempuan yang rambut pendek?"


Richi menggeleng. "Dia menyukai gadis berambut panjang".


Mary melepas pelukannya. "Lalu?"


"Aku membencinya sekarang. Aku tidak mau apa yang dia sukai ada padaku". Ucapnya sambil menghapus air matanya. "Aku tidak menyukai perasaan ini."


Mary menghela napasnya, lalu mengelus lembut kepala Richi. "Lakukanlah apa yang membuat hatimu lebih baik, sayang. Ibu tidak akan menghalanginya sekarang. Asal berjanjilah, jadi perempuan kuat seperti dirimu yang biasanya. Jangan siksa batinmu hanya karena memikirkan laki-laki."


Richi mengangguk dengan cepat. "Hanya hari ini, Ibu. Aku janji, Aku akan segera baik-baik saja.". Ucapnya lalu mendapat kecupan di dahinya dan memeluk Ibunya lagi.


...🍇...


Richi berjalan menuju Kantin dengan tenang walau semua mata memandangnya dengan terheran-heran. Tak biasanya Richi demikian.


"Richi, kau tidak gerah?" Tanya Frans yang menyimbangkan jalan.


"Tidak. Kenapa memangnya?" Tanyanya dengan cuek, menatap jalan di depannya.


"Tidak biasanya kau membiarkan rambutmu terurai begitu. Bukankah kau selalu bilang gerah?" Sambung Isac lagi.


"Masa? Sudahlah, Cepat. aku lapar". Ucapnya lalu berjalan terus masuk ke dalam kantin yang tengah ramai.


Richi menjadi perbincangan hari ini. Selama ini mereka hanya melihat Richi menggulung rambutnya dan hari ini, gadis itu membuka dan membiarkannya bergoyang di pinggangnya.


"Richi, rambutmu bagus". Ucap seorang laki-laki dan hanya dibalas senyum tipis olehnya.


Axel menepuk tangan Hugo berkali-kali. "Lihat belakangmu!" Ucapnya pada Hugo yang duduk di depannya.

__ADS_1


Hugo menoleh ke belakang, mendapati Richi tengah berbicara santai pada beberapa laki-laki dengan rambutnya yang tak biasa.


"Ada apa dia? Kenapa tak biasa begitu?" Tanya Isac ikut melihat.


"Tapi cantik sekali, ya. Kalau dilihat begitu, baru aku percaya kalau yang berdansa dengan Hugo adalah Richi." Sambung Axel sementara Hugo langsung berbalik, menyantap makanannya lagi.


Frans meletakkan nampannya di meja sebelah Hugo.


"Tidak ada lagi yang kosong, disini saja, ya." Ucap Frans dan mendapat acungan jempol dari Richi.


Richi memilih bangku yang membelakangi meja Hugo. Gadis itu duduk dan rambutnya hampir menyentuh tempat duduknya.


"Bagus sekali rambutmu, Richi." Ucap seorang laki-laki sembari melewatinya.


Hugo melihatinya dengan kesal sebab banyak laki-laki yang memuji rambut gadis itu. Apa dia sengaja? batin Hugo.


Richi menjepit rambut depannya kebelakang dengan jepitan yang diberikan Hugo padanya waktu itu.


Gadis itu merapikan rambutnya supaya tetap berada dibelakang, lalu dia menyantap mie instan di atas meja.


Eric dan Frans masih memandang temannya yang tengah makan dengan lahap itu.


"Ri, kau yakin dengan makananmu itu?" Tanya Frans.


"Kenapa?" Tanyanya dengan makanan yang masih di mulut.


"Kan kau yang bilang, mie instan itu tidak baik."


"Baik kok, ini aku makan." Jawabnya dengan senyum singkat dan menyantap mie nya lagi.


"Aku dengar, tahu!" Tukas Richi dan kedua temannya itu langsung menyantap makanannya.


~


Sekolah tengah heboh, banyak siswa berkerumun baik lantai atas maupun di bawah melihat keluar, seorang perempuan cantik berjalan dengan anggun menyusuri setiap langkah ditemani mata lelaki yang tak lepas menatapnya.


"Murid baru?" Tanya orang-orang setengah berbisik karena belum pernah melihat gadis itu sebelumnya.


Gadis itu memakai kacamata hitam naik ke lantai dua, dia kini berpapasan dengan Richi yang mengerutkan alis melihat gadis cantik di depannya.


Dia berjalan dan bahunya bersenggolan dengan bahu Richi.


Gadis itu menurunkan kacamatanya, "Ups, Sorry". Ucapnya lalu melangkah lagi.


"Mati kau nanti!" Gumam Richi pelan.


~


"Ampun.."


Bella, murid baru yang tadi menyenggol Richi terduduk lemas di lantai, sementara Richi menatapnya dengan melipat tangan di dada.


"Maafkan aku, aku tidak sengaja." Bella menyatukan kedua telapak tangan di bawah dagunya.


Richi menatap tajam ke gadis yang tengah berlutut di depannya. Karena tingkahnya barusan, membuat Richi ingin menghajarnya.

__ADS_1


"Ampuni aku... Aku begitu supaya terlihat keren saja. Masa aku harus sujud padamu disitu. Lagi pula kau juga kenapa berdiri disana. Aku mana lihat!" Tukas Bella panjang lebar.


"Lalu, Kenapa kau tidak ikut beraksi tadi malam?" Tanya Richi dengan tegas.


Bella berdiri, mendekati Richi dengan wajah manjanya. "Aku baru saja sampai Bandara. Masa kau tega menyuruhku langsung perang. Apalagi dengan kuku-kuku ini." Rengeknya sambil memperlihatkan cat dan hiasan di kukunya.


Richi menghela napasnya dengan kasar. "Hah, bisa-bisanya ada anggota Valiant yang seperti ini!" Tukasnya sembari melangkah keluar kelasnya.


"Kau ini, jangan begitu dong. Gini-gini aku hebat, tahu." Ucapnya sambil membuntuti Richi dari belakang.


"Kau memaafkan aku, kan." Bujuk Bella dari belakangnya, mencolek-colek bahu Richi. "Rambutmu bagus, lho. Tidak biasanya di biarkan begitu"


Di depan kelasnya, Hugo dan yang lain melihat ke arah dua gadis yang baru keluar dari kelas Richi itu.


"Mereka saling mengenal?" Tanya Isac.


"Ya, sepertinya." Ujar Axel sambil mengunyah permen karet di mulutnya.


"Lihat rambutnya Hugo, bukankah itu tipe kesukaanmu?" Ucap Daren melihat rambut Bella yang panjangnya hampir sepinggangnya.


"Richi masih jauh lebih bagus dan lebih panjang". Gumam Hugo pelan namun masih bisa terdengar telinga Daren.


Hugo membalikkan badan, berjalan ke dalam kelas di ikuti Daren.


"Kau menyukainya, kan?" Tanya Daren.


"Yah.. suka atau tidak, yang jelas hubunganku dengannya sudah sangat buruk." Hugo menghempaskan tubuhnya di kursi miliknya.


Daren ikut duduk. "Kau terbiasa dikejar, Hugo."


"Apa maksudmu itu".


"Dari dulu, kau dikejar perempuan dan tidak pernah mengejar balik. Kau merasa dirimu selalu disukai dan itu membuatmu tidak berjuang. Richi berbeda, dia bukan gadis yang mengerumunimu yang bagaikan gula".


Hugo menatap Daren. Ucapannya membuat pikiran Hugo sedikit terbuka.


"Jadi maksudmu, aku harus mengejarnya?"


Daren mengangguk, "Richi bukan tipe perempuan yang mengemis cinta laki-laki. Kau pasti bisa melihat itu. Dia berbeda dari gadis-gadis yang mengejarmu. Dia akan memendam perasaannya jika lekaki itu tidak berusaha menggapainya."


Hugo terdiam. Apa yang diucapkan Daren ada benarnya. Dia selama ini hanya melihat Richi, tidak berusaha mengejarnya dengan pantas.


"Lalu, aku harus bagaimana?" Tanyanya pada Daren yang mulai menahan tawa.


"Mulailah dari meminta maaf, dan akui perasaanmu padanya."


Hugo menggelengkan kepala. "Kau tidak tahu bagaimana bencinya dia padaku."


"Kau yakin dia benci padamu, lalu datang ke pestamu dan berdansa denganmu?"


Hugo mengangkat kepalanya. "Maksudmu dia juga menyukaiku?" Mata Hugo membulat. Jika benar Richi menyukainya, bukankah ini hal yang luar biasa?


"Si bodoh ini." Ucap Daren lalu tertawa lebar. "Kau memang hanya bercap playboy saja tapi tidak tahu apa-apa." Gelak Daren sambil memegangi perutnya yang terasa menggelitik.


TBC

__ADS_1


__ADS_2