Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
S2 - Pergantian Pemain


__ADS_3

Virgo menautkan jari-jarinya. Dia menunggu jawaban Eline dan kembarannya. Apakah mereka mau menolong dirinya dari seseorang yang mengganggu, atau tidak.


"Aku..."


"Sayang, kumohon, bantu aku."


Eline menoleh kebelakang, tepat dimana Erine bersandar di dinding dengan tangan bersedekap di dada, menatap Virgo dengan malas.


"Kali ini saja." Ucapnya lagi dengan wajah memelas.


"Siapa sih, yang kau takuti kali ini? Aku sudah bilang kan, kau ikuti saja dia. Kau malah buat perkara baru!" Sentak Eline pada kekasihnya.


Virgo tak berani mengatakan bahwa yang ia lawan adalah Richi, kenalan Eline. Kalau dia tahu, kedua gadis itu pasti takkan membantu.


"Aku janji ini yang terakhir." Lirih Virgo sembari menunduk. Dia tak punya kekuatan lain, selain kedua perempuan di depannya. Kalau saja bos Benny tahu, dia pun bisa mati.


"Memangnya mau kau apakan orang itu?" Tanya Eline lagi.


"Hanya beri dia pelajaran, siksa sampai ia menyerah dan tak lagi menyerangku."


Eline berdiri dan mendekati kembarannya.


"Bagaimana?" Tanya Eline dengan suara kecil. Erine menggelengkan kepalanya, tanda ia tak mau ikut-ikutan.


"Tapi..." kembali Eline menatap kekasihnya. "Aku merasa kasihan padanya."


"Jangan gegabah, Eline. Kalau Valiant tahu kita membantu kelompok ilegal seperti mereka, kita bisa dikeluarkan secara tidak terhormat. Dan, kau pasti tahu apa yang terjadi jika ayah tahu kita dipecat dari Valiant." Jelas Erine berbisik panjang lebar.


Eline menghela napas. Dia membenarkan perkataan kembarannya. Tapi satu sisi dia juga ingin membantu Virgo.


"Ayolah, Rin. Kali ini saja." Bujuk Eline.


Tiba-tiba saja ia teringat satu rencana yang ingin ia lakukan untuk Erine.


"Rin, kau mau foto dengan Hugo?"


Alis gadis itu menyatu, meminta penjelasan lebih.


"Aku akan membuatmu menjalani photoshot bersama Hugo. Aku dengar konsep bulan depan adalah wedding blossom. Aku akan mengajukanmu menjadi partner Hugo." Bisik Eline padanya. Sudah ia duga, Erine tak bergerak saat ia memberikan itu sebagai hadiah.


"Kau.. bagaimana bisa?"


"Serahkan padaku. Kau hanya perlu datang saja. Tapi, bantu Virgo. Bagaimana?"


Erine berpikir. Sebenarnya dia tidak suka pada Virgo, apalagi harus membantunya, itu menjengkelkan tapi Eline menjanjikan hal yang paling ia impikan.


"Ya? Mau, ya?" Eline mengguncang lengan kembarannya yang masih bengong.


"Ya sudah."


"Aaah. Baik sekali." Eline memeluk Erine dan langsung ditepis perempuan itu.


"Terima kasih, Erine. Aku berhutang budi padamu."


Erine tak merespon ucapan Virgo dan masuk kedalam kamar untuk melanjutkan penghapalan naskahnya.


...🦋...


Dalam perjalanan menuju kampus, Richi yang membawa mobil sambil mengemut permen di mulutnya. Sedangkan Hugo duduk di kursi penumpang sembari menghapal naskah drama yang sebentar lagi ia mainkan.


"Aku tidak bisa kehilanganmu karena separuh dari diriku adalah cintamu. Bagaimana bisa aku hidup dengan separuh nyawaku yang hilang bersamamu? Aku sangat mencintaimu."

__ADS_1


Richi melirik Hugo sekilas. Lelaki itu menghapal dengan mengarahkan wajah kepadanya. Seolah kata-kata itu untuk dirinya.


"Aku mencintai semua yang ada pada dirimu." Lanjutnya lagi.


"Berlebihan sekali. Aku sampai geli mendengarnya." Richi mengedikkan bahu.


"Hah. Padahal ini cukup masuk akal karena aku merasakannya juga." Ucap Hugo, dan Richi hanya terkekeh.


"Apa kalau aku mati, kau baik-baik saja? Aku tak bisa membayangkan jika itu terjadi padamu." Lanjut lelaki itu.


"Yaa.. Aku juga. Aku pasti sangat terpukul." Sahut gadis itu tanpa beralih dari jalan di depannya.


Hugo menarik permen dari mulut Richi, membuat gadis itu merengut. "Hugo, kembalikan."


Lelaki itu tak mendengarkannya. Dia memasukkan permen ke mulutnya dan membaca lagi naskah di tangannya.


"Ini bagian paling manisnya. Ehm." Hugo berdehem, kemudian mengeluarkan permen dari mulutnya.


"Cintaku ibaratkan narkoba. Aku terbang melayang diangkasa, menatap wajah yang seolah terlukis di awan. Kau benar-benar membuatku candu. Hahahha."


"Menggelikan."


Hugo berhenti tertawa. "Hei, ini tuh, motivasi cinta." Setelah mengatakan itu, Hugo kembali membaca naskahnya. "Setelah itu, merekapun berciuman. Eh?"


"Wah. Apa itu? Kau tidak mengindahkan perkataanku, ya."


"Tidak, kemarin bagian ini sudah dihapus, kok. Sepertinya aku membawa naskah lama." Lelaki itu membolak-balikkan naskah, memastikan kalau cerita sudah diubah sesuai keinginannya.


"Siapa perempuan yang menjadi lawan mainmu?" Richi mulai menyelidik.


"Namanya Laura. Kakak senior. Mau kukenalkan?"


Richi menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu. Aku percaya padamu."


Tak lama, ponsel Hugo berdering. Lelaki itu segera mengangkat telepon dari agensinya.


"Ya?" Sahutnya pada orang diseberang. Hugo kemudian melirik Richi. "Aku tidak mau." Katanya lagi. "Tidak, apapun alasannya aku tidak mau mengambilnya, kau yang paling tahu itu. Sudah, ya." Hugopun menutup ponselnya.


"Ada apa?" Tanya gadis itu.


"Tawaran model salah satu designer baju-baju pernikahan. Aku tidak mau karena harus berpasangan. Jadi aku menolaknya."


"Good boy." Jawab gadis itu dengan senyum lebar.


...🍁...


"Erine, maaf.."


Gadis itu duduk di tepi tempat tidur Erine yang sedang menghapal naskah.


"Kenapa?" Tanya Erine.


"Hugo, dia.. menolak tawaran menjadi model wedding. Padahal aku menjanjikan itu supaya kau mau menolong Virgo."


Erine menyandarkan tubuh ke tembok, menatap langit-langit rumahnya.


"Alasannya, katanya dia memang sejak awal tidak pernah mau berpasangan dengan perempuan kecuali Richi."


Terdengar helaan napas dari Erine. "Tidak apa." Ucapnya.


"Jadi.. kau tetap akan menolong Virgo, kan? Aku sudah cari cara lain. Kali ini aku yakin berhasil. Saat malam perayaan teater nanti, aku akan membuat Hugo bersamamu sampai pagi."

__ADS_1


"Tidak perlu repot-repot, aku akan tetap menolongmu dan Virgo."


"Tapi, aku juga akan merencanakan sesuatu buatmu. Yang kali ini benar-benar akan menghancurkan hubungan mereka." Kata Eline dengan yakin.


"Terserah padamu saja." Jawab Erine.


"Ah, satu lagi." Eline keluar kamar dan membawa satu kotak besar yang lumayan berat.


"Apa itu?"


"Entahlah aku juga tidak tahu. Tapi Virgo memintaku menyimpan ini. Katanya berkas penting. Bisa kuletak di kamar rahasiamu?"


"Letakkan saja dibawah meja."


Eline pun masuk ke dalam ruangan yang berisi banyak foto Hugo lalu meletakkan kotak itu persis di tempat yang Erine maksud.


Sejenak ia diam menatapi foto-foto yang menempel. Dia merasa takjub sekaligus kasihan pada Erine. Gadis itu pasti tersiksa dengan perasaannya selama ini.


"Cepat keluar, sedang apa kau lama-lama di dalam?!" Teriak Erine dari meja belajarnya. Buru-buru Eline keluar dan menutup pintu ruang rahasia itu.


...🦋...


Satu minggu berlalu, Hugo tak menjemput Richi karena pagi-pagi sekali dia harus sudah ada di aula kampus. Pentas teater dimulai pukul 10 pagi.


Sampai disana, dia langsung berganti pakaian dan mendengarkan arahan dari pengatur pentas dan acara.


Hugo menyempatkan waktu untuk berlatih bersama Laura sembari menunggu waktu setengah jam lagi sebelum acara dimulai.


Ponselnya berdering, dia menerima telepon dari kekasihnya.


'Hugo, maafkan aku.'


"Ada apa, sayang? Kau akan kesini, kan, menontonku?"


'Iya, aku akan kesana tapi terlambat. Maafkan aku ya, Hugo. Aku tengah mengikuti Benny sialan itu.'


"Benny.." Hugo berpikir sejenak. Lalu ia berbisik. "Benny dekan olahraga?"


'Iya, nanti aku akan ceritakan. Sudah ya, Hugo. Love you.'


Belum sempat Hugo menjawab, Richi sudah menutup telepon. Nampaknya dia tengah sibuk.


Selang beberapa menit, Hugo mulai mencari Laura. Tapi, entah kemana gadis itu.


"Hugo, mohon maaf, ya. Laura tiba-tiba pulang karena sakit." Mira datang menghampiri membawa berita buruk.


Semua pemain yang mendengar itu langsung berisik, jika Laura tak ada, bagaimana?


"Ah, tenang saja. Kita punya gantinya. Dia juga hapal dialognya jadi, jangan khawatir." Ucap Mira kemudian.


"Siapa?" Tanya Hugo. Entah bagaimana perasaannya mulai tak enak.


"Sebentar lagi dia akan datang. Bersiaplah, lima menit lagi kita akan mulai."


"Apa dia orangnya?" Seseorang menunjuk kearah pintu masuk dimana gadis cantik berambut panjang hitam berjalan dengan gugup.


Hugo menegang. "Erine?" Gumamnya saat melihat gadis itu masuk ke ruang ganti.


Buru-buru Hugo mengeluarkan ponsel dan menelepon Richi. Sialnya, gadis itu tak mengangkat teleponnya.


TBC

__ADS_1


**70 like utk up bab baru**


Ei, udah pada baca Syahdu belom?


__ADS_2