Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
S2 - Obsesi Erine


__ADS_3

"Chi, aku cari kemana-mana, rupanya disini." Hugo datang dengan gulungan kertas di tangannya. Dia menatap anak kecil yang asyik makan eskrim disebelah kekasihnya.


"Siapa dia, kak?" Tanya Willy pada Richi, menunjuk Hugo yang berdiri menjulang di depannya.


"Aku kekasihnya. Kenapa? Kau mau merebutnya dariku?"


Richi sampai mendelik mendengar jawaban Hugo. Padahal yang bertanya hanya anak kecil.


"Tapi kakak tidak cocok dengan kakak itu." Ucap Willy pada Richi yang spontan membuat Richi tergelak, namun Hugo mulai memasang wajah kesal.


"Tidak cocok apanya! Perhatikan wajahku." Hugo menunjuk wajahnya sendiri. "Cuma wajah inilah yang cocok bersanding dengan dia, kau tahu!"


"Tapi kakak tidak tampan."


Mata Hugo sampai membelalak. Baru ini ada orang yang bilang kalau dia tidak tampan. "Hei, aku ini tampan. Aku model terkenal, tahu!"


"Tidak tahu. Aku tidak pernah lihat." Jawab anak itu terus terang, semakin membuat Richi tertawa riang.


"Ck! Anak siapa sih, yang lepas ini!" Decak Hugo kesal. "Sayang, katakan padanya kalau aku ini tampan dan kau mencintaiku!" Rengeknya pada Richi.


"Anak kecil memang selalu jujur, Hugo. " Richi malah tersenyum manis setelah mengatakan itu.


"Berarti kakak juga merasa kakak itu tidak tampan, kan?"


"Apa kau bilang?!" Kesalnya Hugo terlihat serius.


"Hugo, sudahlah. Ini cuma anak kecil." Dia menarik tangan Hugo supaya duduk disebelahnya.


"Kau tahu kelompok Blackhole?" Tanya Richi.


"Tidak. Apa anak ini dari Blackhole?"


"Lebih tepatnya korban penculikan Blackhole. Tadi dia lari dan aku menyelamatkannya."


"Benarkah?" Hugo memperhatikan anak itu dengan seksama. "Berapa umurmu?"


"Kurasa 10 tahun, beberapa bulan lagi." Jawab Willy.


"Lalu, mau diapakan dia?" Bisik Hugo pada Richi.


Richi tampak berpikir. Dia juga tidak tahu. Tapi, anak ini harus diamankan terlebih dahulu.


"Willy, apa kau mau ikut kakak ke suatu tempat?" Tanya Richi.


"Kemana, kak?"


"Eemm.. kakak berencana membawamu ke panti sosial."


"Mau, kak, mau!"

__ADS_1


Richi mengacak rambut anak itu. "Bagus. Ayo."


Willy menggandeng tangan Richi, berjalan mengikuti kemana gadis itu pergi.


"Hei, mobilku hanya untuk dua orang." Tukas Hugo.


"Aku tahu. Makanya dia akan aku pangku."


"Apa?? Tidak bisa." Hugo melempar kunci mobil dan reflek Richi menangkapnya.


"Kau yang bawa mobil, aku yang memangkunya." Hugo menarik tangan Willy dan berjalan menuju mobil.


"Dia cuma anak kecil, astaga." Keluh Richi yang berjalan dibelakang Hugo.


"Walau kecil, dia ini laki-laki. Aku sangat tahu apa yang ada dipikiran laki-laki."


"Kau dulu kecil mesum, ya." Tuduh Richi.


"Apa?"


"Buktinya kau menuduh anak ini seperti yang ada dipikiranmu."


"Aku hanya tidak suka kau memangku laki-laki. Atau begini saja, bagaimana kalau anak ini yang menyetir dan kau kupangku."


"Haah, dasar gila." Richi berlalu sambil menggelengkan kepala, pusing menanggapi Hugo yang saat ini malah mengakak senang dengan ekspresi Richi.


~


"Kau kenapa, sih?" Protes Eline. Sebab dari tadi dia bercerita tetapi Erine tak menanggapinya.


Gadis itu lagi-lagi tak menjawab. Dia langsung turun setelah sampai di kontrakan mereka. Ya, ketiga kembar itu memilih mengontrak rumah di dekat kampus daripada pulang lagi ke kota asal yang jaraknya mencapai satu jam perjalanan.


Erine masuk ke dalam kamar, diikuti Eline dari belakang yang masih mengomel padahal kakaknya itu tidak mendengarkannya.


"Apa karena kau sekelas lagi dengan Hugo??"


"Tidak ada kaitannya kesana." Jawab Erine sembari membuka sepatunya. "Cepat keluar!"


Eline malah duduk di tepi tempat tidur Erine. "Sudah kubilang, aku akan membantumu bersama Hugo. Itu bukan perkara besar. Kuyakin kau bisa."


"Pergilah." Erine mencampakkan sepatunya dengan asal.


"Aku tahu kau begitu menyukai Hugo."


"Itu hanya perasaanmu saja."


"No-no. Aku tahu." Eline menunjuk pintu yang ada di dalam kamar Erine.


"Itu, kenapa kau melarangku masuk ke dalam ruang itu, karena ada sesuatu, kan?"

__ADS_1


Erine hanya menggeleng kecil, dia malas menanggapi ucapan Eline.


"Aku tahu. Lihat!" Eline mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah majalah TheMost.


"Aku menemukan ini di tumpukan sampah depan sana."


Mata Erine membulat. Dia langsung berdiri dari tempatnya.


"Aku melihat, kau membuang ini tengah malam dan kau tahu, fakta apa yang kutemukan??" Eline membuka majalah itu. Beberapa bagian dalamnya sudah digunting dan bolong membentuk sesuatu.


"Ini halaman dimana Hugo berpose. Ya, kan? Kau menggunting ini dan menyimpannya?"


BRAK! Eline menendang pintu ruangan itu hingga terbuka. Dia masuk dan menarik satu lembar kertas yang tertempel di dinding.


"Lihat!" Eline menunjukkan selembar foto Hugo dari halaman majalah TheMost dan sontak hal itu membuat Erine berang.


Dia mencengkram erat kerah baju Eline dan menyandarkannya ke tembok dengan kasar.


"Sudah kubilang jangan sentuh barang-barangku!"


"Aku akan membantumu, Rin. Aku janji, aku tidak akan membiarkanmu menahan perasaan sendirian."


Erine semakin memperketat cengkramannya. "Kau sengaja kan, menyuruhku menunggu disana!"


"Iya. Aku sengaja karena aku lihat dia berhenti disana. Supaya dia mengajakmu pergi bersamanya."


Erine menyeret dan mendorongnya keluar kamar. "Dia bersama Darrel! Kau sengaja membuatku melihat mereka berciuman di dalam mobil? Sialan!" Maki Erine kemudian membanting pintu.


"Erine. Sumpah, aku tidak tahu. Buka pintunya!" Teriak Eline dari luar, tapi gadis itu sudah tidak peduli.


Tangannya masih mengepal keras. Dia marah atas apa yang saudari kembarnya lakukan padanya.


Erine mengambil kertas yang jatuh di lantai. Dia masuk ke dalam ruang kecil dan menempelkan kertas itu lagi di dinding.


Dia menatapi semua deretan foto Hugo yang sengaja ia tempel diseluruh tembok.


Ya, dia sangat-sangat menyukai laki-laki itu. Sejak waktu itu, dia menyadari perasannya tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Terlebih orang yang dipacari oleh Hugo adalah Darrel, bukan perempuan sembarang.


Erine membaringkan tubuhnya diatas lantai. Bayangan Hugo berciuman di dalam mobil membuat perasaannya tidak tenang.


Lagi, darahnya berdesir. Bagaimana pun cara Hugo mencium kekasihnya sangat seksi di mata Erine. Dia sampai mengigit bibirnya sendiri.


"Bagaimana kalau aku yang ada diposisi itu?" lirihnya sembari menyentuh bibir. Bayangan perlakuan seksi Hugo tadi terus muncul di pikirannya.


"Sial. Aku sangat membencimu, Hugo. Aku membencimu sekarang. Bagaimana kau bisa membuat ciuman yang seperti itu.."


Mata Erine menatap ke atas. Menatapi Foto Hugo yang seolah juga tengah menatap dirinya. Tangannya naik seperti menggapai, dia terus mengkhayal, bagaimana rasanya jika dialah yang menjadi kekasih Hugo. Jika dialah yang tadi dicium oleh Hugo saat di dalam mobil itu.


__ADS_1


TBC


**50likes buat update bab selanjutnya ya😆😆😆


__ADS_2