
Richi duduk di lapangan basket di rumahnya. Tangannya mencabuti rumput kecil yang mulai tumbuh di sana, tetapi pikirannya melayang kepada Hugo yang tadi mengajaknya berkencan.
Padahal Hugo sudah menutupinya dengan berbagai macam pertanyaan, tetapi tidak mampu menepis bahwa ucapannya di awal sudah tertangkap di telinga Richi dan sekarang, gadis itu malah kepikiran.
Karena ucapan Hugo itu, Richi jadi mengingat potongan kejadian-kejadian dirinya bersama Hugo. Terlebih saat penculikaan Hugo.
Richi tiba-tiba berdiri, dia seperti teringat sesuatu. Hugo memeluknya dengan erat.
Ya, Richi yang dalam kondisi panik tidak begitu memperhatikan, tetapi dekapan Hugo memang mengisyaratkan sesuatu. Apalagi saat mereka bertatapan, bahkan Richi ingat napas berat Hugo terhempas di wajahnya, sangat dekat.
Richi menahan napasnya, dia frustrasi kenapa hal seperti itu dia bahkan tidak ingat. Apa karena hal seperti itu yang akhirnya membuat Hugo menyukainya? Ah tidak, Richi menggelengkan kepalanya.
PLAK!
Kepala Richi terhantam bola basket.
"Assshialaannn!" Bentaknya dengan keras kepada Ricky yang tertawa terbahak-bahak melihat adiknya kelimpungan karena dia menghantamnya dengan keras.
"Hei, kau sedang apa, ha?" Tanyanya sambil memegang perut karena geli mengingat Richi seperti orang tidak waras disana.
Richi tidak menjawab, dia terlihat sebal. Padahal hatinya pun masih bingung dan terasa mulai berbeda saat memikirkan Hugo, Ricky malah menjahili di saat yang tidak tepat.
Richi mengambil bola dan langsung menimpuk gantian ke arah kakaknya yang masih saja terkekeh.
"Sorry, jangan marah, dong." Ucap Ricky lalu menghampiri adiknya.
"Oberon's day yang membuatmu bingung mau ajak siapa, betul?" Tebak kakaknya yang sok tahu.
Richi memicingkan mata, sejak kapan dirinya peduli tentang pesta?
"Jadi kau mulai gamang karena tidak tahu harus memilih Hugo atau Emerald?"
Richi mendesah kesal, kakaknya lagi-lagi sok tahu.
"Saranku, pilih saja Emerald. Karena dia lebih berkelas, lebih baik, dan berkharisma tentunya". Jelas Ricky.
"Kenapa tidak kau saja yang berpacaran dengannya?"
"Apa? Hei kau pikir aku tidak normal?" Gerutu Ricky.
"Aku ingin sekali menghajar kepalamu itu." Ungkap Richi tiba-tiba.
"Wah, kau mulai kurang ajar!" Ricky mulai memasang kuda-kuda.
Richi langsung menyerang kakaknya dengan teknik MuayThai sementara kakaknya menyerang dengan Tinju. Mereka berkelahi di lapangan basket. Melihat itu, para pegawai terkejut dan berlari melapor pada tuannya yang tengah asyik minum teh di ruang utama mereka.
"Biar saja." Begitu respon tuan Wiley saat mendengar aduan dari pelayan di rumah.
"Biar saja apanya!". Berbeda dengan Mary yang langsung bergerak ke arah lapangan belakang rumah mereka.
__ADS_1
"Richi! Ricky! Apa-apaan ini!" Teriak Mary melihat Richi yang sudah mengunci leher kakaknya, sementara Ricky sudah siap dengan kaki yang akan membanting adiknya kebelakang.
"Lepas! Cepat lepas!" Mary menjewer dan memukul Ricky.
"Aduh, aduh, Ibu." Ricky meringis karena Mary menarik anak rambut di dekat telinganya.
"Ibu apa, sih. Jelas-jelas Richi mengunci leherku!" Teriak Ricky tak terima.
"Tapi kau mau membanting adikmu, kan! Dasar kau. Pasti kau duluan yang mengganggu. Ibu tahu betul perangaimu!" Omel Mary sambil terus memukul Ricky tanpa ampun.
Wiley menggeleng kepala melihat Ibu dan anak di lapangan itu. Richi hanya tertawa penuh kemenangan.
"Richi, sini sebentar." Wiley memanggil Richi dan diapun mendekat.
Wiley merangkul anaknya dan berjalan menuju suatu tempat.
"Sudah lama Ayah lihat, kau sudah banyak berubah, tidak berkelahi dan menjaga emosi." Kata Wiley tiba-tiba yang membuat Richi merinding. Bagaimana kalau Ayahnya tahu apa yang dia lakukan terkahir? Masuk ke markas Stripe dan menghancurkan mereka disana.
"Jadi, Ayah akan mengembalikan hakmu". Ucap Wiley yang membuat Richi mengerutkan alisnya.
"Apa itu, yah?"
Wiley mengajaknya menuju garasi. Dia lalu memberikan kunci kepada Richi.
Mata Richi terbelalak berbinar melihat kunci menggantung di jari Ayahnya.
"Serius. Kau sudah menjadi anak ayah yang baik. Jadi, kau bisa memakainya lagi".
Richi langsung memeluk ayahnya dan banyak-banyak mengucapkan terima kasih, Richi juga berharap semoga apa yang ia lakukan kemarin tidak terbongkar dan membuat ayahnya kecewa padanya.
Richi langsung menaiki motor sport miliknya. Dia tertawa riang, bahkan sudah tidak ingat amarahnya pada Ricky.
"Senang sekali, kau!" Gerutu Ricky tiba-tiba.
Richi hanya cengengesan, dia langsung mengeluarkan motornya dan keluar untuk berkeliling.
Motor Sport berwarna merah miliknya itu mulai keluar dari gerbang utama rumahnya. Wajah cerahnya sama sekali belum luntur sampai sesuatu di depan gerbang membuatnya terkejut.
"Hugo?"
Hugo terperangah, dia tak sangka Richi keluar padahal dia baru saja sampai.
Hugo sendiri bingung, entah apa yang dia lakukan sore-sore begini di rumah Richi. Setelah mengatakan kencan tadi, hatinya pun tak tenang dan dia berpikir dengan berjalan-jalan, hatinya akan membaik. Tidak tahunya, dia malah sampai di depan rumah Richi.
"Ah, aku hanya lewat. Tak sengaja sampai sini". Hugo langsung mengutuk dirinya, bagaimana mungkin jawaban seperti itu bisa diterima. Tidak masuk akal.
Tetapi Richi hanya mengangguk. Walau dia sendiri tengah canggung karena pengakuan Hugo disekolah tadi.
"Kau mau pergi?" Tanya Hugo lagi.
__ADS_1
"Hanya berkeliling saja."
"Kau motor baru?" Tanya Hugo saat tersadar Richi mengendarai motor berwarna merah.
"Tidak, ini motor lamaku. Setelah sekian lama akhirnya diizinkan lagi". Ucapnya lalu tersenyum cerah karena mengingat momen saat Ayahnya memberikan kunci tadi.
"Mau balap?" Tantang Richi.
"Apa? Kau sedang menantang ketua Stripe, lho". Ujar Hugo karena siapapun tahu, Stripe selalu balapan motor.
Richi tertawa. "Bercanda. Aku baru saja mendapatkan ini kembali, tidak mungkin aku membuat masalah". Ucapnya.
Richi menyalakan motornya lagi lalu berjalan perlahan, Hugo mengikuti disebelahnya.
"Jadi, kau akan pergi sekolah naik itu?" Tanya Hugo dengan nada yang sedikit naik supaya Richi mendengarnya.
"Tidak. Aku tetap diantar."
Hugo tiba-tiba teringat sesuatu.
"Richi, bisa bicara sebentar?"
Richi terdetak. Dia sedikit berpikir Hugo akan mengajaknya berkencan lagi.
Hugo menghentikan motornya di tepi jalan komplek yang sepi, Richi mengikutinya.
"Apa?" Tanya Richi dengan hati yang mulai bergetar.
"Begini, Aku dengar dari anggotaku, kalau kau bagian dari Valiant."
Richi membuang napasnya, Hugo tidak menyenggol apapun soal tadi. Dia memegang hatinya yang agak lega juga kecewa. 'tunggu Apakah Aku kecewa?' batinnya, Dia menepis pikirannya.
"Apa begitu? Mungkin dia salah". Sanggahnya.
"Begitu ya, tapi kenapa aku percaya padanya. Dia bilang kau Darrel dari Valiant. Bukankah Clair juga memanggilmu Darrel?"
Richi diam sejenak, dia berpikir apakah dia bisa menyembunyikan itu lagi?
"Apakah itu sesuatu yang penting?"
Hugo sedikit menunduk dan menimbang. Terjadi sesuatu padanya dua tahun silam, dia ingin menanyakan seorang pria dengan kemampuan tinju yang mumpuni saat melawannya dulu. Dia sampai sekarang sangat penasaran, juga tidak menemukan pemain tinju sepertinya selama dia bertanding.
"Tidak begitu. Maaf sudah bertanya yang aneh-aneh."
"Tidak apa". Jawab Richi.
"Kau datang ke acara Oberon's day?" Tanya Hugo lagi. Pertanyaan yang mampu membuat Richi terbelalak dan terlihat ragu-ragu.
"A-aku.." Richi tidak bisa menjawab. Entah mengapa jantungnya berdegub kencang, padahal Hugo tidak sedang mengajaknya berkencan.
__ADS_1