
"Kau juga tinggal disana, rupanya". Gumam Hugo, lalu melirik Shera sekilas.
"Shera, kau masih sadar?"
"Hm.."
"Kau menjadi asisten pribadi Harry, apa dia merencanakan sesuatu pada gadis itu?" Tanya Hugo dengan hati-hati. Sepertinya Shera masih sadar dan bisa saja dia mengingat pertanyaan Hugo hingga berakhir kecurigaan.
"Hm, ya." Jawabnya lalu meringkuk di atas kursinya.
"Apa dia mencintai gadis yang kau katakan itu? sialan dia!" maki Hugo.
"Aku ingin sekali menghajar perempuan itu. Tapi aku takut Harry mencampakkanku." Lirihnya lalu memasang wajah sedih.
"Hei, matikan AC-nya. Dingin.." Gumam Shera, lalu Hugo menurutinya.
"Katakan rencana Harry pada perempuan itu!" Tukas Hugo lagi.
"I don't know." Jawabnya lalu menutup lagi matanya. "Hugo, kau yakin tidak mau membawaku ke hotel?" Tanyanya entah sadar atau tidak.
"Tidak, kau seorang gadis, jagalah dirimu baik-baik."
Shera menatap Hugo yang menyetir dengan tenang.
"Kenapa kau menatapku begitu?" Lirik Hugo pada Shera yang terus melihat ke arahnya.
"Aneh, biasanya lelaki selalu mau jika aku menawarkan diri." Gumamnya dengan suara yang berat.
"Astaga, kau ini benar-benar luar biasa!"
Hugo lalu menghentikan mobilnya di depan lobi dan memanggil seorang karyawan wanita, meminta mereka untuk mengantar Shera ke apartemennya.
"Ayolaah, naikk.." pinta Shera yang kedua tangannya sudah di papah oleh 2 orang karyawan.
"Hubungi aku jika kau sudah sadar." Ucap Hugo lalu menaiki lagi mobilnya.
"Hah, aku ragu-ragu bertanya. Khawatir dia ingat.." gumamnya lalu menjalankan mobilnya lagi.
~
Bella mengetuk-ngetuk jarinya, kini dia duduk di sebuah Bar yang tidak ada pengunjungnya.
Harry datang, dia membenarkan posisi kacamatanya dan duduk disebelah Bella.
"Apakah aku lama?"
Bella menggelengkan kepala, "tidak. Aku hanya heran kenapa tidak ada orang disini."
Harry tertawa halus. "Memang, aku sengaja mengosongkannya supaya aku bisa minum sampai puas." Ucapnya lalu menuju belakang meja bartender dan mulai membuat minumannya.
"Kau biasa ke tempat seperti ini, kan?" Tanya Harry dan Bella mengangguk.
"Kau mau lihat kemampuanku membuat minuman?" Tawar Bella pada Harry yang ternyata hobi mabuk-mabukan.
Harry menaikkan alisnya. "Kau seorang bartender?"
Bella berjalan masuk ke belakang meja bartender. "Duduklah dengan tenang, aku akan membuatkanmu minuman racikanku".
__ADS_1
Harry tersenyum lalu duduk di depan meja bartender.
"Lihat baik-baik." Bella lalu menuangkan Vodka, meletakkan daun mint dan bahan lainnya, lalu mengocoknya di dalam cocktail sheeker.
Bella menuangkannya di dalam gelas berisi es batu lalu memberikannya pada Harry.
"White tea Pimm's, silakan." Ucapnya, lalu Harry mencoba minuman yang dibuat Bella.
"Hm, segar sekali. Kau meletakkan apa di dalam?"
Bella tersenyum miring, "Rahasia.."
"Wah, aku kagum padamu." Ucapnya sembari bertepuk tangan.
"Bella, bisa aku menghubungimu jika ingin minum?"
Bella membusungkan tubuhnya ke depan Harry yang duduk di hadapannya. "Kau berani membayarku berapa, hm?" Tanyanya lalu Harry tertawa lebar.
"Kau tenang saja, aku mampu memberimu apapun." Tawa Harry.
"Tapi jika kulihat, kau ini bukan tipe lelaki yang kuat minum ya, Harry."
"Wah, aku ketahuan." Ucapnya lalu meneguk lagi minuman buatan Bella. "Buatkan aku satu lagi, yang lebih enak dan memabukkan, supaya kepalaku meledak dengan cepat"
Bella mengangkat alis, "tentu." Ia pun memulai aksinya, duduk di atas meja lalu meracik minumannya.
"Silakan.." suguhnya pada Harry.
Harry meneguk minumannya, lalu dia sedikit terkejut.
"Apa ini? Terasa agak panas."
Lelaki itu tersenyum melirik Bella, lalu meminum lagi sampai mengosongkan gelas dan membuat Bella terkaget.
"Hei, tuan Harry, minuman itu bukan untuk langsung diteguk!" Ucapnya lalu kepala Harry tergeletak di atas meja.
"Eh? Sudah roboh." Bella mengetuk-ngetuk kepala Harry. "Tuan Harry, apa kau masih sadar?"
"Hm.." respon Harry lalu perlahan mengangkat kepalanya.
"Kau melakukan sesuatu yang berat ya, belakangan ini?" Tanya Bella di telinga Harry.
"Ya.. begitulah.." Jawabnya dengan suara berat namun matanya terpejam.
"Wah, kau hebat. Apa itu?"
"Penghancuran kota besar-besaran.." Racaunya lalu kepalanya tergeletak lagi di atas meja.
"Kapan?"
"Hmm.. minggu depan."
Bella membelalakkan matanya. "Minggu depan? Gila, sebentar lagi rupanya!" Gumam Bella.
"Hei, apa yang terjadi? Kau melakukan apa, ha?" Bella mengguncang tubuh Harry dan lelaki itu sudah tak bergerak.
"Hah, sial. Nanggung sekali. Kau sih, kenapa langsung diminum sekaligus!" Pekiknya pada Harry.
__ADS_1
Bella keluar dari Bar itu dan menghampiri penjaga di depan.
"Tuanmu mabuk, aku harus pergi, tolong sampaikan maafku tidak bisa menemaninya sampai akhir." Ucap Bella lalu dengan cepat ia pergi, mencari taksi, dan menelpon Richi.
~
Richi tengah membaca novelnya, lalu ponselnya bergetar.
"Bagaimana?" Tanyanya langsung saat tahu siapa yang menelpon.
"Kau tahu tidak, waktumu hanya 6 hari untuk menggagalkan misi Stripe." Ucap Bella berbisik dari teleponnya.
"Apa kau bilang?"
"Aku tidak mendapatkan info lain. Yang jelas, seminggu lagi dia akan menghancurkan kota. Cepat susun rencana barumu!" Ucapnya lalu memutuskan sambungan telepon.
Richi menutup novelnya dan langsung berlari ke kamar kakaknya.
"Kak, buka.. cepat buka!" Gedornya dan tidak ada respon.
Richi berlari lagi menuju ruang kerja Ricky. Tanpa mengetuk, dia langsung masuk dan mendapati Ricky merokok di dalam ruangannya.
"Sejak kapan kau merokok?"
Ricky buru-buru memadamkan rokoknya. "Kau tidak bisa ketuk dulu?"
Richi langsung duduk, mengabaikan ucapan kakaknya. "Sudah berapa bom yang berhasil di nonaktifkan?"
"Sisa 2 lagi. Keduanya di gedung David Erhard."
Richi menggigit bibirnya. "Apa sudah cek di gedung Ayah yang lain?"
"Sudah, tidak ada. Kami juga sudah menyelidiki kepemilikan helikopter yang sempat kita lihat."
Richi membulatkan matanya. "Lalu?"
"Itu milik David Erhard."
"Apa?"
"Aku tidak tahu, helikopter itu milik perusahaannya yang sekarang sedang kami usahakan untuk menemukan bomnya. Jika dia ada dibaliknya, kenapa dia menghancurkan semua gedung miliknya?"
Richi tak bergeming. Dia tidak tahu harus merespon seperti apa.
"Kau yakin, kak?"
Ricky mengangguk. "Ya, helikopter itu bahkan sekarang berada di Brizen Hills, gedung apartemen miliknya."
"Ja-jadi.."
"Apa? Kita tidak punya bukti apapun. Petunjuk juga berhenti disitu. Intinya, kapanpun mereka mulai penghancuran, gedung-gedung itu sudah aman." Ucap Ricky lalu membuka laptopnya.
"Coba katakan padaku, apa misimu? Lalu sudah sejauh apa?"
"Aku belum bisa mengatakannya. Beberapa hari lagi, akan aku kabari." Ucapnya lalu meremas kedua tangannya, merasa bingung dengan apa yang baru saja Ricky sampaikan.
'Brizen Hills, bukankah Harry juga tinggal disana?' batinnya lalu beranjak dari ruang kakaknya.
__ADS_1
Richi berjalan perlahan menuju kamarnya, 'Hugo, apa dia tahu tentang ini? Ah, sial. Kenapa aku jadi curiga padanya!'
TBC