
Tanpa Kata, wajah Ricky sudah menatap tajam ke arah Richi yang paham betul kakaknya menagih penjelasan.
"Apa yang dikatakan laki-laki itu benar. Aku tidak tahu tentang lainnya, yang jelas mereka menyekapku kemudian aku melawannya. Sampai begitu saja, setelah itu Hugo membantuku dan kami keluar dari sana."
"Apa itu bagian dari rencanamu itu?"
"Bukan, itu lain cerita. Aku tidak tahu kalau ada kelompok yang mengincarku." Jawabnya sungguh-sungguh, menatap kakaknya yang duduk ditepi meja ruang pribadinya.
"Bukan. Lelaki yang bersamamu itu, apa juga bagian dari rencanamu? Terakhir yang kutahu, kau bilang tidak menyukainya dan tidak ada hubungan apapun bahkan tak berteman."
Richi diam, dia tidak bisa menjelaskan masalahnya pada Ricky.
"Kau tahu dia siapa? Kau hanya ditipu karena dia.."
"Halah, kenapa sih, tidak suka begitu pada Hugo sampai tidak mau menyebut namanya? Aku tahu, semua yang mau kakak katakan, aku tahu. Sudahlah, jangan urusi privasiku!" Richi berdiri dari tempatnya. Suasana hatinya mulai buruk karena kakaknya yang mencampuradukkan masalah privasinya dengan misi Valiant.
"Hei, kau dengarkan aku. Duduk!" Titahnya, dengan wajah cemberut Richi menurut.
Ricky membuang napas panjang. "Bisa-bisanya kau sekarang tidak berpikir jernih hanya karena ada perasaan pada lelaki itu!"
Ricky duduk berhadapan dengan Richi, memandangnya lekat-lekat.
"Kau tahu, dia dan seluruh keluarganya terlibat ke dalam misi penghancuran kota besar-besaran. Kau tahu saudara tirinya? dialah dalangnya. Dan yang harus kau tahu, kekasihmu itu salah satu orang yang ahli dalam merakit bom." Ricky melembutkan suaranya, berharap adiknya mau membuka mata dan tidak tertipu oleh lelaki itu.
"Apa?" Richi membulatkan matanya, "Dari mana kakak tahu itu?"
"Kau lupa siapa aku, ha?"
"Bisa saja kakak salah informasi. Aku percaya kalau saudara tirinya itu ikut serta atau ayahnya atau siapalah. Tapi aku yakin, dia takkan mungkin seperti itu. Bisa saja kan, dia tidak diikut sertakan?" Richi berusaha mengalihkan pikirannya dari pemikiran buruk terhadap Hugo.
"Astagaa!!" Ricky berdiri dan mulai geram. "Kau ini sudah cinta mati ya, sama lelaki itu. Ayolaah, Gunakan pikiranmu dengan benar, jangan pakai perasaan!!" Pekik Ricky berang pada adiknya yang ternyata tidak bisa dilembutkan.
"Sudahlah, aku tidak percaya. Kakak sejak awal memang tidak suka kan, pada keluarganya. Aku mau tidur!" Richi bangkit dan langsung keluar.
"Hei, Richi!!" bentak Ricky dan hanya mendapat suara pintu yang keras dari Richi, membuatnya semakin berang.
Sementara Richi menelungkupkan badannya di atas tempat tidur, "Apa benar yang dikatakan kak Ricky?" Gumamnya. Lalu ponselnya bergetar, Hugo yang menelepon namun dia tiba-tiba enggan menjawab.
"Apa aku yang belum terlalu mengenalnya?" Ucapnya lalu memendamkan wajahnya di bantal.
"Hah.. walau baru beberapa bulan, tapi terasa seperti sudah mengenalnya bertahun-tahun.."
Ponsel Richi bergetar lagi, tetapi dia benar-benar tidak ingin menjawabnya.
Tak lama, datang pesan masuk dari Hugo.
'Chi, apa sudah sampai? Obatnya jangan lupa diminum. Pakaian dan sepatumu akan dicuci dulu sebelum kupulangkan. Kalau sudah senggang, hubungi aku ya๐ค'
Richi menatap layar, membaca pesan Hugo membuatnya semakin yakin lelaki itu tidak mungkin terlibat penghancuran kota.
Richi lalu duduk di atas tempat tidur, memeluk bantal namun matanya menatap ke depan. Bagaimana jika memang Hugo terlibat? Lalu, apakah selama ini dia mengorek informasi darinya? Tapi.. jika benar dia terlibat, bukankah Hugo seharusnya bersikap biasa saat dia mendekati Harry?
Richi membuang napas kasar, dia tidak tahu harus berbuat apa sebab pikirannya mulai kacau.
Dia memilih keluar mencari Sun, pelayan yang sering membantunya berdandan.
"Sun!" Panggilnya pada pelayan yang berusia 19 tahun itu tengah cekikikan dengan orang yang diteleponnya di sebelah kolam renang.
"Sun!" Panggilan kedua, pelayan itu masih tak mendengar panggilan Richi.
"Sunny!" Teriak Richi dengan keras dan Sunny langsung menutup ponsel dan berlari ke arah Richi.
"Ya ampun, Nona. Kenapa teriak-teriak.." Ucapnya sambil berjalan cepat menuju Richi. Sunny salah satu pelayan yang sering berhadapan dengan Richi, dia juga pelayan yang terbilang berani bicara terang-terangan pada anak majikannya itu.
"Ke kamarku sekarang!" Titahnya lalu berjalan menuju kamar diikuti Sun dari belakang.
"Kunci pintu dan cepat kemari." Richi memberi sebuah salep pada Sunny dan dia membuka bajunya.
"Haahh!" Sunny menganga melihat lebam panjang di belakang tubuh Richi.
"Cepat olesi itu." Titah Richi lalu duduk di atas ranjangnya.
Sunny duduk di belakang, dan mulai mengolesi lebamnya.
"Non, ini kenapa? Kok bisa begini? Sudah berobat? Ini kalau Ibu tahu bahaya ini."
"Ya jangan sampai tahu. Kalau dia tahu, berarti gara-gara kau. Awas saja". Ancam Richi.
"Tenang, aman kalau sama saya."
"Aduh, pelan-pelan, dong!" Richi tersungut.
__ADS_1
"Lho, padahal pelan sekali ini." Jawabnya langsung. "Nona Richi sudah punya kekasih, ya. Saya lihat sering senyum-senyum sendiri. Duh, senang lihatnya. Tuan Ricky juga begitu, sering teleponan dan senyum-senyun sendiri."
"Ricky teleponan sama siapa??" Tanya Richi penasaran.
"Mana saya tahu, Non. Kalau saya tanya, bisa-bisa saya di Smackdown." Jawabnya lagi.
Richi menatap ke langit-langit. Kakaknya ternyata punya kekasih, malahan diam saja. Padahal biasanya dia ribut dan suka curhat tidak jelas pada Richi.
"Sudah, Non. Saya pamit." Sunny keluar dan menutup pintu sementara Richi masih termenung di tempatnya.
"Kenapa ya, kok dia tahan tidak curhat padaku. Biasanya hebih recok kalau masalah pacar." Richi sebenarnya ingin menemui kakaknya dan bertanya banyak hal, namun karena pertengkaran tadi, dia mengurungkan niatnya dan memilih bersih-bersih kemudian istirahat.
...๐ฅ...
Richi dan Emerald tengah asyik bermain basket, sementara Hugo menatapnya dari lantai dua. Dia terlihat tidak suka, hanya saja dia benar-benar harus menahan diri. Apalagi gadis itu dari tadi pagi terus memegang ponsel tapi tidak menjawab pesan maupun teleponnya dari kemarin sore.
Richi tertawa saat bola terlempar ke kepala Emerald. Tawanya terhenti saat matanya menangkap Hugo dengan wajah dingin. Sekilas teringat ucapan Ricky tentang Hugo yang seorang perakit bom. Apa benar Hugo yang merakit semua bom itu? Lalu kenapa dia ikut menghancurkan perusahaan ayahnya?
Ricky pula terlihat benar-benar marah karena dia tidak mau bicara bahkan menatap Richi.
Pagi tadi saat sarapan, Ricky sedikit bicara. Itupun membahas masalah bisnis dengan Ayah. Padahal Richi sudah memancing cerita lucu, namun hanya Ibu dan Ayahnya yang merespon. Ricky hanya diam dan fokus dengan makanannya. Setelah itu, dia langsung pergi ke kantornya tanpa melihat maupun bicara pada adiknya. Padahal, dia tidak pernah lepas menjaili Richi, tiada hari tanpa menggoda Richi.
Melihat sikap kakaknya membuat Richi terus berpikir, kemarahan Ricky bukanlah hal yang wajar baginya. Biasanya, walau bertengkar, beberapa menit kemudian akan akur lagi. Jika Ricky bahkan tak mau melihatnya, Artinya dia serius dengan informasi yang ia dapatkan mengenai Hugo, dan itu benar-benar membuat Richi perlahan ragu pada Hugo.
Tapi melihat sikap Hugo padanya, rasanya tidak mungkin lelaki itu berkhianat. Jika benar dia perakit bom, kenapa dia tidak cerita dan malah terkejut saat Richi cerita tentang bom yang dipasang Harry diperusahaan ayahnya?
Richi mengalihkan pandangan, dia tidak melanjutkan permainannya dan memilih pulang.
Di depan, dia melihat Harry berdiri di dekat mobilnya. Lelaki itu tampak rapi di jam pulang sekolah dengan kacamata yang bertengger di batang hidungnya.
"Sudah pulang? Mau menemaniku sebentar?" Dia tersenyum ramah, lalu membukakan pintu untuk Richi.
Gadis itu masuk tanpa kata-kata. Sekilas dia melihat Hugo yang berdiri jauh di pintu masuk utama. Mata lelaki itu melihat dengan sendu ke arahnya. Hal yang demikian membuat Richi kembali mengingat ucapan kakaknya. Hugo, apa benar kau yang melakukan itu?
Helaan napas Richi terdengar ditelinga Harry.
"Ada apa, Richi?"
Richi menarik senyum tipisnya. "Tidak ada. Aku hanya lapar." Jawabnya asal.
"Aku akan membawamu kesuatu tempat." Ucapnya lalu menatap ke depan dengan senyuman yang dalam. Entah mengapa, mungkin Harry merasa amat bahagia saat ini.
"Aku merindukanmu. Kau sudah baik-baik saja, kan?" Harry bertanya tanpa melihat, pandangannya terus ke depan dengan senyuman yang belum pudar.
Jawaban singkat Richi membuat Harry menoleh padanya. Gadis itu tidak bisa menyembunyikan raut sedihnya saat berhubungan dengan Hugo.
"Apa sesuatu tengah terjadi?"
"Tidak ada, aku hanya merasa perlu berterima kasih karena sudah merindukanku."
Harry tertawa kecil. Dia lalu mengusap kepala Richi. "Kau benar-benar gadis imut. Kau tahu, sejak awal aku sudah menyukaimu dan feelingku benar-benar tepat, karena kau tipe gadis yang sudah kugambarkan sejak dulu."
"Dulu, saat aku sedang akrab dengan Hugo, kami menggambarkan gadis kesukaan kami. Saat itu, aku menggambarkan gadis yang mirip dengan Ibu, gadis yang berjalan dengan anggun, yang benar-benar bergantung padaku sebagai kekasihnya." Senyum lebarnya merekah lagi. Pandangannya menerawang jauh mengingat masa kecilnya.
"Itu sebabnya saat melihatmu, aku langsung berkata, 'ah.. ini dia yang kucari' ." Harry terkekeh sendiri. "Kau tahu apa yang Hugo gambarkan? Aneh sekali, dia menggambarkan gadis yang seperti laki-laki. Gadis yang bisa bermain tinju bersama dirinya. Dia bilang, dia akan mengajarinya bela diri supaya gadis itu bisa menjaga dirinya sendiri. Malah dia menghina tipeku. Katanya, gadis seperti itu akan merepotkan dan bergantung terus menerus membuatnya tidak akan bebas. Aneh sekali, bukan?" Harry menggelengkan kepalanya, dia terus mengoceh tentang masa kecilnya.
"Pada akhirnya, aku dan Hugo sangat berbeda bahkan tentang tipe perempuan. Itu sebabnya kami tidak bisa akur sampai kapanpun."
"Aku rasa kau salah."
Mendengar ucapan Richi, Harry mengerutkan dahinya.
"Hugo menyukai tipe perempuan yang sama sepertimu."
"Bagaimana kau tahu?"
"Bukankah semua kekasihnya adalah perempuan yang berambut panjang dan anggun?" Jawab Richi dengan wajah datar, memikirkan Hugo membuatnya tak enak hati.
Mendengar jawaban Richi, Harry tampak diam saja.
"Dia pasti mempertimbangkan seleramu dan ternyata menurutnya, menyenangkan mempunyai kekasih yang anggun. Dan kau, benar-benar menjadi figur kakak yang membuatnya mencondongkan apapun ke arahmu."
"Walau kalian bukan saudara kandung, tapi tumbuh bersama pasti membuatmu sudah merasa sedarah dan lebih tahu Hugo dari pada siapapun. Walau begitu, hubungan kalian itu murni kakak beradik yang kalau ada masalah, salah satunya pasti siap membantu. Hanya saja, kalian saling gengsi dan tidak mau jujur satu sama lain. Bukan begitu?"
Harry tak menyahut, dia membuang wajahnya menghadap jalan.
Mendengar ucapan Harry tentang dirinya yang pernah akrab dengan Hugo, artinya sebenarnya mereka berdua orang yang saling cocok, hanya saja ada faktor yang membuat mereka berjauhan.
Jadi, apa benar mereka berdua bersekongkol masalah penghancuran Ibu kota?
Mobil berhenti di sebuah restoran mewah. Harry membukakan pintu untuk Richi yang perlahan keluar dan mengikuti Harry masuk ke dalamnya.
__ADS_1
Setelah memilih menu, Harry tampak terus menatap Richi dengan senyuman.
"Berhentilah memandangku seperti itu."
Harry cemberut, dia lalu memainkan tisu di depannya. "Aku sangat suka melihatmu. Ku harap kau juga menyukaiku."
"Aku tidak menyukai lelaki yang suka minum". Jawabnya mencari alasan.
"Benarkah? Aku akan berusaha berhenti."
Richi menopang dagunya di atas meja. "Boleh aku tahu kenapa kau tiba-tiba menjadi alcoholic? Yang kutahu, kau ini lelaki baik budi yang cerdas."
Harry tertawa lebar. "Aku menyembunyikannya pada orang-orang. Tapi tidak denganmu. Kau harus tahu banyak tentangku."
"Sepertinya banyak yang belum aku tahu."
Harry mengangguk. "Perlahan kau pasti tahu dan kuharap kau mengerti. Aku menyukai alkohol sejak Ibuku meninggal dan aku harus tinggal bersama ayahku."
"Jadi, kau menolaknya? Apa lebih suka tinggal bersama Hugo?" Richi mengangkat senyumnya sembari meledek Harry.
"Yah.. seperti yang kau katakan, aku rasa kau ada benarnya. Aku besar bersamanya dan memang sudah seperti sedarah. Sekuat apapun ego kami, tinggal bersama Ayah dan dirinya tetap lebih baik."
Pengakuan Harry barusan membuat Richi tertegun.
"Terima kasih sudah mengingatkanku." Ucapnya lalu menggenggam erat tangan Richi.
Tak sengaja mata Richi menangkap Shera yang berdiri tak jauh dari tempatnya. Gadis itu memakai masker, bersembunyi di balik tembok dan mengepalkan kedua tangan seperti orang yang tengah kesal.
"Bukankah gadis itu asistenmu?"
Harry menoleh ke belakangnya dan tak melihat asistennya.
"Siapa?"
"Shera."
Harry sempat berpikir lalu berdiri. "Tunggu sebentar". Ucapnya dan berjalan ke arah yang ditunjuk Richi.
Perlahan Richi mengikutinya dari belakang, bersembunyi di belakang tembok dan mendengar sayup percakapan kedua orang itu.
"Kenapa kau kemari?" Harry menekan suaranya berharap tidak ada orang yang mendengarkannya.
"A-aku.."
"Sudah aku bilang, kan! Kau tunggu saja disana, aku pasti datang!"
"Kau bohong. Kau lupa waktu kalau sudah bersama gadis itu!" Suara Shera terdengar parau, sepertinya dia menangis.
"Astaga. Apa salahnya menunggu? Kau sudah mendapatkan waktuku yang banyak, bahkan aku tidur bersamamu setiap malam. Kau banyak maunya!"
Harry ternyata mengencani gadis itu dan terlalu bisa ditebak bahwa gadis itu amat menyukai Harry.
"Maaf.. aku tidak bermaksud membuatmu marah. Tapi kau harus berpisah dengannya. Aku tidak mau kau beralih hati padanya."
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipi Shera. Gadis itu sesegukan sambil memegang pipinya.
Richi memejamkan matanya.
"Jangan lancang! Kau harus tahu posisimu!"
Richi menggigit bibirnya dan jantungnya ikut bergetar. Harry ternyata sekejam itu bahkan pada gadis yang sudah tidur bersamanya.
"Aku akan membuangmu jika kau berani mengaturku!" Ucapnya dan langsung pergi. Harry berhenti pada satu tembok, lalu melanjutkan jalannya saat tak melihat siapapun disana.
Tak lama, Richi kembali ke mejanya.
"Maaf, aku baru dari toilet." Richi duduk dan perlahan mengatur napasnya.
"Tidak apa, ayo makan." Harry tersenyum lebar dan mulai menyantap makanannya.
'Benar, jika dia mampu merusak kota tanpa memikirkan korban-korbannya, menampar wanita bukanlah hal yang kecil baginya.' Batin Richi.
TBC
โโโโโ
Dirgahayu , Indonesiaku ๐ฎ๐ฉ๐ฎ๐ฉ๐ฎ๐ฉ
Sepertinya ini menjadi episode terpanjang, ya. Soalnya ini lebih dari ribuan kata hehee.
__ADS_1
Enjoy Reading๐