Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Mission Failed


__ADS_3

Harry berjalan dengan wajah berang, masuk ke dalam perusahaannya. Suasana di kantor cukup tegang saat mereka melihat bos yang berjalan dengan cepat. Lalu langkahnya terhenti saat mendengar pembicaraan dua karyawannya di salah satu sudut.


"Benar, selain cantik, dia juga tangguh sekali."


"Pantas Darrel ditakuti banyak orang."


Melihat atasan mendekat, mereka dengan cepat menunduk dan hendak pergi, namun Harry menahannya.


"Kemarikan ponselmu."


Dengan tangan yang gemetar, karyawan itu memberikan ponselnya.


Harry melihat potongan video yang dari beberapa hari lalu membuatnya sangat muak. Harry beranggapan, perempuan itu bagaimanapun masih bisa dikendalikan. Bagaimana mungkin yang bernama Darrel terlalu ditanggapi berlebihan oleh orang-orang.


Wajah Harry berubah saat melihat paras yang ia kenali tengah menghajar banyak orang dengan kedua pisau di tangannya. Sesekali Darrel memutar pisau lalu menancapkannya ke dada pria di depannya.


Tangan Harry bergetar, matanya tidak berkedip melihat video itu. Richi, ya, gadis di dalam video itu adalah Richi. Gadis yang ia lihat sebagai perempuan anggun dan mempesona. Gadis yang terlihat lembut dan menawan hatinya. Gadis yang amat mirip dengan ibunya, terlihat seperti gadis yang sangat membutuhkan pria yang kuat karena kelemah lembutannya. Ternyata, penilaiannya terhadap Richi sangat bertentangan dengan apa yang ia lihat hari ini.


"Apa rencanamu." Bisik Harry dengan geram, menggenggam erat ponsel di tangannya lalu membantingkannya ke lantai hingga hancur.


Tanpa berkata apa-apa, Harry melangkah dan masuk ke dalam ruangannya. Dia mengamuk dan menghancurkan barang-barang di dalamnya hingga kebisingan itu terdengar keluar ruangan, membuat banyak orang ketakutan.


Harry menelepon bawahannya, dengan ekspresi marah dan suara mengerang, dia menyuruh semua karyawan untuk pulang dan memanggil seluruh anggota Stripe yang tersebar di kota ini datang ke perusahaannya. Karena Harry yakin, Richi memintanya memperkenalkan perusahaan karena dia tahu markas Stripe ada disini.


Harry juga meyakini bahwa Richi tidak akan datang sendirian. Dia pasti membawa semua pasukan Valiant untuk menyerang perusahaannya. Entah apa tujuannya, yang jelas Harry perlu ikut menangkap dan membunuh Keen, ketua Valiant yang selama ini banyak merusak bisnis gelap orang-orang sekitarnya.


Harry menggebrak meja dengan keras dan wajah geramnya membuat seluruh keringat muncul di dahinya. Dia tidak bisa menghindari ini, dia harus menghadapinya.


~


"Tuan, sudah sampai."


Harry melihat Richi berdiri di depan apartemen yang ia tinggali, dia memandangi wajah gadis itu dari jauh. Rasanya sangat disayangkan, wajah gadis itu memikat hatinya. Namun mengingat dia adalah Darrel, membuat Harry berang karena bisa saja gadis itu bertujuan untuk membunuh dirinya. Kini, Richilah yang harus mati di tangannya.


Harry tersenyum sambil membukakan pintu mobil untuk Richi. Gadis itu terus menatap wajah Harry sejak tadi.


"Apa terjadi sesuatu?" Tanya Richi saat mobil sudah berjalan.


Harry tersenyum tipis pada gadis itu. "Terima kasih sudah peduli dan bertanya. Tidak ada apa-apa." Jawab Harry seadanya, karena dirinya tengah menahan gejolak dalam diri, ingin sekali dia memaki dan mencekik gadis itu.


Harry dapat merasa bahwa Richi terus menatap wajahnya, seakan mengetahui bahawa dirinya tengah tidak baik-baik saja. "Kau yakin?" Richi meletakkan tangannya di dahi lelaki itu.


Harry tersentak, tangan gadis itu sangat lembut menyentuh keningnya yang agak basah karena keringat. "Kau tidak sakit, kan?" Tanya gadis itu lagi.


Harry tidak bisa berkata-kata. Wajah Richi sangat dekat dengan wajahnya hingga Harry bisa merasa bahwa gadis itu bukan Darrel yang kejam seperti di video yang ia lihat tadi. Di depannya adalah Richi, gadis lembut yang selama ini memikat hatinya. Mata gadis itu indah, terlihat ketulusan di dalamnya. Perhatian gadis itu benar adanya, bukan sebuah sandiwara yang tercipta untuk menipu dirinya.


"Ya, aku baik-baik saja." Jawab Harry dengan masih memandang mata Richi.


Dia mengalihkan pandangan, melihat kepedulian gadis itu membuat hatinya gundah. Rasanya tidak mungkin Richi berencana untuk membunuhnya.


Harry mengutuk dirinya, dia memang menyukai Richi, dia sudah jatuh hati pada gadis itu. Lalu, apa bisa dia membunuhnya?


Sesampainya disana, Richi pamit untuk pergi ke toilet. Lalu Saver menghampirinya dengan memakai hoodie dan masker. Lelaki itu menyembunyikan wajahnya dari Darrel yang kehadirannya sudah diketahui banyak orang.


"Aku sudah meletakkan racun dalam minumannya, bos." Ucap Saver pada Harry.


"Siapa yang menyuruhmu melakukan itu?" Suara Harry berat dan meninggi.


"Ma-maaf, bos. Bukankah bos ingin membunuhnya hari ini?"


Harry berdiam sebentar. Dia memang sudah menyusun rencana itu. Tetapi hatinya sedikit berubah.


"Buat supaya dia tak sadarkan diri sebentar." Ucap Harry kemudian. Dia menghela napas, seorang Richi ternyata mampu menaklukkan emosi buas Harry.


Bukan hal berat baginya untuk membunuh, namun Richi punya tempat yang berbeda di mata Harry walau gadis itu telah membohonginya.


Saver langsung pergi saat melihat Richi keluar dari toilet.


"Ayo, aku akan membawamu ke atas." Harry menggandeng tangan Richi. Dia mengelus lembut tangan gadis itu dengan ibu jarinya. Barangkali menyentuhnya adalah hal terakhir yang bisa ia lakukan hari ini.


"Ini ruang pribadiku. Kita makan siang dulu, ya." Harry mempersilakan Richi masuk dan duduk di meja kecil.


Tak lama, beberapa orang datang membawa makanan dan minuman di atas meja.


Harry menuangkan minuman ke dalam gelas di depan Richi.


"Ini anggur La Mancha, aku membelinya di Spanyol. Tenang saja, ini tanpa alkohol. Coba saja."


Harry memperhatikan gadis itu. Dia memang sangat teliti dengan yang disekitarnya. Gadis itu mencium aroma anggur dan meminumnya sedikit.


"Bagaimana? Sudah aku bilang, itu tidak memabukkan." Ucap Harry lalu menyantap makanannya.


"Setelah makan, aku akan membawamu ke ruang peroperasi. Disana akan aku perkenalkan cara kerja perusahaanku."


Harry melirik sekilas pada Richi. Gadis itu tengah memandang gelas di tangannya. Mungkin dia mulai merasa aneh dengan reaksi dirinya setelah meminum anggur itu.


Harry melanjutkan percakapannya, menunggu gadis itu pingsan.


Dari pandangan sekilas, Harry bisa melihat Richi yang mengerjap beberapa kali.


BRUK! Gadis itu terjatuh dari kursinya.

__ADS_1


Harry mengelap mulutnya dengan tisu dan berjongkok di dekat Richi. Memandang sebentar wajahnya, lalu menggotong tubuhnya ke tempat lain.


Harry meletakkan Richi di atas sofa kecil. Dia memeriksa barang apa yang di bawa gadis itu dan mendapati bayonet di balik roknya. Pisau yang sama persis dengan yang ia pakai di rekaman itu.


Harry mengamankannya dan tak mendapati yang lain pada gadis itu.


Harry mengelus lembut wajahnya yang tertidur, gadis yang ia kira mirip ibunya ternyata tidak. Richi adalah perempuan yang tangguh dan bisa berdiri sendiri, berbeda dengan Shera yang memang sangat bergantung pada dirinya.


Ah, Shera. Harry menyesal telah memukul gadis itu saat mengatakan kebenaran, malah dirinya tidak percaya dan menganggap Shera berbual karena cemburu buta.


Lalu Hugo, apakah dia mengetahui kalau gadis ini adalah Valiant? Harry tersenyum sinis, nampaknya saudaranya itu juga tengah tertipu, mengingat dia dan Keen sang ketua Valiant mempunyai hubungan yang buruk.


Harry berdiri menatap keluar jendela yang terbuka lebar. Angin yang masuk menyibakkan rambutnya. Harry melonggarkan dasi yang sejak tadi terasa menyesakkannya. Pandangannya menerawang jauh memikirkan perjalanannya bersama Richi belakangan ini.


Gadis itu tidak tampak berbahaya. Malahan dia banyak memberikan nasihat pada Harry, mengingatkan Harry untuk tidak membenci saudaranya itu, mengatakan bahwa Shera adalah perempuan yang baik dan setia. Gadis itu tidak terlihat seperti mengganggu dan jahat, apalagi mengadu domba. Padahal, mudah saja dia melakukan itu mengingat Harry yang selalu nurut padanya.


Sepertinya Harry lebih memilih melepaskan saja Darrel dan membunuh Keen. Dia tidak bisa melenyapkan gadis itu.


Harry mendengar pergerakan dari belakangnya. Sepertinya gadis itu sudah sadar.


"Kau sudah bangun?" Harry tidak menoleh. Rasanya dia akan luluh setiap bertatapan dengan gadis itu.


Mendengar tak ada jawaban, Harry berjalan lalu duduk di hadapan Richi dengan wajah yang sendu.


Harry mengelus lembut pipi gadis itu, "Kau berjalan terlalu jauh. Padahal aku sudah jatuh hati padamu".


Wajah Richi terlihat bingung menatap ke mata Harry.


"A-apa maksudmu?" Ucapnya.


Harry mengusap bibir Richi dengan ibu jarinya secara perlahan. Gadis ini... "Kau menyakiti perasaanku." Harry menyesali keadaan. Dia menyukai gadis ini. Gadis tangguh ini, dia menyukainya.


"Menyakiti perasaanmu?" Richi amat bingung dengan ucapan Harry, sementara Harry terus menatap matanya, seolah mengatakan selamat tinggal atau apapun untuk menyatakan perpisahan.


Harry berdiri. "Terima kasih sudah datang kemari, Darrel."


Mata gadis itu membulat, dia tidak berkata apa-apa.


"Larilah, pergilah. Jangan sampai kau mati disini." Ucap Harry lalu meninggalkan Richi yang dalam keadaan terikat.


Harry keluar dari ruangan itu. Lalu berhenti di depan pintu yang ia tutup, mengambil rokok dari saku dan menyalakannya.


Dia menghembuskan asapnya, "Entah bagaimana caramu keluar, kau yang menentukan hidup dan matimu hari ini." Harry melangkah untuk memulai misinya.


Sepeninggal Harry, Richi masih diam di tempatnya karena mengutuki kebodohannya walau dia sendiri bingung, kenapa Harry tidak langsung membunuhnya dan membiarkannya saja disini, bahkan menyuruhnya keluar.


Richi mulai mencari cara untuk lari, lalu dia sedikit terkejut saat mendapati ikatan di tangannya yang gampang kendur. Matanya membulat saat melihat kedua tangannya bisa lepas tanpa berbekas. Harry tidak benar-benar mengikat tangannya.


Richi melepas ikatan kakinya dan berdiri meraba pisau yang ia selipkan di celananya.


Suara Sirine berbunyi, entah pertanda apa. Namun nampaknya sesuatu sedang dimulai.


Mendengar banyaknya suara sepatu yang berlari, Richi menempelkan tubuhnya di tembok belakang pintu.


Dia menarik napas karena sepertinya akan berkelahi tanpa senjata apapun.


Terdengar satu langkah ke arah pintu, Richi bersiap.


Pintu terbuka, seorang lelaki dengan setelan jas hitam masuk dengan pistol, seperti tengah memeriksa ruangannya.


Dengan cepat Richi menendang tangan yang memegang pistol dan menghantam lelaki itu di bagian-bagian vital hingga membuatnya terkapar.


Richi mengambil pistolnya, memeriksa lagi apa yang bisa ia ambil dari lelaki itu dan mendapatkan pisau. Richi menyimpan pistolnya di belakang baju dan hanya menggenggam sebilah pisau.


Richi keluar mengendap dan tidak mendapati orang di luar. Suara sirine masih terus berdengung, entah apa yang terjadi dengan gedung itu.


Dia masuk perlahan ke dalam satu ruangan yang luas, Richi memeriksa tempat itu namun mendapati hal yang mengejutkan pada sebuah papan tulis selebar tembok, dimana terpampang wajah kakaknya dan namanya disana.


Itu seperti sebuah struktur namun Richi tidak mengerti maksudnya. Yang jelas, wajah Ricky dengan tulisan 'Keen' di atasnya disilang dengan spidol merah sementara disebelahnya hanya ada nama Darrel, mungkin mereka tidak mengetahui wajah Richi. Lalu, tahu dari mana dia wajah Ricky? Siapa yang memberitahu?


Ternyata mereka mengincar kakaknya, berarti Harry mengincar Keen. Lalu, apa Harry tidak tahu kalau Keen adalah kakaknya?


Richi tersentak saat dua orang masuk dan langsung menyerangnya. Dengan sigap dia menangkis dan menusuk kedua kaki orang itu supaya melemahkan mereka berjalan.


Richi keluar dari sana, berjalan lagi ke ruangan Harry dimana ia pingsan tadi.


Lalu langkahnya terhenti dan merapatkan dirinya ke tembok saat terdengar suara banyak langkah menuju ke arahnya dari arah kiri. Dia bersiap, saat akan menyerang, tangannya terhenti karena melihat seragam yang ia kenali.


"Rel?" Suara Bella terdengar, dia langsung memeluk Richi. "Astaga, aku sangat khawatir."


Richi mengerutkan dahinya. "Bagaimana kalian bisa disini?" Richi menatap perempuan di sebelahnya, dia Olivia.


Mereka menurunkan masker, terlihat sangat kelelahan. Mungkin sudah menghantam entah berapa banyak orang untuk mencapai lantai atas.


Richi menatap mereka dari atas hingga bawah, kali ini Valiant keluar dengan seragam lengkap, hoodie dan masker merah, juga sepatu dan baju anti peluru.


"Ada apa??" Richi tak sabar ingin mendengarkan alasan mereka yang bisa sampai disini. Padahal, Richi tak memerintahkan apapun selain dirinya yang akan melaporkannya setelah pulang dari gedung itu.


"Misimu diketahui Komander." Jawab Olivia singkat.


"Wait, bagaimana dia bisa tahu?"

__ADS_1


Olivia dan Bella langsung memasang kuda-kuda saat beberapa orang datang. Mereka berdua langsung berdiri membelakangi Richi, membiarkan diri mereka dahulu yang menyerang sebelum ketua mereka.


Orang-orang itu, satu diantaranya terlihat menyembunyikan diri.


Mereka berjumlah delapan orang, empat diantaranya adalah perempuan.


"Valiant juga berisikan perempuan? Haha.. hey ladies, kalian saja yang menyerang." Ucap laki-laki itu pada keempat temannya yang perempuan.


"Ck! Aku paling tidak suka berhadapan dengan perempuan." Gumam Richi dan bisa didengar oleh kedua temannya.


"Kenapa kalian melindungi yang belakang?" Tanya mereka.


"Pasti karena paling lemah. Haha" tawa mereka meledak, sementara Carina terus menutup diri.


"Carina, kau bagian yang belakang."


Carina terbelalak, dia tahu takkan mampu melawan perempuan yang dibelakang.


"Aku akan menyerang yang di depan." Ucapnya lalu menyerang Bella diikuti temannya yang menyerang Olivia.


Bella dan Olivia menyerang dengan cepat, karena merasa lawan mereka masih jauh dibawah mereka.


Bahkan mereka tak mengizinkan saat salah satu diantaranya ingin menyerang Richi.


Ke empat lelaki itu terbelalak. "Hei, serang saja yang paling lemah!" Teriak salah satunya lalu dengan cepat mereka berlari ke arah Richi.


Olivia dan Bella menghadang dua orang, dan dua orang lagi berhasil mendekati Richi.


"Paling lemah, beraninya bersembunyi!"


Richi melipat belati ditangannya, ingin menghajar tanpa senjata. Lalu dia menggerakkan telunjuknya pada kedua lelaki itu.


"Come to Mama, honey.." ejek Richi.


Wajah dua orang itu berang. "Kurang Ajar! Seraang!" Kedua orang itu langsung menyerang Richi. Namun dengan sigap dan cepat sekali Richi menaklukkan kedua orang itu hingga terkapar.


"Maaf, membuatmu menyerang." Ucap Olivia yang merasa bersalah.


"Tidak apa. Aku harus keruangan Harry di atas."


"Tempat ini sangat luas, kami juga sedang mencari sesuatu. Rel, ingat ya, yang terikat kain merah di bahu, dia bukan musuh." Ujar Bella.


"Siapa?"


Bella menepuk bahu Richi dan dia pergi bersama Olivia.


"Darrel aman!" Ucap Olivia dari Earpiece tengah mengabarkan posisi leader tim mereka.


Richi menatap kepergian kedua temannya, seperti kehilangan satu orang. Clair, dimana dia?


Richi menghembuskan napas, dia menaiki Lift dan bersiap saat lift akan terbuka.


BRUK!


Richi yang bersiap menyerang terkaget melihat sebuah tubuh penuh darah terjatuh saat pintu lift terbuka.


Dengan cepat dia mengeluarkan pistol yang sejak tadi ia simpan di belakang.


Dia berdiam sebentar melihat banyak sekali tubuh tergeletak dengan darah disana.


Richi berjalan perlahan, matanya menangkap ke seluruh ruang yang kosong.


Dia berlari kecil ke arah kiri ruang dan kakinya terhenti saat melihat Hugo berhadapan dengan Harry.


Dibawah Hugo ada pistol yang nampaknya sudah kehabisan peluru. Itu artinya, Hugo-lah yang melakukan semua ini. Sementara Harry, dia tengah menodongkan pisau Bayonet yang ia bawa tadi.


Hugo, dia mengikatkan kain merah di bahunya, apakah dia yang dimaksud Olivia tadi?


Entah apa percakapan kedua orang itu. Mereka berbicara dengan suara yang pelan hingga ia tidak bisa mendengarnya dengan jelas.


Mata Richi membulat sesaat dan langsung berlari saat melihat Harry akan menyerang Hugo dengan pisaunya.


Hugo, apa dia sudah gila? Kenapa dia tidak menghindar?


"Hugo, awas!"


Richi terdiam membeku, perih teramat sangat menguasai perutnya. Dia menyentuh sesuatu yang mengalir keluar dari sana. Tangan Richi merah, ada darah disana.


Harry menjatuhkan pisaunya hingga Richi bisa menatap Pisau yang ia bawa sebagai pelindungnya yang kini menusuknya.


"Richiii!!!" Hugo langsung menahan tubuh Richi dan membaringkan di bangkuannya.


"Chi...!"


Richi tak bisa menyahut karena tubuhnya kini berupaya menahan sakit yang luar biasa. Dia hanya bisa melihat wajah Harry yang menatap Richi dengan ketakutan dan penyesalan menjadi satu, sementara Hugo, lelaki itu mengeluarkan air matanya. Hugo menangisinya.


TBC


●○●○


Jangan nangis, ini bukan part sedih. Juga jangan marahi Author yang gak tau apa-apa ini. Emang Richinya aja lagi buta~, bukannya nendang tangan Harry atau nembak kek, malah melindungi Hugo sampe ketusuk😪

__ADS_1


Mungkin inilah yang disebut, ketika panik menyerang, bego pun datang😭


Jangan lupa like, komen dan subskrep!


__ADS_2