Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Hilang


__ADS_3

Richi keluar bersama Hugo. Dia membawa tas Richi, sementara gadis itu berhenti di tepi lapangan basket dan memakai sepatunya yang ia buka sebelum bermain basket supaya tidak basah.


"Gelang itu malah terlihat lebih cantik di kakimu" ucapnya sambil melihat kaki Richi yang melangkah. "Kuantar, ya?"


"Aku bawa motor."


"Kalau gitu, kita beriringan." Ucapnya lalu mereka menuju parkiran.


Hugo berhenti dan mengecek ponselnya, lalu sedikit menggerutu dan terdengar di telinga Richi.


"Kenapa?" Tanyanya pada Hugo yang wajahnya berubah murung lagi.


Dia mendesah, lalu menunjukkan foto kekasihnya itu dan Harry tadi malam. Hal itu ternyata membuat gempar satu sekolah. Banyak yang memuji kecantikan Richi yang benar-benar terpancar karena berdandan layaknya para gadis.


"Komentarnya benar-benar membunuhku, ingin sekali aku menghabisi orang yang menunggahnya." Tangan Hugo menggenggam erat ponselnya.


"Komentar apa?"


Hugo langsung memasukkan ponselnya ke saku celana. "Entahlah, aku malas membahasnya, karena hanya akan membuat darahku mendidih". Jawabnya dan Richi hanya mengangkat bahu tanda tak peduli.


"Chi, apa tidak ada janji dengan Harry lagi?" Tanyanya tiba-tiba.


"Ada, nanti malam. Kenapa?"


"Aku ingin jalan denganmu. Apa bisa jam 2 nanti ku jemput?"


Richi tersenyum sambil mengangguk. Lagipula memang sudah lama tidak jalan dengan Hugo.


Lelaki itu mengembangkan senyum. "Kalau gitu, aku akan mengantarmu sampai rumah. Nanti akan ku jemput, ya."


"Asal kau senang saja." Jawab Richi lalu memakai Helm dan menjalankan motornya, diikuti Hugo mengendarai perlahan di sampingnya.


...🍔...


Richi baru saja keluar kamar, Hugo sudah menunggunya di luar. Dia melihat Ayahnya yang sudah di rumah siang ini. Dia lalu mendekat, duduk di sebelah Wiley yang tengah memainkan ponselnya.


"Ayah.."


Wiley melirik putrinya yang duduk disebelahnya.


"Tidak latihan?" Tanya Ayahnya tetap fokus pada ponselnya.


Richi menggeleng. "Tidak, yah."


"Ronald melapor, katanya sudah hampir dua minggu tidak latihan, apa sekolah sedang sibuk?"


"Begitulah, yah." Jawabnya asal. Richi ingin bertanya tapi terlihat ragu.


"Ada yang mau dibilang?" Tanya Ayahnya yang seperti tahu, lalu meletakkan ponselnya di atas meja supaya putrinya itu leluasa untuk bercerita.


"Ayah ingat, tidak. Beberapa hari lalu kita ke acara teman ayah pembukaan restoran itu. Keluarga Draw."

__ADS_1


Wiley mengangguk lambat. "Iya, kenapa?"


"Siapa nama kepala keluarganya, yah?"


Wiley melihat anaknya. "Kenapa? Kok tumben mau tahu kerabat ayah? Suka sama anaknya, ya?" Goda ayahnya yang sempat melihat Richi berdansa dengan Harry malam itu.


Richi terhenyak, "Enggak, cuma mau tahu, kok."


Wiley tertawa pelan. "Ah, tidak terasa anak Ayah sudah benar-benar tumbuh dewasa. Time flies too fast. Padahal dulu tidak mau ayah tinggal kalau pergi kerja. Sekarang malah jarang lihat dirumah". Oceh Wiley mengingat masa kecil Richi yang akrab dengannya.


"Ayah jadi nostalgia. Padahal Ichi cuma nanya".


Wiley tertawa renyah. "Dia Brigadir Jendral Henry Draw. Selain anggota militer, dia juga punya banyak cabang usaha."


'Ah, Brigjen rupanya. Benar kata Frans.' Batin Richi.


"Usahanya, apa Yah?"


"Dia pemilik Dellz Group, gedungnya juga ada dimana-mana."


"Ooh.. terus, perusahaan senjata punya dia juga?"


Kening Wiley berkerut, pertanyaan anaknya mulai menjalar. "Bukan, milik DG Corporation."


"Kira-kira penyalur senjata ilegal itu ada tidak, ya yah?" Tanya Richi lagi.


Wiley memiringkan posisi duduknya "Ada apa dengan pertanyaanmu?" Tanyanya karena pertanyaan Richi terdengar berat.


"Tidak ada, negara sangat ketat untuk itu. Kalau pun ada, berarti bagian negarawan lah yang melakukannya."


Richi tersentak dengan jawaban ayahnya.


"Oke deh, Ichi pergi dulu. Terima kasih, ayah." Richi memeluk pinggang ayahnya dan berlalu pergi.


Richi masuk ke mobil Hugo yang menunggu di depan gerbang.


"Kok, lama." Protesnya saat melihat Richi masuk. Padahal bilang akan keluarnya 10 menit yang lalu. Bagi Hugo, menunggu 2 menit saja itu lama.


"Ada ayah dirumah. Ayo, cepat jalan." Ucapnya sambil menyetel musik, tetapi Hugo malah memperhatikan penampilannya.


Richi memakai rok jeans atas lutut, kaos putih yang agak ngepas di badannya, dan kets putih andalan seperti biasa, gelang kaki masih terlihat jelas di atas mata kakinya.


Ujung kanan kiri rambutnya, ia jepit ke belakang dengan jepitan yang Hugo pernah berikan padanya.


"Kenapa?" Richi memperhatikan penampilannya.


Hugo merapatkan bibirnya, dia tengah menahan senyum. "Cantik, seperti biasa." Ucapnya lalu menjalankan mobil.


"Mau kemana?" Tanya Richi sambil menatap jalan.


"Beli dress buatmu."

__ADS_1


"Untukku? Memangnya mau kemana?" Tanyanya dengan mata membulat.


"Malam senin ada acara di kantor Ayah. Acara peresmian cabang baru. Aku ingin membawamu. Acaranya formal."


"Bukannya itu acara bapak-bapak, ya?" Richi sering di ajak Ayahnya ikut ke acara peresmian cabang baru kerabat ayahnya, pasti isinya kebanyakan pria dewasa yang berkumpul dan membahas bisnis, juga kesempatan pada perusahaan kecil untuk berkenalan dengan perusahaan besar dan investor untuk menggaet kerjasama yang menguntungkan.


Hugo tertawa. "Iya, sih. Tapi aku ingin saja membawamu."


"Lain kali saja ya, belanjanya. Aku lebih ingin ke taman bermain." Tolaknya secara halus, karena dia memang tidak begitu menyukai shopping.


"Hmm, baiklah. Kita ke Skywheel, bagaimana?" Tawar Hugo.


"Setujuuu!" Serunya dengan semangat. Mendengar itu, Hugo langsung tancap gas. Dia punya banyak waktu dengan Richi hari ini.


Sesampainya disana, Richi langsung masuk sambil berlari kegirangan sampai lupa Hugo mengikutinya dibelakang.


Hugo hanya tersenyum cerah, dari kemarin dia terus bertengkar dengan Richi karena sifatnya yang posesif pada kekasihnya yang punya jiwa bebas.


Melihat Richi yang berputar melihat kesana kemari dengan rok jeans yang dia pakai, membuat Hugo selalu tersenyum. Bisa-bisanya gadis itu terlihat sangat cantik dan seksi dengan gayanya yang sekarang. Padahal biasanya dia dan kekasihnya itu sering kompak memakai celana jeans yang memperlihatkan lutut atau paha mereka.


"Chi, mau coba eskrim dulu sebelum mencoba semua permainan?"


Richi mengangguk setuju. "Aku duduk disitu".


Richi menunjuk satu bangku di ujung kanan, berdekatan dengan deretan toko-toko yang tutup dan sepi dari lalu lalang orang-orang.


Hugo mengangguk saja, karena dia tahu Richi memang suka yang sepi-sepi.


Dia menuju tempat penjual eskrim dan melihat Richi duduk di tempatnya sambil memainkan ponsel. Hugo tersenyum, bisa-bisanya dia duduk seperti seorang gadis, menyilangkan kakinya dan bersandar sambil sesekali tersenyum entah karena apa.


Hugo membayar, lalu berbalik dan mendapati tempat yang Richi duduki tadi kosong.


Dia berjalan dengan membawa dua eskrim di tangannya. Sampai di tempat itu, Richi benar-benar tak nampak. Hugo berjalan kesana kemari, mencari Richi yang dalam hitungan detik hilang entah kemana.


Tiba-tiba perasaannya kalut. Hugo membuang eskrimnya dan mulai mencari ke gang kecil pada toko-toko yang tutup itu.


Hugo mencoba menelpon, lalu tak jauh dari tempatnya, Hugo mendengar deringan telepon. Dia mengikuti dengan cepat ke sumber suara dan mendapati ponsel yang terbaring di dalam gang kecil yang nampak suram dengan toko-toko yang penuh coretan pylox.


Dengan cepat, Hugo menuju ponsel itu. Dan benar saja, itu adalah ponsel Richi. Hugo semakin bergetar, karena Richi tidak ada dan sepertinya ponselnya dibuang begitu saja.


"Richi!!" Panggilnya ke gang buntu itu, namun tak ada jawaban.


Hugo memandang pintu tertutup di depannya, tempat ponsel Richi di temukan. Walau terlihat usang dan tak terpakai, bisa saja Richi dibawa masuk ke dalam.


PRAAANGG!!


Samar terdengar, Hugo menatap ke atas toko yang tingkat itu. Benar, walau terlihat usang dan tak terpakai, sepertinya tempat itu memang ada penghuninya.


BRAKK!!


Hugo menendang keras pintu itu hingga terbuka lebar. Matanya terbelalak mendapati banyak lelaki berkumpul dengan menatap tajam ke arahnya, seperti bersiap ingin menghajar Hugo karena telah mengganggu kegiatan mereka.

__ADS_1


TBC


__ADS_2