Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Trauma


__ADS_3

"Rel.." Olivia menunjuk sesuatu dari ponsel Dachi Moon.


Gadis itu seketika diam. Di ponsel itu menampilkan foto Richi tertidur di kamarnya dengan celana pendek dan tanktop putih dari sudut kamar. Tempat yang Richi tahu adalah lemari.


"I-tu.." Richi menunjuk foto itu dengan tangan bergetar.


"Rel, dia menyisipkan kamera di kamarmu." Jelas Olivia yang sontak membuat Richi spontan terduduk. Lututnya terasa lemas, begitu pula sekujur tubuh Richi yang merinding. Apa yang hacker sialan itu lakukan di dalam kamarnya??


Richi menutup wajahnya. Dia mulai menangis karena takut.


"Ah, sumpah. Ini benar-benar mengerikan. Aku ingin sekali menghajar orang ini!" Pekik Clair.


"Rel, lihat!" Lagi-lagi Bella menunjuk ponsel Richi di atas meja yang layarnya tiba-tiba terbuka.


"K-kenapa ponselku?" Tanya gadis itu dengan suara tercekat. Ketakutannya sudah menjalar keseluruh tubuh. Ketakutan yang tak pernah Richi alami sebelumnya.


"Kan, sudah aku bilang. Ponselmu di-hack. Itu sebabnya dia berjalan sendiri sesuai yang hacker itu lakukan di ponselnya." Jelas Aron dan membuat mata Richi membulat, memperhatikan layar ponselnya yang mulai membuka sosial medianya.


"Kenapa aku tidak sadar?" Lirih Richi pelan. Entah kenapa, aksi hacker ini justru membuatnya ketakutan. Ini lebih mengerikan dari misi-misinya selama ini.


"Rel, dia membuka foldermu." Kata Clair.


"Aah, itu sebabnya dia memiliki banyak fotomu yang bahkan tak pernah kau sebar dimana pun. Ternyata dia mencurinya dari ponselmu." Tukas Bella.


Richi meraih ponselnya dan membantingkan ke lantai dengan sekuat tenaga. Sontak ponsel itu hancur berantakan.


"Rel, ke-kenapa kau.."


Richi yang sudah ketakutan reflek menghancurkannya. Dia tak ingin hacker sialan itu terus mengusiknya dengan mencuri foto-foto atau video yang disimpan rapi dalam ponselnya.


"Setidaknya itu bisa menghentikannya." Tukas Aron. "Kalau gitu, aku pulang. Aku akan mulai melacak orang ini." Aron berdiri dan melangkah keluar dari kedai sementara yang lain masih mencoba menenangkan Richi.


~


Di rumah, Richi berjalan dengan lambat. Dia merasa diawasi karena kamera-kamera di atas kepalanya. Perasaan merinding dan takut masih merajai tubuhnya. Hal itu tentu saja membuat kakaknya curiga.


"Kau kenapa?" Tanya Ricky yang melihat Richi terus menatap ke arah kamera pengawas di depan kolam renang.


Gadis itu tak menjawab. Dia tengah bertatapan dengan kamera cctv itu.


"Hei, kau ada masalah apa dengan penjaga cctv? Hah?"


Richi menoleh pada kakaknya. Ingin dia memberi tahu, tapi ia urungkan karena saat ini gadis itu tak ingin banyak cerita.


Dia ingat perkataan Aron untuk bersikap biasa saja saat di rumah. Tapi dia tidak bisa melakukan itu karena rasa diawasi membuatnya waspada. Terlebih kini Richi merasa tak nyaman di rumahnya sendiri.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa." Jawabnya sembari masuk ke dalam kamarnya.


Richi tak bisa menahan diri. Dia menatap ke arah dimana kamera itu bersembunyi. Apa yang ada disana sampai-sampai tak Richi sadari bahwa kamera pengawas ada disana.


Richi melihat sebuah boneka. Ya, boneka yang ia dapat dari acara Oberon's day bulan lalu. Siapa yang memberipun, Richi tidak tahu. Tapi yang jelas, ia mendapatkannya satu hari setelah Oberon's day berakhir dan tentu boneka itu tidak mendapat pengawasan seperti biasa karena Richi yang menaruh boneka itu dalam tasnya.


Kata Olivia, Richi harus tahan berada dibawah pengawasan kamera itu dalam sehari ini karena kalau dia membuang boneka itu, maka si Dachi Moon sialan itu akan sadar kalau dirinya sudah diketahui.


Richi menarik napas. Dia hendak berganti pakaian dan menuju kamar mandi. Namun, di dalam kamar mandi pun Richi merasa was-was. Dia takut selama ini ada kamera juga di dalamnya.


Richi cepat-cepat keluar dari kamar mandi dan langsung menuju kamar kakaknya.


BRAK!


Pintu kamar Ricky terhempas dengan kasar. Membuat lelaki itu terkejut seketika.


"Chi, apa-apaan!"


Richi menutup pintu dengan cepat, menelisik ruanngan kakaknya. Dia takut ada kamera juga disana.


"Hei, kau kenapa?"


Ricky merasa aneh pada adiknya yang terus menatap barang-barangnya satu persatu.


"Chi, ada apa denganmu? Kau sejak tadi terlihat aneh."


"Kak, aku tidur disini, ya."


"Apa?? Memangnya kenapa dengan kamarmu??"


Richi bungkam. Ingin dia memberitahu tapi lidahnya tidak sanggup berkata-kata.


"Kau takut hantu? Tidak mungkin. Kau ini Richi, yang ada hantu yang takut padamu." Oceh Ricky.


"Cepat katakan, ada apa denganmu sampai tiba-tiba mau tidur disini."


Richi tampak ragu. Beberapa kali dia menelan ludah dan itu bisa ditangkap Ricky dengan cepat.


Ricky menggenggam kedua bahu adiknya. "Ada sesuatu, kan? Katakan padaku. Apa kau mendapat ancaman pembunuhan?"


Richi menggelengkan kepalanya. Baginya, hal ini lebih dari itu.


"Lalu? Katakan padaku, Chi, apa yang membuatmu sampai seperti ini?" Tanya kakaknya, dia bisa merasa jari-jari Richi bergetar.


"K-kamarku.. a-ada k-kamera pengawas."

__ADS_1


Alis Ricky langsung bertaut. "Apa kau bilang?"


"A-aku diawasi, kak. A-ada orang yang selalu mengawasiku. Di-dia menyimpan banyak sekali foto-fotoku di ponselnya." Richi sempat melihat saat foto dimana roknya tersingkap angin dan hacker sialan itu memilikinya.


"Chi, kau tahu darimana?"


"Belakangan fotoku tersebar banyak dimana-mana." Jawab Richi sambil menangis. Dia sudah tidak kuat menahan dirinya. "Dia juga meretas ponselku bahkan punya videoku saat berenang di rumah." Ucapnya dengan suara parau.


"Hah?"


"A-aku diawasi, kak. Aku tidak tahu mungkin saja kamar mandiku juga ada kameranya."


Ricky membulatkan mata. Dia juga tidak menyangka akan ada kejadian semacam ini dan tentu saja dia bisa melihat trauma pada adik satu-satunya itu.


"Sialan!" Ricky langsung berdiri dan segera ditahan oleh Richi.


"Kak. Jangan."


"Hah? Kau gila, ya? Ini mengerikan dan aku harus menemukan siapa orang itu!"


"I-iya. Kami juga sedang menyelidikinya." Napas Richi tersekat. Dia menahan isak tangis yang menjadikan dadanya terasa sesak.


"Salah seorang temanku tengah menyelidikinya dan besok kami akan mencari orang itu."


"Tidak bisa! Aku akan menyelidikinya sendiri dan membunuh orang itu! Ini mengerikan, aku tidak pernah bayangkan ada hal semacam ini. Kau tidak tahu apa yang sudah dia lakukan selama ini padamu, kan? Tanpa kau sadari dia mungkin saja sudah-" Ricky tidak melanjutkan ucapannya karena tak ingin adiknya semakin stres. Namun, dia sangat paham betul apa yang dilakukan hacker sialan itu pada adiknya.


Ricky memeluk adiknya yang tampak tak berdaya. "Kau jangan nangis, Chi. Tidurlah disini, aku akan menjagamu. Disini aman, kau akan kujaga." Ucapnya sembari mengelus kepala Richi. Dia terdengar tenang mengucapkan itu, walau sorot matanya tajam seperti ingin membunuh. Besok, dia akan terjun langsung untuk menangkap siapa yang sudah membuat adiknya sampai seperti ini.


Kejadian saat Richi kecil saja masih sangat membekas di otaknya. Ditambah hal semacam ini akan mempengaruhi psikisnya. Richi pasti trauma karena sejak tadi dia memang tampak gelisah karena ternyata pergerakannya diawasi.


Setelah adiknya itu tertidur, Ricky menghubungi Jonathan.


"Cepat cek semua jaringan disini. Aku yakin ada penyusup yang hanya menonton saja. Temukan dia segera." Titahnya pada orang diseberang.


Tak menunggu lama, Jonathan meneleponnya kembali.


'Aku menemukan satu alamat asing yang tersembunyi. Katakan padaku, ada apa, Keen?'


Ricky melirik adiknya yang sudah tertidur. Sesekali gadis itu bergerak dengan wajah yang masih terlihat sendu. Nampaknya Richi pun tak tenang dalam tidurnya.


"Seseorang mengekori adikku. Kau sudah tahu siapa orang itu?" Tanya Ricky.


'Tidak, belum. Dia sungguh ketat. Aku akan berusaha. Kau tunggulah.' Jawab Jonathan yang kemudian menutup ponsel.


"Siapapun kau, malam ini akan menjadi malam terakhirmu bernapas." Ucap Ricky sembari mengepalkan kuat kedua tangannya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2