Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Hugo cemburu?


__ADS_3

"Kau tahu, Richi?" Axel bertanya balik. Menurutnya masuk akal sebab Richi juga ada disana waktu itu.


Richi mengangguk dan kemudian mulai menceritakan detail yang ia ketahui.


"Perempuan itu, aku sudah mengetahui niatnya saat di toilet sekolah" Ucapnya sambil mengingat kejadian waktu itu.


"Katanya, dia akan menarik perhatian ketua basket. Dan benar saja, orang ini tertarik untuk datang memenuhi undangannya di Bar" Lanjut Richi sambil melirik sekilas wajah Hugo.


"Maksudmu aku?" Tanya Hugo yang merasa tersinggung karena Richi nampaknya tidak mau menyebut namanya dan malah melabelinya dengan kata 'orang ini'


"Memangnya siapa lagi? Aku tidak tahu apakah perempuan itu yang menaruh obat atau apapun sampai membuatmu mabuk. Yang pasti, dia dan temannya ingin menjebakmu di hotel bersamanya."


"Wah. Kelewatan sekali. Ada apa dengan gadis itu? Apa dia disuruh?" Tanya Axel penasaran.


"Mungkin dia hanya mengambil rekor gadis pertama yang dibawa Hugo ke hotel". Sambung Isac mengarang.


"Memang biasanya dibawa kemana?" Goda Richi lagi. Melihat itu, Hugo menoleh padanya.


"Hei, jangan sembarangan. Aku tidak pernah berbuat begitu pada perempuan manapun." Jawabnya dengan tegas. Dia tidak ingin citranya rusak karena kasus ini.


"Hugo, apa kau tahu perempuan itu bersama siapa?" Tanya Daren yang sangat tertarik dengan kasus yang menimpa Hugo.


"Tidak. Aku juga penasaran dia bersama siapa."


"Menurutku dia bersama ketua basket Palmy."


Mereka saling pandang mendengar ucapan Richi. Ketua Palmy ialah Harry. Orang dengan citra tinggi sepertinya, apakah mungkin?


"Yang benar saja, Richi. Dia memang menyebalkan. Tetapi untuk sampai seperti itu, aku rasa tidak mungkin". Tutur Axel yang merasa Harry adalah sosok yang bijaksana dan cerdas.


"Bagaimana kau bisa berkata begitu?" Daren tahu Richi tidak mungkin asal bicara.


Richi menceritakan pada mereka kalau dia melihat gadis itu masuk ke ruang rehat basket Palmy waktu itu. Lalu tak lama, Harry keluar dan menabrak bahunya. Dan saat di depan gerbang, dia melihat lagi perempuan itu pura-pura jatuh di hadapan Hugo.


"Dia juga mengedipkan mata pada Harry saat Hugo membantunya berdiri".


Mereka semua terdiam. Berperang dengan pikiran masing-masing. Terlebih Hugo yang punya dendam pribadi dengan lelaki itu. Dia mengepalkan erat tangannya.


"Sudah ya. Cuma sampai disitu yang kuketahui." Ucapnya lalu berdiri dan pergi dari ruangan itu.

__ADS_1


Hugo melihat punggung Richi yang berlalu begitu saja. dia tiba-tiba teringat sesuatu dan keluar mengejar Richi.


"Sebentar!" Teriaknya pada Richi yang lalu berhenti di halaman sekolah. Hugo lalu berlari kecil menghampiri sambil memegang jeket kulitnya. Kini dia memakai kaos hitam yang mengepas di badannya.


"Apa?" Richi mendongakkan wajahnya sambil melihat Hugo di depannya. Panas matahari membuatnya menutup separuh wajah dengan tangan kirinya.


Di terik beginipun, entah mengapa pesona Hugo semakin terlihat. Padahal, Hugo adalah orang yang menyebalkan di matanya. Tetapi belakang ini,  dia banyak terlibat dengan Hugo dan membuatnya sedikit mengenal karakter Hugo.


"Jadi kau mengikutiku kesana? Kenapa?" Tanyanya penasaran. Cuaca terik membuatnya menyipitkan mata.


Richi terlihat berpikir. "Entah ya. Aku merasa kau bodoh dan pasti akan terjebak. Aku cuma tidak suka dengan perempuan itu karena dia mengancamku di toilet." Jawabnya asal dan melihat Hugo dengan wajahnya yang merah karena kesal dengan jawaban Richi. Dia mengira gadis itu peduli padanya.


"Kau mengharapkan apa?" Richi melihat segores kecewa di wajah Hugo.


"Tidak ada. Aku hanya penasaran. Kau menipuku tadi. Kupikir aku memang bermimpi." Jawabnya mulai dengan suara yang melemah. Dia entah mengapa berharap gadis di hadapannya peduli padanya. Jika Richi ikut membahayakan dirinya demi Hugo, bukankah itu tanda dia sedikitnya menyukai Hugo?


"Ichi..!"


Seseorang memanggil Richi dari jauh. Tangannya mengibas-ngibas menyuruh Richi mendatanginya.


"Sebentar, kak." Teriaknya. Richi terlihat mengembangkan senyum ke arah Emerald. Melihat itu, pemikirannya tentang Richi yang menyukai dirinya pun luntur. Karena gadis yang jarang terseyum ini malah girang jika berhadapan dengan Emerald.


"Tunggu". Hugo menahan lengan gadis itu.


"Kau tahu resikonya, kan. Kalau kau.. "


"Aku tahu. Dari mulai aku lahir, hidupku sudah penuh dengan ancaman." Ucap Richi lalu pergi meninggalkan Hugo dengan alis berkerut. Tak mengerti maksud perkataan Richi barusan.


"Hei, Hugo. Kau menyukainya, ya." Goda Isac yang sudah sejak tadi di sampingnya


"Apa?" Hugo menoleh dengan kesal.


"Lupakan saja, kau kan sudah punya Camilla. Lagi pula, Richi menyukai lelaki seperti Emerald. Dan kau, kalah jauh". Blak-blakan Axel menuturkan kata yang membuat Hugo semakin kesal.


"Aku dan Emerald? Haha kau meracau, ya."


"Sudahlah, kau hanya menang tampang saja. Emerald itu ketua osis. Jelas dia lebih unggul darimu." Sambung Daren ikut-ikutan.


"Wah, kau juga, Daren?" Hugo melongos melihat Daren yang tak dipihaknya. "Sudahlah. Lagi pula aku tidak tertarik dengan perempuan seperti lelaki itu".

__ADS_1


"Lelaki, ya? tapi dia sudah menolong kita beberapa kali. Kalau itu Camilla, kau pikir dia bisa apa?" Ucap Daren sambil beranjak pergi. Diikuti tawa Isac dan Axel yang mengekor Daren meninggalkan Hugo sendiri.


Hugo melihat ke arah Richi yang berjalan berdampingan dengan Emerald menuju gerbang sekolah. Nampaknya mereka akan pulang bersama. Sedekat itukah hubungan Richi dan Emerald?


Hugo menggelengkan kepalanya. Dia menekankan pada dirinya untuk tidak perlu peduli terhadap apapun yang gadis itu perbuat.


Hugo berlari kecil menyusul teman-temannya yang menuju lapangan basket. Disana, mereka masih membahas tindakan Carina yang menurut Richi dilakukan karena Harry.


Axel melempar bola ke ring. Mereka yang sejak tadi belum berganti pakaian, akan latihan sebentar karena besok akan melawan sekolah Camilla. Acara akan meriah karena penentuan juara pertama.


"Hugo, apa kau ingat wajah orang-orang itu?" Daren men-dribble bola dengan santai untuk pemanasan.


Hugo melempar jeketnya dengan asal ke atas bangku. Dia mengambil bola lain dan melempar ke ring. Entah kenapa dia terlihat kesal.


"Enggak. Siapapun dia, setelah ini aku akan balas semua".


"Kau jangan kemana-mana. Besok pertandingan penting dan kau tidak boleh di gantikan seperti tadi." Ucap Isac yang mengacak pinggang. "Untung tadi menang. Kalau tidak, bisa malu kita jika kalah tahun ini".


"Benar, Hugo. Besok pertandingan penting dan akan sangat meriah karena sekaligus acara penutup. Hampir semua murid dari sekolah lain datang". Sambung Axel lalu merebut bola dari Daren dan memasukkannya kedalam ring.


Hugo terduduk selonjor di lantai lapangan. Dia menopang tubuhnya dengan kedua tangan dibelakang.


"Kapan acara penutup?"


"Kenapa? Kau mau membawa siapa, ha?" Bukan menjawab, Axel malah menanya balik.


Hugo mendongakkan wajah seperti menantang cahaya matahari.


"Aku sepertinya tidak ingin datang"


"Apa?" Ketiga temannya serentak. Mereka tak percaya dengan jawaban Hugo. Padahal dia adalah lelaki yang menyukai pesta sebelumnya.


"Kenapa? Kau patah hati karena Richi pasti datang dengan Emerald, begitu?"


Tawa Daren meledak saat mendengar ucapan Isac.


"Kau pikir aku peduli? Sudah, cepat main. Aku mau pulang setelah ini". Ucapnya lalu bangkit dan mulai meraih bola dari tangan Axel.


To Be Continued....

__ADS_1


__ADS_2