
"Mukanya jadi gitu?"
Richi menatap wajah Hugo yang bejalan beriringan dengannya. Tangan mereka saling bertaut dan menggenggam dengan erat.
"Lagi mikir bagaimana cara bicara ke Ricky, ya?"
"Enggak." Hugo langsung menggelengkan kepalanya. "Aku sedang mikir, jurusan apa yang cocok untuk kita berdua."
"Kok, gitu? Kuliah tuh, yang sesuai dengan apa yang kita impikan saat ini untuk masa depan." Sanggah Richi.
"Tapi aku tidak punya mimpi."
"Hee??" Richi mengerutkan dahi. Bagaimana bisa lelaki ini tidak punya mimpi?
"Kuliah diluar negeri itu, pada awalnya hanya supaya aku menjauh dari ayah. Tapi semenjak ada dirimu, aku tidak ingin jauh-jauh lagi."
"Hm.. begitu, ya. Sekarang, mulailah pikirkan kemana arah hidupmu nantinya, karena itu sangat penting." Tukas Richi dan Hugo hanya menatap kakinya yang melangkah perlahan.
"Oh ya, Chi." Hugo menghentikan langkahnya dan mulai menatap kekasihnya dengan serius. Tangan mereka masih saling bergenggaman, dan Hugo memang mengeratkannya. Dia tak ingin melepas barang sedetikpun.
"Katakan padaku, kapan, tahun berapa, diusiamu yang keberapa kau ingin kulamar?"
"Hah?" Mata Richi langsung melebar, sesuai dengan pembahasan Hugo yang selalu out of the box.
"Cepat jawab. Aku sudah sangat bersemangat mendengarnya."
"A-aku..belum berpikir kesana. M-mungkin 15 tahun lagi." Jawabnya dengan takut-takut karena reaksi Hugo nantinya.
"APA?? 15 TAHUN?"
"I-iya, aku belum tahu pasti. Yang jelas, aku belum siap menikah cepat-cepat. Hehee." Richi perlahan melepaskan genggaman Hugo dan berjalan duluan ke depan. Dia tidak yakin ingin berjalan bersama setelah melihat reaksi Hugo tadi.
15 tahun katanya? Hugo bergumam dalam hati. Namun tiba-tiba senyum miring muncul di sudut bibirnya. Jika sekolah militer yang merupakan keinginan terbesar Richi saja ia bisa mengubahnya, apalagi soal pernikahan.
"Hehe, awas saja kalau tamat sekolah minta nikah." Cengir Hugo kemudian berjalan cepat mengejar Richi.
...🐥...
Pagi-pagi sekali, mereka sudah di dalam mobil untuk pulang. Kali ini, Richi harus menutup kuping karena rengekan Hugo yang tak mau pisah mobil.
Semua laki-laki dalam satu mobil, begitu juga tim Fox yang menaiki mobil Hugo dikendarai oleh Bella. Olivia menolak menyetir karena masih ingin tiduran, hal yang dianggap Clair sebagai kegalauan.
"Aku tidak galau!" Sanggah Olivia.
"Jelas sekali kau galau. Wajahmu itu merengut terus sejak Daren mengerjaimu kemarin." Tukas Bella sambil terus menatap jalan di depannya.
"Namanya juga jatuh cinta." Ledek Clair yang disebelah Bella.
__ADS_1
"SIAPA YANG JATUH CINTAAA!!" pekiknya tak terima.
"Hahaha. Kau dulu bagaimana, Rel, saat pertama kali dengan Hugo?" Tanya Bella melirik Richi dari spion depan.
"Aku cepat sadar, kalau aku memang sudah suka padanya. Tapi, karena dia juga pada awalnya menyebalkan, aku memilih mundur terang-terangan." Jelas Richi sambil sesekali melirik Olivia yang memeluk bantal kecilnya.
"Oh? Hugo juga sama seperti Daren hahaha." Clair terkikik.
"Jelas saja. Satu lingkaran." Sambung Bella. "Eh, itu artinya, Daren juga nanti akan seperti Hugo, kan? Secinta itu pada Darrel. Kalian tidak lihat, betapa berlebihannya dia tak ingin pisah mobil. Dasar, budak cinta." Gerutu Bella.
"Haha. Kalau dilihat dari bentukannya, Hugo terlihat dingin dan sangat cuek. Tapi, kalau ketemu pawangnyaa.." Clair menoleh kebelakang dan Richi hanya tertawa pelan.
"Lalu, kau?" Tanya Richi.
"Aku? Kenapa?" Tanya Clair balik.
"Kau juga belum cerita bagaimana kau bisa dekat dengan kak Simon!" Sambung Olivia.
"Aah, itu. Hehe."
"Cepat cerita, jangan beralasan!" Tukas Bella, sesekali ia melirik Clair disebelahnya.
"Hmm.. aku juga tidak tahu. Selama ini hanya cerita-cerita biasa."
"Hah? Cerita-cerita biasa bagaimana? Aku bahkan hampir tak pernah mendengar suara kak Simon." Sambung Olivia.
"Sampai sana, kau mengucapkan terima kasih pada kak Simon dan mencium bibirnya, kan? Aku sudah hapal dirimu." Kata Bella sambil terkikik.
"Hahah, yang benar??" Sambung Olivia.
"Karena aku tahu, dia suka padaku tapi tidak mau menyatakan perasaannya. Jadi, aku pancing saja." Jawab Clair cuek dan Richi menahan tawa. Dia memang tahu Clair adalah gadis yang berterus terang.
"Pasti ciumanmu sangat membuat kak Simon terkejut, kan?" Tanya Olivia.
"Emm.." Clair tampak sedikit berpikir. "Awalnya iya, tapi lama-lama dia yang-"
"Stop, stop." Olivia memotong ucapan Clair, dia tak mau mendengarkan lebih. Itu tentu saja membuatnya teringat dengan ciumannya dengan Daren.
"Hahah. Kenapa?? Ciumanmu tak membuat Daren berubah? Hahaha." Tawa Bella pada Olivia. Dan gadis itu langsung cemberut dan membuang wajah keluar jendela.
Sementara dari belakang, Hugo terus menatap mobil miliknya yang di dalamnya ada kekasihnya. Tidak bisa satu mobil dengan Richi, maka melihatnya dari belakang pun tak masalah.
"Kenapa sih, kita harus dekat gini ke mobil mereka?" Tanya Isac di belakang Hugo.
"Jangan tanya, si gila ini ingin terus dekat dengan pacarnya itu." Tukas Daren yang mengemudikan mobilnya.
"Hah, dasar sinting. Sesekali kan, tidak masalah. Richi juga punya kehidupan, tahu!" Tukas Axel.
__ADS_1
"Kehidupannya itu aku." Balas Hugo dan langsung membuat teman-temannya bungkam. Mereka enggan menanggapi Hugo yang gila itu.
"Kau bagaimana, Daren? Bukannya kau menyukai Olivia?" Tanya Axel lagi.
"Aku? Olivia? Kau gila, ya!" Sanggahnya yang tetap fokus ke jalan di depannya.
"Lho, bukan, ya? Aku kira kau menyukai Olivia."
"Apa aku terlihat begitu?" Tanya Daren melirik ke spion di depannya.
"Ya, sangat terlihat." Jawab Hugo cepat.
"Padahal Olivia cantik, ya. Tangguh lagi." Puji Axel.
"Kalau kau mau, aku bisa bantu menguruskanmu dengan Olivia."
Daren melirik pada Hugo disebelahnya. Sementara Hugo pura-pura tidak melihat itu.
"Serius, nih?" Tanya Axel lagi.
"H'em.."
"Asyikk.."
Daren mulai gusar. Dia berkali-kali melirik Hugo dengan kesal dan laki-laki disebelahnya itu tampak cuek saja.
"Kau kenapa, Daren?" Tanya Hugo. "Gelisah begitu."
"Siapa yang gelisah." Bantahnya.
"Baguslah. Hehehe."
Jawaban Hugo, malah semakin membuat Daren kesal padanya. Jelas lelaki itu paham, tapi sikapnya seperti tidak tahu apa-apa.
TIINN!
Daren mengklakson kuat mobil di depannya dan langsung menyebeng mobil tim Fox dengan kencang. Membuat seisi mobil berpegangan kuat dan bergidik.
"Hoi! Kau gila???" Teriak Isac pada Daren yang semakin menaikkan kecepatan mobilnya.
"Daren! Apa yang kau lakukan! Cepat turunkan kecepatannya!!" Pekik Axel.
Bukan semakin merendahkan kecepatannya, Daren semakin mengencangkannya.
"Wooohhoooo. Hahaha..." Si Gila Hugo, malah menikmati emosional Daren yang sama gilanya.
"Ayo, Daren. Keluarkan kekuatanmuuu!!" Pekik Hugo yang tertawa-tawa. Dia sadar, Daren tengah kesal karenanya dan tingkahnya itu, tentu saja membuat Daren semakin panas.
__ADS_1
TBC