
Hugo tak berkedip menatap Richi yang tengah menuruni anak tangga, bergandengan bersama Clair disebelahnya. Mata gadis itu pula beberapa kali melirik kearah Hugo yang nampak menganga melihat keindahan di depan matanya.
"Bisa tidak kau rapatkan bibirmu itu?" Bisik Simon pada Hugo yang berdiri disebelahnya.
"Kau tidak tahu kan, betapa cantiknya calon istriku."
Simon hanya menggelengkan kepala, tak ingin merespon lagi ucapan Hugo yang dianggapnya gila.
Richi dan Clair sudah sampai di anak tangga terakhir. Mereka melangkah bersisian. Suasana di ruang itu hening karena memperhatikan mempelai wanitanya berjalan menuju mempelai pria.
"Aku serahkan sahabatku ini padamu, Simon. Jaga dan sayangi dia. Kalau tidak, kau akan berhadapan denganku." Ucap Richi pelan pada Simon dengan sedikit ancaman yang tak main-main walau bibir gadis itu menyunggingkan senyuman.
Simon hanya mengangguk dengan mata yang tak lepas dari Clair yang wajahnya tertutup layer putih.
Richi memiringkan tubuh, menghadap Clair. "Kau bahagia kan, Clair?" Tanya Richi memastikan walau wajah Clair saat ini sangat cerah dan bersemangat.
"Kau tahu jawabannya. Cepat serahkan aku pada Simon."
Richi menghela napas. Sialan, padahal dia ingin memastikan itu karena ia tak mau Clair menyesal nantinya. Tapi gadis itu malah terlalu girang sampai mengabaikan Richi.
Richi menatap Hugo yang terkekeh disebelah Simon. Lelaki itu lalu mengulurkan tangan.
"Mari, cintaku. Biarkan mereka melangsungkan janji suci mereka."
Richi tersenyum kembali, menyambut tangan Hugo dan segera menjauh dari tempat Clair dan Simon yang akan segera melangsungkan pernikahan mereka.
"Kau cantik sekali." Bisik Hugo pada Richi disebelahnya saat semua hening menyaksikan ikrar cinta sepasang calon suami istri disana.
"Kau sudah mengatakannya berkali-kali." Balas Richi dengan tatapan terus kedepan.
"Aku akan mengatakannya beribu kali lagi." Goda Hugo pada Richi yang kemudian manyun.
"Fokuslah, Hugo..." bisik Richi.
"Oke.."
Lelaki itu malah menopang dagu menatap kearah Richi yang memperhatikan kedepan.
Gadis itu bertepuk tangan bersama tamu yang lain saat kedua mempelai sudah sah menjadi sepasang suami istri. Mereka semua berdiri dan tepuk tangan semakin bergemuruh saat Clair dan Simon saling menunjukkan rasa sayang dengan ciuman tepat setelah keduanya dinyatakan sah.
__ADS_1
Beberapa menit berlalu. Acara inti sudah hampir selesai kecuali satu. Pelemparan bucket bunga oleh pengantin baru.
Semua sudah berkumpul dibelakang kecuali Richi. Gadis itu hanya berdiri sembari memegang segelas sirup merah.
"Hei, cepat kesini!" Teriak Bella, namun Richi hanya mengangkat gelasnya.
"Kenapa kau mengajaknya? Tanpa ini juga dia pasti akan dilamar Erhard." Ujar Olivia pada Bella.
"Jadi kau pikir, aku tidak bisa melamarmu juga??!"
Olivia menoleh kebelakang. Ternyata Daren sudah berdiri dibelakangnya.
"Lalu, sedang apa kau disini, hah?" Tanya Bella pada lelaki itu.
"Tentu saja ikut rebutan. Hehehe."
Bella mencebik, sementara Olivia menggelengkan kepala sembari menepuk jidat melihat kelakuan kekasihnya. Ya, semenjak malam dimana Olivia dan ayah Daren makan malam, sejak itu pula hubungan keduanya tak lagi diganggu oleh Orlando.
Tentu saja Daren tetap harus menyelesaikan misinya demi mencapai mufakat dengan sang ayah. Sementara soal pendanaan yang dilakukan Orlando untuk Blackhole yang kini sudah hancur di tangan Richi pun tak diketahui oleh Daren.
Bukan karena Olivia mengikuti keinginan Orlando. Dia hanya merasa, jika ia membocorkan rahasia itu, hubungan ayah dan anak itu akan rusak. Daren takkan lagi menghormati ayahnya dan mungkin saja akan kabur dari rumah karena merasa kecew dan marah.
"Satu.. dua.. tigaaa!"
Hap! Satu tangan panjang menjulang membuat semua menoleh kearahnya. Tangan panjangnya itu berhasil menangkap bucket bunga yang bahkan belum sampai kebawah.
"Hugo!" Richi sampai terbelalak melihat siapa yang kini berada ditengah-tengah pada gadis.
"Hei, sialan. Kenapa kau yang mengambilnya??!" Teriak Bella tak terima.
Hugo pun berusaha kabur dengan mengangkat tinggi-tinggi bucket bunga itu. Lelaki itu berlari kearah Richi. Gurat bahagia terlihat di wajahnya yang kemudian mendekat kearah Richi.
Richi meletakkan minumannya diatas meja saat melihat Hugo dengan napas tersengalnya tertawa kecil sembari menyerahkan bucket itu pada Richi.
"Buatmu." Ucapnya dengan menyengir, memperlihatkan sebelah gigi taringnya.
"Bucket bunga pengantin adalah lambang keindahan. Sejauh ini, mataku hanya menatapmu sebagai keindahan yang harus kusyukuri setiap detiknya. Aku beruntung bisa memilikimu, Richi Darrel Wiley. Aku mencintaimu melebihi diriku sendiri."
Richi tertegun. Air matanya sudah tergenang mendengar penuturan Hugo yang disaksikan begitu banyak orang disekitar mereka.
__ADS_1
Richi menerima bucket itu, lalu memeluk Hugo dengan erat.
"Aku juga mencintaimu, Hugo." Balasnya dengan memejamkan mata di dada Hugo. Dia lalu mendongak, dan Hugopun menunduk untuk melumatt bibir kekasihnya itu.
Tepuk tangan meriah terdengar untuk kedua orang itu. Pandangan kagum terlihat dimana-mana. Siapapun tahu tentang hubungan mereka dan kini semua orang bisa melihat cinta yang menyatu diantara kedua orang itu.
"Sebenarnya acara ini milik siapa, sih?" Gerutu Clair pada Simon yang ikut tepuk tangan melihat keduanya.
Sementara Ricky, dia ingin muntah melihat adagena yang berada tepat di depan matanya. Dia membawa segelas anggur merah di tangannya untuk menjauh dari pasangan yang dianggapnya gila itu.
Namun saat berbalik badan, Ricky malah menabrak seseorang yang tengah melangkah kearahnya.
"Aahh maaf. Maafkan aku. Aku tidak lihat-lihat jalannya."
Ricky bergeming. Dilihatnya seorang gadis cantik dengan sanggul indah dan kepangan kecil kiri dan kanan di rambutnya. Cantik sekali, dan dia tengah mencari sesuatu di dalam tasnya.
"Maaf ya, jasmu jadi kotor." Gadis itu panik, dia mengelap tumpahan wine yang membuat jas dan kemeja putih Ricky menjadi merah.
"Aduh, bagaimana ini. Tidak bisa hilang.." kepanikan gadis itu membuat Ricky mengulas senyum kecil. Dia tiba-tiba saja punya ide.
"Hah. Bagaimana ya, ini jas kesukaanku. Kalau tidak bisa hilang, bagaimana?" Ucap Ricky dengan berpura-pura kesal.
Gadis itu takut sekali. Dia menatap Ricky dengan wajah yang hampir menangis.
"Aku akan cuci. Atau aku bisa bantu membelikan yang baru. Berapa nomor rekeningmu? Aku akan transfer. Kau tinggal sebutkan saja harganya." Katanya dengan suara yang sedikit bergetar.
"Aku mau kau mencucinya saja."
Mata perempuan itu terbelalak. "Cu-cuci?"
Ricky menyerahkan ponselnya pada gadis itu. "Serahkan nomor ponselmu supaya aku bisa menghubungimu untuk menanyakan setelanku ini."
Gadis itu diam menatap ponsel Ricky. Dia sedikit ragu, apakah harus member nomornya atau tidak.
"Jangan dikasih, Nona. Dia buaya darat yang suka memangsa gadis seperti anda."
Kata Hugo sembari berjalan bergandengan bersama Richi yang hanya tertawa geli, apalagi melihat ekspresi kakaknya yang sudah hampir meledak karena difitnah oleh calon adik ipar yang mulai saat itu tak lagi ia anggap sebagai anggota Elang.
TBC
__ADS_1
**Sorry ya pen. Gw skrg udah kerja jdi bener2 bingung buat bagi waktu untuk nulis. 🥲🥲**