
Suasana dalam ruangan sangat ramai. Suara orang-orang memekik di telinga. Pencahayaan yang tidak begitu terang membuat udara di dalam ruangan terasa semakin mencekam. Pertandingan dua orang di atas ring, telah dimulai.
Richi menyaksikan langsung pertandingan itu. Dia melihat Hugo. Laki-laki itu terlihat slugger di atas ring. Tak kenal lelah, terus menghantam lawan.
Orang-orang di sekitar sudah ribut. Bahkan sudah pasang taruhan.
"Kau lihat yang merah? Dia benar-benar tipeku". Wanita di depan Richi mulai berkomentar.
"Benar. Dia sangat gagah, Ya ampuuun!". Timpal disebelahnya sambil berjingkrak.
"Aku dengar dia masih anak sekolah" Ucap yang ditengah. "Tapi dia disebut-sebut boxer-puncher termuda, lo".
Richi ikut mendengar dari belakang. 'Boxer puncher?' Tanya balik Richi dalam hati.
Pertandingan usai, laki-laki bersarung tinju merah adalah pemenangnya.
Tangan Hugo diangkat wasit tinju. Wajahnya terlihat geram, seperti akan memangsa orang-orang disekelilingnya. Lawannya sudah KO di atas ring.
Orang-orang ramai bersorak atas kemenangannya. Richi, menarik topi Hoodie-nya untuk menutupi wajahnya saat tubuh Hugo mengarah ke tempatnya berdiri. Richi memilih pergi.
🦊🦊🦊🦊
"Kak". Richi berdiri disebelah Ricky yang sedang bermain golf. Di lapangan golf, Richi menekan topinya agar tidak terbang tertiup angin.
"Hm. Ada apa?" Tanya Ricky santai. Dia membenarkan posisi tubuhnya sebelum memukul bola kecil di atas rumput.
"Kau mengenal Hugo, kan."
"Jelaslah. Sesama pebisnis, aku pasti kenal dengan keluarganya". Ucapnya tanpa menoleh. Beberapa kali mengubah posisi tubuhnya lagi.
"Bukan. Kau kenal dia dari dulu, saat latihan Tinju".
Ucapan Richi membuat swing yang akan dilakukannya terhenti. Ricky menopang kedua tangannya dengan stick golf.
"Ceritalah adikku. Apa yang membuatmu menginjakkan kaki di lapangan golf yang tak kau sukai ini." Kata Ricky sambil meledek adiknya.
"Aku mendaftar tinju. Di Soyyo Kickboxing. Tempatmu berlatih dulu. Lalu kulihat dia bertanding di atas ring. Orang-orang bilang dia Boxer-puncher. Sama sepertimu."
"Banyak orang yang bisa menjadi Boxer-puncher". Ucapnya langsung.
"No. Tell me. I know you hide something from me."
"Tidak ada yang aku sembunyikan, Chi". Bantah Ricky. "Sudah, aku sedang menyegarkan pikiranku. Kau malah mengacau". Ucapnya sambil membenarkan posisinya lagi. Bersiap memukul bola kecil itu.
"Gaya bertarungnya sama seperti orang yang bertarung denganmu dulu."
Lagi, kata-kata Richi menghentikan aktivitas Ricky.
"Impossible. Kalau aku melawannya, sudah pasti dia kalah. Karena aku lebih tua darinya 4 tahun" Tegas Ricky pada adiknya. Dia membantah ucapan Richi dengan logikanya.
Mendengar itu, Richi sedikit berpikir. Dia lalu meninggalkan kakaknya begitu saja.
Ricky menatap adiknya yang melangkah menjauh. Dia menghela napasnya dengan kasar. "Haah.. semakin cerdas saja dia". Ucapnya lalu mulai memukul lagi.
~
__ADS_1
Richi masuk ke dalam mobil. Dia diam saja di dalam sampai Simon menegurnya.
"Kita jalan, Nona?"
"Hm."
Richi melirik Simon yang sedang fokus menyetir.
"Simon, Aku ingin bertanya sesuatu. Tapi jawablah dengan benar".
"Baik, Nona". Ucapnya tanpa menoleh. Dia memandang kedepan dengan kecepatan sedang.
"Apa kau mengenal siapa Hugo?"
"Kenal, Nona".
"Benarkah? Siapa?"
"Anak tunggal dari Tuan David Erhard, pemilik Lovvi Group. Beliau pemimpin di.."
"Bukan itu maksudku". Potongnya. "Kau kan dari dulu bersama kakakku. Kau pasti tahu sesuatu, kan? Kau pasti ingat kejadian dua tahun silam. Apakah yang bertarung dengan kak Ricky, itu Hugo?"
"Saya tidak tahu, Nona".
"Masa tidak tahu? Kau kan, selalu di samping kak Ricky sebelum denganku. Kau juga ada disana, kan? Pasti kau tahu." Ucap Richi menggebu. Dia benar-benar penasaran. Belum lagi, Hugo pernah menyebut kelompok Gallant dan Valiant.
"Saya tidak tahu, Nona".
"Aaarghhh! Kau sama saja ya dengan si Ricky itu!" Ucap Richi berang.
"Benarkah?"
"Benar, Nona. Nona bisa menanyakannya langsung".
"Iya. Aku sangat penasaran. Siapa yang bisa aku tanyakan?" Tanya Richi dengan mata yang membulat.
"Tuan besar, Nona. Ayah Nona sendiri". Jawab Simon dengan wajah tenang.
"Apa? Hei, kau ingin membunuhku, ya!" Teriak Richi kesal.
"Tidak, Nona".
Arg. Richi sangat kesal. Dia menyandarkan tubuhnya di kursi dengan wajah penasarannya di belakang. Simon yang mengintip dari spion depan, hanya tersenyum kecil melihat majikannya tidak mendapatkan informasi apapun.
🚀🚀🚀🚀
Bel pulang sekolah sudah berbunyi dari tadi. Hugo baru saja keluar dari kelasnya. Dia sudah ditinggal teman-teman lainnya yang menuju lapangan basket untuk latihan karena besok adalah pertandingan penting untuk mereka.
Hugo melirik sekeliling. Matanya mencari seseorang. Dia mendekati Eric dan Frans yang menonton latihan basket.
"Hei. Dimana Richi?" Tanyanya pada seseorang yang ia lupa namanya.
"Oh. Dia sedang pergi latihan". Jawab Eric.
"Latihan? Latihan apa?"
__ADS_1
"Tinju" Jawab Eric singkat.
"Tinju? Dimana?" Suara Hugo meninggi dengan alisnya yang berkerut.
"Di Roso, Sogo, Solo, Soo.." Eric melirik Frans. Minta bantuan karena ia lupa nama tempatnya.
"Soto?" Sambung Frans yang juga tak ingat.
Hugo langsung berlari menuju gerbang.
"Hei Hugo.." Axel teriak saat melihat Hugo kabur dari latihan.
"Benar Soto, Frans?" Tanya Eric.
"Benar. Lihatlah, dia langsung lari" Jawab Frans santai. Di dukung dengan anggukan dari Eric.
~
Richi masuk ke dalam ruangan besar. Disana ada beberapa perempuan, dia ikut bergabung disana.
"Halo.. orang baru?" Seorang perempuan yang terlihat lebih tua beberapa tahun dari Richi dan berambut pendek menyapanya.
Richi tersenyum "iya, kak."
"Siapa namamu?" Tanyanya sambil mengulurkan tangannya.
"Richi" ucapnya menyambut tangan senior itu.
"Aku Velly". Ucapnya sambil tersenyum ramah.
"Hai, aku Jils" Sapa gadis yang rambutnya di ikat ke atas. Perempuan ini sangat manis, batin Richi.
Richi menyambut tangan Jils. Hanya satu orang yang merasa enggan. Namun Richi tetap mengulurkan tangannya.
"Jessica" Ucapnya dengan malas menyambut tangan Richi.
"Aku baru satu tahun masuk disini. Kalau Jils, dia sudah sekitar 2 tahun. Benar kan, Jils?" Tanyanya meyakinkan apa yang ia katakan.
Dibalas anggukan cepat oleh Jils.
"Kalau Jess, dia sudah 3 tahun."
"Empat tahun". Ralat Jessica.
"Ah, maaf. Ya, begitu. Semoga betah ya, Richi". Ucap Velly dengan ramah.
"Ya semoga saja. Mengingat perempuan terkahir yang masuk hanya bertahan 2 jam." Ucap Jessica sambil tersenyum miring.
"Kau masuk kemari, bukan karena mengincar seseorang, kan?" Tanya Jess lagi.
Richi mengerutkan alisnya. "Mengincar seseorang?"
Velly tertawa. "Disini ada senior juga pelatih yang ganteng. Kebanyakan perempuan yang masuk hanya supaya dekat dengannya saja. Alhasil, tidak pernah ada yang bertahan dalam tiga hari" Jelas Velly pada Richi yang mengangguk lambat.
"Kita lihat saja nanti". Ucap Jess yang melirik Richi dari atas sampai bawah kakinya.
__ADS_1
To Be Continued...