Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Mengerjai Richi


__ADS_3

"Sial." Umpat Saver dan berusaha kabur. Jonathan dan Simon langsung mengejarnya.


Sementara Albern menegang di tempatnya. Padahal dia sudah menyusun rencana, entah bagaimana bisa gagal.


"Kau lupa, Rubah sangat jago berburu di malam hari." Tukas Richi dengan senyum miring, membuat Albern seketika merinding.


"A-aku.."


"Jangan takut, kami tidak memangsa tikus curut. Bercanda, kau tamu di rumah kami, kan? Ayo, ayahmu pasti sudah mencarimu."


Albern terlihat berang dihina begitu oleh Ricky. "Kau pikir aku takut padamu??"


"Aku tidak berpikir kau takut, tapi aku tahu. Lagi pula, kau bukan imbangku."


Albern mengerang, menggenggam belatinya dengan erat. Dia menyerang Ricky yang langsung memutar tubuhnya, menendang kepala Albern dan langsung terhantam lantai.


Dia merintih, memegangi telinganya yang berdengung kencang.


"Ternyata kau lebih bodoh dari Harry." Kata Hugo yang lalu berjalan mendekati Richi.


"Kau baik-baik saja, sayang?" Tanyanya dan Richi mengangguk.


"Jangan pacaran di depanku atau kubunuh kalian." Ancam Ricky yang menatap sinis pada Hugo. Membuat Richi menahan tawanya.


...~...


"Ada apa ini?? Kenapa wajah Albern seperti ini?" Tanya Draw dengan amarah saat Richi datang dengan Albern yang wajahnya sempat di hantam Ricky.


"A-aku jatuh, ayah."


"Jatuh apa seperti ini??" Pekik Draw sambil melotot pada Richi.


"Aku belajar main skate board, Ayah. Aku jatuh terbanting." Jawabnya bohong. Padahal tidak diancam apapun.


Richi menatap ayahnya yang tampak duduk tenang menyeruput tehnya.


"Tidak mungkin! Mana ada jatuh yang membuat babak belur seperti ini!" Pekiknya lagi.


"Apa kau sedang menuduh anakku yang melakukannya?" Tanya Wiley sembari meletakkan tehnya.


"Bu-bukan seperti itu, jenderal."


Richi tersenyum senang melihat Draw yang gelagapan.


"Ah, maafkan saya, Jenderal." Ucap Draw sambil menatap Richi dengan geram. Sedangkan gadis itu hanya tersenyum cerah.


"Ayo, kita pulang." Draw merangkul Albern lalu seperti menyadari sesuatu.


"Kemana Saver?" Tanyanya pada Albern, dan pemuda itu hanya diam.


"Mungkin sedang jalan-jalan, tuan. Dia suka sekali berada disini." Jawab Richi saat Draw meliriknya.


"Kami permisi, terima kasih sudah membawa Albern keliling, Richi." Ucap Draw dengan wajah yang terpaksa diramahkan.


"Panggil saja saya Darrel, tuan. Terima kasih kembali." Jawab Richi sambil tersenyum menantang. Dia sudah sangat lega setelah Valiant berhasil mengetahui rencana busuk mereka.


Richi mengantar kedua orang itu keluar. Draw sedikit terkejut dengan kehadiran Ricky dan tentu saja Hugo, anak tiri mantan istrinya.


"Kenapa anda terkejut, tuan? Apa ada yang anda harapkan terjadi malam ini?" Tanya Ricky lalu tertawa kecil.

__ADS_1


Draw tidak menyahut. Dia membuka pintu mobil.


"Selamat malam, tuan besar. Semoga anda selamat sampai tujuan." Ucap Ricky lagi dan mendapati Draw terkejut dengan ucapannya.


Dia buru-buru masuk dan mobilnya melaju kencang.


"Mana Saver?" Tanya Richi.


"Aman, di markas." Ucap Ricky lalu masuk ke dalam rumah.


"Lho, begitu saja? Tidak menemui Saver?" Tanya Richi yang heran kakaknya malah masuk ke rumah.


"Aku lelah, terlalu banyak pekerjaan hari ini. Kalau kau sayang sekali padanya, temui saja sana." Tukasnya. "Kau juga, langsung pulang sana." Usirnya pada Hugo dan langsung masuk ke rumah.


Sementara Richi menarik lengan jeket Hugo. "Apa mau langsung pulang?"


Hugo menatap wajah Richi yang seperti anak kucing tak ingin induknya pergi, membuat Hugo yang awalnya ingin pulang, menundanya.


~


"Bagaimana kalian tahu soal tuan besar yang menjebak Valiant?" Tanya Richi sambil menginjakkan sebelah kakinya di atas skateboard. Mereka mengobrol di lapangan quarter skateboard.


"Ayahmu. Dia menelepon Ricky, katanya tuan Draw datang ke rumah. Sudah pasti dia tidak ada di markasnya. Untung kami belum sampai disana. Jadi, kami merancang rencana lain."


"Oh, apa ayah tahu rencana Valiant, ya? Rencananya apa?"


Hugo mendekati Richi. "Kau penasaran?"


Richi menatap Hugo yang terus mendekat ke arahnya.


"Mau apa kau?"


"Tidak ada, aku hanya rindu." Jawab Hugo sambil merentangkan tangannya.


"Hah!" Hugo melengos mendengar Richi menyepelekannya. "Kacang!" Ucapnya ikut meremehkan tantangan Richi.


"Kalau begitu, tunjukkan padaku." Richi mendorong skateboard dengan kakinya menuju kaki Hugo.


"Lihat, ya." Ucapnya lalu meletakkan kakinya di atas papan.


Dari situ saja, Richi sudah bisa melihat kaki Hugo yang kaku. Jelas sekali dia tidak bisa bermain skate.


"Kau yakin bisa, Hugo?" Tanya Richi meyakinkan.


"Kau menyepelekanku?" Hugo menatap sinis. Entah kenapa pertanyaan Richi malah membuatnya merasa dikecilkan.


"Hati-hati, loh."


Hugo langsung meluncurkan papan skate ke jalan yang tanpa ia sadari, jalan itu menurun.


"Eh, eh,.." Hugo nampak panik.


"Hugo, turunkan sebelah kakimu!!" Teriak Richi.


"Aaakk."


GUBRAK! Hugo terjatuh dari skate. Sialnya, dia malah ditertawakan Richi.


"Buahahahahahaa!!" Richi terpingkal sambil memegang perutnya.

__ADS_1


"Aduhh!" Hugo meringis, memegangi pergelangan kakinya.


"Eh, Hugo. Kau kenapa?" Richi berlari mengejar Hugo yang sudah terduduk di ujung jalan.


"Ah, kakiku.."


"Kau ini! Makanya kalau tidak bisa, apa susahnya sih, bilang tidak bisa!" Richi malah mengomel.


"Aku bisa! Dasar jalannya saja yang tidak rata!"


Richi melengos. Bisa-bisanya dia menyalahkan jalan.


"Bisa jalan?"


Hugo menggelengkan kepala. "Sepertinya kakiku terkilir."


"Ya sudah, aku bantu berdiri."


Richi membantu Hugo bangkit dan melingkarkan tangan Hugo di bahunya, memapahnya berjalan pelan-pelan.


"Makanya, lain kali hati-hati. Kalau kakimu patah, baru tahu rasa!" Omel Richi.


"Bagaimana besok sekolah kalau begini? Sebentar lagi ujian, lho!"


Hugo melirik Richi sambil tersenyum kecil. Senyuman yang tidak bisa ia tahan. Menatap gadis yang susah payah memapahnya sambil memarahinya. Sangat menggemaskan, batin Hugo.


Richi memapah Hugo sampai di depan rumahnya, membantunya masuk ke dalam mobil.


"Kau yakin bisa menyetir?" Tanya Richi melalui jendela mobil Hugo.


"Bisa, terima kasih, ya."


"Besok bisa sekolah?" Tanya Richi lagi.


"Hm.. Belum tahu juga."


"Begitu, ya." Wajah Richi terlihat sedikit lemas. Membuat Hugo lagi-lagi merapatkan bibir menahan tawa.


"Kau sedih aku tidak masuk sekolah?" Tanya Hugo.


"Tidak. Sudah sana, pulang. Kau harus ke dokter. Kau dengar aku, kan?"


"Iyaa, cerewet!"


Richi melambaikan tangan, terus berdiri sampai mobil Hugo menghilang. Dia sedikit merasa bersalah sebab dia memang sengaja memancing Hugo. Tidak tahunya lelaki itu malah merasa sok hebat, membuat Richi geleng-geleng kepala.


...🐣🐥...


Richi berdiri tak jauh dari gerbang sekolah, menunggu Hugo yang jalannya masih pincang. Sejak tadi dia mencoba menghubungi Hugo namun tidak dijawab. Bella juga bilang kalau Hugo belum ada di kelas. Itu artinya, Hugo belum datang. Dia benar-benar khawatir.


Tak lama, Hugo datang dengan mengendarai motornya, membuat Richi tercengang. Bukannya kakinya sakit?


Hugo turun dari motor dengan wajah cerah. Dia berlari kecil dari parkiran menuju gerbang utama. Sementara Richi yang kaget, merasa tertipu sejak tadi malam.


Richi menyembunyikan diri di balik tembok. Membiarkan Hugo lewat dengan bahagia.


Dia melihat Hugo berlari kecil menaiki tangga.


"Wah, lihat penipu itu. Benar-benar mengerjaiku."

__ADS_1


Hugo berhenti sebentar saat akan melewati kelas Richi. Dia mulai memincang-mincangkan kakinya sambil sesekali melirik ke dalam kelas Richi.


Richi yang menyaksikan dari bawah, hanya menggelengkan kepalanya. "Kau mengerjaiku? Lihat balasannya." Gumam Richi sambil berjalan ke kelasnya.


__ADS_2