Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Dansa


__ADS_3

Richi keluar dari mobil yang pintunya dibukakan oleh Emerald. Lelaki itu tak henti tersenyum melihat Richi yang entah sadar atau tidak, penampilannya sangat memikat malam ini.


"Kenapa dibukakan segala, sih". Komplain Richi pada Emerald yang mendadak memperlakukannya bak putri raja.


Emerald tertawa kecil. Hari ini, Richi menjadi pasangannya. Ibu dan Ayah Richi, juga orang tua Emerald sudah sampai duluan. Kini mereka yang akan masuk ke sebuah restoran besar.


Richi berjalan berdampingan dengan Emerald. Dia terlihat anggun dengan dress putih tali satu yang memperlihatkan bahu mulusnya. Panjang Dress hingga atas lutut. Rambutnya juga tidak banyak berubah, hanya dibuat sedikit keriting dan tergerai panjang begitu saja. Dia juga menambah bando dengan aksen kepang dengan bunga mawar kecil putih di atasnya. Sepatu hak tinggi berwarna putih membuat penampilannya sangat sempurna.


"Ayo". Emerald melonggarkan lengan kirinya supaya Richi menggandengnya. Diapun sangat tampan dengan jas hitam dan kemeja putih.


Richi yang melihat itu hanya diam. Benarkah dia harus menggandeng Emerald? Dia belum terbiasa.


Mendapat anggukan kecil dari Emerald, Richi meraih dan menggandeng lengan kiri lelaki itu. Mereka berjalan hingga memasuki restauran yang sangat luas dan indah itu.


Beberapa kali Emerald disapa oleh kolega Ayahnya yang mengenalnya. Richi tampak bingung karena dia tidak mengenal siapa-siapa.


Dia menoleh kiri kanan, mencari orang tua dan kakaknya. Tetapi dia belum menemukan mereka di keramaian tempat itu.


"Emerald, kau kah?" Seorang perempuan cantik menyapa Emerald.


"Cristina?" Emerald mengenalnya.


"Haha. Ya ampun, aku sampai terkejut melihatmu menggandeng gadis cantik. Tidak seperti biasanya". Oceh gadis itu sambil tertawa. Richi tersenyum padanya.


"Kau pasti tidak percaya. Alex, Choi, dan Vent juga ada disini." Perempuan itu menyebut beberapa nama asing di telinga Richi. "Ayo, kita kesana. Kita reuni sebentar saja. Mereka pasti tidak sangka kau disini".


"Ah, aku.." Emerald melihat Richi.


"Tidak apa, kak. Pergilah. Aku menunggu disini." Ucap Richi pada Emerald yang terlihat ragu untuk meninggalkan Richi.


"Baiklah. Aku hanya sebentar."


Sebelum beranjak pergi, perempuan itu tersenyum pada Richi lalu menggandeng tangan Emerald sambil mulai mengoceh lagi.


Richi mengambil satu gelas minuman dari pelayan yang melewatinya. Dia meneguk minuman itu sambil melihat-lihat sekelilingnya. Siapa tahu dia mengenal seseorang.


Mata Richi terhenti pada seorang laki-laki yang berperan sebagai pelayan berseragam putih memegang nampan minuman. Bola mata Richi mengikuti arah laki-laki itu berjalan. "Dia.." Richi mencoba memperhatikan terus pelayan itu. Dia seperti mengenalnya, tapi tidak ingat, dimana dan kapan?


Matanya terbelalak saat ingat bahwa laki-laki itu adalah salah satu anggota Stripe yang menghajar dirinya dan Hugo di Wallpox.


Pelayan itu berjalan ke arah pintu belakang, Richi tergerak untuk mengikutinya.


"Hai, selamat malam". Sapa seseorang dari belakangnya.


Richi berhenti, dia berbalik badan dan melihat laki-laki bertubuh tinggi dan berkaca mata berdiri sambil tersenyum padanya.


Richi terdiam melihat sosok di depannya.


"Ternyata benar, kau orangnya. Siswi Oberon yang tidak sengaja kutabrak sampai headset-nya terjatuh. Benarkan?"


Harry tersenyum lebar. Matanya menyiratkan kesenangan karena akhirnya bertemu dengan perempuan yang dia cari.


Richi melihat lagi ke arah pelayan yang tadi ingin diikutinya. Tapi, sosoknya sudah tidak ada.


"Kau tidak jauh berbeda, ya. Tetap cantik". Harry mengulurkan tangannya kepada Richi. "Aku Harry Draw. Ketua basket sekolah Palmy. Kau ingat aku?"


Richi mengangguk lambat, lalu menyambut jabatan tangan lelaki itu.


"Lalu kau, Richi?" Tanyanya meyakinkan ingatannya mengenai gadis di depannya itu.


Richi mengangguk lagi sambil melepas tangannya dari genggaman Harry. "Richi Wiley".

__ADS_1


"Namamu sangat unik". Pujinya dengan mata berbinar. Dia terus menunjukkan senyum menawannya pada Richi, membuat gadis itu sedikit geli.


Richi lalu mengingat sesuatu. Draw? Berarti ini acara keluarganya.


"Kau bersama siapa, Richi? Apakah Sendiri?"


"Tidak. Aku bersama temanku. Dia sedang ada urusan".


"Begitukah? Artinya kau sendirian sekarang. Baiklah, aku yang akan menemanimu".


Richi menghela napasnya. Padahal, dia lebih baik terbengong sendirian seperti orang bodoh dari pada harus bersama laki-laki itu.


Tak lama, bunyi dentingan gelas terdengar. Membuat semua tamu mendadak tenang karena pertanda seseorang akan memulai pidatonya.


"Hadirin sekalian, terima kasih atas kedatangan anda semua di acara pembukaan Restoran baru kami. Restoran ini adalah sajian khusus Eropa dan akan menjadi restoran yang paling mewah di kota ini."


Para tamu tepuk tangan dengan meriah.


"Ini adalah milik anak kami tercinta, sebagai hadiah dari kami karena dia telah memenangkan olimpiade matematika di beberapa negara. Dia adalah Harry Draw."


Semua mulai bertepung tangan lagi, wajah-wajah mereka menghadap Harry yang tersenyum lebar disebelah Richi.


Harry berjalan menuju Ayahnya dan memberi pidato pendeknya. Entah apa yang lelaki itu ucapkan, Richi tidak menyimak. Dia hanya menatap isi gelasnya sambil sesekali meneguknya.


"Baiklah, mari kita mulai berdansa bersama pasangan masing-masing". Suara Harry terdengar lebih kuat.


"Dan aku, akan berdansa dengan seorang perempuan tercantik, yang pernah kutemui".


Harry mengarahkan tangannya ke Richi. Semua orang bertepuk tangan menatap Richi.


Richi terdiam. Dia tidak sangka Harry mengajaknya berdansa bahkan dipertemuan yang tidak dikehendaki ini.


Harry berjalan mendekat. Dia lalu berlutut di depan Richi, mengulurkan tangannya untuk mengajak berdansa.


Seorang pelayan membentangkan nampan, Richi pun meletakkan gelas yang ia genggam diatas nampan itu.


Richi meraih tangan Harry. Mau tidak mau, dia mengikuti arah tangan Harry yang menariknya ke lantai dansa.


Mereka menjadi pandangan orang-orang disana.


Harry mulai merapatkan tubuhnya. Menggenggam tangan kiri Richi dan memeluk pinggang kecil gadis itu dengan tangan kirinya.


Alunan musik membuat Richi mengikuti arah Harry membawanya.


Richi berdansa dengan orang yang dia tidak kenal. Sesekali dia berputar hingga rambut dan dressnya pun ikut mengembang.


Beberapa pasangan mulai ikut berdansa di dekat mereka.


Harry merapatkan tubuhnya lagi. Menunduk ke bawah, menatap Richi yang tidak ingin mendongakkan kepalanya menatap Harry.


"Rambutmu bagus sekali" bisik Harry di telinga Richi. Dia hanya tersenyum tipis.


Harry memutar Richi lagi, lalu tangannya terlepas. Richi berputar sampai mendarat di pelukan seseorang di dekatnya.


Seseorang itu langsung memegang pinggang Richi yang kelimpungan.


Richi tersenyum melihat sosok di depannya.


"Maaf, aku terlambat".


Emerald sedikit menundukkan kepalanya kepada Harry, pertanda dialah yang akan melanjutkan dansa dengan Richi.

__ADS_1


Harry sedikit kesal. Lelaki itu pun membungkukkan badan kepada Emerald, lalu meninggalkan lantai dansa. Harry tidak bisa berkomentar sebab dia mengakui kehebatan Emerald dibanding dirinya.


Emerald merapatkan tubuh Richi dan mulai berdansa. "Apa dia mengganggumu?" Bisiknya pada Richi.


"Ya. Sangat mengganggu". Bisik Richi yang mendongakkan kepalanya dan tersenyum lebar pada Emerald, merasa lega bisa lepas dari Harry.


Mereka mengikuti alunan musik sambil menari-nari hingga tidak sadar beberapa pasang mata memperhatikan mereka.


"Kau ternyata bisa dansa, ya". Tawa Emerald yang salut pada Richi. Gadis itu hanya tersenyum lebar.


"Terima kasih, menolongku".


Ucap Richi yang hanya dibalas senyuman khas Emerald.


Sementara di suatu sudut, seseorang memandang Richi dengan penuh kebencian. Dia mengepalkan tangannya, menunggu waktu yang tepat untuk memberinya pelajaran.


...🌟...


Axel terbelalak saat menerima sebuah pesan dari Daren.


"Gila! Dia patut diacungi jempol". Pekik Axel tiba-tiba saat Hugo tengah mengunyah buah diatas kasurnya.


"Ada apa?" Isac meraih ponsel Axel dan ikut terbelalak. "Bagaimana mereka berkenalan?"


"Berikan ponselnya padaku". Tangan Hugo menjulur menerima ponsel Axel.


Hugo terdiam memperhatikan sebuah foto yang dikirimkan Daren.


"Apa ini Richi?" Tanya Hugo yang melihat Richi membelakangi kamera. Hanya wajah Harry yang sangat jelas berdansa dengan gadis itu.


"Kau bisa tahu ya, Hugo. Padahal gadis itu membuat rambutnya sedikit keriting". Tutur Axel sambil mengunyah jeruk yang awalnya dia kupaskan untuk Hugo.


Hugo menggenggam kuat ponsel Axel. Dia merasa marah karena Harry berdansa dengan Richi. Bagaimana bisa? Tangan Harry bahkan memeluk pinggang dan menggenggam tangan Richi seperti sepasang kekasih.


"Daren bilang, mereka hanya berdansa sebentar. Karena tak lama, ketua osis merebutnya dan berdansa dengannya. Wah, romantis sekali tuan Emerald". Ucap Axel dengan wajah sumringah. Dia melewatkan raut wajah Hugo yang berubah kesal.


"Dimana acara itu? Aku akan kesana!"


"Apa? Hei kau gila. Kau baru sadar, tahu. Lagi pula, apa hubungannya denganmu? Dia sedang tidak mengancammu, tahu." Jawab Axel yang tidak bisa membaca situasi dan tidak sadar kalau Hugo bukan marah karena itu.


"Kau istirahat saja. Supaya lekas pulih. Sabarlah, kata dokter 3 hari kau sudah bisa kembali sekolah. Ayahmu memilihkan obat terbaik supaya kau cepat sembuh. Setelah itu, kau bisa pergi ke pesta manapun yang kau mau". Ujar Isac pada Hugo yang terlihat menegang.


"Hugo, Daren suruh kau mengecek ponselmu". Kata Axel sambil menatap ponselnya.


"Mana ponselku?"


Isac menarik laci dan memberikan ponsel Hugo.


Hugo menaikkan sebelah alisnya. Dia lalu menarik senyum sebelah kirinya melihat apa yang Daren kirim.


"Apa itu?" Tanya Axel penasaran karena Hugo tersenyum.


"Bukan apa-apa". Jawabnya sambil tetap memandang foto Richi yang sedang memegang segelas minuman berwarna kuning. Gadis itu berdiri sedikit menyamping, Daren mengambilnya diam-diam untuk dia bagikan kepada sahabatnya.


"Cantik sekali". Gumam Hugo pelan. Matanya tidak berkedip. Dia mengusap wajah Richi dengan ibu jarinya. Ingin sekali dia mengelus lembut rambut gadis itu lagi.


Dia menyimpan ponselnya, lalu menidurkan tubuhnya sambil terus tersenyum seolah melihat gadis itu di pelupuk matanya.


To Be Continued....


Hallo♡

__ADS_1


Terima kasih ya sudah mendukung Author dengan Like, Komen, Vote, dan Hadiahnya💐


Jangan lupa baca cerita Author "Duka 2 Garis Merah" 🙈


__ADS_2