Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Tiket Konser


__ADS_3

"Sepertinya kau tidak datang. Kau bilang tidak suka pesta, kan?" Celetukan Hugo membuat Richi sedikit lega.


"Iya, aku belum tahu juga".


"Apa pergi dengan Emerald?"


Richi tidak menjawab karena dia sendiri belum mengiyakan ajakan Emerald.


"Kalau kau tidak pergi, mari ke kedai kopi Clair."


Richi tertawa. "Kau mau mengulang kejadian waktu itu?" Tanyanya saat mengingat tangannya patah karena berurusan dengan Stripe.


"Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi padamu". Ucapnya lalu memakai masker yang ia turunkan ke leher sejak tadi. "Aku pergi dulu." Hugo lalu mengendarai motornya dengan kencang sampai Richi tidak lagi melihat punggungnya.


Richi memegang jantungnya. Sialan, kata-kata terakhir Hugo kenapa membuat darahnya ikut berdesir. Richi mengalihkan pikirannya dan mulai menjalankan motornya lagi.


...🍬...


Richi tengah melongo di depan gerbang. Langkah kakinya terhenti saat melihat sebuah reklame di ponselnya.


"Gilaaa! Ini konser Avril Lavigne!" Pekiknya di tengah murid-murid yang tengah berjalan menuju sekolah mereka, sementara Richi masih mematung di tengah-tengah.


"Tidak bisa dibiarkan, tak boleh lolos!" Gumamnya penuh penekanan.


"Kau menghalangi orang masuk!"


Suara dari belakang membuat Richi langsung menoleh. Hugo sudah berdiri menjulang di belakangnya.


Richi tersentak sebentar, dia langsung melanjutkan jalannya. Hugo tidak membuatnya berubah pandangan, dia tetap memandang ponsel di tangannya, memperhatikan detail tanggal dan waktu konser itu.


Richi berjalan tanpa melihat karena terlalu fokus pada jadwal konser penyanyi kesukaannya.


Richi berjalan tepat segaris lurus dengan tiang penyangga lorong, sampai Richi benar-benar tidak sadar dan kepalanya membentur tiang itu. Lalu dia terkejut, karena tembok itu sudah di halangi dengan tangan seseorang.


Richi menoleh pada orang itu. Dengan wajah sebal lelaki itu malah marah padanya.


"Kalau jalan tuh, lihat kedepan, hampir saja kepalamu benjol!"


Richi melihat kerutan di dahi Hugo, lelaki itu menampangkan wajah kesal, entah karena apa.


Hugo langsung melanjutkan jalannya sementara Richi menyentuh dahinya yang tadi di tolong Hugo.


Aksi Hugo malah mengundang banyak bisikan dari orang-orang disekitar situ. Entah berbisik karena sinis atau tersenyum karena sikap manis Hugo.

__ADS_1


"Ichi, kenapa bengong?"


Emerald menghampirinya. "Ayo". Ajaknya lalu mereka berjalan bersama.


Richi mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja. Dari tadi dia ingin membeli tiket konser, tetapi selalu saja gagal. Padahal jaringan juga bagus.


Richi menekan-nekan lagi layar di ponselnya, mengeklik tombol pembelian tiket dan gagal lagi. "Aargh!" Richi frustrasi.


"Chi, konser Avril Lavigne, tuh!" Ucap Greta dari bangku depan. Dia tahu betul Richi dari dulu menyukai penyanyi rock n roll itu.


Richi memasang wajah lesu. Ini bukan kali pertama dia gagal membeli tiket konser Avril.


Melihat itu, Greta menggeleng-gelengkan kepala seperti tahu Richi tidak dapat membeli tiket yang pasti sudah diserbu banyak orang.


Guru masuk ke kelas, Richi pun menyimpan ponselnya dengan hati resah dan sedih karena belum juga bisa membeli tiketnya.


~


Richi berjalan dengan lesu. Sejak tadi dia terus menggenggam ponselnya sambil sesekali memencet-mencet layarnya untuk menekan tombol pembelian tiket yang belum juga terbeli. Tombol itu terus saja error padahal pembukaan tiket juga baru dibuka pagi tadi.


Richi melotot saat layar ponselnya menunjukkan kata Habis Terjual. "Apaa!" Teriakan Richi membuat orang-orang di dekatnya terkejut.


"Aah, kenapa habis, sih". Richi menggenggam kuat ponselnya dengan kesal. Dia benar-benar kehilangan mood.


Mata Richi terbuka lebar sempurna saat mengetahui itu adalah tiket konser Avril Lavigne.


"Hugo!" Richi melototkan matanya yang tak lepas dari tiket itu. "Kau dapat dari mana??" Tanyanya dengan antusias.


"Dapat? Aku beli lah!" Seru Hugo.


"Aduh, Hugo. Aku beli ya tiket itu, please". Richi menyematkan jari-jarinya seperti berdoa. "Ayolah Hugo.."


"Tidak bisa" Hugo langsung memasukkan tiket itu ke dalam saku jeketnya.


"Aku bayar 3 kali lipat, ya. Atau lima kali lipat, bagaimana?" Tawarnya sambil berjalan di belakang Hugo mengikuti lelaki itu yang berjalan entah kemana. Mereka sama sekali tidak peduli pada banyaknya pasang mata yang melihat ke arah mereka.


"Aku tidak butuh duitmu. Duitku juga banyak!" Ucapnya dengan kesal.


"Atau kau mau motorku?"


Hugo berhenti mendadak hingga kepala Richi menabrak punggung Hugo. "Kau gila ya, sampai menukarkan motor ratusan juta demi tiket lima juta?" Omelnya pada Richi yang memegang jidatnya.


Richi diam saja. Lagipula kalaupun di iyakan oleh Hugo, dia pasti berpikir lagi berkali-kali.

__ADS_1


"Kau benar-benar mau ini?" Hugo menunjukkan tiket berwarna emas itu.


Richi mengangguk-angguk bagai anak kecil yang memohon permen membuat Hugo gemas.


"Aku akan memberimu secara gratis, asal kau harus menuruti apa yang kuma.."


"Oke!" Jawab Richi dengan cepat.


"Serius? Kau mau menuruti semua yang kumau. Semuanya apapun itu tanpa menolak, walau dirimu sendiri".


"Eh?"


"Bagaimana?" Hugo menaik turunkan alisnya.


"Jadi maksudnya aku harus melakukan apapun yang kau minta, walau diriku ini?" Richi mengulang apa yang ia tangkap dari perkataan Hugo.


Hugo menahan tawanya. Padahal perempuan itu hampir saja setuju.


"Tidak mau, lah!" Pekiknya setelah berpikir keras.


Hugo tertawa terbahak-bahak hingga memperlihatkan taringnya. "Oke, kalau gitu kau turuti kemauanku mulai hari ini sampai acara konsernya berlangsung. Bagaimana?" Tawar Hugo.


"Aku tidak akan minta yang tidak-tidak." Lanjutnya saat melihat wajah Richi yang tak percaya padanya.


"Baiklah, deal". Richi setuju.


"Ambillah dariku. Aku akan langsung berikan padamu". Hugo berjalan sambil mengangkat tiket itu di atas tangannya yang tinggi. Dengan keras Richi melompat-lompat sambil mencoba mengambil namun gagal.


Hugo tertawa jail. "Masa begini saja tidak bisa. Lemah".


Mendengar ucapan lemah itu, Richi langsung menendang belakang lutut Hugo hingga lelaki itu berlutut. Richi menarik tiket dari tangan Hugo dan berjalan ke depannya menunjukkan wajah jahilnya yang telah berhasil merebut tiket dari tangan Hugo.


Richi melirik Hugo yang berlutut dibawahnya. "Thank you". Ucapnya sambil melambaikan tiket ditangannya dan berlalu pergi.


Bukannya kesal, Hugo malah terus tersenyum dan menahan tawanya karena merasa gemas dengan wajah Richi. Orang-orang disana bahkan sempat memotret kedekatan dua orang itu, ada juga yang merasa iri, hingga merasa benci.


Hugo bangkit, dia berjalan sambil terus tersenyum karena dia masih punya satu tiket lagi yang akan menjadi miliknya supaya dia bisa pergi berdua dengan Richi di acara itu. Dan sekarang, giliran Hugo yang memikirkan apa yang akan dia minta Richi untuk lakukan, karena mulai sekarang dia akan terus membuat Richi dekat dengannya.


To be Continued....


Hallo, Jangan lupa baca cerita baru Author,


"MENIKAHI LELAKI TUNANETRA"

__ADS_1



__ADS_2