
"Ichi!" Seseorang bertubuh tinggi berlari kecil mendekati Richi dan Hugo yang sedang berbicara di lorong sekolah.
"Kak Emer."
Emerald mendekat. Matanya hanya terfokus pada Richi.
"Kau baik-baik saja? Ada yang sakit?" Tanyanya dengan napas yang terengah-engah. Dia memegang sebelah bahu Richi. Rasa kahwatir menyelimutinya saat mendengar kabar bahwa Richi dan Axel diserang oleh anak-anak dari Apollo.
"Eh? Kakak kenapa bisa tahu?" Tanya Richi balik saat ternyata Emerald mengetahui kejadian itu. Padahal dia sudah meminta kepala sekolah untuk menghapus rekaman CCTV agar tidak menyebar.
"Di Gor sempat ribut saat mendengar anak-anak Apollo menyerang Axel. Untung tidak sampai terjadi keperkelahian satu Gor." Jelasnya pada Richi.
"Apollo di eliminasi sampai tiga tahun ke depan. Karena tidak bisa bermain dengan sportif" Tambahnya lagi.
Mendegar itu, Richi sedikit lega. Sebab dia tak ingin orang-orang melihat dirinya yang tengah berkelahi. Apalagi kalau orang-orang tahu siapa dirinya dan keluarganya.
"Maaf ya, kak. Rencananya jadi gagal". Ucap Richi tiba-tiba. Karena waktu mereka berjalan-jalan malah habis terpakai untuk masalah seperti ini.
"Tidak apa. Masih ada waktu lain. Sekarang ayo, aku akan mengantarmu pulang. Tante Mary sudah menunggu". Ucapnya dengan merangkul Richi di depan Hugo. Mereka melangkah pergi begitu saja. Seperti tidak ada siapa-siapa disana.
Hugo memandang punggung gadis itu. Melihat kedekatannya dengan Emerald membuatnya sedikit cemburu. Bagaimana Emerald bisa mengenal Ibu Richi, juga bisa mengantarnya pulang? Dia juga memanggilnya dengan nama Ichi?
Ada segores harapan dalam hatinya untuk bisa lebih dekat dengan gadis itu. Lalu dia menepisnya. Untuk apa dia bersama gadis itu? Bermacam alasan dia munculkan dalam benaknya. Sesuatu yang sebenarnya sulit ia gapai untuk saat ini.
🪵🪵🪵🪵
"Sepertinya kau menggunakan Taekwondo-mu dengan baik ya". Emer berbicara tanpa menoleh. Dia fokus pada jalan di depannnya.
Richi hanya diam. Dia menatap pemandangan jalan melalui jendela mobil yang sengaja ia buka. Membiarkan angin menerpa wajahnya. Hari ini, entah mengapa terasa begitu melelahkan. Pikirannya pula tertuju pada wajah Ayahnya yang tenang namun mengerikan.
"Aku melihatnya. Rekaman CCTV."
Ucapan Emerald membuat Richi mengalihkan pandangan dan menatapnya dengan terkesiap.
"Tenang, hanya aku yang melihatnya di ruang keamanan. Setelah itu, pihak sekolah menghapusnya". Ucapnya lagi setelah melihat reaksi Richi yang tampak terkejut.
"Aku dengar salah satu dari mereka adalah anak ketua dewan. Dia, yang giginya kau tanggalkan". Kata Emerald sambil menahan tawa. Dia membayangkan anak itu pasti sedang sibuk menempah gigi baru untuknya. Mungkin dalam beberapa hari ini dia tidak akan masuk sekolah karena malu gigi depannya tanggal, dihajar perempuan pula.
__ADS_1
"Yang lainnya menjalani rawat inap di rumah sakit. Terlebih yang di tendang Hugo sekuat tenaga itu. Sepertinya ginjalnya mengalami masalah serius".
Mendengar itu Richi menelan ludahnya. Dia menyaksikan sendiri Hugo menendangnya hingga terpental jauh. Laki-laki itu benar-benar tak tanggung jika menghajar orang. Richi tiba-tiba teringat pertandingan Tinju waktu itu.
"Apa aku keterlaluan, ya?" Ucapnya pelan namun masih bisa didengar oleh Emerald.
"Sekali-kali mereka juga perlu dikasih pelajaran, kan. Mereka anak basket, tetapi kelakuannya seperti preman. Syukurlah akhirnya mereka menemukan lawan yang tidak imbang. Hehehe" Tawanya pada Richi yang hanya dibalas senyum tipis olehnya.
"Tenang saja. Banyak yang bersyukur mereka dihajar seperti itu. Karena memang mereka adalah preman sekolah. Tetapi tidak ada yang berani karena ketuanya adalah anak anggota dewan." Emerald menenangkan Richi yang sejak tadi terlihat cemas.
Mobil berhenti di depan gerbang rumahnya. Emerald melihat Richi yang sepertinya masih melamun.
"Chi, kita sudah sampai".
Emerald membuyarkan lamunan gadis itu. Dia menatap keluar jendela.
"Ah, sudah sampai rupanya." Richi membuka seatbelt-nya. "Eh, kenapa tidak masuk kak?" Ucapnya yang teringat mobil tidak masuk ke dalam gerbang.
"Tidak. Aku hanya mengantarmu. Kau perlu waktu, kan. Istirahatlah." Ucapnya penuh dengan pengertian.
Richi tersenyum "Terima kasih, kak." Dia lalu turun, berdiri di sisi mobil sampai Emerald menjauh.
~
Richi masuk perlahan tanpa membuat suara. Dia ingin langsung masuk ke dalam kamarnya tanpa ketahuan. Tetapi ia harus melewati ruang utama, dimana biasanya Ibunya sedang duduk membaca majalah disana.
"Hei!" Seseorang menepuk pundaknya dari belakang. Richi terkesiap membalikkan badannya.
'Haah' badannya yang sempat tegang melemas saat melihat kakaknya di belakangnya.
"Wah. Kalau seperti ini biasanya kau habis melakukan sesuatu, kan?" Ricky menggoyang-goyangkan telunjuknya didepan wajah Richi.
Richi menepis tangan kakaknya. "Tidak. Sudah, sana pergi." Ia mulai melangkah lagi. Lalu dari belakang, Ricky merangkulnya sambil berjalan.
"Sudah, jangan mengelak. Ayo, ikut".
"Ah. Apa sih, kak. Lepas, lepas!" Richi meronta berusaha melepaskan rangkulan kuat kakaknya. Namun dia tidak bisa menyeimbangi kekuatan kakaknya itu. Dia ikut terseret ke dalam sebuah ruangan.
__ADS_1
Di ruangan itu, Ayah dan Ibu Richi sudah duduk sambil menyeduh teh. Suasananya tidak seseram dua tahun lalu saat dia membuat masalah.
Ricky melepaskan tangan dari bahu adiknya. Richi terlihat tegang. Dia lalu merapikan diri. Mengusap-usap sedikit noda darah di ujung bajunya.
"Duduklah". Wiley Thomas meletakkan gelas teh di atas tatakannya. Dia berbicara tanpa melihat ke arah anak-anaknya.
Richi duduk di seberang Ayahnya. Begitu juga Ricky yang ikut duduk di sebelah Ibunya.
"Sini..". Ayahnya menepuk pelan sofa si sebelahnya. Richi menelan ludah. Kalau dia harus duduk sedekat itu dengan Ayahnya, bukankah itu berbahaya.
Richi melirik Ibunya yang sedari tadi menghirup harum kepulan asap pada teh melati di tangannya.
Melihat Ibunya yang tak meliriknya, dia pelan-pelan pindah dan duduk di sebelah Ayahnya.
"Sudah puas sekarang?" Ucapan Ayahnya membuatnya tertunduk. Dia memejamkan matanya dengan kuat dan bersiap kalau-kalau Ayahnya menggeplak kepalanya. Walau Ayahnya belum pernah memukulnya sekalipun.
"Bagus sekali. Kau membuat Ayahmu mempunyai kerjaan lebih hari ini". Ucapnya lagi.
"Bagaimana? Puas? Pasti puas kan, sudah berapa tahun kau tidak menghajar anak orang?"
Mendengar ucapan Ayah, suara ketawa Ricky terdengar pelan di telinganya.
Ayahnya menepuk-nepuk lembut punggung Richi yang tegang karena takut. "Baguslah. Kau bisa membela temanmu dengan baik".
Punggungnya naik, matanya terbelalak. "Ayah tidak marah?" Tanyanya dengan kebingungan.
"Kenapa harus marah? Kau berada dipihak yang benar. Kau membela temanmu, kan." Ayahnya tertawa sambil memeluk anaknya. Anak perempuan kesayangannya.
'Ayah tidak marah karena membela teman? Bukankah kejadian dua tahun lalu juga membela yang benar?' Dalam hati Richi, walau ia terheran dengan alasan Ayahnya, tetapi dia cukup lega.
"Kau harus hati-hati. Yang kau tonjok itu, anak Tuan Henry. Dia pasti akan terus mengejarmu". Kata Ricky yang sudah melihat rekaman CCTV dari pihak sekolah.
"Apa perlu Ayah bereskan?" Wiley melirik Richi. Pertanyaan itu akan ditolak oleh anaknya mentah-mentah. Dia yakin itu.
"Tidak perlu. Dia hanyalah anak manja yang menindas orang dengan mengatas namakan Ayahnya. Ichi bisa sendiri, Ayah."
Mendengar itu, Wiley tersenyum bangga. Didikannya benar-benar membuat kedua anaknya berhasil melawan ego mereka dan bisa mengatasi masalah mereka tanpa membanggakan nama dirinya.
__ADS_1
To be Continued....
Dukung Author dengan cara Like setiap Episode ya. Terima Kasih🤗