
Richi bersiap. Hari ini dia akan pergi dengan Emer ke sebuah tempat untuk bermain ice skating. Karena kemarin, Emer mengatakan dia jago bermain ice skating.
"Chi, Emerald sudah ada di depan". Ricky memperhatikan adiknya yang sudah bersiap sedang berdiri di depan kaca.
"Mau kencan, tapi pakaianmu kenapa begitu?" Ricky melihat adiknya memakai celana jeans panjang dan kaos oblong hitam yang dimasukkannya ke dalam celana. Topi hitam ber-list putih pun tak pernah ketinggalan.
"Siapa yang kencan?. Minggir!" Richi meraih jeketnya dan meninting Kets-nya.
"Ah adikku cepat sekali besarnya, padahal baru kemarin belajar jalan.. Arg!" Ucap Ricky yang kemudian kena hantam bagian perut oleh Richi yang jalan melewatinya.
Saat di ruang tamu, Richi melihat ibunya sedang bersemangat mengobrol dengan Emer. Lalu dia mendengar sesuatu hal yang mengejutkan keluar dari mulut ibunya begitu saja.
"Emerald, terimakasih ya, sudah menjemput dan bermain dengan Richi. Dia tidak pernah mengajak temannya main kemari. Buat repot, katanya". Ucap Mary sambil sesekali tertawa. Bahagia terlihat di wajahnya karena anak perempuan sematawayangnya sudah mulai mau mengenal laki-laki.
"Tidak apa, Tante. Saya juga yang mengajaknya pergi".
"Oh ya? Tante senang sekali mendengarnya. Semoga Emerald suka ya, dengan Richi. Dia memang terlihat seperti anak laki-laki, tetapi sebenarnya dia tetap perempuan, kok. Hehehe. Eh, jangan-jangan kalian sedang pacaran, ya?"
Belum dijawab Emer, Richi sudah keluar.
"Ibu, tolonglah." Richi duduk lalu memakai sepatu yang di tentengnya tadi.
"Ibu hanya bertanya. Ibu kan, senang kau membawa pacarmu kemari. Iya kan, Nak Emer?" Mary terus mengoceh. Apalagi Emerald adalah anak yang pintar dan tampan.
"Iya tante". Jawab Emer sambil tersenyum ramah. Dia menyimpan wajah bahagianya yang luar biasa karena sudah mendapat lampu hijau dengan mudah.
"Kami tidak pacaran, Bu. Kasihan nanti pacar kak Emer kalau ibu begitu.."
"Oh tidak ada, Chi". Emer dengan cepat memotong kalimat Richi. Memperjelas statusnya bahwa dia sedang tidak mempunyai kekasih.
Richi mengerutkan dahi. "tidak ada, apanya kak?"
"Wah syukurlah, artinya sama-sama tidak ada penghuninya. hehee" Seru Mary bangga.
"Iya, Tante. Sama sekali tidak ada penghuninya". Ujar Emer senang, pembicaraan mereka cukup nyambung kecuali Richi.
"Apa yang tidak berpenghuni?" Dia melihat kiri kanan tempat Ibunya dan Emer duduk. Richi benar-benar tidak paham.
"Dia memang begitu, Emer. Agak lambat. hehe. Semoga tidak menghambat Emer, ya.. hehe" Ucap Mary cengengesan.
"Sama sekali tidak, Tante. Mohon dukungannya". Emer senyum-senyum sebab Ibu Richi benar-benar menerimanya.
"Pasti, Emer. Pasti". Ucap Mary lagi sambil mengacungkan jempolnya.
Richi tidak paham dengan ocehan kedua orang di depannya. Dia pun memilih langsung pergi saja. "Baiklah, Ibu. Kami pergi dulu."
__ADS_1
"Eh eh eh. Apa ini? Coba lihat pakaianmu". Mary menarik tangan anaknya. Melirik dari ujung kaki sampai kepala.
"Kau ini, mau kencan tapi penampilanmu..."
"Ibu".. Richi memotong kalimat ibunya. "Kami mau ber ice skating. Ibu mau Ichi pakai dress? Dan berhentilah, sebab kami tidak berkencan".
"Bukan tidak, tapi belum. Hehe semangat ya Nak Emer. Kirim salam sama mama papa ya.." Ucapnya sambil berteriak karena Richi langsung menarik lengan Emer untuk menjauh dari ocehan ibunya.
"Ibumu lucu ya, Richi. Pasti di rumah sangat seru". Kata Emer sambil menghidupkan mesin mobilnya.
"Kadang-kadang." Jawabnya santai sambil memakai seatbelt.
🌐🌐🌐🌐
Camilla menarik tangan Hugo. Dia menghentikan langkah lelaki itu supaya berjalan beriringan. Dia tidak bisa mengikuti langkah panjang kaki Hugo.
"Hugo, tunggulah. Kakiku sakit". Camilla berjongkok. Mengecek high heel nya yang sedikit membuat kakinya lecet.
"Kau ini, sudah tahu akan pergi jalan, bukannya memakai yang nyaman malah merepotkan." Omel Hugo sambil matanya mencari bangku untuk duduk.
"Aku kan, mau terlihat cantik di depanmu". Rengeknya manja pada Hugo. Dia mengikuti arah Hugo berjalan. Lalu mereka duduk di bangku panjang itu.
"Kau sudah cantik, Mil."
"Benarkah? Aku cantik?"
"Tapi kau tidak berpacaran denganku. Kau malah berpacaran dengan gadis aneh begitu". Camilla menyandarkan punggungnya.
"Kau tahu dari mana?"
"Kau pikir semua tentangmu aku tidak tahu?" Ucapnya lagi.
"Itu hanya supaya aku tidak di ganggu banyak orang saja". Hugo ikut menyandarkan punggungnya di bangku.
"Lalu?"
"Apa?"
Camilla duduk tegak menghadapkan dirinya ke arah Hugo. "Apa kau menyukaiku?"
"Tentu. Siapa yang tidak menyukai gadis sepertimu". Hugo berdiri. "Ayo, cepat selesaikan pekerjaanmu". Hugo mengulurkan tangannya yang langsung di sambut dengan wajah yang terlukiskan senyum lebar di wajah Camilla.
~
"Kau bilang tidak bisa". Emer memegang tangan Richi yang mulai berseluncur di atas es.
__ADS_1
"Aku tidak bilang begitu. Aku hanya ingin main ice skating".
"Benarkah? Apa aku yang salah dengar?"
Mereka dengan santai bermain ice skating. Sesekali Richi terpeleset karena bersenggolan dengan orang-orang yang baru belajar bermain ice skating disana. Dia memegang erat tangan gadis itu. Emer benar-benar menjaga Richi dengan baik.
Suasana keduanya sangat senang. Sampai-sampai mereka tidak sadar. Ada sepasang mata yang memandang dari jauh.
"Hugo, ayo. Kenapa kita disini?" Camilla menggenggam tangan Hugo yang sejak tadi seperti memperhatikan sesuatu.
Camilla melihat ke arah mata Hugo memandang.
"Ah, bukankah dia Emerald?" Mata Camilla memicing, melihat ke arah jauh. "Dengan siapa dia itu? Lelaki ya?"
"Dia itu Richi". Jawab Hugo yang kali ini benar menyebut nama gadis itu
"Oh? Bukankah itu pacarmu? Richi Darrel?"
"Richi Darrel? Aku baru tahu".
"Hahaha" Camilla tertawa. Sebab dia melihat Hugo memang tidak tertarik dengan gadis itu. "Kau tidak tahu atau pura-pura tidak tahu, Hugo?"
"Tidak tahu". Hugo menatap gadis disebelahnya. "Aku tidak tertarik padanya. Sama sekali".
Ucapan Hugo membuat hati Camilla senang. Hugo mengatakannya penuh tekanan, seolah-olah hanya Camilla lah yang dia sukai.
"Benarkah? Lalu kenapa berdiri disini? Kau sedang melihat pacarmu selingkuh, ya?" Tawa Camilla meledek Hugo.
"Bukankah aku juga sedang berselingkuh?" Hugo tersenyum lalu mengecup tangan Camilla yang digenggamnya.
Sambil melangkah meninggalkan area ice skating, Camilla memulai lagi.
"Hugo, kenapa tidak berpacaran saja denganku? Jika hanya supaya orang lain tidak menganggumu, akupun bisa melakukannya."
Hugo menghentikan langkahnya. "Benar juga. Kalau gitu, jadilah pacarku". Ucapnya pada Camilla yang sudah tersenyum senang.
"Benar? Kau serius kan, Hugo?"
"Ya. Aku serius." Katanya sambil berjalan lagi.
"Putuskanlah dia, Hugo"
"Aku tidak berpacaran. Kami hanya bertaruhan. Aku bahkan tidak punya nomor ponselnya, tidak pernah menyentuhnya, dia juga tidak pernah melirikku". Lalu Hugo berbisik di telinga Camilla. "Sepertinya dia tidak menyukai laki-laki".
Camilla tertawa. "Benar. Tidak ada gadis yang tidak terpikat dengan pesonamu". Hugo menatapnya dengan penuh senyuman yang bahkan Camilla tidak pernah lihat sebelumnya.
__ADS_1
Penjelasan Hugo sangat menyenangkan di telinga Camilla. Mulai hari ini, Camilla resmi menjadi pacar Hugo. Dia memotret tangannya di genggaman Hugo yang berjalan di depannya . Dia memostingnya di sosial media, dengan Caption: Mine Now♡
To Be Continued....