
Hugo turun dari taksi. Pintu terbuka otomatis saat dia melangkah ke arah gerbang. Di dalam gerbang, pelayan wanita sudah menunggunya.
"Selamat Sore, Tuan." Sapa pelayan itu dengan ramah.
Hugo mengeryitkan alis. Tidak biasanya dia disambut begini, di depan gerbang pula.
"Apa ada sesuatu?" Tanya Hugo yang merasa janggal.
"Tuan, silakan. Tuan besar sudah menunggu di ruangannya". Ujarnya sambil mempersilakan Hugo jalan.
Hugo melongos. Baru saja masuk, sudah harus berhadapan dengan Ayahnya. Apa Axel tidak melapor kemarin?
Hugo dengan langkah malas mengikuti pelayan itu. Saat tiba di depan pintu ruangan sang Ayah, pelayan membukakan pintu dan mempersilakan Hugo masuk.
Di dalam, Hugo melihat Ayahnya duduk membelakanginya. Asap diatas kepalanya mengepul dan berjalan lambat. Bila begitu, artinya pikiran David sedang suntuk.
"Kau ingat pulang, rupanya". David memutar kursinya menghadap Hugo yang berdiri tegak sambil memegang leather jacket-nya.
Hugo tidak menjawab. Dia tahu, dia salah. Apalagi dia tidak langsung menelpon Ayahnya saat terbangun pagi tadi.
"Bagaimana, apakah puas mabuk-mabukan di Bar?"
"Aku tidak mabuk, Ayah. Aku dirumah Axel. Ayah bisa tanya padanya".
"Begitukah? Keluar dari Bar dengan seorang perempuan, dan mobilmu kau biarkan begitu saja?"
"Ayah, Aku tidak pernah mabuk-mabukan seperti yang Ayah katakan." Tutur Hugo pada Ayahnya. Dia tidak menceritakan kalau dia dijebak dan segala macamnya.
David berdiri. Dia memadamkan rokoknya dan melempar berkas ke ujung mejanya supaya Hugo melihat isinya.
"Itu laporan dari korban yang kau hajar di sekolah. Tulang pinggangnya retak dan dia tidak bisa berjalan beberapa hari. Dia juga bersiko sulit beraktivitas dengan normal." Ucapnya lalu memasukkan kedua tangan di kantong celana.
Hugo melirik berkas tanpa menyentuh.
"Aku menyuruhmu ikut Tinju bukan untuk membuatmu menjadi berandal." Ucap Ayahnya masih dengan nada yang santai. Dia paham sikap Hugo yang tidak bisa berbicara dengan keras.
"Apa Ayah tidak melihat rekaman CCTV?"
David terdiam. Melihat reaksi ayahnya itu, Hugo merogoh ponsel di kantong celananya. Menekan-nekan layar lalu memasukkan ponselnya lagi ke kantongnya.
"Lihatlah, Ayah. Aku sudah mengirimnya ke surel".
David lalu duduk dan membuka laptopnya. Dia tertegun beberapa saat menatap layar itu.
"Aku tidak menghajarnya tanpa alasan."
"Siapa gadis itu?" Tanya David tanpa kedip melihat ke layar latopnya.
"Aku tidak tahu. Yang jelas, dia menolong Axel dan akupun membantunya. Kalau sudah, aku permisi." Hugo beranjak, lalu berbalik lagi.
"Ah, satu lagi. Tolong jangan menyuruh orang untuk menyelidikiku seperti tadi. Aku sudah mengatakan ini berkali-kali." Ucapnya lalu pergi meninggalkan David yang masih tertegun di depan layar laptopnya.
...🐥🐥🐥🐥...
Hari ini, pertandingan basket final akan dilangsungkan di sekolah Uranus. Sekolah itu mendapat kehormatan untuk menjadi lokasi pesta dan acara penutup.
Uranus yang luasnya melebihi Oberon itu sudah ramai di datangi murid-murid dari sekolah lain. Pertandingan untuk juara besar ditentukan hari ini. Semua yang hadir sudah pasti tak sabar dengan hasilnya. Para gadis dari berbagai sekolah juga siap melihat dan mendukung idola mereka.
Di ruang basket Oberon, Hugo dan yang lain tengah bersiap. Walau keadaan hati belum relax, dia tetap mengikuti pertandingan sebab Daren dan yang lain tidak mengizinkannya memakai cadangan kali ini.
__ADS_1
Tak lama, Camilla datang ke ruangan mereka.
"Hugo.." panggilnya dengan manja lalu duduk di kursi sebelahnya.
"Kau ini, jahat sekali. Aku menelpon dan mengirim pesan tapi tidak pernah dibalas."
"Maaf, ya. Aku sibuk latihan."
"Ah, begitu, ya. Karena kau minta maaf, maka aku maafkan". Jawabnya dengan senyum manis.
"Hugo. Aku ketua Cheers. Jadi aku tidak bisa mendukungmu kali ini." Ucapnya dengan lemas. Dia menyelendot di bahu Hugo.
"Tidak apa, Mil".
"Hugo, kau nanti malam datang kan, ke pesta penutup. Aku bersamamu, ya? Kau tahu berapa banyak lelaki yang mengajakku? tetapi aku menolak mereka semua. Aku ingin pergi bersamamu dan memamerkan pada mereka bahwa kau adalah pacarku".
"Aku belum pasti datang, Mil. Aku ada urusan." Tolak Hugo sambil membenarkan posisi kaus kakinya.
"Kenapa begitu? Hugo.. ku mohon, kau datang, ya.." rengeknya sambil memeluk lengan Hugo.
"Aku belum tahu. Lihat saja nanti malam, ya."
"Ayolah, Hugo. Aku ingin pergi bersamamu. Bukan bertemu di tengah acara".
"Hugo, Ayo". Axel dan yang lain keluar ruangan menuju lapangan basket Uranus.
Hugo menarik napas lalu membuangnya dengan perlahan. Rengekan Camilla membuatnya lelah. "Lihat nanti, ya. Sekarang pergilah bersama temanmu. Kami akan memulai pertandingan". Dia berdiri lalu beranjak meninggalkan Camilla yang masih cemberut di tempatnya.
Camilla berlari pelan mengejar Hugo supaya berjalan beriringan.
"Hugo, pertimbangkan ya, untuk pergi ke pesta bersamaku. Jangan bawa perempuan manapun. Aku akan berdandan cantik untukmu." Pintanya sambil menggenggam tangan kiri Hugo. Matanya penuh harap supaya Hugo menerima permintaannya.
"Itu.. Richi?" Camilla menunjuk ke arah yang sudah Hugo perhatikan sejak tadi.
"Wah, Richi. Tak disangka kau akrab dengan Leon". Teriak Camilla supaya Richi mendengarnya karena jarak mereka tidak begitu dekat. Camilla pula mengeratkan genggaman tangan Hugo saat kepala Richi berbelok ke arahnya.
Richi menoleh sebentar. Lalu melanjutkan bicaranya pada Leonard, teman taekwondo-nya.
Camilla tampak kesal ucapannya tidak digubris.
"Hei, Leon. Setelah mendekatiku, kau mendekati dia? Itu keputusan yang bagus". Teriaknya pada Leon. Namun Lelaki itu mengerutkan dahinya.
"Kau kenal Camilla?" Ucap Leon pelan kepada Richi.
"Enggak."
Leon mengangguk lambat.
"Aku duluan. Kau semangatlah." Ucap Richi sambil menepuk-nepuk bahu leon dan beranjak meninggalkannya.
Hugo yang melihat Richi pergi, juga menyusulnya. "Aku akan bertanding sekarang". Ucapnya pada Camilla dan mengejar Richi.
Camilla mendekati Leon. "Leon, kau mendekati Richi Darrel?"
"Tidak. Kami berteman".
"Benarkah? Berteman dimana?"
Leon tampak berpikir. Richi pernah mengatakan tidak suka orang-orang mengetahuinya mempunyai ilmu bela diri.
__ADS_1
"Di suatu tempat." Ucapnya tersenyum lalu pergi meninggalkan Camilla.
...🏀🏀🏀🏀...
Kedua tim basket memasuki lapangan. Mereka berbaris dan saling berhadapan. Hugo berhadapan dengan ketua basket Uranus, Brandon. Lelaki bertubuh tinggi dan tegap, dengan bola mata hijau yang membuat banyak gadis memuji keindahannya. Sudah dua kali Hugo berhadapan dengannya di pertandingan basket. Karena biasanya, Brandon jarang mengikuti pertandingan langsung.
Hugo melirik lelaki disebelahnya. Teman bicara Richi tadi. Dia sedikit penasaran hubungan kedua orang itu.
Kedua tim saling bersalaman, lalu bubar menuju tempat masing-masing dan melakukan sedikit peregangan.
Sorak sorai penonton menggema. Lapangan besar milik Uranus memang tempat yang pas untuk pertandingan besar seperti ini.
Beberapa gadis terdengar menyebut nama Brandon maupun Hugo.
Kali ini, Richi duduk bersebelahan dengan Emerald. Eric dan Frans berada di belakangnya.
"Ayooo semangatt Oberoon!!" Teriak Eric sambil mengibar-ngibar bendera kecil lambang Oberon.
Peluit di tiup dengan kuat. Pertandingan pun dimulai. Tampak wasit melempar bola ke atas dan mulai diperebutkan kedua tim dengan sigap. Para Cheerleaders dari kedua sekolah pun menunjukkan kebolehan mereka di sisi lapangan yang saling berlawanan.
"Wah, mereka memang jago". Richi mengacungkan jempolnya saat tim Uranus langsung memasukkan bola ke ring dalam menit pertama.
"Wah, ada pengkhianat rupanya". Suara Eric terdengar nyelekit di telinga Richi.
"Hehe, aku hanya bicara jujur." Ucapnya cengengesan. "Tahun lalu siapa yang menang?"
"Uranus. Dan kali ini harus kita". Frans mengepalkan kedua tangannya di atas. "Ayooo semangaattt!"
"Memang begitu. Uranus dan Oberon selalu memperebutkan posisi ini setiap tahun. Dan yang menangpun bergantian. Kadang Oberon, kadang Uranus. Seperti tidak memberi sekolah lain kesempatan". Tutur Emerald menjelaskan di dekat telinga Richi supaya gadis itu mendengar. Karena sorak orang-orang mulai membuat bising.
Namun Richi hanya mengangguk. Dia memang pernah mendengar itu. Tapi tidak mengikuti pertandingan tahun lalu.
Beberapa menit berlalu. Suara gemuruh sorak sorai ramai di ruangan lebar itu. Eric dan Frans berpelukan dan berlompat dibelakang. Kemenangan ada di pihak Oberon.
"Wah. Nyaris sekali". Ucap Richi yang melirik poin yang terpampang di layar.
Murid-murid mulai menyanyikan lagu Mars Oberon sambil saling merangkul. Wajah bahagia Hugo pun terlihat dari jauh. Walau letih, mereka saling merangkul dan ikut menyanyikan Mars dengan penuh penghayatan.
...💣...
Hugo melihat Richi berdiri sendirian di tengah halaman Uranus. Entah apa yang diperbuat gadis itu, namun Hugo tertarik untuk mendatanginya.
"Richi." Hugo mendekat dan melihat Richi menoleh ke arahnya.
Gadis itu tampak diam. Menunggu Hugo mengatakan tujuannya mendatangi Richi.
"Apa kau ....?" Sebuah pertanyaan menggantung di lidah Hugo. Sejak tadi dia ingin sekali bertanya. Dia ingin mengajak gadis itu ke acara pesta malam nanti, walau dia tahu Richi mungkin akan menolaknya.
Richi mengerutkan dahinya. "Apa?"
Hugo tampak ragu. Dia lalu menutup rapat bibirnya saat melihat Emerald mendekati Richi.
"Sudah, Chi?" Tanyanya dari belakang.
Richi menoleh ke belakang. "Sebentar, kak".
"Kau mau bilang apa?" Richi melihat wajah Hugo yang terlihat ragu-ragu.
"Tidak ada, aku permisi". Hugo lalu berbalik badan dan melangkah menjauh. Dia langsung tersadar, pastilah Richi pergi dengan Emerald. Bodoh jika pertanyaan tadi keluar dari mulutnya. Itu pasti mempermalukan dirinya.
__ADS_1
To Be Continued....