Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Semakin Cinta


__ADS_3

Shera membuka matanya, dia merasa tadi hanya sekedar memejamkan mata. Tidak tahunya malah tertidur dan sepertinya cukup lama.


Shera melihat Harry di sebelahnya. Lelaki itu duduk dengan ponsel di tangannya. Diliriknya jam di dinding, sudah pukul 7 malam, ternyata dia tidur selama 5 jam.


Shera bangkit perlahan, membuat Harry terkesiap.


"Ah, kau sudah bangun rupanya."


Shera tak menyahut, dia menyandarkan punggungnya sedikit ke kiri supaya punggung Kanan yang sakit tidak tertindih.


"Bagaimana? Apa masih terasa sakit?" Ucapnya sembari menatap mata Shera.


Shera memandang Harry dengan tatapan sayu. Dia tengah menguatkan hatinya untuk tidak lagi terkecoh oleh Harry. Dia sudah membulatkan tekadnya.


"Tidak." Jawabnya singkat.


Shera ingin mengambil sesuatu di atas nakas.


"Mau ambil apa? Biar aku yang ambilkan."


Shera meraih buah apel. "Tidak, aku bisa sendiri." Jawabnya lalu memakan buah itu perlahan.


Harry diam sesaat. Dia merasakan sedikit perubahan Shera.


"Kau lapar? Ingin makan sesuatu? Aku akan membelikannya."


Pintu diketuk, seorang perawat masuk membawa makan malam untuk Shera.


"Nona, mari makan malam." Ucap perawat itu dengan senyuman.


"Berikan padaku, aku yang akan menyulanginya." Sahut Harry.


"Tidak perlu. Aku bisa sendiri." Shera menarik Overbed Table dan meminta perawat meletakkannya di atasnya.


Shera mulai menyantap makanannya, makanan yang sudah ia pesan pada perawat itu. Shera makan tanpa perduli pada Harry yang sejak tadi hanya menatapnya heran.


Harry duduk di tepi ranjang, dia mengelus lembut rambut Shera yang panjang.


"Pelan-pelan makannya." Ucap Harry lembut, namun Shera tak menghiraukannya.


Harry sedikit terusik dengan sikap Shera yang berbeda.


"Shera, apa terjadi sesuatu?"


Shera tak menjawab, dia melihat ke arah Harry dengan tatapan yang kini berbeda.


"Shera, ada apa?"


"Tidak ada." Jawabnya dan melanjutkan makannya.


Sementara Harry, dia merasakan suasana yang berbeda. Shera, memandangnya dengan tatapan enggan. Ada apa dengan Shera?


"Gadis itu, bagaimana kabarnya?" Tanya Shera tanpa melihat.


"Richi? Dia sudah siuman dan lebih baik."


Nada bersalah Harry membuat Shera menoleh padanya. Wajah Harry sedikit bertekuk.


"Kau tahu?"


"Aku hanya bertanya pada salah satu kenalanku di rumah sakitnya berada."


Shera mengangguk-angguk, ada rasa bersyukur dalam hatinya. Walau begitu, ternyata Harry tetap khawatir pada perempuan itu.


Ponsel Harry bergetar,


"Shera, aku angkat telepon dulu." Harry keluar dari ruangannya dan Shera mersih ponselnya di laci nakas. Dia menelepon seseorang yang ia percayai.


"Halo, Win."


"Sheraa, kau sudah sembuh? Bagaimana keadaanmu? Aku panik saat mendengar kau tertembak. Tetapi aku tidak tahu kemana tuan Harry membawamu." Celoteh orang yang diseberang.


"Aku baik. Tapi Win, bisa aku minta tolong padamu?"


"Anything, Shera. Katakanlah."


"Tolong bantu aku membereskan barangku di Brizzen dan bantu urus berkas untuk kepindahan sekolahku."


"Shera, kau mau kemana?"


"Aku akan ceritakan nanti, tapi kumohon. Hanya kau yang tahu bahkan Harry jangan tahu. Aku percaya padamu."


"Shera, kau mau lari dari tuan Harry?"


Shera diam sebentar. "Kau bilang padaku, jika tidak kuat aku bisa pergi, kau ingat? Setahun lalu kau mengatakannya padaku. Sekarang, aku benar-benar akan pergi." Shera tersenyum samar, dia ingat waktu itu Harry menamparnya. Erwin, seorang bawahan Harry yang melihat itu membantu Shera berdiri dan mengatakan kalimat itu. Tapi Shera dengan tegas mengatakan, dia takkan meninggalkan Harry demi apapun.


"Bantu aku, Win. Kau yang paling tahu aku selama ini, kan? Kau selalu memintaku untuk mencari kebahagiaan. Kini aku akan mencarinya. Bantulah aku. Kumohon, hanya kau yang kupercaya."


Terdengar helaan berat dari seberang sana. "Ternyata kau bisa berada di ujung juga ya, Shera. Kukira kau takkan menyerah padahal sudah sampai mengorbankan dirimu. Baiklah, aku akan urus sekarang."


"Terima kasih, Win. Terima kasih.."


Shera memeluk ponselnya. Entah mengapa, tiba-tiba dia merindukan Ibu yang tidak pernah akur dengannya. Dia tidak sabar untuk pergi.


Harry masuk dan mendapati Shera tersenyum.


"Apa ada hal menarik?" Tanya Harry mendekat.


Shera menggelengkan kepalanya dan Harry mengusapnya dengan lembut.


"Shera, maafkan aku karena aku harus pergi untuk mengurus sesuatu. Kejadian kemarin membuat banyak rencana diubah. Aku harus melakukan satu hal lagi. Kau tidak apa-apa kalau kutinggal?"


Shera mengangguk cepat sambil menyantap makanannya lagi.


"Terima kasih sudah mengerti, Shera. Aku pergi." Harry mengecup puncak kepala Shera dan langsung keluar ruangannya.


"Satu hal lagi?" Shera mengertukan dahinya. Apa maksud Harry pengeboman perusahaan ayahnya?


Shera mengangkat bahunya, dia sudah tidak peduli pada lelaki itu. Terserah saja, dia hanya ingin keluar dari rumah sakit secepatnya.


...🐥...


Richi sedang makan malam, disuapi oleh Marry. Di ruangan itu tengah ramai karena ada Clair, Bella, dan Olivia. Tetapi Hugo tidak ada disana, membuat Richi sedikit bertanya-tanya dalam hatinya, kenapa lelaki itu tidak juga menunjukkan batang hidungnya.


"Sudah, Bu. Aku kenyang." Tolak Richi saat sang Ibu menyodorkan sesendok makanan padanya.


"Kalian mau makan apa? Biar Ibu belikan." Panggilan yang amat akrab untuk mereka bertiga yang sejak kecil sudah bersama Richi, kecuali Bella yang bertemu saat kelas 2 SMP.


"Wah, boleh?" Olivia kegirangan.


"Boleh, dong. Cepat katakan, nanti Ricky yang akan belilan." Ucapnya lalu melihat ke arah Ricky yang tengah bermain game di ponselnya.


"Hah, kenapa aku? Mereka saja suruh beli sendiri." Tolaknya tanpa beralih dari ponsel.


Mendengar siapa yang akan membeli, ketiganya bergidik dan langsung menolak.


"Tidak usah, Bu. Kami sudah kenyang." Tukas Clair.

__ADS_1


"Lho, tadi katanya mau."


"Tidak jadi, Bu. Hehe." Sahut Olivia.


"Tidak apa-apa, biar Ibu traktir." Lalu Marry beralih pada Ricky. "Ricky! Cepat belikan makanan!" Teriaknya.


"Aduh, Ibu. Mereka akan beli sendiri." Tolaknya lagi.


"Cepat beli, kau ini malas sekali, sih!" Omel Marry.


"Suruh saja pengawal di depan."


Richi jadi tergerak ingin mengerjai kakaknya.


"Bu, Ichi jadi ingin fried herring sandwich."


"Kau kan, baru selesai makan?" Tukas Ricky yang tahu tengah dikerjai adiknya.


"Tiba-tiba lapar lagi." Jawab Richi enteng


"Ya sudah, aku akan suruh pengawal membelinya!" Ricky bergerak ke depan.


"Tapi aku maunya kakak yang beli."


"Hei, kau mengerjaiku, ya?"


"Enggak, aku cuma ingin kakak yang beli. Ini permintaan orang sakit."


"Sudah, sudah. Ricky, turuti keinginan adikmu!" Tukas Marry.


"Iya, sekalian sama pesanan mereka. Hei, cepat bilang kau mau pesan apa?" Tanya Richi pada ketiga temannya yang hanya diam sesekali melirik ke arah Ricky yang menatap tajam pada mereka.


"Aahhaha tidak, kami sudah makan." Jawab Bella dengan cepat.


"Ya sudah, aku pesankan berdasarkan kesukaan kalian saja, ya. Kalau gitu, beli Pizza untuk Olivia, Tacos untuk Bella, dan Burrito untuk Clair." Ucap Richi lalu tersenyum cerah pada kakaknya.


"Sudah, cepat sana!" Marry mendorong tubuh Ricky yang bergerak dengan malas.


"Ibu keluar dulu, kalian tolong jaga Richi sebentar, ya." Ucap Marry lalu keluar ruangan sementara Olivia dan lainnya pindah duduk di dekat Richi.


"Kau ini, buat kami jantungan saja." Tukas Bella.


"Iya, kami kan, takut lihat Komander. Lirikannya tadi, beuh seram." Sahut Olivia lagi.


"Sesekali kalian dilayani Komander, dong. Belum pernah, kan? Nah makanya.." Jawab Richi dengan senyum liciknya.


"Nah sekarang, cepat ceritakan padaku apa yang terjadi."


"Mau dibagian mana? Apa bagian Hugo yang hidungnya ditinju Komander sampai bengkok? Hahaa." Bella tertawa.


"Apa? Serius? Bagaimana bisa?"


"Waktu kau dibopong Hugo keluar, Komander langsung emosi melihatmu penuh darah. Dia langsung menghajar Hugo tanpa bertanya." Jelas Olivia.


"Iya, dia ngamuk. Kami semua sampai ketakutan. Soalnya kan, jarang-jarang Komander bisa emosi begitu, ya kan?" Tukas Bella pada yang lain.


"Untung ada kak Simon dan Jonathan, dia yang menahan Ricky saat ingin menghajar Hugo lagi."


Richi terdiam, membayangkan pukulan Ricky yang luar biasa itu mengenai Hugo, pasti menyakitkan.


"Lalu, Hugo bagaimana?" Tanya Richi yang sejak tadi belum bertemu kekasihnya itu.


"Hidungnya berdarah. Mungkin patah." Jawab Bella enteng sambil menyeruput minum Richi di atas nakas.


Richi menghela napas, dia semakin tidak sabar bertemu Hugo. "Lalu, misi kalian apa datang kesana?"


"Kau pasti terkejut kalau mendengar cerita ini." Clair mulai berbicara. "Musuh bebuyutanmu yang membongkar semua rahasia Stripe. Dia memberi Komander denah gedung makanya kami sangat mudah memasukinya."


Mereka semua mengangguk.


"Tunggu dulu, bagaimana Ricky langsung percaya padanya?" Richi penasaran sebab tak mungkin Lexus datang dan Ricky pun langsung percaya.


"Entahlah. Saat itu, setelah misi penghancuran markas Blackstone, Komander memanggil kami dan menanyakan perihal misimu. Karena terancam, mau tak mau aku memberitahunya. Setelah itu, Lexus datang sendirian. Begitu saja." Jelas Clair.


"Lexus sendiri?"


Clair mengangguk. "Hm, nampaknya dia terpecah dengan Saver yang masih betah di Stripe."


Richi mengangguk, tak salah lagi, foto yang ada di gedung itu pasti dari Saver.


"Hasil dari misi kemarin masih belum nampak jelas sebab Bigbos-nya berhasil kabur." Sambung Olivia.


"Bigbos?"


"Ya, dia bos Harry juga. Kata Lexus, Bigbos itu selalu memakai topeng sampai hidungnya. Dia juga tidak tahu siapa Bigbos itu."


"Harry bagaimana?" Tanya Richi lagi.


"Lari. Sampai sekarang tidak diketahui keberadaannya. Komander juga sedang mengincarnya." Jawab Clair.


Richi terdiam, dia tidak bisa berkata-kata lagi sebab Harry memang telah bersalah, walau tidak bermaksud membunuhnya, tetapi dia ingin mencelakai Hugo.


Pintu terbuka tanpa diketuk, Ricky masuk dengan wajah bertekuk sepuluh lalu meletakkan semua makanan di atas nakas.


"Yee, makanan datang. Terima kasih kakakku yang baik hati." Puji Richi dengan senyum lebar. "Ayo, ambil dan makanlah." Ucap Richi pada ketiga temannya, tetapi tidak ada yang bergerak.


"Kak, bisa tidak, kau biarkan kami para gadis di ruangan ini?" Pinta Richi yang tahu temannya tidak berani makan karena kakaknya.


"Tidak, aku mau menjagamu." Tolaknya dan langsung merebahkan diri di atas sofa. "Makan saja, jangan perdulikan aku." Tukas Ricky pada ketiga anggotanya itu.


"Yeee.." Sorak Bella langsung mengambil makanan dan mendapat tepukan Clair di bahunya.


"Kenapa?" Tanyanya tak merasa bersalah.


"Makanlah." Tukas Ricky lagi lalu mulai membuka ponselnya.


Mereka mengambil makanan dan mulai menyantapnya.


"Kalian ini, kalau sedang diluar, tidak perlu seperti itu. Biasa saja, cuma Ricky kok!" Tukas Richi pada ketiga temannya yang langsung melirik Ricky yang tampak tak peduli.


Pintu terbuka, Marry dan Wiley masuk.


"Wah, sedang ramai." Tukas Wiley.


"Selamat malam, Jenderal Wiley." Sapa ketiga gadis itu.


"Malam. Silakan, lanjutkan makan kalian. Jangan sungkan, apalagi pada Ricky. Anggap saja dia tidak ada. Jangan karena dia Komander, kalian malah merasa tidak enak. Adukan padaku jika dia berbuat semena-mena pada kalian, paham?"


"Siap! paham, Jenderal!" Serempak ketiganya, sementara Ricky tak peduli dan tengah asyik pada ponselnya.


Marry mengajak semua berbincang, mereka bercanda tanpa rasa canggung sebab semua memang sudah kenal sejak dulu.


Tak lama, pintu diketuk dan Hugo masuk ke dalam dengan setelan jas hitam dan kemeja putih, tak lupa dasi hitamnya tergantung begitu rapi. Ah satu lagi, hidungnya dengan sedikit perban itu menjadi fokus Richi sekarang.


"Wah, lihat siapa yang datang." Goda Marry sementara Ricky langsung mendelik tajam.


"Hugo, Tampan sekali, dari mana?" Tanya Marry dengan ramah.

__ADS_1


"Acara pembukaan cabang baru Ayah, Bu." Jawabnya sopan.


"Eh?" Ketiga teman Richi saling berbisik dan tertawa mendengar panggilan Hugo pada Marry.


"Lho, kenapa kami tidak diundang, ya?" Sahut Wiley tiba-tiba.


Hugo diam sejenak, dia juga tidak tahu menahu tentang undangan itu. Namun mendengarnya dari Wiley, membuatnya sedikit malu.


"Diundang kok, cuma memang aku yang tidak mau datang." Sambung Ricky dengan cueknya.


"Ricky, kau ini! Lain kali kalau kau tidak mau datang, beritahu Ayah atau asisten Ayah untuk menggantikannya." Tukas Marry yang mendelik kesal pada Ricky.


"Ibu benar, Ricky. Kalau seperti ini, ayah yang tak enak dengan David." Sambung Wiley lalu beralih pada Hugo. "Sampaikan permohonan maaf kami ya, Hugo. Nanti saya akan mengirimkan permintaan maaf ke ayahmu." Tuturnya.


"Nanti akan saya sampaikan, tuan." Jawab Hugo.


"Kok, Tuan? Seharusnya Ayah, dong." Bella terkekeh sendiri lalu dia dipukul pelan oleh Clair karena dianggap kurang sopan.


Tak ada yang berani tertawa kecuali Marry dan juga Richi yang tersenyum saja.


"Boleh juga. Ide bagus ya, Bel." Sambung Marry dan Bella ikut tertawa.


"Sudah sana, dekati pacarmu itu. Dari tadi terus menanyakanmu. Ibu sampai pusing." Ucap Marry lalu menarik lengan Hugo mendekat ke ranjang Richi.


"Ayo, Ayah. Kita ada urusan, kan?" Kata Marry pada suaminya.


"Urusan apa?" Tanya Wiley yang sebenarnya tahu maksud Marry, hanya saja dia enggan meninggalkan putrinya berdua dengan lelaki itu.


"Ck, sudah ayo ikut!" Marry menarik tangan suaminya dan keluar ruangan. "Hei, Ricky. Cepat keluar!" Titahnya pada Ricky.


"Aku masih ingin disini." Jawabnya dengan terus menatap Hugo.


"Ibu hitung sampai tiga.."


"Ah, iya iya!" Jawabnya pasrah sebab dia tak berkutik pada sang Ibu.


Ketiganya keluar dan menyisakan Hugo dan teman-temannya yang lain.


"Hugo, hidungmu.." raut wajah Richi merasa bersalah sebab apa yang Hugo sedang alami karena kakaknya.


"Tidak apa-apa. Besok juga sudah sembuh." Tuturnya lalu duduk di kursi sebelah Richi. "Kau bagaimana? Apa terasa sakit?"


Richi mengangguk, "sedikit perih, tapi masih bisa kutahan."


Mendengar itu, Hugo menggenggam erat tangan Richi, dia merasa bersalah.


"Kau juga sama saja dengan Shera. Kenapa coba, melindungi Hugo, padahal Hugo juga bisa mengelak!" Cetus Clair yang kesal pada Richi.


"Kenapa memangnya Shera?"


"Apalagi, sama sepertimu. Dia melindungi Harry saat ingin kutembak. Alhasil, dialah yang tertembak." Jelas Clair.


"A-apa? Clair, jadi kau berniat membunuh Harry? Kau gila, ya?"


"Kenapa jadi marah-marah padaku? Dia juga hampir membunuhmu! Kau tidak tahu berapa jumlah korban yang akan tewas karena dia??"


Richi terdiam, dia merasa Harry tak sejahat itu. Tetapi mendengar ucapan Clair, dia tidak bisa menyanggahnya.


"Lalu, bagaimana dengan Shera?" Tanya Richi dengan nada yang terasa sedih.


"Tidak tahu. Harry membawanya dengan helikopter." Jelas Clair lagi.


Hugo menggenggam erat tangan Richi. "Sudahlah, jangan pikirkan orang. Kau harus cepat sembuh. Kalau tidak, aku akan terus merasa bersalah padamu."


"Iya, kau juga kenapa sih, tiba-tiba datang. Aku lihat video cctv jadi kesal setengah mati padamu." Pungkas Olivia.


"Seharusnya kau langsung tembak tangan Harry atau apa kek." Sambung Bella.


Richi hanya diam, dia juga tidak bisa berpikir saat melihat Hugo dalam bahaya. Hanya tiba-tiba ingin menggantikannya yang timbul dalam pikirannya saat itu.


"Maafkan aku. Aku yang salah karena menunggu Harry mendekatkan tubuhnya untuk kuhajar." Hugo memandang mata Richi.


"Sudahlah, tidak apa-apa. Aku juga tidak menyesal melakukannya." Ungkap Richi dengan senyum manisnya pada Hugo, membuat ketiga temannya mengerutkan dahi. Dalam hidup mereka, baru beberapa kali mereka melihat Richi tersenyum manis, itupun di momen tertentu. Ini di depan Hugo, dia dengan gampangnya memamerkan senyumannya itu.


"Ya sudah, kami pulang dulu. Dadah.." Clair berdiri dan melambaikan tangan, diikuti kedua teman lainnya.


"Kami akan sering kemari supaya kau tidak bosan." Tukas Olivia lalu keluar kamar, meninggalkan dua orang itu di dalam.


"Hugo, apa kau disakiti Ricky?"


Hugo menggelengkan kepalanya. "Aku lebih merasa tersakiti jika melihatmu begini."


"Pandai berbicara kau sekarang, ya." Ucapnya lalu mengelus lembut rahang Hugo.


"Terima kasih sudah menyukaiku, Hugo. Aku tidak tahu perasaan cinta bisa seindah ini." Ungkap Richi tiba-tiba. Dia ingat saat pertama tertusuk, wajah panik Hugo juga matanya yang berair. Lalu saat di dalam ambulan, Hugo benar-benar menangis, memintanya untuk tetap hidup karena tidak ingin kehilangan dirinya, membuat Richi semakin mencintai Hugo.


Hugo menggenggam tangan Richi yang mengelus pipinya. "Justru aku yang merasa beruntung, perempuan sepertimu bisa mencintaiku. Sesuatu yang harus kusyukuri setiap detik."


Richi mengembangkan senyumannya mendengar ucapan Hugo. Lelaki itu lalu mencium tangan Richi. "Apa sudah minum obat?" Tanyanya lagi.


Richi mengangguk. "Sudah, aku sedikit ngantuk."


"Istirahatlah. Aku akan menunggu sampai kau tertidur."


Dia membantu Richi menurunkan tempat tidur supaya gadis itu merasa lebih nyaman dan menarik selimut gadis itu. Dia mengelus lembut kepala Richi sampai membuat gadis itu terus tersenyum.


"Tidur, kenapa malah senyum-senyum?"


Richi malah tergelak. "Kau besok kemari lagi, kan?"


"Kau mau aku bolos saja?"


Richi menggelengkan kepalanya. "Jangan. Lakukan semua aktifitasmu. Besok waktunya latihan tinju, kan? Setelah itu, kemarilah."


Hugo mengangguk, tangannya mengelus lembut kepala Richi dan menatap wajah gadis itu.


"Maafkan aku, ya." bisik Hugo.


"Aku tidak menyesal melakukannya. Justru kau juga pernah melakukannya untukku, kan?" Kata Richi.


"Tapi sakitmu ini lama, karena dibagian perut. Aku terus merasa bersalah padamu."


"Tidak apa. Aku kuat, kok."


Hugo mengangguk saja, melihat kelopak mata Richi yang terkulai membuatnya tidak ingin banyak bicara lagi.


"Tidurlah, besok pagi aku akan kemari sebelum pergi sekolah."


Richi mengangguk lalu mulai menutup matanya.


"Love you so much." bisik Hugo dan Richi membuka lagi matanya, menatap wajah Hugo yang menatapnya dengan penuh cinta.


"Love you too, Hugo." balasnya lalu memejamkan matanya lagi.


Hugo terus mengelus kepala gadis itu hingga beberapa menit berlalu, Richi benar-benar terlelap.


Hugo menaikkan selimut Richi, mengecup keningnya lalu menuju pintu keluar. Sampai dia menyadari, Ricky sudah berdiri disana.

__ADS_1


TBC


***Episode terpanjang Author yang hampir 3rb Kata. Semoga suka, ya***


__ADS_2