Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Menjebak Damian (1)


__ADS_3

Hugo memutar-mutarkan ponsel di tangannya. Dia menunggu Clair menghubunginya mengenai hacker yang sudah lama mengganggu kekasihnya.


Hugo juga sebenarnya ingin meminta maaf pada Richi namun dia tidak tahu harus bagaimana, sebab Richi memang belum mau bertemu dengannya. Jadi, setelah menemukan hacker sialan itu, Hugo akan meminta maaf sepantasnya.


"Sudah selesai, nih!!"


Teriakan Erine membuyarkan lamunan Hugo. Dia bangkit dan menemui Erine yang sudah selesai memindahkan bom ke lapangan luas yang mereka pakai untuk latihan.


Hugo berjongkok, memperhatikan benda yang baru saja Erine letakkan di atas tanah.


"Sekarang, aku akan aktifkan dan cepat jinakkan."


Erine memperhatikan Hugo yang menyetel benda kecil di tangannya. Sudah beberapa kali latihan dan ternyata Erine cukup pintar menangkap semua penjelasan Hugo.


"Waktunya satu menit." Hugo berdiri memperhatikan sementara Erine dengan cepat memutuskan kabel salah satu bom itu. Tapi waktunya masih berjalan.


"Hu-hugo.." Erine panik dan berdiri. "Ke-kenapa tidak mati??"


"Apa? Kau yang merakit, kenapa tidak tahu??"


Waktu kini berjalan mundur sepuluh detik. Dengan cepat Hugo menggenggam tangan Erine dan berlari menjauh.


Gadis itu ikut berlari dibelakang Hugo sembari melihati tangan yang digenggam Hugo. Dia juga melihat pundak lebar Hugo yang terlihat gagah walau dari belakang.


Bom meledak, membuat kedua orang itu langsung berjongkok. Tanpa Hugo sadari dia menutupi tubuh Erine dengan tubuhnya karena pasir-pasir berterbangan akibat letupan yang tak begitu keras.


Erine mendongak, dia melihat wajah Hugo yang menatap ke belakang, memastikan bom tidak menjalar dan hanya meledak di tempat itu saja. Dari pandangannya, Erine dengan jelas melihat hidung dan dagu Hugo yang panjang dan sedikit kotor karena debu yang berterbangan. Apalagi dengan reaksi spontanitas Hugo yang melindungi, membuat Erine tersanjung.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Hugo, membuat Erine langsung tersadar.


"E-enggak." Jawabnya.


Hugo mengulur tangan, membantu Erine berdiri.


"Hugo, hidungmu."


"Aku tahu. Hidungku bagus." celetuknya.


"Bukan. Hidungmu kotor." Erine berinisiatif ingin membantu Hugo membersihkan hidungnya. Namun Hugo malah memundurkan wajahnya, membuat tangan Erine tertahan di depan wajah Hugo.


"Kau berusaha mengalihkan perhatian, ya?


"A-apa?"


"Kenapa kau bisa salah kabel??" Tanya Hugo. Membuat Erine menggaruk kepalanya.


"Sebenarnya aku ingin menggunting kabel kecil berwarna merah. Tapi yang putus malah kuning." Kata Erine memberi alasan.

__ADS_1


Hugo menghela napas. "Kau tidak bisa asal-asal saat berhadpan dengan bom. Bisa bahaya."


"Iya, aku tahu."


"Erine, Hugo!" Eline berlari kecil menghampiri dua orang itu.


"Kalian tidak apa-apa? Aku kaget saat mendengar suara ledakan."


"Tidak apa-apa. Dia hanya salah potong kabel." Jawab Hugo.


"Erine, kau bagaimana, sih. Ini tuh, bom. Masa salah?" Omel Eline pada saudara kembarnya.


"Aku ingin beri tahu. Hari ini adalah terakhir aku mengajari kalian." Ujar Hugo.


"Terakhir? Memangnya kau mau kemana?" Tanya Eline.


"Tidak ada. Hanya... ada urusan yang lebih penting."


"Bilang saja kau dilarang Darrel." Sambung Eline lagi.


"Tidak. Dia tidak mempermasalahkan. Hanya saja, belakangan aku merasa kurang waktu bersamanya."


"Padahal tinjuku belum baik, Hugo." Kata Eline lagi.


"Kau datang saja ke alamat kemarin. Mereka akan mengajarimu."


"Jadi, ini yang terakhir?" Tanya Erine.


"Iya. Ku harap kau bisa berlatih lagi. Rumus yang biasa kau pakai juga bagus, tapi yang kuberi padamu itu lebih cepat." Tukas Hugo.


"Kalau gitu, mau kita rayakan hari terakhirnya?" Ucap Eline pada Hugo, dia mengajak laki-laki itu ke sebuah pub tak jauh dari tempat mereka sebagai hari perpisahan kecil karena Hugo tak lagi melatih mereka.


~


'Kau menungguku, Damian?' Ucap Richi di depan kamera dengan senyum miringnya.


Damian menegang. Matanya membulat dengan rahangnya terbuka. Tak bisa ia pungkiri, walau dia menyukai Richi, tetapi dia juga takut dengan gadis itu jika tatapan itu muncul tanpa alasan.


"Ke-kenapa di-dia tahu aku??" Damina mulai gelisah dan tak bisa tenang di kursinya.


'Kau sudah menantikan ini berapa lama?'


Richi tertawa kecil. 'Tunggu sebentar.' Ucapnya dengan nada yang amat lembut, membuat Damian berdebar.


Richi membalikkan kamera sementara dia memakai baju.


Kamera bergerak menuju meja belajarnya. Richi meletakkan kamera itu di tumpukan buku lalu dia duduk di kursinya.

__ADS_1


Damian mulai tersenyum saat Richi terlihat jelas di layar monitornya.


"K-kau sudah tahu aku??" Tanya Damian di depan monitornya.


'Aku hari ini tengah sedih karena baru putus dengan Hugo. Kau pasti lihat tadi, kan? Dia menuduhku selingkuh.'


Richi terlihat cemberut di layar itu, membuat Damian menyentuh layar monitornya. "Jangan sedih, ada aku disini."


'Tega sekali. Nampaknya selama ini dia tidak benar-benar menyukaiku. Aku merasa tertipu.'


"Ya, ya, ya. Aku sudah pernah katakan itu padamu, kan! Aku pernah komentari itu, aku juga pernah mengirimi pesan padamu, tapi tak kau hiraukan!" Teriak Damian di depan layar monitor seolah tengah mengobrol dengan Richi.


'Aku harus apa? Aaahhh... Coba aja aku punya teman sekarang.' Ucap gadis itu lagi. Dia mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya. Sementara kakinya bergoyang dibawah meja karena menahan rasa benci dan marah pada lawan bicaranya saat ini.


"Aku ada, Richi. Ada aku.." Ujar Damian menyentuh layar monitor. Dia tampak panik karena Richi terlihat sangat sedih.


'Rasanya ingin bunuh diri saja.'


"A-apa yang kau katakan?? Tidak! Jangan lakukan itu. Aku tidak bisa kalau tak melihat dirimu. Jangan.. jangan.." Damian mulai menoleh kesana kemari, seperti mencari sesuatu.


'Aku butuh teman. Kalau kau melihat aku sekarang, bisakah kau menghubungiku?'


Damian berdiri di depan layar, menatap wajah Richi yang sejak tadi terlihat murung. Dia ingin sekali berbicara dengan gadis itu secara langsung. Tapi dia tak yakin dengan gadis itu.


"Kau menjebakku?" Damian tersenyum miring. "Kau mau menjebakku, ya. Haha. Aku tidak bisa kau tipu."


Lelaki itu menggigit kukunya. Dia gelisah karena merasa ada kesempatan emas. Namun disatu sisi dia merasa ini pasti jebakan. Apalagi teman-teman Richi memang tengah mencarinya.


Damian membelalakkan mata lagi saat Richi mengeluarkan pisau. Dia mengasahkan ujung pisau di telapak tangannya.


"Hei, hei, letakkan pisau itu. Bahaya, Richi!" Damian semakin panik saat pisau itu Richi genggam di tangannya.


'Damian, pernahkah kau merasa tak ada seorangpun yang peduli padamu?'


"Aku selalu merasakan itu, Richi. Apakah kita sama? Kau juga merasakan itu??"


Richu menggenggam kuat pisau di tangannya sampai ujung pisau meneteskan darah.


"Astagaa! Richi, apa yang kau lakukan??" Damian histeris di depan layar monitor.


'Jika aku terluka, adakah yang peduli??'


"Richi, jangan lakukan itu, ku mohon. Aku peduli padamu. Aku menyukaimu lebih dari apapun!" Teriak Daren. Lelaki itu langsung berlari meraih ponselnya.


'Teleponku berbunyi. Apa kau yang menelepon?' Richi tersenyum ke kamera lalu menggeser kursi untuk keluar dari kamarnya.


"Halo, keluarga tuan Wiley disini. Ada yang bisa saya bantu?" Telepon itu diangkat oleh pelayan rumah Richi.

__ADS_1


Melihat Richi datang, pelayan itu menyerahkan teleponnya. "Nona, ada telepon dari.. hah.." pelayan itu menganga saat melihat ujung jari Richi sudah mengalirkan darah.


__ADS_2