
"Rel.."
"Tidak."
"Sekali ini saja."
"Tidak." Richi berjalan menuju pintu keluar. Bujukan Aron tak membuatnya berubah pikiran.
"Kau bilang apapun permintaanku akan kau kabulkan."
Richi berhenti, dia menghela napas kasar pada Aron. "Tapi bukan yang ini. Yang seperti ini bukan duniaku, kau tahu."
"Tapi kau sudah berjanji padaku."
Richi bersandar di mobil Aron, dia melipat tangan di dada sambil menggeleng kepala. "Aku akan kabulkan yang lain selain ini."
"Ayolah, Rel. Aku cuma butuh kau sebagai partner saja. Fotonya hanya dikirim untuk seleksi dan model utamanya adalah aku. Kau mau, kan?"
"Cari saja yang lain.."
"Tidak bisa. Tema yang diberikan padaku sangat cocok jika pasangannya kau. Semua yang ada pada dirimu, sangat pas untuk konsep itu. Tolonglah aku, Rel.." Lagi, Aron menyatukan kedua tangan, memohon pada Richi.
Richi pula terlihat bingung. Dia tidak mau menuruti tapi Aron sampai memohon seperti itu membuatnya bimbang.
"Aku akan mencari orang lain yang mirip denganku. Bagaimana?"
"Tapi hari ini adalah hari terakhir. Foto itu harus dikirim paling lama jam 12 malam ini. Jadi, aku mohon sekali padamu. Bantu aku kali ini." Wajah dan nada bicara Aron pun amat menyedihkan supaya Richi tak tega padanya.
"Tapi aku tidak pernah melakukan yang seperti ini."
"Yang penting kau mau dulu. Ya? Please... ini menyangkut masa depanku."
"Aah. Kenapa masa depanmu jadi bahan pikiranku!" Seru Richi.
"Hahaha. Sekali ini saja. Aku akan mengingat kebaikanmu padaku. Ini salah satu jalan menuju awal karirku, Rel. Aku ingin melebarkan sayapku menjadi model internasional."
Richi menghantuk-hantukkan sepatunya ke tanah. Di tengah berpikirnya pun dia harus mendengar permohonan Aron terus menerus.
"Please, Rel.. bantu aku.."
"Akh.. iya iya!"
"Hah, serius?"
"Iya. Cepat."
"Hahah. Oke-oke. Ayo, masuk.." Aron langsung menarik tangan Richi masuk ke dalam ruang studio lagi dengan wajah sumringahnya.
Richi diminta berganti pakaian. Dia memandang gaun hitam sepaha dengan bahan tile yang terlihat sangat mini baginya.
Richi menghela napas. Dia dengan malas mengganti pakaiannya. Entah kenapa perasaannya mulai tak enak.
Setelah berganti, Richi diberi sentuhan make up. Disaat itulah Aron menjalani sesi pemotretannya sendiri.
Aron memakai kemeja hitam tetapi kancingnya dibiarkan terbuka begitu saja. Tentu itu membuat Richi curiga melihat pakaiannya pun agak terbuka. Nampaknya tema yang mereka akan jalankan agak sedikit lain dari perkiraan Richi.
Richi melihat Aron dari pantulan cermin. Lelaki itu tampak sangat menikmati posenya di depan kamera. Dia benar-benar profesional dan Richi bisa melihat perbedaan Aron di dunia nyata dengan Aron yang ada di depan kamera. Berbeda 360 derajat.
"Wah. Anda benar-benar cantik, nona. Rambut anda sungguh bagus. Kalau ini panjang, pasti sangat cantik." Ucap Lelaki bertubuh gempal sembari memegangi rambut sebahu Richi.
__ADS_1
"Sudah selesai, mari kita mulai fotoshootnya." Lanjutnya lagi.
Richi dengan kaku mendekati Aron yang duduk dikursi besar bagai singgasana raja.
"Duduk sini." Aron menepuk pahanya, menyuruh Richi duduk di pangkuannya.
"Mau mati, ya!"
"Hehehe. Bercanda." Aron menggeser duduknya dan mempersilakan Richi duduk di sampingnya.
Mereka duduk berdampingan dengan wajah yang menghadap kamera.
"Jangan tegang. Anggap saja kau tengah prewedding." Bisik Aron.
"Haah.." Bukannya tenang, Richi justru semakin tegang.
"Pertahankan wajah seperti itu, nona. Sesi ini tidak memerlukan senyuman." Ucap sang photographer.
Foto awal nampak berjalan biasa, sampai saat ternyata sesi yang sebenarnya pun dimulai.
"Nona, bisa lebih menempel pada Hamlet?"
Richi diam saja saat melihat Aron sudah menyandar di tangan kursi dengan posisi yang amat menggelikan bagi Richi.
Aron menepuk dadanya, menyuruh Richi mendekat ke arahnya.
"Harus yang seperti itu?" bisik Richi.
"Nona, bisa anda letakkan telapak tangan anda di dada Hamlet?"
"Hah?" Richi melihati Aron yang tersenyum jahil.
"Nona, tatap mata Hamlet, ya." Pinta sang photographer.
"Rel, bisa lihat mataku?" Bisik Aron.
Richi menatapnya. Dia menahan napas dengan tangan yang masih di dada Aron. Lelaki itu pula menggenggam tangannya.
"Ternyata matamu sangat indah, ya. Aku menyukainya." Bisik Aron.
"Ya, bagus. Bagus, pertahankan." Ucap photographer lagi.
"Sayang sekali sudah milik orang lain. Kalau kau berpikir untuk main serong, kau bisa mengajakku." Bisik Aron lagi.
"Cepat selesaikan ini. Aku mau pergi." Balas Richi dengan berbisik pula.
"Next!" Kata lelaki bertubuh gempal. "Nona, silakan duduk dipangkuan Hamlet."
"Apa?"
Aron langsung mengangkat pinggang Richi. Dia terkejut saat Aron malah menariknya untuk tidur di atas tubuhnya.
"Yaaakk, sangat bagus. Cepat, cepat potrett!!" Lelaki bertubuh gempal itu memukul tubuh photographer untuk cepat mengambil gambar sementara dia kegirangan melihat kecocokan dua orang itu. "Manis sekaliii.. astaga aku bisa gila melihatnyaaa.."
Setelah memakan waktu cukup lama, Richi akhirnya keluar dari ruang studio. Dia merasa cukup lelah padahal hanya berganti pakaian dua kali.
"Terima kasih banyak ya, Rel. Aku tidak sangka kau juga keren di depan kamera." Ucap Aron menyamakan langkah, sesekali melirik Richi disebelahnya.
"Biasa aja. Yang penting udah selesai, kan."
__ADS_1
"Iya. Aku antar pulang."
"Nona, tunggu sebentar..." lelaki bertubuh gempal itu berlari kecil menuju Richi. Dia menyerahkan selembar kartu pada gadis itu.
"Ini, kartu namaku. Siapa tahu berubah pikiran, segera hubungi aku."
Richi menerima kartu itu. Dia sejak tadi terus menerus menolak permohonan lelaki gempal itu untuk bergabung dengan agensinya. Dia selalu memuji postur tubuh dan wajah Richi yang dinilai sempurna untuk seorang model. Tapi Richi terus menolak karena tak ingin terjun ke yang bukan dunianya.
"Anda harus memikirkan ini lagi, nona. Kami jarang sekali menawarkan diri. Biasanya orang-orang yang mendaftar pada kami. Hehe."
Richi tersenyum kecil. Menolak sejak tadi juga membuatnya lelah. Tapi orang itu tak ada lelahnya.
"Kami pergi dulu, madam." Pamit Aron. Dia langsung menggandeng tangan Richi keluar dari sana.
"Aah.. calon permataku. Semoga dia berpikir lagi untuk masuk kesini." Ucap lelaki itu sambil terus menatap kepergian Richi.
...🐥...
Hugo memandangi ponsel yang ia letakkan di atas meja. Sudah dua hari sejak libur sekolah dia tak bertemu ataupun berkomunikasi dengan Richi. Padahal dia rindu, tapi Richi tampaknya tak seperti itu.
"Dia tahan sekali.."
Gumaman Hugo terdengar oleh Isac. "Siapa? Richi?"
Hugo melirik sekilas. Dia merasa semangatnya hilang. Tak berbeda dari Daren, lelaki itu pula terus bermain ponsel walau yang dia hanyalah postingan tidak jelas dari murid-murid Oberon.
Padahal Axel sudah susah payah mengajak berkumpul supaya menyenangkan keduanya, tapi tidak membuahkan hasil. Axel pula sudah sibuk mengajak jalan-jalan tetapi mereka tak ada yang mau pergi. Dia sampai pusing sendiri, ternyata kekuatan perempuan yang merajai hati mereka berdua sangat dahsyat.
"Hugo, apa Richi sekarang jadi model?" Tanya Daren tiba-tiba.
"Model apanya. Dia tidak suka yang begitu-begitu." Jawabnya malas.
Daren melempar ponselnya ke pangkuan Hugo, menyuruhnya melihat apa yang ada disana.
Hugo spontan berdiri melihat postingan salah satu murid Oberon di web sekolah.
'Gilaaa! Keren banget!'
'Pantes mereka sering terlihat berdua. Ternyata ada projek.'
'Tampannya Aron Hamlet😭'
'Itu Richi? Sumpah?'
'Cantikkk banget Richi😙'
"Apa sih, aku mau lihat!" Axel merebut ponsel dari tangan Hugo dan langsung terlonjak. "Wuaaahh.. Richi semakin keren!"
"Hugo, kau beneran putus dengan Richi? Foto-foto ini terlihat intim." Sahut Isac.
"Bukan intim! Ini namanya model. Keren, tidak sangka Richi sangat berkembang." Celoteh Axel lagi.
Sementara Hugo masih bengong di tempatnya. Matanya memang melihat wajah kekasihnya dengan sangat jelas. Tapi, lelaki itu... benarkah?
**Pen, aku dah coba cari pose yang sesuai dengan pikiranku tapi ngga nemu. Anggap aja ini Richi dan Aron ya wkwkwkw..
Nanti aku Up 2 bab lagi🤗🤗
__ADS_1