Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Penyelamatan (6)


__ADS_3

"Sial, terkunci!"


Ricky berusaha masuk ke dalam satu-satunya ruang di dalam. Sudah ia kerahkan tenaganya untuk membuka, tetapi tetap gagal karena kokohnya pintu.


"Jo, tolongin dong!"


Jonathan tengah duduk santai sambil menyeruput sodanya. "Kan, sudah aku bilang. Itu pintu baja. Masuknya juga pakai sidik jari. Per-cu-ma." Jonathan menekan kata terakhir supaya Ricky mengerti. Pasalnya, sudah diberitahu dari tadi, Ricky masih saja membuang tenaga.


"Aarrgh!" Ricky dengan kesal menendang pintu itu. "Lalu bagaimana? Aku yakin ibuku di dalam."


"Hm, bukannya Jenderal bawa basoka, ya?"


Ucapan Simon membuat mata Ricky membulat seketika. "Benar juga. Aku akan coba hubungi ayah."


Ricky berpikir sejenak. Mana mungkin ayahnya bawa ponsel di saat seperti ini. Di waktu santai saja, ponselnya ia serahkan pada ajudannya.


Ricky menekan tombol earpiecenya. "Seluruh anggota, jika bertemu Jenderal, katakan bahwa kami sudah nenemukan pintu rahasia dan memerlukan basokanya untuk menembus pintu."


Richi yang tengah mengikuti langkah lebar ayahnya mengerutkan dahi. Dia kira yang bawa basoka, ayah, apa? Batin Richi.


"Kau dimana, kak?" Tanya Richi.


'Lantai dua sebelah utara. Masuk ke pintu terakhir.'


Richi langsung berlari menyusul ayahnya untuk memberi kabar.


"Ayaah.. Ayah.."


Tapi, baru dia berdiri tepat di depan Wiley dengan wajah senang, dengan cepat sang ayah menggendongnya dengan satu tangan dan meletakkan Richi dibelakang, detik yang sama, sebuah tembakan meluncur melalui celah jendela sisi kanan, mengenai lukisan di tembok sisi kiri mereka.


Seketika Richi membeku. Kurang dari dua detik saja jika terlambat, maka kepalanya menjadi sasaran.


Hugo menarik Richi kedalam pelukannya, mereka bersandar ke tembok untuk berlindung karena semua jendela itu dipecahkan oleh timah panas yang datang bertubi-tubi.


"Kau tidak apa-apa?" Bisiknya pada Richi yang merebahkan kepalanya di dada Hugo.


Gadis itu masih syok dengan kejadian beberapa detik yang lalu. Dia seharusnya sudah tahu untuk lebih hati-hati, tetapi karena berita dari kakaknya membuat Richi bersemangat.


Wiley merogoh saku jas bagian dalam saat hujanan tembakan berhenti. Dia mengeluarkan granat dari dalamnya.


TRANG! Wiley memecahkan kaca jendela dengan sekali tumbukan. Dengan kuat Wiley menarik tuas dan memberi jeda sebentar supaya granat meledak di tempat yang tepat.


Dia melempar dengan kuat kearah dimana posisi musuh. Dan DUAR! Granat itu meledak seketika.


"Tidak apa-apa, sayang?" Tanya Wiley mendekat. Richi langsung berhambur kepelukan ayahnya.


"Kak Ricky sudah menemukan tempat Ibu."

__ADS_1


"Ayo, bergerak sekarang!" Wiley langsung berlari ke arah yang dikatakan Richi.


"Kak, kami sudah berada di perpustakaan itu." Ucap Richi melalui earpiecenya.


'Kau lihat keramik elang kecil di lemari hias? Tekan tombol dibalik ekornya, maka lemari akan berputar.' Jelas Ricky dari seberang.


Richi mencari hiasan elang itu dan menemukan tombol kecil dibelakangnya.


"Bisa kalian merapat, benda ini akan berputar."


Semua ikut mendekat dengan Richi dan Benar saja, lemari itu berputar bersama lantai dibawahnya, membawa tubuh mereka ikut berpindah ke ruangan lain.


Jonathan memberi hormat, "Sebelah sini, Jenderal." Ucapnya lalu memimpin jalan.


"Ayah, kemungkinan besar ibu ada disini." Ucap Ricky saat melihat ayahnya mendekat. Dia menjelaskan beberapa hal pada sang ayah. Lalu matanya menatap Hugo yang menenteng Basoka.


"Kau yang membawa basoka?" Tanya Ricky.


"Bukan aku. Adikmu." Mata Hugo melirik Richi.


"Kau membawa-bawa ini sejak tadi??" Tanya Ricky pada adiknya.


"Bukan dia yang bawa, tapi aku." Celetuk Hugo.


Ricky mendecak. Tadi katanya Richi, lalu dia mengaku sendiri.


"Bukankah kita sedang diawasi?" Axel menatapi beberapa kamera di atas mereka.


"Lokasi cctv sedang dilacak tim lain. Kami sudah merembukkan itu diawal." Sahut Bella dan Axel hanya manggut-manggut saja.


'Lapor Komander, lantai tiga bersih.' Itu suara ketua tim Jaguar. Artinya Valiant sudah berada di atas rumah itu.


"Stay disana!" Titah Ricky. "Lalu, apa sudah menemukan ruang cctv?"


'Segera, Komander!'


"Kak, apa akan baik-baik saja kalau ditembakkan ini ke dalam?" Tanya Richi sembari menggendong basokanya.


"Berikan pada ayah."


Richi memberikan senjatanya pada sang ayah, lalu mereka berjalan menjauh dari Wiley. Pria itupun mundur dengan jarak yang menurutnya cukup untuk sekedar menghancurkan pintu.


Satu tembakan ia luncurkan kebagian bawah dan membuat pintu itu terbanting seketika.


Ricky berlari kedalam menerjang asap.


"Ibuuu!!"

__ADS_1


...~...


Henry berdiri saat melihat Ricky tengah mencoba dobrak pintu melalui layar di depannya. Perasaannya mulai tak enak karena kegigihan lelaki itu, walau dia tahu pintu itu tidak mungkin tembus, tetapi tetap saja dia perlu mencari cara lain.


"Pindahkan wanita itu!" Henry bergerak dari tempatnya diikuti empat ajudan terbaik yang sengaja dibawanya dari anggota militer.


Henry menekan tombol lift dan menunggu sampai pintu itu terbuka. Namun, alangkah terkejutnya ia dan para ajudannya saat pintu terbuka dan mendapati pengawal yang ia titahkan untuk membunuh Richi saling timpah tindih dengan ceceran darah dimana-mana.


Henry seketika menegang. Perbuatan siapa sampai seperti itu? Bahkan gadis itu tadi ada di lantai satu, karena dia terus mengawasinya sampai tak tahu kalau itu adalah perbuatan Wiley.


Tak mau menuggu, Henry langsung masuk ke dalam dengan para ajudannya, berusaha menepikan tubuh-tubuh tanpa nyawa itu.


Henry menempelkan ibu jarinya pada tombol dan seketika membawanya menuju ruang rahasia.


Sesampainya disana. Dia mendapati Marry masih tertidur. Obat bius yang ia berikan belum habis juga.


"Bangunkan dia." Titah Henry dan dua orang itu langsung mengguncangkan tubuh Marry supaya terbangun.


Marry mengerjap. Matanya membulat saat mendapati ruangan yang baru ia lihat.


Dia segera bangkit dan menjauh dari dua laki-laki yang ada di dekatnya. "Si-siapa kalian..!"


Henry tersenyum sinis. Melihat kecantikan Marry membuatnya sedikit teralihkan. Wanita itu sebaya dengan istrinya. Tetapi Marry terlihat lebih muda dan segar. Ingin rasanya Henry bermain dahulu sebelum membunuhnya.


Marry memperhatikan Henry yang duduk dan menyalakan rokok. Dia mulai mengenal wajah itu.


"Kau.. tuan Draw?"


"Wah, kau mengenaliku rupanya." Henry tersenyum dan melipat kakinya.


"Kenapa kau lakukan ini, hah?" Pekik Marry sesaat setelah menyadari bahwa beberapa jam yang lalu hidungnya ditutupi dengan kain yang telah diberi obat bius.


"Kenapa? Hahaha. Masih bisa bertanya, kenapa?" Henry tertawa-tawa mendengar ucapan Marry. "Kau memang tidak tahu, atau cuma pura-pura saja, hah?"


"Aku tidak ada urusan apapun denganmu!" Teriak Marry.


"Mana mungkin. Suami dan anak-anakmu menghancurkan hidupku. Jadi sekarang Thomas-lah yang akan kuhancurkan. Bukankah mengasyikkan melihatnya terjatuh karena aku membunuhmu dan kedua anakmu? Hahaha." Tawa Henry seketika meledak saat ia mengkhayalkan hal itu terjadi. Betapa Thomas Wiley akan terpuruk seperti dirinya waktu itu.


Mendengar ucapan Henry membuat Marry ketakutan. Tapi, dia perlu menyelamatkan diri dulu walau dia sangat yakin, suami dan anaknya pasti tengah berusaha menyelamatkannya.


"Borgol dia!" Titah Henry.


Salah satu ajudan itu mendekati Marry. Namun, dengan cepat Marry mengambil pistol yang berada di holster pinggang salah sang ajudan.


Marry menjauh dan mengokangnya dengan cepat. "Minggir, atau kau kutembak!" Ucapnya dengan berusaha tenang.


TBC

__ADS_1


**Makasi banyak, Pen, dukungan dan hiburannya🫂 big hugg.. Jangan lupa baca Syahdu lhoo😄


__ADS_2