Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Konser


__ADS_3

"Apa?"


"Konser. Bukannya kau sangat ingin pergi kesana?"


"Ya, tapi.." Richi melihat ke arah Oberon yang masih gelap gulita.


"Kesempatan ini belum tentu ada dua kali. Yang penting janjimu pada Emerald untuk datang bersamanya kesini sudah kau tepati". Ucapnya dengan senyum yang terlihat licik.


"Kau benar, Hugo. Tapi bagaimana jika dia bertanya aku berada dimana.."


"Kemarikan ponselmu".


Richi mengeluarkan ponselnya. "Untuk ap.."


Hugo langsung menyimpannya dalam saku jeketnya. "Cepat, sebelum lampunya hidup".


Richi masih bengong, dia sedikit terkejut Hugo sampai melakukan ini, dia tahu pasti padamnya listrik adalah ide liciknya.


Lampu Oberon menyala terang. Melihat itu, Hugo langsung menggenggam jari-jari Richi dan langsung menariknya berlari sebelum ada orang yang melihat mereka.


"Hugo, kau.." Richi melirik tangannya yang digenggam Hugo begitu erat.


"Bicaranya nanti saja.." Ucapnya dengan napas tersengal. Mereka terus berlari sampai tempat dimana Hugo memarkirkan motornya.


Mereka menuju tempat diadakannya konser yang tak begitu jauh dari Oberon. Dengan kecepatannya, Hugo berhasil sampai dalam waktu 8 menit.


Richi turun dan melihat lampu sorot yang sudah menyala terang dari dalam stadion.


"Ayo." Ajak Hugo.


"Hugo, tapi tiketnya kan hanya satu?"


Hugo memperlihatkan dua tiket di tangannya.


"Kau beli juga? Bukannya kau tidak suka, ya?


"Kapan aku bilang begitu? Cepat masuk!"


Baru saja mereka melangkahkan kaki ke dalam stadion lebar itu, mata Richi sudah membulat melihat siapa yang ada di atas panggung.


"Astaga, Hugo! Lihat itu Avril!" Pekiknya sambil menarik ujung jeket Hugo seperti anak kecil pada ayahnya.


Richi langsung lari mendekat, berusaha masuk ke dalam kerumunan dan Hugo mengikutinya dari belakang.


Setelah dirasa cukup dekat, Richi berdiri dengan wajah yang berbinar melihat idolanya di depan yang sedang menyetel gitarnya.


"Hola, Apa kalian siap untuk Rock n Roll malam ini??" Teriak Avril di atas panggung.


Richi ikut bersuara kencang, sementara Hugo melirik kebisingan Richi yang ikut lompat-lompat sambil bernyanyi saat Avril Lavigne menyanyikan lagu Skater Boy.

__ADS_1


Hugo tersenyum melihat gadis di depannya, walau sepertinya Richi lupa keberadaan Hugo yang membawanya ke tempat itu.


Hugo tak henti melihat Richi, Ada rasa yang amat menyenangkan di dalam hatinya saat dia merasa berhasil membuat senyuman dan tawa terus terukir di wajah gadis itu.


Melihat jepit rambut Richi, Hugo tergerak membukanya. Dia mengambil jepitan itu saat Richi tengah bersenandung, tetapi gadis itu malah sadar saat ternyata rambutnya yang panjang itu ikut menari di belakangnya.


"Hugo, kau melepas ikatan rambutku ya!" Teriaknya untuk menyimbangi kebisingan disana.


Hugo mengangkat bahunya.


"Kemarikan, kau pasti mengambilnya." Richi meraih tangan Hugo dan benar saja, lelaki itu tengah menggenggam jepit rambutnya.


Saat Richi ingin mengambilnya, Hugo mengangkat tangannya ke atas, supaya Richi tidak bisa meraih benda kecil miliknya.


La La La La🎶


Penyanyi tomboi itu mengganti lagunya, lagu ceria tentang jatuh cinta. Lagu yang Richi paling sukai, namun perempuan itu malah sibuk merebut benda kecil yang di genggam Hugo.


🎶 La La La La, I like your smile, i like your vibe, i like your style,


Your so beautiful..🎶


Hugo berhenti, dia sedikit menunduk melihat Richi di depannya, mendengar lirik lagu penyanyi itu membuatnya membeku.


Begitu juga Richi, dia terheran saat Hugo berhenti dan malah menatapnya begitu dalam. Mereka berdua terasa hening saat disekitar mereka berlompat dan bernyanyi bersama dengan Avril.


"I love you.." Ucap Hugo dengan tatapan mata yang semakin dalam, semakin membuatnya berdebar melihat gadis di depannya itu.


Hugo mengedipkan matanya, seperti tersadar sesuatu. "Judulnya.."


Richi mengangkat alisnya, seperti tidak memahami apa yang Hugo katakan.


"Judulnya, i love you, kan?"


Pertanyaan Hugo juga menyadarkan Richi. Gadis itu melihat kiri dan kanan untuk menyamarkan perasaan yang hampir mengembang karena ucapan Hugo yang ternyata ia salah artikan.


"Ya, benar". Richi berbalik badan, melihat ke arah Avril yang masih menyanyikan lagu itu.


Richi memegang dadanya yang belum tenang dari detakan keras hingga membuatnya tidak fokus. Ucapan lelaki di belakangnya sungguh merusak pikirannya yang seharusnya tertuju pada Avril Lavigne.


Hugo menunduk, melihat jari-jarinya yang gemetar di bawah sana. Ucapan tadi hampir membuat hubungan dirinya dan Richi rusak, dia menyadari posisinya di hati gadis itu seperti apa. Dia tidak ingin gadis itu menjauh darinya hanya karena kata itu.


Dia melihat rambut Richi yang terurai panjang dan menyentuh ujungnya dengan lembut supaya gadis itu tidak menyadarinya.


"Lembut sekali". Bisik Hugo sambil terus memegang rambut Richi yang sebagian mengelus lengannya karena tiupan angin.


~


Richi duduk di sebuah bangku panjang. Dia menunggu Hugo yang pergi membelikan minuman.

__ADS_1


Richi masih terdiam sejak tadi, entah kenapa suasana hatinya jadi bercampur aduk, dia sendiri tidak tahu mengapa. Padahal dia yang salah mengartikan ucapan Hugo. 'Bukankah seharusnya aku tidak perlu terbawa suasana?' Batinnya, karena dia tidak bisa membuat suasan hatinya netral kembali.


Hugo melihat Richi dari jauh, gadis itu tampak melamun menatap ke depannya.


"Kenapa dia?" Gumam Hugo yang agak bingung sebab tadi Richi terlihat sangat senang.


Ponsel bergetar di saku jeketnya. Dia mengeluarkan ponsel Richi, dan mendapati banyak panggilan missed dari Emerald dan pesan yang ditulis Emerald.


'Chi, kemana? Aku mencarimu. Apa bisa ketemu? Ada yang ingin aku katakan padamu malam ini.'


Hugo menghapus pesan itu, lalu memasukkan lagi ponsel Richi ke sakunya.


"Minumanmu". Ucap Hugo sembari menyerahkan minuman pada Richi.


Hugo duduk lalu menenggak minumannya, dia memperhatikan Richi yang sejak tadi hanya melihat minuman di tangannya.


"Kau tidak suka?"


"Suka." Jawabnya tanpa menoleh.


"Apa mau kuantar pulang?" Tanya Hugo melirik jam di tangannya. Sudah pukul 11 malam. Mungkin Richi lelah, batinnya.


Richi menenggak minumannya sampai habis. Menatap botol kosong di tangannya, lalu meremukkannya.


"Aku akan pulang". Ucapnya sambil berdiri.


"Aku akan mengant.."


"Tidak perlu. Ini tidak jauh dari rumah. Aku akan berjalan saja. Kembalikan jepit rambutku". Tangan Richi mengulur ke depan, meminta miliknya yang sejak tadi di simpan Hugo.


Lelaki itu menyerahkannya, dan Richi langsung menggulung rambutnya.


"Terima kasih banyak untuk malam ini, Hugo." Richi melambaikan tangan, berjalan menjauhi Hugo yang sejak tadi menggenggam ponsel Richi dalam sakunya.


Richi berjalan sambil menunduk ke bawah. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam kantong jeket kulitnya. Sesekali dia menyepak apapun yanga ada di depannya.


Sementara Hugo mengikutinya dari jauh, mengawasi gadis yang ponselnya masih di tangannya. Dia sengaja karena tidak ingin Richi tahu bahwa Emerald mencarinya.


Jika dibaca dari pesannya, besar kemungkinan Emerald menembaknya malam ini.


Richi juga tak menoleh saat beberapa pria mencoba menggodanya.


"Apa dia terbawa suasana karena lagu sedih Avril tadi?" Gumam Hugo yang masih tidak paham dengan perubahan tiba-tiba Richi.


Ingin sekali Hugo menemaninya berjalan. Tetapi dilihat dari kondisi hati gadis itu, sepertinya tengah buruk.


Sampai beberapa menit, Richi sampai di depan gerbangnya. Tetapi gadis itu malah berdiri saja disana, menatap bulan yang bulat sempurna di atasnya.


Ponsel Richi bergetar lagi, Emerald masih meneleponnya saja sedari tadi. Hugo menonaktifkan ponsel Richi dan menyimpannya lagi.

__ADS_1


Melihat Richi masuk, Hugo segera berbalik dan pulang, karena dia lega, gadis yang ia khawatirkan sudah sampai di rumahnya tanpa luka sedikitpun.


TBC


__ADS_2