
Suara Hugo terdengar dari sambungan telepon yang diletakkan Richi di telinganya sementara dirinya tengah sikat gigi di westafel bercermin besar kamar mandinya.
"Chi.. ayolah."
"Aha?" Tanyanya menyikat gigi sambil tertawa tanpa suara. Dia amat senang karena bisa mengerjai Hugo.
"Maafkan aku, ya. Aku kan hanya menjawab saja. Jadi aku harus bilang apa jika ada yang bertanya? Chi, jangan marah lagi, ya?"
Richi mencuci mulutnya, hatinya terenyuh mendengar suara lembut Hugo dan permintaan maafnya terus menerus.
"Aku sudah memaafkanmu."
"Tapi kau tidak membalas pesanku dari tadi." Keluhnya dengan suara merendah.
"Iya akan aku balas. Sekarang tidurlah." Richi keluar kamar mandi, mengelap wajahnya dengan handuk, lalu meletakkan ponselnya di atas meja.
Ponselnya berdering lagi, pesan singkat dari Hugo yang sudah menumpuk membuatnya menggelengkan kepala.
'Sudah mau tidur, ya? Aku masih mau mendengar suaramu". Tulis Hugo.
'Besok kita bertemu di sekolah, kan? Selamat malam, Hugo🤍'
Richi meletakkan ponselnya dan keluar kamar, menemui kakaknya. Sementara Hugo...
"Haaaaaahh" teriaknya dari atas genteng rumah dan berhasil membuat Ayahnya membuka jendela dekatnya duduk.
"Hugo, ada apa?" Tanya Ayahnya panik, sementara Hugo tersenyum cerah.
Melihat itu, Ayahnya langsung mendesah kesal dan langsung menutup lagi jendelanya.
"Manis sekali dia.." Gumamnya membaca terus menerus pesan Richi dengan emot love putih. Melihat gadis yang tadi cemburu, menggelitik hatinya. Dia senang, sebab Richi ternyata memang menyukainya sampai seperti itu.
~
"Bagaimana, kak?" Tanya Richi yang duduk di ruang kerja Ricky.
"Kau benar, disana kami menemukan hanya 4 bom dan berhasil dijinakkan. Sisanya belum ditemukan. Yang tahu ini hanya kepala gedung-gedung itu, selebihnya aku meminta untuk merahasiakannya".
"Kau sudah menggantinya?"
Ricky mengerutkan alis. "Ganti apa?"
"Kau harus membuat bom palsu sebagai ganti, aku yakin setiap karyawan di gedung itu ada anggota Stripe yang akan terus memeriksa bom itu. Maka kau harus membuat palsunya untuk mengecoh mereka."
Ricky mengangguk lambat.
"Jika tidak, mereka pasti membuat rencana baru sebab rancangannya terbongkar." Jelas Richi lagi.
"Aku akan meminta tim Rajawali yang membuatnya. Lalu, ada 5 gedung lagi yang belum ditemukan letak bomnya."
"Berusahalah dan hati-hati."
"Kau sepertinya menjalankan satu misi di belakangku." Ucap Ricky mencurigai adiknya.
Richi hanya mengangkat alisnya sebelah.
"Kau merencanakan apa? Aku harus tahu rencanamu."
"Rencana kecil untuk menipu seseorang. Aku akan beritahu setelah aku dapatkan kartunya. Aku tidak mau kau merusaknya, kau kan ceroboh." Ucapnya lalu bangkit dari tempat duduknya.
"Chi, kita harus segera menangkap Lexus, aku yakin dia ada dibalik ini."
"Ya, aku serahkan itu padamu. Aku sibuk dengan pekerjaanku." Ucap Richi. Dia berpikir sebentar.
"Aku ada video lucu." Seru Richi.
"Video apa?"
"Nanti kita tonton bersama saat semua berkumpul". Ucapnya lalu berjalan keluar pintu sambil menahan tawa.
"Lexus, bagaimana cara menemukannya jika baru melihat saja dia lari." Gumam Richi, sekilas memori 2 tahun lalu saat dirinya menghajar Lexus habis-habisan muncul, bagaimana wajah ketakutan Lexus saat itu karena Richi menggenggam belati penuh darah di kedua tangannya untuk merobek-robek kulit Lexus sebagai pengkhianat pasukan Valiant.
"Apa aku ke restoran Harry saja? Bukankah di pesta itu aku juga melihat anggota Stripe? Tapi, aku bisa ketahuan.."
__ADS_1
Richi masuk ke kamarnya, mengambil ponsel dan meletakkannya di telinganya.
"Sial! Sudah aku bilang jangan meneleponku!!" Bentak Harry sementara Richi mengerutkan alis sebab mendengar kebisingan disana. Terdengar suara laki-laki yang merintih dan meminta ampun.
"Harry, ini aku, Richi. Apa aku mengganggumu?"
Harry terkesiap, dia segera menjauh dari tempatnya dan masuk ke dalam satu ruangan kosong.
"Maaf, aku pikir temanku. Kau tidak mengganggu, kok. Aku senang kau meneleponku sekarang. Padahal aku menunggu lama."
Richi menarik senyum miringnya. "Benarkah? Mau bertemu?"
"Sekarang?"
Richi membuat tawa yang dibuat-buat. "Tidak, besok. Bagaimana?"
"Hm.. bagaimana kalau kau ikut aku saja."
"Kemana?"
"Kau akan tahu. Besok akan aku jemput di sekolahmu."
"Baiklah, Harry. Selamat malam".
"Sampai bertemu besok, Richi". Ucap Harry dengan tersenyum cerah.
Dia memasukkan ponselnya ke saku. Tangan dan wajahnya bernoda darah.
Dia keluar ruangan, memperbaiki posisi kacamatanya dan mengambil sebilah linggis.
"A-ampun, tuan.." laki-laki itu penuh luka di wajahnya, merangkak menggenggam kaki Harry yang berdiri di depannya. "A-ampunkanlah saya.. Aaaghh".
Harry menancapkan besi ditangannya ke punggung lelaki itu hingga tergeletak berlumuran darah.
"Buang!" Titahnya pada orang-orang yang di sekitarnya dan mereka dengan cepat mengangkat tubuh lelaki itu.
Seorang perempuan memberi Harry sapu tangan. Harry mengelap tangan dan wajahnya juga kacamata yang tersiram noda darah.
"Kau atur jadwalku besok untuk ke lapangan tembak." Ucapnya pada gadis itu.
"Tunda. Besok aku akan bertemu gadis kesukaanku sepulang sekolah." Ucapnya.
Gadis itu mendesah.
"Jangan mengeluh, kau sudah mendapat banyak waktuku. Kau tahu fungsimu disampingku kan, Shera." Harry mencampakkan sapu tangannya ke sembarang tempat.
"Kau harus bersyukur sebab hanya kau yang beruntung bisa mendampingiku sampai sekarang". Ucap Harry lalu pergi meninggalkan Shera yang tidak menyahut lagi. Gadis itu menendang kecil besi dengan wajah sedihnya.
...🐨...
Richi duduk di bangku tepi lapangan basket, kedua telinganya ditutupi earphone. Richi menyandarkan kepalanya pada tembok samping kanannya.
Sudah berkali-kali Frans mengajaknya bermain basket, tetapi gadis itu menolak dan memilih memejamkan mata sambil mendengarkan musik.
Hugo mendekat, dia berjongkok di depan gadis itu. Memperhatikan wajah yang sesekali tertutupi rambut karena tertiup angin.
"Cantik sekali.." Gumam Hugo, dan Richi membuka matanya saat mendengar suara didekatnya.
Hugo menatapnya lekat-lekat, gadis itu juga diam saja memandang Hugo beberapa detik.
"Hugo." Panggilnya dengan nada lembut, Richi masih enggan mengangkat kepalanya dari tembok disampingnya.
"Iya?"
"Menyingkirlah."
Hugo tertawa kecil, dia lalu duduk di sebelah Richi.
"Siang nanti latihan tinju, kan?" Tanya Hugo.
Richi mengangkat kepala dan melepas earphone-nya. "Aku tidak bisa. Siang ini akan pergi dengan Harry."
"Apa? Kemana?"
__ADS_1
"Entahlah, aku hanya mengikutinya saja."
"Aku ikut."
"Kau mengada-ngada."
"Bagaimana kalau dia melakukan sesuatu padamu?" Hugo mulai berprasangka.
"Tidak mungkin. Lagi pula, Aku bisa menjaga diri. Sudah, sana pergi. Kita dilihati orang-orang."
"Kalau malam?" Tanya Hugo lagi.
"Tidak bisa, ada hal penting yang akan kulakukan." Ucapnya lalu mengibas-ngibaskan tangan menyuruh Hugo pergi.
Hugo dengan langkah gontai meninggalkan Richi yang tak lama juga pergi dari tempatnya.
Richi menemui Bella di kelasnya. Gadis itu tengah mengobrol asyik bersama Axel dan Isac.
"Bells, sini sebentar." Panggil Richi dari ambang pintu dan Bella langsung datang.
"Malam nanti kita rapat khusus tim Fox di tempat biasa."
"Tim Sekuntum Bunga, maksudmu?" Ucap Bella sambil terkekeh sementara Richi menatapnya dengan tajam.
"Kau hubungi semua. Ada hal penting yang akan aku sampaikan."
Bella membulatkan matanya, "ada hal apa?"
"Aku bilang, nanti malam."
"Aku penasaran, sudah lama kau tidak mengadakan rapat. Tentang apa, ha?" Bisik Bella.
"Ehm.." Suara berat terdengar dari belakang Richi.
"Ah, Hugo. Mau lewat? Hei, Rel, menyingkirlah. Hugo mau masuk." Bella mulai senyum cerah menatap Hugo.
Richi membalikkan badan menghadap Hugo dan mengedipkan matanya, membuat lelaki itu terkesiap.
"Sudah ya, jangan lupa." Ucapnya pada Bella sembari berjalan menjauh.
"Hugo, Ayo masuk."
Hugo berjalan sambil tersenyum, memegang jantungnya yang sepertinya hampir lompat karena Richi.
~
Richi masuk ke mobil Harry, di dalam Harry sudah duduk tenang dengan sweater hitam dan kacamata yang memperlihatkan bahwa dia memang anak pintar.
"Jalan." Ucapnya dan Supir pun menjalankan mobilnya.
"Kau menunggu lama?" Tanya Richi.
"Aku sengaja meninggalkan satu jam pelajaran terakhir demi menjemputmu". Jawabnya dengan tenang.
"Astaga, maaf. Lain kali aku akan.."
"Tidak mengapa, aku melakukannya karena tidak sabar bertemu denganmu."
Ucapnya dengan tersenyum.
"Kita kemana?"
"Lapangan tembak."
Richi tersentak. Lapangan tembak?
"Kenapa?" Tanya Harry yang melihat perubahan di wajah Richi.
"Tidak, aku hanya tidak terbiasa."
"Aku akan mengajarimu, aku lihai dalam menembak." Ucapnya dengan senyum miring.
'Ah, sial..' batin Richi.
__ADS_1
TBC